<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Remaja Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/remaja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/remaja/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Aug 2016 08:06:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Remaja Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/remaja/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Remaja Sebagai Korban Media Sosial</title>
		<link>https://unjkita.com/remaja-sebagai-korban-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2016 04:06:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[cyberbullying]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=3646</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mencurahkan isi hati adalah hal yang wajar bagi seseorang. Memang seseorang perlu untuk mencurahkan isi hatinya bukan hanya memendam sendiri. Bermacam cara dapat dilakukan, misalnya...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/remaja-sebagai-korban-media-sosial/">Remaja Sebagai Korban Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mencurahkan isi hati adalah hal yang wajar bagi seseorang. Memang seseorang perlu untuk mencurahkan isi hatinya bukan hanya memendam sendiri. Bermacam cara dapat dilakukan, misalnya saja dengan bercerita kepada sahabat, keluarga, atau orang yang dipercaya, dapat juga dengan menulis di buku <em>diary</em>, membuat cerita atau puisi, dan sebagainya. Namun degan berkembangnya jaman kebanyakan orang akan mencurahkan isi hatinya ke sosial media yang dimiliki.</p>
<p>Berbagai macam jenis media sosial kita gunakan hanya dengan mengunduhnya secara gratis. Orang lain pun dapat melihat status, foto, dan dapat pula berkomentar. Dengan adanya media sosial bukan hanya berdampak positif, tetapi terdapat dampak negatif. Salah satunya adalah membawa pengaruh bagi orang lain. Pengaruh ini bukan hanya merubah gaya seseorang, tapi juga sifat dan tingkah laku.</p>
<p>Akhir-akhir ini mungkin kita dipanaskan dengan aksi seseorang remaja belia yang mencurahkan isi hatinya dalam sebuah video yang diunggah di akun sosial media pribadinya. Video tersebut tidak hanya berisi tentang cuharan hatinya, tetapi juga perjalanan ia memberikan kejutan untuk kekasihnya. Sebelumnya gadis ini adalah seorang artis di media sosial. Remaja ini terkenal karena foto, video, dan curahan hatinya di media sosial pribadinya. Apalagi ia juga mempunyai paras yang cantik. Sayangnya perilakunya tak sebaik dengan kecantikannya. Ada alasan mengapa yang dilakukan remaja tersebut dapat dikatakan tak baik dan baik bagi orang lain.</p>
<p>Kita sekarang hidup di dunia yang bebas beropini, menilai sesuatu, mengkritisi, dan mendapatkan informasi secara gratis hanya dengan menggunakan internet. Semua orang memiliki standarnya masing-masing. Untuk bersikap bahkan beropini pasti ada saja yang akan mengkritisi. Jika tidak pandai-pandai dalam bersikap di dunia maya maka kita akan mendapatkan kritik yang pedas atau buruknya mendapatkan <em>cyberbullying</em>.</p>
<p>Tapi bagaimana dengan orang-orang yang menjadi korban karena terpengaruh seseorang dari media sosial?</p>
<p>Ya, jelas sekali jika disebut sebagai korban. Ini berlaku untuk orang-orang pengguna media sosial yang berperan sebagai penerima. Mereka sebagai penerima hanya melihat dan membaca. Buruknya jika dengan polosnya mereka mengikuti sesuatu yang sedang <em>trend</em> tanpa mengetahui baik dan buruknya.</p>
<p>Inilah yang terjadi di dunia remaja sekarang. Banyak remaja sekarang yang sangat hobi untuk mengikuti berita terkini kegiatan artis-artis sosial media dan tanpa pikir panjang mereka mengikuti aksi idola mereka itu. Banyak perilaku negatif seperti merokok, berhura-hura, minum alkohol, bertato, berpcaran melewati batas dan perilaku buruk lainnya ditiru oleh kebanyakan remaja sekarang. Padahal ada banyak perilaku baik yang lebih patut ditiru. Hobi mendaki, menulis, <em>traveling</em>, dan seribu perilaku baik lainnya yang seharusnya ditiru.</p>
<p>Remaja adalah masa di saat orang mencari sesuatu yang akan diikutinya, mencari jati diri, dan arti hidup. Jika salah mengikuti seseorang karena terpengaruh perkataan atau perilaku akan berdampak kepada masa depannya. Semua itu berawal dari pola pikir dan keteguhan hati. Jika pola pikir seseorang adalah bebas maka hidupnya akan semau dirinya, entah ke arah yang baik atau yang buruk. Keteguhan hati yang dimaksud adalah seseorang memiliki pendapat sendiri lalu mempertahankan yang dilakukannya dan mengabaikan hal-hal negatif yang menggoyahkan dirinya.</p>
<p>Alih-alih orang tua juga harus tetap berperan dalam perkembangan anaknya di masa remaja. Remaja sendiri pun juga harus meneguhkan hatinya untuk tidak terjun ke jalan yang dapat merugikan dirinya. Memilah-milah atau memperhitungkan sesuatu untuk ditiru dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan. Nah, dan jangan lupa untuk tetap mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.</p>
<p><strong>Oleh: Apriyanti Ayu Lestari (FIS)</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/remaja-sebagai-korban-media-sosial/">Remaja Sebagai Korban Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>UNJ Adakan Pameran Pendidikan Seks untuk Remaja</title>
		<link>https://unjkita.com/unj-adakan-pameran-pendidikan-seks-untuk-remaja/</link>
					<comments>https://unjkita.com/unj-adakan-pameran-pendidikan-seks-untuk-remaja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ferly Ferdyant, S.E]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2015 04:56:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Seks]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=257</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengetahuan seks yang rendah menyebabkan remaja rentan melakukan seks bebas. Akibatnya, angka kehamilan di luar nikah, bahkan penyakit HIV/AIDS meningkat dari tahun ke tahun. Mengingat...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/unj-adakan-pameran-pendidikan-seks-untuk-remaja/">UNJ Adakan Pameran Pendidikan Seks untuk Remaja</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pengetahuan seks yang rendah menyebabkan remaja rentan melakukan seks bebas. Akibatnya, angka kehamilan di luar nikah, bahkan penyakit HIV/AIDS meningkat dari tahun ke tahun.</p>
<p>Mengingat pentingnya pendidikan seks bagi anak-anak dan remaja, Rutgers WPF Indonesia bekerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar Comprehensive Sexuality Education (CSE) Fair 2015 di Gedung Dewi Sartika UNJ. Seminar dan diskusi mengenai pendidikan seksual dan <em>bullying </em>tersebut diikuti oleh kalangan pendidik, siswa, dan mahasiswa.</p>
<p>&#8220;Selain menghasilkan individu yang mampu mencegah kekerasan seksual, pendidikan seksual juga membentuk individu yang memiliki kepercayaan diri tinggi serta menghargai diri sendiri dan orang lain,&#8221; ujar Direktur Rutgers WPF Indonesia, Monique Soesman, di UNJ, Rawamangun, Jakarta, Senin (30/11/2015).</p>
<p>Monique menjelaskan, pendidikan seksualitas komprehensif adalah kunci untuk membentuk pribadi yang positif, percaya diri, mencintai diri lebih baik, dan mampu menolak kekerasan.</p>
<p>&#8220;Pendidikan seksualitas konprehensif menggunakan pendekatan yang melihat seksualitas manusia sebagai hal yang positif dan harus diperbincangkan secara ilmiah dan tanpa menghakimi,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Saat ini, Rutgers WPF bersama para mitra telah merintis berbagai modul pendidikan seksualitas untuk anak, mulai dari TK hingga luar sekolah. Salah satunya, yakni dengan UNJ melalui Unit Pelayanan Teknis Layanan Bimbingan dan Konseling (UPT LBK) dengan menampilkan modul pendidikan seksualitas komprehensif dan praktik cerdas.</p>
<p>&#8220;Pendidikan seksualitas komprehensif ini sangat diperlukan karena akan memberikan pemahaman kepada calon-calon guru untuk mengembangkan seksualitas anak didik ke arah yang positif,&#8221; tutur ketua UPT LBK UNJ, Eka Wahyuni.</p>
<p>UPT LBK sendiri akan meluncurkan Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi (Kespro) untuk mahasiswa. bekerja sama dengan BKKBN. Program yang akan diinisiasi pada 3 Desember itu akan mengawal terlaksananya pendidikan seksualitas yang komprehensif di universitas.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/unj-adakan-pameran-pendidikan-seks-untuk-remaja/">UNJ Adakan Pameran Pendidikan Seks untuk Remaja</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/unj-adakan-pameran-pendidikan-seks-untuk-remaja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
