<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Literasi Mahasiswa Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/literasi-mahasiswa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/literasi-mahasiswa/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jul 2018 06:30:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Literasi Mahasiswa Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/literasi-mahasiswa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</title>
		<link>https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Asrul Pauzi Hasibuan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 01:19:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20504</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” Imam Al-Ghazali. Ungkapan pada kalimat tersebut bermakna cukup dalam. Dimana ketika...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/">&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar</em><em>,</em> maka <em>jadilah penulis.</em>” Imam Al-Ghazali.</strong></p></blockquote>
<p>Ungkapan pada kalimat tersebut bermakna cukup dalam. Dimana ketika kita menjadi penulis, maka kita bisa setara atau bahkan melampaui predikat anak raja yang –hanya- dilihat karena tahta ayahnya, begitu pun yang kedua, ketika anak ulama besar ini hanya ‘menggunakan’ kebesaran ayahnya –tidak karena ke keilmuannya sendiri.</p>
<p>Demikianlah, menjadi seorang penulis cukup ‘menjanjikan’, hingga pencapain tebaik bagi seorang penulis ialah abadi dari waktu ke waktu. Tulis Pramoedya Ananta Toer suatu waktu, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.</p>
<p>Kemudian menjadi sesuatu yang menarik ketika seseorang yang berpredikat sebagai mahasiswa pasca reformasi yang dituntut sesegera mungkin merampungkan studinya dengan waktu yang cukup terbatas, mampu menuliskan suatu buku di sela-sela kesibukan akademiknya –bahkan juga kesibukan lainnya seperti organisasi.</p>
<p>Melihat sesuatu yang cukup jarang dijumpai itu, tim UNJKita mengadakan RUBRIK (Ruang Terbuka UNJKita) via <em>Whatsapp </em><em>dengan tema “Ketika Mahasiswa Menjadi Penulis Buku”.</em></p>
<p>Narasumber termin pertama untuk diskusi online “Ketika Mahasiswa Menjadi Penulis Buku” pada Jum’at malam (17/3/18) yaitu, Tyo Prakoso, seorang alumni Pendidikan Sejarah FIS UNJ 2012 dengan bukunya “Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra” (2016).</p>
<p><em><strong>Baca juga:<a href="http://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/"> Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a></strong></em></p>
<p>Sobat <a href="http://UNJKita.com">UNJKita.com</a>, yuk simak QnA bersama Tyo Prakoso!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong><em>“Bagaimana sih kak cara bagi-bagi waktu buat produktif menulis, karena selain akademik ada juga organisasi dan teman-teman lain yang suka minta waktu kita?”</em></strong></h4>
<p><em>“Waduh, berat ini. </em><em>Sejujurnya, saya amatlah orang yang tidak sistematis dalam urusan membagi-bagi waktu. Saya kerap kali terlampau asik dg apa yang saya senang lakukan. Sehingga urusan dan kewajiban saya agak kedodoran. Itulah kenapa, mungkin, studi saya telat. </em></p>
<p><em>Jadi jawaban atas pertanyaan ini: perbanyak waktu terjaga di malam hari. Untuk baca dan hal-hal lainnya. Risikonya, kita tergabung ke Tareqat Al-Insomniyyaah.”</em></p>
<h4><strong><em>“Sejak kapan Kak Tyo mulai menulis intens? Bagaimana dengan kegiatan membaca buku, apa harus saat malam hari atau seinginnya kita aja?”</em></strong></h4>
<p><em>“Saya malah menulis intens semasa kuliah. Silakan berkunjung ke laman gerakanaksara.blogspot.com laman yang saya kelola bareng teman-teman yang lain. Kebetulan saya lebih senang menulis sastra, ketimbang sejarah. Saya merasa menulis sastra seperti berada di rest area dalam perjalanan jauh (yakni belajar sejarah). Dan tanpa saya sadari, koleksi buku saya, 70% buku sastra ketimbang sejarah. Ini tragedi sih. Hehehe. </em></p>
<p><em>Untuk membaca, sampai sekarang saya memaksa diri untuk membaca minimal 2 jam dalam satu momen (artinya tidak diselingi kegiatan apapun). Waktunya bisa kapan saja. Biasanya saya larut malam. Menjelang tidur.&#8221;</em></p>
<h4><strong><em>&#8220;Apakah Kak Tyo membaca satu buku dulu baru bisa menulis? Apa sesuai halaman yang kakak baca dihari itu?&#8221;</em></strong></h4>
<p><em>“Kalau saya sih fleksibel saja. Malah terlampau sering saya membaca tidak meniatkan untuk menulis sesuatu. Baca ya baca saja. Tidak berharap nanti bakal nulis hasil dari baca buku tersebut.</em></p>
<p><em>Malah lebih sering ketika dihadapkan pada satu momen, dan saya teringat dengan sebuah buku, maka saya buka ulang buku tersebut. Itu kenapa saya senang mencoret-coret buku, baik dengan stabilo, pensil, atau post it, agar mudah ketika membaca ulang. </em></p>
<p><em>Dan saya senang membaca berulang-ulang sebuah buku. Bukan apa-apa, karena saya merasa membaca (ulang) buku itu seperti seorang flaneur, pejalan kaki, yang keluyuran ke satu tempat yang (sama), dan menemukan hal yang tak terduga. Begitu dah. </em></p>
<p><em>Jadi, saran saya, ketika usai membaca sebuah buku, bikinlah review atau resume atau ringkasan atau sekalian dicoret-coret bukunya, untuk mengingat dan memudahkan ketika membaca ulang dan menulis.”</em></p>
<h4><strong><em>“Pernah gak sih Kak Tyo mengalami rasa malas atau mengantuk ketika sedang menulis? Nah, kalo pernah, kasih tau dong kak tips-tips menghadapi rasa malas atau cepat mengantuk saat sedang nulis?&#8221;</em></strong></h4>
<p><em>“Kalau saya pribadi punya prinsip (ngawur), &#8220;Malas adalah hak,&#8221;. Meski hak itu diperoleh setelah menuntaskan kewajiban kan. Dan membaca adalah kewajiban, bagi saya sih. Meski hobi saya tetap, tidur siang. </em></p>
<p><em>Itu untuk membaca. Karena bagi saya, prinsipnya menulis adalah efek samping (giat) membaca.</em></p>
<blockquote><p><strong><em>Menulis adalah efek samping (giat) membaca.</em></strong></p></blockquote>
<p><em>Nah, kalo sedang nulis lalu rasa malas datang, maka biasanya saya tinggal tulisan. Dan memilih ngelakuin hal-hal lain. Baca atau main PES atau pacaran. Pokoknya yang bisa bikin mood kembali. </em></p>
<p><em>Jangan membayangkan proses menulis itu sekali jadi. Menulis itu jalan yang panjang.”</em></p>
<h4><em><strong>&#8220;Kiat-kiat apa yang harus dilakukan oleh penulis pemula ketika rasa cemas dan keputusa-asaan datang menghampiri?&#8221; </strong></em></h4>
<p><em>&#8220;</em><em>Tentu kita tahu kan penulis Indonesia paling moncer belakangan ini, yang karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 20an bahasa di dunia, yap betul; Eka Kurniawan.</em></p>
<p><em>Novel pertamanya itu Cantik Itu Luka. Pertama kali novel itu enggak ada yang mau nerbitin. Akhirnya diterbitin secara mandiri. Lalu, ada penerbit mayor mau menerbitkan ulang. Dan saat itu novelnya dicaci-maki karena dianggap buruk oleh seorang Kritikus Sastra Ternama.</em></p>
<p><em>Apa yang kita bisa ambil dari cerita di atas? Saya pikir dua hal, yaitu, pertama, saya rasa semua penulis pasti mengalami titik cemas dan putus asa terhadap karyanya dan bahkan kritik. Jadi jangan terlampau khawatir dan cemas. Jadikan itu proses belajar. Lalu, kedua, bila ada kritik, ya terima saja. Karena kritik itu adalah proses bergeraknya sesuatu. Tanpa kritik sesuatu statis. Saya pikir demikian lah dg menulis.&#8221;</em></p>
<h4><em><strong>“Selain malas, apa kendala lain yang Kak Tyo temui di dunia tulis menulis, khususnya kendala untuk menerbitkan/ membukukan tulisan tersebut? Bagaimana cara kakak mengatasinya? Satu lagi, apa salah satu tulisan kakak yang tidak berkaitan dengan sejarah?</strong></em></h4>
<p><em>“Tampaknya saya harus mengklirkan dulu perihal &#8216;sejarah&#8217; yang saya maksud deh. Bagi saya, ada dua sejarah. Yakni Sejarah (dengan S besar) dan sejarah (dengan s kecil). Bedanya, Sejarah adalah yang tertulis dan dipelajari di sekolah atau kampus atau buku. Sedangkan, sejarah adalah apapun di masa silam yang pernah kita lalui. Semua orang mempunyai sejarah (baca: masa lalu), dan belum tentu semua memiliki Sejarah. Karena Sejarah kerap ditulis oleh pemenang untuk kekuasaan.</em></p>
<p><em>Lalu, apa hubungannya sejarah dan Sejarah? </em></p>
<blockquote><p><strong><em>Saya percaya, kita hidup karena kita memiliki sejarah. Dan hidup yang baik adalah perjuangan dari sejarah menjadi Sejarah.</em></strong></p></blockquote>
<p><em>Nah, yang saya tulis adalah sejarah. Dalam artian, kisah-kisah masa lalu tiap-tiap tokoh yang saya buat di tiap cerita saya. Tokoh-tokoh itu, tanpa disadari, mereka sedang berjuang dari sejarah menjadi Sejarah.</em></p>
<p><em>Kendala, adalah kesabaran. Sebagai penulis ijig-ijig, saya tidak cukup sabar untuk mematangkan ide-ide tulisan saya. Jadi, ketika sudah beredar di pembaca, masih juga banyak perkara yang belum selesai. Saya pikir ini masalah akut yang bisa diselesaikan dengan proses belajar terus menerus.</em></p>
<p><em>Selain menulis cerpen, saya juga menulis esai. Kebanyakan malah saya enggak menulis Sejarah. Meulis sehari-hari yang paling saya suka adalah cerpen Goen dan Pram dan Esai Montase Sepakbola.”</em></p>
<p><em><strong>Baca juga: <a href="http://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/">Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</a></strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/">&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Event “Cegah Generasi Nol Literasi” Dukung UU Tentang Sistem Perbukuan</title>
		<link>https://unjkita.com/event-cegah-generasi-nol-literasi-dukung-uu-tentang-sistem-perbukuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Aug 2017 03:26:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Agenda Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=12261</guid>

					<description><![CDATA[<p>Resmi pada tanggal 27 April 2017 Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilah Rakyat (DPR) menyetujui Rancangan Undang Undang menjadi Undang Undang, tu juan dari undang undang...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/event-cegah-generasi-nol-literasi-dukung-uu-tentang-sistem-perbukuan/">Event “Cegah Generasi Nol Literasi” Dukung UU Tentang Sistem Perbukuan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Resmi pada tanggal 27 April 2017 Pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilah Rakyat (DPR) menyetujui Rancangan Undang Undang menjadi Undang Undang, tu juan dari undang undang ini adalah menjamin ketersediaan buku bermutu, murah, dan merata baik buku umum maupun buku pendidikan, dari Undang Undang ini diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat melalui sistem perbukuan nasional.</p>
<p>Undang Undang sistem perbukuan terdiri dari XII Bab dan 72 Pasal. Bab I berisi ketentuan umum, Bab II mengatur mengenai bentuk, jenis dan isi buku, Bab III memuat aturan terkait hak dan kewajiban masyarakat dan pelaku perbukuan, Bab IV mengatur mengenai wewenang dan tanggung jawab pemerintah baik pusat maupun daerah, Bab V memuat pemerolehan naskah buku, Bab VI mengatur tentang penerbitan, Bab VII mengatur cara pendistibusian buku, Bab VII memuat aturan mengani penggunaan buku, Bab IX memuat aturan terkait peran serta masayarakat, aturan mengenai pengawasan tercantum dalam Bab XI dan XII memuat ketentuan penutup.</p>
<p>Bahkan pemeringkatan terbaru menurut data World’s Most Literate Nations dan disusun oleh Central Conecticut State University tahun 2016 literasi indonesia berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Krisis Membaca di Indonesia, Karena Malas atau Karena Harga Buku Mahal ?</strong></p>
<p>Pada tanggal 19 Juli 2017 mahasiswa/i program studi Pendidikan Administrasi Perkantoran 2015 dan Pendidikan Ekonomi Koperasi 2016 Fakultas Ekonomi UNJ bekerja sama dengan Penerbit Raja Grafindo untuk mengadakan Event *Peluncuran Buku dan Workshop* yang bertemakan “Cegah Generasi Nol Literasi” bertempat di Aula Latief Hendraningrat Gedung Dewi Sartika UNJ pada pukul 08.00-13.00 WIB. Tujuan dari Event ini adalah meningkatkan minat membaca dan menulis pada kalangan Mahasiswa, Event ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh Mahasiswa dan Dosen FE UNJ.</p>
<p>Event ini dibuka dengan sambutan oleh Pak Dedi Purwana selaku Dekan Fakultas Ekonomi UNJ sekaligus sebagai penulis buku.<br />
Buku yang diluncurkan dalam Event ini adalah “Lincah Menulis Artikel Ilmiah Populer dan Jurnal” karya Dr.Dedi Purwana ES,M.Bus dan Agus Wibowo S.Pd.I, M.Pd dan Workshop yang di isi oleh 2 Narasumber yaitu Sri Murni S.Sc selaku Manajer Marketing Penerbit Raja Grafindo Persada dan Monalisa S.E.I.,MM.Si selaku Editor Penerbit Raja Grafindo Persada.</p>
<p><em>”Anak-anak jaman sekarang lebih senang membaca buku lewat gadget mereka dibandingan melalui buku, alasannya melalui gadget lebih praktis dan gaperlu keluar uang untuk membeli buku, padahal keuntungan membaca melalui buku sangat banyak seperti mata tidak cepat capek karena tidak terkena cahaya dari layar gadget, lewat buku kita bisa menandai bacaan dengan melipat buku atau menandainya dengan pembatas, dan kita bisa menggaris bawahi dan menstabilo kalimat dan kata kata penting dalam buku yang kita baca”</em> Tutur bu Murni.</p>
<p><em>“Anak-anak lebih senang beli buku bajakan dengan alasan lebih murah, padahal buku relatif mahal karena penulisnya harus meluangkan waktu untuk mencari ide ide, menulis buku itu prosesnya panjang, perlu dikaji secara matang bukan secara terburu buru karena akan berdampak pada hasilnya,dan kita harus mengeluarkan biaya untuk kertas, tinta, membayar orang orang dibalik pengerjaan buku itu terlebih lagi harus ada biaya tambahan untuk mempromosikan buku tersebut misalkan mau di taro di gramedia nah mau ditaro di new list/entry beda harganya sama yang di rak, terkadang ada bab yang harus di revisi, nah yang terbit sebelum revisi terpaksa harus dimusnahkan salah satu caranya dengan dirobek,kalo cuma nyobek sedikit gak masalah tapi ini kadan kadang sekamar, apa gak pegel itu tangannya yang nyobekin, belum lagi biasanya anak anak suka buka plastik yang ada dibukunya buat dibaca aja tapi gak dibeli biasanya kalo yang seperti itu susah terjual karena siapa yang mau beli kalo plastiknya sudah dibuka, jangan beli buku bajakan ya nak kasihan penulisnya, dan sekarang juga udah ada UU Perbukuan jadi harga mudah mudahan udah gak jadi masalah.” </em>Keluh bu Murni.</p>
<p>Bu murni juga menayangkan slide tentang gaya dan cara penulisan anak jaman sekarang yang menggunakan angka dan bahasa bahasa tidak sewajarnya “<em>belum tentu yang ada disini bisa baca tulisan kayak gitu, itu apa tulisannya ya ? saya belum baca tapi udah pusing duluan,bener ya pak? hahaha.”</em> Kata bu Murni.</p>
<p>Rendahnya angka literasi membuat orang indonesia mudah termakan isu atau kabar burung sekarang nama kerennya hoax, tanpa keinginan mengkaji terlabih dahulu, karena jarang baca buku jadi tidak tahu apa apa, dapat kabar begini langsung sebar ke segala grup tapi kebenarannya belum diketahui, Diharapkan kita menjadi masyarakat yang yang mampu memaknai dan memanfaatkan informasi secara kristis untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa kita.</p>
<p>Faktanya anak anak kecil sekarang sudah lebih senang main game di gadget daripada membaca buku pelajaran atau bahkan dongeng sekalipun, dan orang dewasa sekarang ketika bingung ingin berbuat apa langkah pertama yang ditempuh anda main gadget bukan menambah wawasan dengan membaca buku. Bahkan sampai ada istilah “Buku adalah Jendela Dunia” makna dari istilah itu adalah dengan membaca dapat meningkatkan kualitas hidup manusia serta menjauhkan dari jurang kebodohan. Membaca membuat kita berlatih memusatkan pikiran dan merangsang saraf otak untuk bekerja. Melalui istilah itu dapat tergambar bahwa buku sangat penting perannya untuk mencerdaskan bangsa kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh : Evie Ramadhanti</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/event-cegah-generasi-nol-literasi-dukung-uu-tentang-sistem-perbukuan/">Event “Cegah Generasi Nol Literasi” Dukung UU Tentang Sistem Perbukuan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
