<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>akademik Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/akademik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/akademik/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Sep 2018 02:04:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>akademik Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/akademik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi: Tantangan atau Rintangan?</title>
		<link>https://unjkita.com/publikasi-di-jurnal-internasional-bereputasi-tantangan-atau-rintangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Aug 2018 21:28:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pasca Sarjana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=21379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Merujuk pada Surat Edaran nomor 9016/UN39.5/2017 tanggal 19 Desember 2017 yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Ilza Mayuni, MA selaku Plh. Direktur Pascasarjana UNJ, mahasiswa program...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/publikasi-di-jurnal-internasional-bereputasi-tantangan-atau-rintangan/">Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi: Tantangan atau Rintangan?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Merujuk pada Surat Edaran nomor 9016/UN39.5/2017 tanggal 19 Desember 2017 yang ditandatangani oleh Prof. Dr. Ilza Mayuni, MA selaku Plh. Direktur Pascasarjana UNJ, mahasiswa program Magister (S2) dan program Doktor (S3) diwajibkan memiliki naskah yang telah diterima (berstatus “accepted”) pada jurnal internasional saat ujian tesis atau ujian terbuka. Dalam aturan selanjutnya, naskah yang diterima pada jurnal internasional bereputasi menjadi salah satu syarat yudisium cumlaude untuk mahasiswa program Doktor. Banyak jenis indeks untuk jurnal, seperti: EBSCO, Copernicus, Google Scholar, Sinta; namun untuk jurnal yang dikategorikan sebagai jurnal internasional bereputasi adalah yang terindeks Scopus atau Thomson Reuteurs.</p>
<p>Ketentuan untuk publikasi di jurnal internasional bereputasi, khususnya yang terindeks Scopus, sering menjadi momok yang menakutkan bagi para mahasiswa program Doktor. Banyak yang beranggapan bahwa sangat sulit (baca: hampir mustahil) untuk menembus jurnal terindeks Scopus. Padahal, apakah memang demikian sulitnya untuk publikasi di jurnal terindeks Scopus? Apakah publikasi di jurnal internasional bereputasi merupakan tantangan atau rintangan?</p>
<p>Sebenarnya, sesuai dengan pengalaman penulis, publikasi di jurnal terindeks Scopus tidaklah sesulit yang dibayangkan. Kendala yang menyebabkan mahasiswa gagal diterima di jurnal terindeks Scopus lebih dikarenakan ketidaktahuan mahasiswa mengenai kecocokan naskah yang dikirim dengan scope yang dimiliki oleh jurnalnya. Hal inilah yang pada kenyataannya menjadi faktor penentu diterima atau tidaknya suatu naskah oleh chief editor. Naskah yang ditolak belum tentu karena kualitas naskahnya buruk, tetapi karena tidak ada kesesuaian antara naskah dengan scope dari jurnalnya. Hal lain yang umumnya menjadi penyebab ditolaknya suatu naskah oleh chief editor jurnal adalah ketidakmampuan untuk menampilkan kebaruan dan daya tarik penelitiannya.</p>
<p>Menulis naskah dalam bahasa Inggris bukan menjadi masalah utama karena banyak lembaga yang bisa membantu untuk menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris akademis yang benar dan sekaligus menjadi proof reader. Lama www.grammarly.com, www.plagscan.com, www.mendeley.com, dan sejenisnya bisa dimanfaatkan untuk menyempurnakan naskah yang ditulis. Berdasarkan pengalaman penulis, diperlukan waktu sekitar 3-6 bulan untuk bisa menerbitkan suatu naskah di jurnal terindeks Scopus, dimulai dari tahapan mencari jurnal yang tepat, <a href="https://unjkita.com/kenapa-harus-menulis/">menulis naskah</a> sesuai dengan template yang diminta, proses pengiriman naskah, proses pre-review oleh chief editor, proses double-blind peer review oleh reviewer, perbaikan naskah, proses keputusan penerimaan/penolakan, hingga proses publikasi.</p>
<h3><strong>3 Hal Penting Untuk Mempublikasikan Naskah</strong></h3>
<p>Ada tiga hal awal yang perlu diketahui untuk mempublikasikan naskah di jurnal terindeks Scopus, yaitu: (1) jangan menulis naskah sebelum menemukan jurnal yang tepat, (2) jangan mencari jurnal sebelum memahami isi naskah yang akan ditulis, dan (3) jangan mengirim naskah ke jurnal yang tidak berhubungan dengan isi naskah yang ditulis. Penulis merasakan bahwa proses untuk mencari jurnal yang tepat membutuhkan waktu lebih lama dibanding proses menulis naskahnya. Pencarian jurnal yang tepat dilakukan melalui www.scimagojr.com dan www.scopus.com, lalu menggali informasi lebih mendalam di laman jurnal mereka masing-masing.</p>
<p>Hal yang wajib dilakukan adalah mengirim naskah ke jurnal yang memiliki scope dari naskah yang ditulis. Sebagai penulis pemula sebaiknya mencari dari jurnal Q4 tapi memiliki H-index yang tidak terlalu kecil, masih berstatus ‘on-going’ (bukan ‘cancelled’), telah menerbitkan beberapa edisi, memiliki tren sitasi positif, memiliki acceptance rate yang tidak terlalu kecil (idealnya 10%-40%), memerlukan proses yang tidak terlalu lama tetapi juga tidak terlalu cepat (idealnya 1-6 bulan), dan bukan diterbitkan oleh negara-negara tertentu yang memiliki banyak jurnal predator. Ada jurnal berbayar (biasanya yang open access atau self-financed publisher), dan ada juga jurnal yang tidak meminta biaya publikasi kepada penulisnya. Kedua jenis jurnal tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, penulis naskah sebaiknya mempertimbangkan keselarasan antara tujuan publikasi jurnal dengan rencana karir akademisnya di masa mendatang.</p>
<p>Beberapa saran untuk bisa menarik perhatian chief editor dan reviewer, yaitu: (1) judul bukan hanya menerjemahkan secara utuh judul disertasi tetapi harus ditulis ringkas, menarik, dan membuat penasaran, (2) penelitian dan kasus yang ditulis jangan terlalu ‘lokal’ karena dianggap kurang bermanfaat di tingkat internasional, (3) mengangkat hal-hal baru atau menjadi tren di masa datang, (3) tajam menguraikan masalah, metode, dan hasilnya, (4) jangan membahas kasus yang terlalu umum atau sering ditulis oleh peneliti lain tetapi penelitian harus memiliki kebaruan/novelty, (5) mengutip beberapa jurnal yang pernah diterbitkan oleh penerbit jurnal bersangkutan, (6) menggunakan bahasa Inggris akademis dengan kesalahan sangat minimal, dan (7) mengikuti author’s guidance yang ditetapkan oleh penerbit jurnal.</p>
<p>Pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya mutlak diperlukan oleh mahasiswa yang ingin penelitian disertasinya terpublikasikan di jurnal terindeks Scopus. Kekuatan mental sangat dibutuhkan saat menerima penolakan dari chief editor, jadikan penolakan tersebut sebagai pembelajaran untuk memperbaiki naskah dan mengirim kembali ke jurnal yang lain. Rajin membaca naskah dari jurnal-jurnal terindeks Scopus sangat membantu proses penulisan dan memperkaya isi dari naskah yang ditulis.</p>
<p>Setelah berjuang selama 6 bulan, setelah ditolak oleh 2 jurnal, penulis akhirnya berhasil mempublikasikan penelitian disertasi di International Journal of Entrepreneurship Volume 22, Issue 3, Tahun 2018 (terindeks Scopus, Q4, H-index 7) dengan judul “Intrapreneurial Mindset of Retail Store Leader: A Grounded Theory” bersama Prof. Dr. Hamidah, SE, M.Si dan Prof. Dr. Wibowo, SE, M.Phil (<a href="https://www.abacademies.org/journals/international-journal-of-entrepreneurship-inpress.htm">www.abacademies.org/journals</a>). Kebanggaan dan kepuasan membayar jerih lelah yang telah dikeluarkan, tidak ada yang mustahil bila mau berusaha.</p>
<p>Selamat mencoba dan publikasi!</p>
<p>Ditulis oleh: Elkana Timotius (NIM: 7647157992), Mahasiswa program Doktor Ilmu Manajemen UNJ.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/publikasi-di-jurnal-internasional-bereputasi-tantangan-atau-rintangan/">Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi: Tantangan atau Rintangan?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bijaksanalah terhadap IP</title>
		<link>https://unjkita.com/bijaksanalah-terhadap-indeks-prestasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2016 11:38:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[akademik]]></category>
		<category><![CDATA[IP]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=1403</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti rutinitas akhir semester pada umumnya bahwa kita (red : mahasiswa UNJ) disibukkan dengan akses untuk melihat IP (Indeks Prestasi). Dengan keterbatasan server yang dimiliki...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bijaksanalah-terhadap-indeks-prestasi/">Bijaksanalah terhadap IP</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seperti rutinitas akhir semester pada umumnya bahwa kita (red : mahasiswa UNJ) disibukkan dengan akses untuk melihat IP (Indeks Prestasi). Dengan keterbatasan server yang dimiliki dan dengan jumlah mahasiswa yang sangat banyak, maka wajar jika hanya orang-orang &#8220;terpilih&#8221; saja yang bisa membuka <a href="http://siakad.unj.ac.id/">siakad</a> dan itu pun butuh kesabaran ekstra.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi bukan mahasiswa namanya jika membiarkan diri mengalami stagnansi ketika menghadapi suatu masalah. Ada yang sejak jauh-jauh hari sudah bisa melihat IP-nya, salah satu langkah yang biasa ditempuh biasanya menggunakan Anjungan Akademik yang disediakan oleh pihak kampus. Atau ada juga yang punya trik rahasia untuk &#8220;membobol&#8221; siakad UNJ. Apa pun caranya tetap bijaksanalah terhadap IP.</p>
<p style="text-align: justify;">IP memang tidak selalu dapat menentukan masa depan seseorang. Ada yg IP-nya kecil tapi sukses, tapi ada pula yg IP-besar justru biasa-biasa saja. Maka bijaksanalah terhadap IP. Tapi statement diatas terkadang dijadikan dalih oleh mahasiswa untuk malas belajar, untuk malas mengevaluasi diri, untuk pasrah terhadap keadaan yg ada. Maka bijaksanalah terhadap IP.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang IP bukanlah penentu keberhasilan seseorang. Tapi setidaknya IP menjadi salah satu indikator bagaimana kita dapat memahami suatu ilmu. Bagaimana respek kita terhadap dosen yang juga merupakan orangtua kita saat kita sedang berada di kampus. Bagaimana kita bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas, ujian, atau praktikum. Maka bijaksanalah terhadap IP.</p>
<p style="text-align: justify;">IP memang tidak menjamin keberhasilanmu. Tapi berusalah semaksimal mungkin, jika sudah berusaha maksimal tapi IP pas-pasan yasudah bersyukur saja. Karena tidak semua orang hanya melihat seberapa besar IP-mu, tapi ada juga orang yang lebih memilih untuk melihat bagaimana caramu mendapatkan IP tersebut, bagaimana jerih payahmu untuk memahami suatu materi. Maka bijaksanalah terhadap IP.</p>
<p style="text-align: justify;">IP memang tidak menjamin kesuksesanmu. Maka janganlah menjadikan IP sebagai orientasimu dalam menuntut ilmu. Menghalalkan segala cara agar bisa mendapat IP tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala macam &#8220;jurus&#8221; andalan dikeluarkan ketika UTS atau UAS agar bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Baik mencontek secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan karena dosen tidak melihat atau mungkin sengaja tidak melihat atau pura-pura tidak tahu. Tapi bukankah Tuhan itu Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa yang dikerjakan hamba-Nya? Kau lakukan itu semua seolah kau lupa jika kemarin kau ikut demo tentang korupsi. Maka bijaksanalah terhadap IP.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi jangan menggunakan statement &#8220;IP tidak menjamin kesuksesanmu&#8221; utk kemudian bermalas-malasan. Datang terlambat ke kampus, titip absen, atau bahkan masuk ke kelas kalau ingat saja. Terus kau dengan mudahnya mengatakan, &#8220;selow brp, IP gak menjamin masa depan gue.&#8221; IP besar saja belum tentu sukses, apalagi yg kecil?</p>
<p style="text-align: justify;">IP yang besar hanya akan menjadi penghias manis lembar ijazahmu ketika semua itu kau dapatkan dengan cara yang curang yang membuat IP tidak menggambarkan kemampuanmu yang sebenarnya. Atau mungkin IP yang kecil justru akan menjadi sedikit gambaran tentang masa depanmu ketika sikapmu dalam keseharian terlalu sering merendahkan dosen atau tidak serius untuk kuliah karena malas. Maka bijaksanalah terhadap IP.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka berusahalah menjadi mahasiswa yg baik dalam akademiknya dan baik pula akhlaknya. Cerdas ilmu dunianya, cerdas pula ilmu akhiratnya. Yang menjadikan ambisimu mendapatkan IP yang tinggi bukan hanya untuk orientasi duniawi, melainkan orientasi untuk mendapatkan kehidupan di akhirat yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Bijaksanalah terhadap IP&#8230;</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bijaksanalah-terhadap-indeks-prestasi/">Bijaksanalah terhadap IP</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
