<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tokoh Bangsa Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/tokoh-bangsa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/tokoh-bangsa/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 15 Jul 2017 09:33:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Tokoh Bangsa Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/tokoh-bangsa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Alumni IKIP Jakarta Menyambangi Prof. Conny Semiawan</title>
		<link>https://unjkita.com/ketika-alumni-ikip-jakarta-menyambangi-prof-conny-semiawan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jul 2017 06:33:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Professional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Bangsa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=11825</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Refleksi Kritis untuk Civitas UNJ) Selalu ada waktu dan sejarah untuk dikenang. Tidak terkecuali bagi Alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ) ketika hari ini, Jumat 7...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ketika-alumni-ikip-jakarta-menyambangi-prof-conny-semiawan/">Ketika Alumni IKIP Jakarta Menyambangi Prof. Conny Semiawan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>(Refleksi Kritis untuk Civitas UNJ)</strong></h4>
<p>Selalu ada waktu dan sejarah untuk dikenang. Tidak terkecuali bagi Alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ) ketika hari ini, Jumat 7 Juli 2017 menyambangi rumah Sang Guru, Ibu Prof. Dr. Conny Semiawan. Bukan sekadar silaturahim, tapi sekaligus memanggil memori Sang Guru. Agar tetap dihormati, agar dapat dipanggil kembali untuk &#8220;esok yang lebih baik&#8217;.</p>
<p>Adalah Prof. Dr. Conny Semiawan. Mungkin sekitar 28 tahun, alumni IKIP Jakarta tidak bertemu lagi. Beliau adalah salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang luar biasa. Sekaliber Prof. HAR Tilaar, Prof Winarno Surakhmad, Dr. Sudjatmoko di era 1990-an. Ibu Conny, begitu alumni IKIP Jakarta memanggilnya. Selama 2 periode (1984-1992) menjabat sebagai Rektor IKIP Jakarta. Seorang rektor yang &#8220;hidup&#8221; di era keras rezim Orde Baru. &#8220;Sekali demo, maka kalian akan aku bungkam&#8221; begitu rasa mencekam di kalangan kampus di bawah rezim Presiden Soeharto.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h6><strong>Tapi kala itu, apakah anak-anak IKIP Jakarta dibungkam?</strong></h6>
<p>Sama sekali tidak. Di bawah kepemimpinan dan tangan dingin seorang Ibu Conny, IKIP Jakarta saat itu menjadi &#8220;Center of Excellence&#8221;, sebagai salah satu kampus tempat  lahirnya gagasan dan pergerakan &#8220;perlawanan terhadap rezim&#8221; yang kritis dan elegan. Kampus bukan hanya &#8220;kawah candradimuka&#8221; hadirnya gagasan akademik, riset dan intelektualias semata. Tapi kampus, harus mampu menjadi &#8220;ruang terbuka&#8221; untuk menyampaikan aspirasi dan mimbar kebebasan berpikir. Untuk siapapun; mahasiswa maupun dosen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h6><strong>Di IKIP Jakarta dulu, ketika Ibu Conny mendidik kami; Ibu Conny memimpin kampus.</strong></h6>
<p>Jangankan anak-anak yang apatis atawa gila akademik hingga pintar. Anak-anak yang &#8220;nakal&#8221; pun bukan hanya dilindungi tapi juga &#8220;ditemani&#8221;. Di era beliau, mahasiswa kritis dan pendemo &#8212; termasuk dosen &#8212; bukan malah dimusuhi atawa &#8220;ditenggelamkan&#8221; istilah sekarang. Tapi dirangkul, diajak berdiskusi secara intensif. Tujuannya sederhana, agar tercipta iklim akademik dan lingkungan kampus yang kondusif dan kompetitif.  Agar sikap kritis yang ada, bernilai tambah bagi kampus bagi kegiatan-kegiatan kampus yang lebih produkktif.</p>
<p>Anak-anak &#8220;nakal&#8221; itu biasanya aktivis mahasiswa yang baru bisa kelar kuliah di atas 5 tahun; kerjanya demo-demo dan nongkrong diskusi di kampus hingga larut malam. Jika perlu menginap di kampus. Berbagai kebijakan kampus dikritisi, didemo oleh anak-anak &#8220;nakal&#8221; ini. Sering kali, mereka berseberangan dengan rektor atawa kampus, tapi sekali lagi tetap &#8220;ditemani dan dirangkul&#8221; oleh Ibu Conny agar tetap kritis yang elegan dan kompetitif ke luar kampus.</p>
<p>Asal tahu saja Bapak/Ibu, ketika saya kuliah di IKIP Jakarta tahun 1989-1994. Dan menjadi aktivis di kampus mulai dari HMJ, SEMA Fakultas, SEMA IKIP. Saya belajar satu hal yang paling penting, bahwa kampus adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang mencintai ILMU dan PENGETAHUAN. Bukan seperti orang-orang yang bekerja, mereka hanya mencintai UANG. Jadi kampus itu tempat kita mencari dan mengembangkan ILMU dan PENGETAHUAN hingga kita mampu menyebarkannya ke orang banyak di luar kampus.</p>
<p>Mungkin kita lupa. <strong>ILMU DAN PENGETAHUAN ITU BISA HIDUP KARENA KRITIK.</strong></p>
<p>Ilmu dan pengetahuan itu milik orang kampus. Ilmu dan pengetahuan itu makin maju karena dikritik. Oleh karena itu, biarkan kritik tetap hidup di kampus. Kebebasan kritis dan tradisi ilmiah itu &#8220;kampung halamannya&#8221; di kampus. Maka, manajemen kampus itu memang manajemen kritis, manajemen konflik. Bukan manajemen harmoni. Untuk apa harmoni dan aman-aman saja jika tidak membuat kampus itu maju? Untuk apa, ayo jawab?</p>
<blockquote><p><strong>MAKA DI KAMPUS DAN CIVITAS-NYA, GAK BOLEH SIKAP KRITIS DIBELENGGU APALAGI DIKUCILKAN. BERSEBERANGAN PIKIRAN GAK BOLEH DITENGGELAMKAN APALAGI DIPOLISIKAN. KITA MEMANG BUKAN PENGGEMAR KONFLIK TAPI BUKAN PULA PENYEMBAH HARMONI. TAPI KITA DI KAMPUS ADALAH PENCINTA ILMU DAN PENGETAHUAN.</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi, gak perlu membungkam kritikan, gak perlu takut beda pendapat, gak usah tabu  berseberangan pemikiran. Karena itu semua, justru membuat kita tetap bergerak, tetap dinamis. Bukan malah merasa nyaman lalu gak mau berbuat apa-apa. Katanya, orang kampus gitu lho &#8230;</p>
<p>Orang kampus itu, kalo gak sama bukan berarti gak boleh beda. Itu berarti, beri &#8220;ruang terbuka&#8221; agar kritikan, konflik tetap hidup di kampas. Buatlah FORUM KRITIK yang elegan, tempat <em>brainstorming</em>dan berbadai pikiran untuk memajukan kampus itu sendiri.</p>
<blockquote><p><strong>KRITIK ITU BUTUH RUANG BUKAN UANG. JANGAN CARI HARMONI BILA BIKIN SESAT; CARI DISHARMONI BILA BIKIN HEBAT.</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Duhh, maaf ya. Kok jadi ngalor-ngidul gini.</p>
<p>Kembali ke soal &#8220;<strong>Ketika Alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ) menyambangi Sang Guru, Prof. Dr. Conny Semiawan&#8221; di rumahnya. Buat saya, inilah momentum untuk &#8220;memanggil kembali&#8221; kenangan lama untuk pergerakan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) ke depan yang lebih baik.  UNJ yang lebih terkenal prestasi akademisnya. Bukan masalahnya yang gede atawa apapun yang gak produktiif buat civitas dan kampusnya.</strong></p>
<p><strong>Apa fakta UNJ hari ini? Lalu, gimana kita menyikapinya ? Mau ngapain ?</strong></p>
<p><strong>Tahun 2015 versi KemenRistekDikti (tidak ada versi terbaru:</strong> di <a href="http://ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2016/02/klasifikasi20151.pdf" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sini</a><strong>), UNJ berada di peringkat ke-60. Kalah dari Tadulako, M</strong>ahasaraswati Denpasar atawa Muhammadiyah Jakarta. Kalo versi terbaru lebih mengerikan, UNJ ada di peringkat ke-78 (100 besar kampus di Indonesia versi  4ICU yang dirilis Januari 2017: <a href="http://www.4icu.org/id/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">http://www.4icu.org/id/</a>). Bahkan jika dibandingkan PT eks LPTK di Indonesia, UNJ berada di peringkat ke-9 dari 12 LPTK. Ironis, dan penting untuk disikapi. Karena UNJ merupakan PT Negeri yang ada di Jakarta.</p>
<p><strong>Masih belum puas? Silakan aja di-googling tentang UNJ.</strong></p>
<p><strong>Lebih banyak &#8220;berita baik&#8221; atawa &#8220;berita buruk&#8221;. Aneh aja, kalo nama kampus di-googling lebih banyak berita buruknya, mulai dari soal</strong>DO mahasiswa, kasus korupsi, pelecehan seksual, kampus banjir, dan sekarang soal &#8220;dosen yang dipolisikan&#8221;. Ya, tentu pasti juga UNJ punya &#8220;berita baik&#8221;. Tapi faktanya, kenapa lebih banyak &#8220;berita buruk&#8221; daripada &#8220;berita baik&#8221;. Kalo civitas UNJ sehari main internet dan <em>smartphone</em>3 jam sehari saja, kenapa gak <em>create</em> &#8220;berita baik&#8221; tentang UNJ. Kenapa gak bisa? Kenapa sih, kalo ada berita jelek, kita gak mau bikin berita bagus &#8230; biar imbang gitu llho.</p>
<p><strong>Buat saya, UNJ itu gak akan bisa HARUM DI LUAR jika gak bisa SELESAI dengan urusan kampusnya sendiri. Sebagai kampus, harusnya UNJ FOKUS PADA KEBIJAKAN DAN KEGIATAN YANG BERORIENTASI PADA PRESTASI AKADEMIS. Semuanya, baik mahasiswanya maupun dosennya apalagi pimpinannya.</strong></p>
<p>Saya gak tahu. Apakah Ibu Conny baca tulisan ini. Atawa pimpinan, mahasiswa, dosen dan  civitas akademika UNJ lainnya membaca tulisan ini. Tapi kalo mereka baca, pesan peting yang saya mau sampaikan adalah AYO DONG LEBIH PEDULI UNTUK UNJ SEBAGAI KAMPUS BAGUS UNTUK TRI DHARMA PERGURAN TINGGI. Mari kita berdiskusi tentang pengajaran yang luar biasa, tentang penelitian yang hebat, dan pengabdian masyarakat yang berdaya guna. Lebih produktif, lebih kompetitif buat kampus.</p>
<p>IKIP JAKARTA dulu, UNJ sekarang. Tapi IKIP Jakarta penuh prestasi, sementara UNJ setidaknya buat saya gak berprestasi. Makanya tulisan ini saya buat. Karena UNJ itu pernah punya nama besar. Kalo udah begini, kita itu kangen banget pada pemikiran dan kiprah orang-orang yang pernah memimpin UNJ, seperti: Prof. Dr. Slamet Imam Santoso, Dr. Deliar Noer, Prof. Dr. Winarno Surachmad, dan Prof. Dr. Conny Semiawan. Mereka itu memang tinggal sejarah. Tapi mereka adalah sosok mantan Rektor UNJ yang memiliki integritas keilmuan dan akademis yang luar biasa. Berkat kiprah mereka pada eranya, nama IKIP Jakarta begitu mengabadi dan sangat diperhitungkan.</p>
<p><strong>Lalu, bagaimana kampus UNJ hari ini? Apa masih ribut soal dosen yang dipolisikan? Apa masih ramai soal tuntutan mundur Rektor ?</strong></p>
<p>Jujur, sebenarnya itu pertanyaan-pertanyaan yang tidak menarik. Gak signifikan untuk kehidupan kampus sebesar UNJ hari ini. Sementara di luar sana, mereka sibuk riset dan inovasi di ruang &#8220;diskusi dan praktik&#8221; untuk menambah kemaslahatan umat, sementara kita &#8220;gak pernah selesai&#8221; dengan urusan sendiri. Sementara di luar sana, mereka sibuk mengemas sistem pendidikan dan pengajaran berbasis kreativitas yang unggul, sementara kita lagi-lagi &#8220;gak pernah selesai&#8221; dengan internal kampus sendiri. Mengenaskan banget sih, ironis banget sih &#8230;</p>
<p><strong>KESADARAN KRITIS, mungkin sudah jadi &#8220;barang langka&#8221; di UNJ hari ini.</strong></p>
<p>Kita sudah terlalu lama, tidak bertanya secara kritis. Mau dibawa kemana UNJ? Gimana cara peringkat UNJ bisa berada di 30 besar PT di Indonesia? Berapa persentase dosen yang meneliti dan menulis di UNJ? Berapa banyak mahasiswa UNJ berprestasi di PIMNAS tiap tahunnya? Mengapa kita &#8220;diam&#8221; ketika kebobrokan ada di kampus UNJ? Masih adakah tradisi kebebasan ekspresi di UNJ? Di mana hati nurani kita hari ini untuk kampus?</p>
<p><strong>JIKA BERTANYA SAJA TIDAK? GIMANA MAU CARI JAWABANNYA?</strong></p>
<p>Kita, civitas UNJ, mungkin sering baca. Tapi juga terlalu cepat lupa.</p>
<p>Al-Ghazali bilang &#8220;profesi GURU itu sangat mulia, maka didiklah mereka dengan penuh kasih sayang&#8221;. Lalu Antonio Gramsci bilang bahwa INTELEKTUAL itu sebagai puncak kesadaran manusia. Agar kita bisa memilah, kata Karl Marx, antara &#8220;kesadaran individu&#8221; dan &#8220;kesadaran kolektif&#8221; dengan jernih, bukan &#8220;KESADARAN PALSU&#8221;. Iya itu emang teori, tapi juga jangan terlalu cepat luap.</p>
<blockquote><p><strong>KARENA KESADARAN HARUS TETAP ADA PADA KAUM INTELEKTUAL AGAR BISA DIPRAKTIKKAN DAN DISEBARKAN KE MASYARAKAT. KITA GAK BOLEH TERJEBAK DALAM KESADARAN PALSU. MERASA BAIK-BAIK SAJA. TAPI NYATANYA, TIDAK LAYAK DISEBUT BAIK-BAIK SAJA.</strong></p></blockquote>
<p><strong>Lalu, apa refleksi kritis civitas akademika UNJ hari ini?</strong></p>
<p><strong>GAK BOLEH DIAM. BERGERAKLAH, BERDINAMIKALAH. Untuk UNJ ke depan yang lebih baik. Untuk UNJ sebagai &#8220;center of excellence&#8221; terlebih lagi di bidang pendidikan dan keguruan.</strong></p>
<p><strong>Buat pimpinan rektorat/dekanat, Anda boleh dipilih dan berkuasa tapi bukan untuk mengebiri kehidupan kampus yang demokratis.</strong></p>
<p><strong>Buat dosen, Anda boleh hebat di dalam kelas tapi bukan berarti apatis untuk kebaikan kampus.</strong></p>
<p><strong>Buat mahasiswa, Anda boleh teriak paling kencang di luar kampus tapi bukan berarti tradisi akademis diabaikan.</strong></p>
<p><strong>Buat alumni, Anda boleh sukses di luar sana tapi bukan berarti harus tidak peduli kepada almamater.</strong></p>
<p><strong>KITA GAK BOLEH DIAM. KITA HARUS SINERGI, KITA HARUS LEBIH PEDULI.</strong></p>
<p><strong>INGAT &#8230;</strong></p>
<p><strong>KAMPUS ITU TEMPAT BERKUMPULNYA ORANG-ORANG YANG CINTA ILMU DAN PENGETAHUAN. BUKAN TEMPAT BERSEMAYAM MEREKA YANG CINTA UANG.</strong></p>
<p><strong>ILMU PENGETAHUAN ITU DIBESARKAN DAN BISA HIDUP KARENA KRITIK.</strong></p>
<p><strong>DAN TUHAN ITU ADA DI DEKAT KITA; MAKA PIKIRAN DAN TINDAKAN KITA HARUS BENAR.</strong></p>
<p>Sebagian orang bilang ke saya, prihatin melihat UNJ hari ini.</p>
<p>Saya pun tidak membantah walau tidak sepenuhnya membenarkan. Mengapa begitu? Karena menurut saya, ada yang hilang di UNJ hari ini. <strong>DIALOG DAN KEBEBASAN EKSPRESI TIDAK LAGI DIBANGUN DENGAN BAIK DI UNJ. TRADISI AKADEMIS MELEMAH DI UNJ. </strong>Dan sebabnya sederhana. <strong>UNJ BELUM SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI.</strong> Akibat iklim birokrasi yang diciptakan sendiri dan akibat keadaan internal yang terus-terusan bermasalah atawa dipermasalahkan.</p>
<p>Wajar, saking rindunya terhadap diskusi dan dinamika bidang pendidikan dan keguruan. Beberapa teman aktivis dan alumni UNJ mendirikan Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM) sebagai kendaraan untuk melanjutkan tradisi berpikir kritis di bidang pendidikan dan keguruan. Begitu pula IKA UNJ periode 2107-2020, begitu antusias untuk &#8220;membangun sinergi&#8221; lebih nyata agar almamater-nya lebih baik, lebih punya &#8220;good news&#8221; di mata masyarakat. Harusnya, UNJ patut bangga dan mau bekerjasama akan hal ini.</p>
<p><strong>REFLEKSI KRITIS CIVITAS AKADEMIKA UNJ HARI INI.</strong></p>
<p><strong>UNJ butuh &#8220;jalan baru&#8221;, patut membuat &#8220;halaman baru&#8221;. Agar kampusnya bukan jalan di tempat, bukan sibuk dengan urusan internal kampus sendiri. UNJ hanya butuh gerakan moral yang lebih masif untuk LEBIH PEDULI MENJADI KAMPUS BERKUALITAS.</strong></p>
<p>Re-orientasi spirit UNJ hari ini.</p>
<p><strong>SEGERA TUNTASKAN MASALAH INTERNAL DENGAN BIJAK DAN JANGAN BERTENTANGAN DENGAN AKAL SEHAT ORANG KEBANYAKAN. BANGUN SINERGI, LALU FOKUS PADA TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI.</strong></p>
<p>Dalam lirik lagu MARS IKIP JAKARTA, saat saya kuliah di IKIP Jakarta dulu, ada kata-kata:</p>
<p><strong><em>Belajar sanggup, mendidik bisa, mengkritik boleh, aksi pun jadi &#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em>Dengan dilandasi kesadaran kritis, serta penuh tanggung jawab moral &#8230;</em></strong></p>
<p>Kita, civitas akademika UNJ, kini perlu membangun kesadaran kritis. Namun, tetap menjunjung tinggi tanggung jawab moral. Karena pasti, selalu ada solusi dari setiap masalah yang kita hadapi.</p>
<p><strong>Saatnya civitas akademika UNJ &#8220;MEMBANGUN SINERGI&#8221;</strong></p>
<p>Jangan lagi tercerai-berai atawa berceceran sendiri-sendiri. Karena &#8220;serigala itu hanya memangsa domba atau binatang yang keluar dari rombongannya&#8221;.</p>
<p><strong>Ingat, MUSUH KITA BUKAN DI KAMPUS SENDIRI.</strong></p>
<p><strong>TAPI PERADABAN MANUSIA DI LUAR SANA; PENDIDIKAN YANG TIDAK MEMANUSIAKAN.</strong></p>
<p><strong>Bacalah kembali sejarah UNJ (IKIP Jakarta) yang pernah ada. Rajutlah kembali yang yang berserakan. JANGAN TAKUT MELAWAN LUPA &#8230;</strong></p>
<p><strong>Dan kami, para alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ). AKAN SELALU ADA DI SAMPING UNJ.</strong> Salam ciamikk dan tabik &#8230; #BuildingFutureLeaders #RefleksiKritisUNJ #IKIPJakarta #IKAUNJ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Oleh : Syarif Yunus (Pekerja &amp; Pemerhati Pendidikan Bahasa. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009-2013) &amp; (2013-2017). Sekjen IKA FBS UNJ (2013-2017)</strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ketika-alumni-ikip-jakarta-menyambangi-prof-conny-semiawan/">Ketika Alumni IKIP Jakarta Menyambangi Prof. Conny Semiawan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nasib Warung Rakyat Di Negeri Mini Market</title>
		<link>https://unjkita.com/nasib-warung-rakyat-di-negeri-mini-market/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2016 02:05:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Bangsa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=5379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini perasaan saya teraduk-aduk. Antara terpana, kagum, gundah dan ngeri. Itu lho, minimarket. Gimana gak terpana. Jumlah minimarket sekarang capai puluhan ribu. Lima atau...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/nasib-warung-rakyat-di-negeri-mini-market/">Nasib Warung Rakyat Di Negeri Mini Market</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini perasaan saya teraduk-aduk. Antara terpana, kagum, gundah dan ngeri. Itu lho, minimarket. Gimana gak terpana. Jumlah minimarket sekarang capai puluhan ribu. Lima atau 10 tahun lagi bisa tembus sekian ratus ribu. 20 tahun ke depan, negeri ini bertambah lagi julukan: “Negeri minimarket”.</p>
<p>Maka sudah lama saya amat kecewa. Sebab saya tak lagi jumpai warung langganan dulu. Warung tempat saya ngobrol dengan Bang Ahmad, si pemilik. Warung-warung seperti Bang Ahmad jelas keok hadapi minimarket.</p>
<p>Gundahnya lagi, kini saya tak bisa lagi berbuat baik. Di warung seperti ini, pasti ada titipan lontong dan kue cucur. Ambil lontong sih dua atau tiga biji, cuma bayarnya bisa 10 atau 15 lontong. Kenapa? Ya itu sedekah ke yang titip makanan. Mereka pasti sulit hidup.</p>
<p>Memang minimarket punya program kepedulian. Tapi saya ogah lah. Uang uang saya, kenapa jadi dikelola minimarket. Program bolehlah, keren. Namun itu kan CSR-nya minimarket. Uang dari masyarakat. Kenapa minimarket yang dapat nama. Jadi ingat telur mata sapi. “Ayam punya telur, sapi punya nama”.</p>
<p>Otak saya memang jongkok. Cuma soal kepedulian, saya musti pintar-pintarkan diri. Saya tak tahu siapa pemilik minimarket. Saya tak tahu apa maunya dan apa agendanya. Sumpah, saya tak tahu pemilik minimarket orang baik atau serakah.</p>
<p>Saya sedih lihat mini market. Semua dagangan olahan pabrik. Tak ada titipan tetangga. Warung Bang Ahmad juga jual pabrikan. Cuma masih ada titipan lontong, bawan, tahu dan tempe goreng.</p>
<p>Saya linglung lihat pemerintah. Kenapa pemerintah diam saja. Seolah tak pernah ada apalagi bela warung kecil. Kalau sudah begini saya menyesal tak jadi pemegang kebijakan. Andai pejabat, saya mimpi saja bisa stop pertumbuhan minimarket.<br />
Kalkulasi yuuuk. Katakan ABC minimarket, jumlah gerainya kini 20 ribu. Omset per hari pukul rata Rp 10 juta. Total omset per hari, 20 ribu x Rp 10 juta. Hasilnya Rp 200 milyar. Per bulan Rp 6 triliun.</p>
<p>Andai pemilik ABC minimarket ambil 1%, maka dia dapat Rp 60 milyar per bulan. Per hari dapat Rp 2 milyar. Katakan per hari nikmati Rp 100 juta. Untuk centeng keamanan, let say Rp 200 juta per hari. Dari saldo yang Rp 1,7 milyar, dia sisihkan Rp 1,5 milyar beli tanah.</p>
<p>Duuuh biyung. Ngeri kan bayangkan apa yang terjadi? Tiap hari dia beli tanah Rp 1,5 milyar. Gunung sawah pantai pun diborong. Ngeri ngerii ngeriii&#8230;</p>
<p>Jika sudah begini, kadang saya menyesal juga. Mengapa tak jadi ekonom. Karena tak tahu teori ekonomi, makin hari perut saya makin mual. Minimarket koq bisa tekuk kebijakan. Lha kalau begitu ngapain ada pemerintah.</p>
<p>Kambing congek itu masalah. “Pemerintah congek” itu lebih gawat. Pura-pura bolot saat rakyat susah, itu drama paling mengerikan. Hati-hati, malaikat gak tidur lho!</p>
<p>Katanya satu minimarket hancurkan 3 sampai 5 warung. Ada 20 ribu minimarket, tutuplah 100 ribu warung kecil. Karena tak tahu teori ekonomi, bolehkah saya bilang: “Minimarket menghancurkan fondasi ekonomi rakyat?”</p>
<p>Sekali lagi saya tak paham ilmu ekonomi. Saya cuma yakin, seilmiah apapun dukungan pada minimarket, ini jelas “tak adil” dan “tak beradab”.</p>
<p><strong>Erie Sudewo<br />
</strong>Pendiri Dompet Dhuafa</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/nasib-warung-rakyat-di-negeri-mini-market/">Nasib Warung Rakyat Di Negeri Mini Market</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rahmah el Yunusiyyah, Guru Besar Muslimah dari Indonesia</title>
		<link>https://unjkita.com/rahmah-el-yunusiyyah-guru-besar-muslimah-dari-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ihsan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2016 23:16:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Bangsa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rahmah el Yunusiyyah mungkin namanya asing di telingan masyarakat Indonesia. Perlu kamu ketahui wanita dari tanah minang ini adalah pelopor pendidikan modern bagi muslimah di Indonesia...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/rahmah-el-yunusiyyah-guru-besar-muslimah-dari-indonesia/">Rahmah el Yunusiyyah, Guru Besar Muslimah dari Indonesia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rahmah el Yunusiyyah mungkin namanya asing di telingan masyarakat Indonesia. Perlu kamu ketahui wanita dari tanah minang ini adalah pelopor pendidikan modern bagi muslimah di Indonesia maupun Dunia.</p>
<p>Rahmah el Yunusiyyah lahir di Padang Panjang 29 Desember 1900 M, bertepatan dengan tanggal 1 Rajab 1318 H, dari keluarga Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Terlahir sebagai anak terakhir dari lima bersaudara.</p>
<p>Syekh Muhammad Yunus (1846-1906 M) adalah seorang Ulama, Qadli di negeri Pandai Sikat dan pimpinan Tarekat Naqsabandiyah al-Khalidiyah. Selain itu Syekh Muhammad Yunus juga ahli ilmu falak dan hisab. Ia pernah menuntut ilmu di tanah suci Mekkah selama 4 tahun.</p>
<h3>Mendirikan Sekolah Perempuan</h3>
<p>Perjuangan Rahmah el Yunusiyyah dalam membangun perempuan berawal dari mendirikan al-Madrasah Lil-Banat pada tanggal 1 November 1923. Awalnya hanya terdapat 71 orang murid yang kebanyakan berasal dari kalangan ibu-ibu rumah tangga yang masih berusia muda. Pelajaran diberikan tiap hari selasa selama 3 jam di sebuah masjid di Pasar Usang, Padang Panjang, dan terdiri dari pelajaran agama serta ilmu alat. Pada Akhirnya sekolah ini berganti nama menjadi Diniyyah School Putri.</p>
<p>Sekolah ini merupakan sebuah langkah maju dalam pendidikan muslimah di Indonesia bahkan di dunia. Karena sekolah yang digagas oleh Rahmah el-Yunusiyah ini tidak hanya memberikan pelajaran agama maupun umum, tetapi juga mengajarkan berbagai keterampilan yang diperlukan oleh seorang muslimah sebagai ibu yang mandiri.</p>
<p>Hebatnya hingga kini Diniyyah School Putri karya Rahmah el Yunussiyah, masih tetap eksis dan memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia, profil selengkapnya bisa kamu temukan di <a href="http://www.diniyyahputeri.org/" target="_blank">www.diniyyahputeri.org</a></p>
<h3>Menginspirasi Syaikh Al Azhar dan Berkontribusi untuk Muslimah Dunia</h3>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-2376" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/04/Al-Azhar.jpg" alt="Al Azhar" width="640" height="426" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/04/Al-Azhar.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/04/Al-Azhar-150x100.jpg 150w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Peran Rahmah el Yunusiyyah dalam dunia pendidikan tidak hanya di dalam negeri saja, namun ia juga berperan dalam lahirnya laboratorium Ulama Wanita untuk Dunia.</p>
<p>Pada Tahun 1955 Rektor Universitas Al-Azhar Syaikh Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah Putri, beliau sangat tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang diterapkan di Diniyyah Putri. Hasil kunjungan itu menginspirasi beliau untuk mendirikan Kuliyyatul-Lil-Banat (kampus Al-Azhar khusus putri) di Universitas Al-Azhar. Dan Rahmah pun dinobatkan sebagai Syaikhah (Guru Besar Wanita) pertama dari Universitas Al-Azhar.</p>
<p>Umat Islam Indonesia patut berbangga salah satu putri terbaik bangsa ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Universitas Al Azhar yang merupakan salah satu Universitas tertua di dunia. Berkat inspirasi yang Rahmah berikan, muslimah seluruh dunia mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu di Universitas Al Azhar.</p>
<h3>Berjuang Untuk Kemerdekaan</h3>
<p>Selain mendidik, Rahmah el Yunusiyyah turut berperan dalam bidang politik. Ia adalah orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di sekolahnya setelah mendengar berita proklamasi kemerdekaan indonesia. Jiwa nasionalisme dan patriotismenya memang tertanam kuat dalam dirinya. Karenanya ia sangat mendambakan kemerdekaan Republik Indonesia.</p>
<p>Masa revolusi kemerdekaan, dihabiskanya dalam sel penjara Belanda dan baru dibebaskan tahun 1949 setelah pengakuan kedaulatan. Hingga tahun 1958 ia aktif  menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumatra Tengah. Rahmah pun membidani  terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat pada tanggal 2 Oktober 1945</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/rahmah-el-yunusiyyah-guru-besar-muslimah-dari-indonesia/">Rahmah el Yunusiyyah, Guru Besar Muslimah dari Indonesia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
