<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sosial Media Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/sosial-media/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/sosial-media/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Nov 2019 22:55:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Sosial Media Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/sosial-media/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bucin Ketokohan</title>
		<link>https://unjkita.com/bucin-ketokohan/</link>
					<comments>https://unjkita.com/bucin-ketokohan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 May 2019 22:02:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=22030</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akui sajalah, sudah lama kita menjadi budak cinta (bucin) ketokohan. Bukan saat Pemilu ini saja. Kita terpukau dengan ketokohan, tapi tidak pada pikiran, ide, gagasan,...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bucin-ketokohan/">Bucin Ketokohan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akui sajalah, sudah lama kita menjadi budak cinta (bucin) ketokohan. Bukan saat Pemilu ini saja. Kita terpukau dengan ketokohan, tapi tidak pada pikiran, ide, gagasan, paham, nilai, dan gerak yang dibawa dan dilakukan sang tokoh. Alhasil saat tokoh itu benar, kita menyanjungnya setinggi langit, dan ketika dia salah, kita tetap menganggapnya benar, menyembunyikan kesalahannya, membelanya mati-matian, dan “mengharamkan” orang lain mengkritiknya. Pokoknya tokoh kita harus terlihat kinclong dan jangan ada noda sedikitpun.</p>
<p>Maka betapa bahayanya menjadi bucin ketokohan ini. Kita terancam menipu dan membodohi diri sendiri. Bahaya dan rugi juga sebenarnya buat sang tokoh. Karena si bucin kerjanya hanya menjilat-jilat, memuji-muji melulu dan tidak enakan mengkritik. Akibatnya sang tokoh bisa merasa benar-benar saja dengan apa yang diucapkan dan dilakukannya. Dia jadi tidak tahu kesalahannya, dan dengan begitu, dia tidak memperbaikinya. Citra baiknya pun terancam merosot.</p>
<p>Padahal, kita, umat Islam, sebenarnya sudah memahami dan meyakini bahwa hanya Nabi sajalah yang terjaga dari kemaksiatan dan dosa (ma’shum). Selain Nabi, kita semua tak luput dari kedua hal itu. Tapi kita mendadak lupa dengan hal mendasar ini manakala kita menjadi bucin. Seakan-akan kita menyejajarkan tokoh kita dengan para Nabi.</p>
<p>Yang bisa salah dan berdosa ya kita-kita ini dan tokoh-tokoh idola kita, seperti Prabowo, Jokowi, Kiai Ma&#8217;ruf, Sandiaga Uno, Megawati, SBY, Amien Rais, Fadli Zon, Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung, Fahri Hamzah, Eggi Sudjana, Kivlan Zen, Habib Rizieq, Yusril, Mahfud MD, Ahok, Anies, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Said Aqil, Quraish Shihab, Cak Nur, Cak Nun, Syafii Maarif, Haidar Bagir, Felix Siauw, Ulil Abshar Abdalla, Tengku Zulkarnain, UBN, UAS, Natsir, Aidit, Karl Marx, Pramoedya Ananta Toer, Hamka, Bung Karno, dan tokoh-tokoh lainnya.</p>
<p>Karena mereka semua bisa salah, maka tidak bisa kita benarkan semua omongan, sikap, dan perilakunya. Juga tidak bisa kita salahkan sepenuhnya omongan, sikap, dan perilakunya. Lantaran mereka juga bisa benar. Jadi, mending kita lebih melihat pada pikiran, ide, gagasan, paham, nilai, dan gerak yang dibawa dan dilakukan oleh sang tokoh. Bukan malah tertawan dengan ketokohan. Ini agar pikiran kita bisa merdeka, kritis, jujur, proporsional, dan objektif dalam menilai tokoh baik ketika mereka benar maupun salah.</p>
<p>Kalau tokoh-tokoh tadi salah, maka sudah sepatutnya dikritik. Tentu dengan niat meluruskan. Bukan “meludahinya” dengan caci maki, dan merasa paling benar sendiri atau sampai mengulik-ulik masalah pribadinya dan mencari-cari kesalahannya yang lain. Sementara jika mereka benar, sudah selayaknya didukung dan diikuti. Tentu juga dengan cara-cara yang tidak berlebihan. Tidak lantas mengkultuskan atau mensucikannya. Sewajarnya sajalah. Karena sekali lagi, tokoh-tokoh ini bukan Nabi.</p>
<p>Tidak Ikut Masuk Penjara dan Kemakan Hoax<br />
Dengan kita menyadari bahwa tokoh-tokoh tadi bisa salah, maka kita bisa tidak ikut masuk penjara bersama sang tokoh. Maksudnya begini. Bisa saja tokoh-tokoh itu melanggar hukum. Entah karena ketidaktahuan, ketidaksengajaan, atau kekhilafannya melakukannya. Kalau kita menjadi bucin, maka kita akan menganggap perbuatan tokoh itu tidak melanggar hukum. Bahkan kita turut mendukung dan mengikuti langkahnya. Akibatnya bisa berjamaah masuk bui.</p>
<p>Selain bisa masuk bui, menjadi bucin bisa membuat diri kita kemakan hoax. Di era banjir informasi ini, tokoh-tokoh kita bisa saja menyebarkan hoax. Mungkin saja karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuannya. Kalau kita jadi bucin, maka kita akan langsung percaya begitu saja dengan hoax yang disebarkan sang tokoh. Karena bagi kita, apa yang disebarkan sang tokoh pasti benar atau info valid. Apalagi info itu menguntungkan kubunya dan merugikan lawannya. Maka dengan semangat 45, jempol kita akan menyebarluaskannya ke facebook, twitter, instagram, dan grup-grup whats app keluarga! Demi longsornya wibawa lawan. Sialnya, kita tidak tahu kalau informasi itu sebenarnya hoaks. Belakangan hari baru tahu ketika dilaporkan lawan ke polisi dan akhirnya kita harus menginap di penjara. Lalu kita tertunduk malu dan menyesal di pojok sel. Ya, benar, penyesalan memang selalu datang terlambat.</p>
<p>Tapi kalau kita bukan dari golongan bucin, maka kita akan lebih kritis dan hati-hati dalam membaca dan menyebarkan informasi dari sang tokoh tadi. Salah benarnya informasi ditelusuri dengan pencarian berbagai data dan fakta. Sehingga kesimpulan informasi itu benar atau hoax akan terjawab valid. Sehingga kita tidak kemakan hoaks. Ini semua dilakukan bukan berarti kita tidak sedang menghormati tokoh. Bukan begitu. Tapi dengan melakukan itu, justru kita membantu memberi tahu ke tokoh bahwa ini hoax loh Pak, Bu. Tokoh yang rendah hati dan open mind tentu akan senang dan berterimakasih kepada kita. Karena ia jadi tahu bahwa informasi yang disebarkannya itu hoax. Dan selanjutnya ia bakal mengklarifikasi kepada publik agar tidak ikut kemakan hoax.</p>
<p>Maka, mari kita segera insyaf dan mengakhiri kisah hidup menjadi bucin ketokohan. Sudah saatnya kita move on, guys di bulan Ramadhan ini!</p>
<p><strong>Andi Ryansyah</strong>, Esais tinggal di Jakarta</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bucin-ketokohan/">Bucin Ketokohan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/bucin-ketokohan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aktualisasikan Energi Positif lewat Sosial Media ala Tasya Kamila</title>
		<link>https://unjkita.com/aktualisasikan-energi-positif-lewat-sosial-media-ala-tasya-kamila/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Akbar Evandio (aka)]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2018 17:25:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[GenerasiMillenials]]></category>
		<category><![CDATA[millenial]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=21508</guid>

					<description><![CDATA[<p>UNJKita.com – Jakarta, (05/10/2018), Hai sobat unjkita ketika membahas media sosial, platform tersebut hari ini menjadi sebuah gerbang manusia untuk saling berkomunikasi secara global dan menjadi...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/aktualisasikan-energi-positif-lewat-sosial-media-ala-tasya-kamila/">Aktualisasikan Energi Positif lewat Sosial Media ala Tasya Kamila</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>UNJKita.com – Jakarta, (05/10/2018), Hai sobat unjkita ketika membahas media sosial, platform tersebut hari ini menjadi sebuah gerbang manusia untuk saling berkomunikasi secara global dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia itu sendiri salah satunya generasi millenial.</p>
<p>Millenial menyikapi media sosial kini juga menjadi wadah informasi penting dalam menyikapi berbagai sudut pandang gaya hidup di zaman modern ini. Meskipun demikian, generasi millenial tetap perlu untuk meningkatkan kemampuan serta memahami etika penggunaan media sosial. Selain berdampak positif bagi kehidupan individu, keluarga dan juga dapat meningkatkan citra dunia usaha, seperti merek dan perusahaan, media sosial pun mempunyai dampak negatif jika digunakan untuk tujuan negatif dan sikap/perilaku yang tidak tepat.</p>
<p>Media sosial hari ini sebenarnya memiliki kemampuan untuk menjadi peluang, ancaman atau tantangan ya? Khususnya, bagi generasi millenial saat ini?</p>
<p>Menjawab hal tersebut unjkita memiliki kesempatan untuk melihat sudut pandang tersebut dari seorang mantan penyanyi cilik dengan lagunya &#8220;Libur Telah Tiba&#8221;. Penasaran kan? hehehe.</p>
<p>Siapa lagi kalau bukan Shafa Tasya Kamila atau akrab disapa Tasya. Yuk, kita simak obrolan tim unjkita dengan Tasya.</p>
<div id="attachment_21515" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-21515" class="size-full wp-image-21515" src="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya.jpeg" alt="" width="1280" height="720" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya.jpeg 1280w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya-150x84.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya-800x450.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya-747x420.jpeg 747w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya-640x360.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya-681x383.jpeg 681w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-21515" class="wp-caption-text">doc.Pribadi</p></div>
<p><strong>Halo kak Tasya, Assalamualaikum&#8230;<br />
</strong></p>
<p>Halo sobat unjkita, waalaikumsalam&#8230; <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><strong>Kak Tasya, menurut kakak sedekat apa sih hubungan sosial media dengan generasi millenial saat ini? Serta apa peran sosial media untuk millenial kak?</strong></p>
<p>Pastinya, ketika membahas isu ini kita menyadari bahwa adanya hubungan dari generasi millenial dengan sosial media. Millenial mampu menjadi pengguna, pengelola, atau penyedia dalam menyikapi sosial media itu sendiri. Karena ketika membahas sosial media, platform tersebut sudah menjadi bagian bagi para millenial untuk mengekspresikan diri, mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif serta lebih dekat untuk memahami informasi yang diminati. Dari kedekatan kita dengan sosial media sendiri akan lahir sisi baik dan buruk, hal ini juga dilihat tergantung bagaimana cara kita menanggapinya. Sehingga, saat kita dekat dengan sosial media itu merupakan salah satu jalan dalam mengaktulisasikan diri kita lebih jauh lagi. <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<div id="attachment_21517" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-21517" class="size-full wp-image-21517" src="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya123.jpeg" alt="" width="1280" height="720" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya123.jpeg 1280w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya123-150x84.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya123-800x450.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya123-747x420.jpeg 747w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya123-640x360.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya123-681x383.jpeg 681w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-21517" class="wp-caption-text">doc.Pribadi</p></div>
<p><strong>Ketika membahas baik dan buruk sosial media sendiri, menurut kakak sosial media itu peluang, tantangan atau ancaman bagi millenial?</strong></p>
<p>Hal ini juga tergantung bagaimana penerapan mereka dalam menggunakan teknologi tersebut, karena setiap individu mampu menurutku untuk mengeluarkan kemampuannya atau mengubur kemampuannya dari sudut pandang mereka sendiri.</p>
<p>Menjadi <strong>PELUANG, </strong>ketika kita mampu untuk membuat skala prioritas dan menyadari pentingnya keseimbangan hidup kita di dunia nyata dan dunia maya. Sehingga, prioritas akan melahirkan kreatifitas dan inovasi yang mampu menjadi ajang untuk aktualisasi diri kembali.</p>
<p>Menjadi <strong>TANTANGAN</strong>, dimana ketika millenial kedepannya mampu untuk menjadikan sosial media sebagai platform yang mampu dialokasikan dengan ide-ide baru untuk masuk ke dunia usaha, mendapat koneksi dengan orang atau lembaga, meningkatkan karya yang bisa kita salurkan, dll.</p>
<p>Menjadi <strong>ANCAMAN</strong>, ketika millenial menganggap sosial media hanya sebagai pelengkap kebutuhan saja sehingga banyak potensi yang akan terkubur dan tidak menutup kemungkinan semakin tingginya, ajang ujaran kebencian, penyebaran hoax karena tidak dilawan oleh sisi positif dari sosial media itu sendiri. Jadi bagaimana millenial menyikapi hal ini sih. hehehe <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><strong>Berbicara tentang ujaran kebencian dan penyebaran hoax nih kak, kita memahami itu menjadi concern kita saat ini, ditambah lagi dengan sedang maraknya isu politik. Menurut kakak, kenapa millenial jadi sasaran empuk dalam penyebaran hoax dan ujaran kebencian, serta menjadi target dari isu politik saat ini?</strong></p>
<p>Menurutku, menjadi hal wajar ketika millenial menjadi target saat ini karena arus informasi dalam arus digital berkembang begitu cepat. Akan tetapi, millenial kita saat ini sedang dalam tahap menuju melek literasi.</p>
<p>Informasi saat ini mudah di <em>share, repost</em>, dan mudah di<em>update</em> menjadikan kita harus mampu beradaptasi dan mengimbangi dengan paham akan literasi digital salah satunya. Karena kita sadar juga, bahwa millenial merupakan sebuah bonus demografi yang berpeluang dalam kontribusi untuk perpolitikan di Indonesia, hal paling dekat adalah millenial adalah menjadi para pemilih baru. Sehingga, millenial dilihat mampu sebagai pelopor dari bagian politik itu sendiri seperti pengembang isu, promosi dan kampanye kandidat.</p>
<p>Jadinya, meminimalisir millenial sebagai sasaran penyebaran hoax dan ujaran kebencian dan target politik adalah menjadikan media sosial itu sebagai bentuk penyebaran energi positif dengan melek literasi, melek teknologi dan digital dan skeptis terhadap informasi yang masih rancu kebenarannya hehe&#8230; <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<div id="attachment_21516" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-21516" class="size-full wp-image-21516" src="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya12.jpeg" alt="" width="1280" height="720" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya12.jpeg 1280w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya12-150x84.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya12-800x450.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya12-747x420.jpeg 747w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya12-640x360.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/10/Tasya12-681x383.jpeg 681w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-21516" class="wp-caption-text">doc.Pribadi</p></div>
<p><strong>Menarik kak, terakhir deh kak. Harapan kakak untuk millenial saat ini dalam menyikapi sosial media seperti apa kak?</strong></p>
<p>Pastinya, ketika aku membahas harapanku saat ini adalah kita sebagai pengguna smartphone agar mampu menjadi smart user kedepannya.</p>
<p>Ketika menyikapi informasi seperti cuplikan video, headline berita, dan lainnya kita mampu untuk menelaah terlebih dahulu. Mulai dari sumbernya, kompeten atau tidak penulis artikel. Serta, meningkatkan sikap kritis dan skeptis terhadap setiap informasi untuk tidak menelan mentah-mentah.</p>
<p>Millenial aku harapkan mampu untuk tetap berperilaku baik, karena dunia maya memang tidak berinteraksi langsung tatap muka tapi hakikat kita sebagai manusia apalagi negara indonesia yang kental dengan adat ketimuran kita harus saling memahami menghormati dan memanusiakan setiap insan dengan empati dan simpatinya. Contohnya, jangan mudah julid ke orang lain, jangan mudah menyebarkan hoax akan tetapi kita gunakan untuk mendapatkan informasi dan inspirasi agar kita sebagai bonus demografi, sebagai millenial mampu menjadi energi positif dan mengaktualisasikan diri sendiri semakin baik dari waktu ke waktu.</p>
<p>Jadi semangat ya kalian semua<br />
Kita Aktualisasikan energi positif millenial, kita berkarya <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/aktualisasikan-energi-positif-lewat-sosial-media-ala-tasya-kamila/">Aktualisasikan Energi Positif lewat Sosial Media ala Tasya Kamila</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>6 Tipe Manusia Pengguna Facebook</title>
		<link>https://unjkita.com/6-tipe-manusia-pengguna-facebook/</link>
					<comments>https://unjkita.com/6-tipe-manusia-pengguna-facebook/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ihsan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2016 22:28:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis Online]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=885</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat ini facebook adalah negara (digital) dengan jumlah penduduk terbesar no 3 di dunia. 500 juta penduduk facebook jelas lebih banyak dari negara Indonesia yang berada di...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/6-tipe-manusia-pengguna-facebook/">6 Tipe Manusia Pengguna Facebook</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini facebook adalah negara (digital) dengan jumlah penduduk terbesar no 3 di dunia. 500 juta penduduk facebook jelas lebih banyak dari negara Indonesia yang berada di angka 200 juta jiwa. Secara umum penduduk facebook bisa kita golongkan menjadi 6 kelompok besar, yaitu:</p>
<h4>Family Man</h4>
<p><a href="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Keluarga-Gajah.jpg" rel="attachment wp-att-932"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-932 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Keluarga-Gajah.jpg" alt="Keluarga Gajah" width="640" height="359" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Keluarga-Gajah.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Keluarga-Gajah-300x168.jpg 300w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Keluarga-Gajah-320x180.jpg 320w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a></p>
<p>Tipe ini menggunakan sosial media untuk berinteraksi dengan keluarga, sanak saudara, dan teman-teman. Makhluk tipe ini biasanya sangat selektif soal <em>Approve</em> pertemanan data pribadi, dan biasanya akun tersebut di setting privasi hanya akun-akun yang sudah berteman saja yang bisa kepoin akunnya.</p>
<h4>Game Holic</h4>
<p><a href="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/facebook_games.jpg" rel="attachment wp-att-930"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-930 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/facebook_games.jpg" alt="facebook_games" width="640" height="363" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/facebook_games.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/facebook_games-300x170.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a></p>
<p>Facebook memiliki layanan hiburan berupa kumpulan game menarik. Tidak sedikit game facebook yang cukup terkenal seperti Poker, Ninja Saga, counter SWAT, dll. Satu game pemainya bisa mencapai 1 juta orang.</p>
<p>Game di facebook juga cukup beragam mulai dari yang berat seperti peperangan hingga yang ringan seperti tetris dan Pacman.Gak heran banyak pengguna facebook yang memanfaatkan fasilitas game.Penasaran? cek <strong><a href="https://www.facebook.com/games" target="_blank">disini</a></strong></p>
<h4>Pencari Informasi</h4>
<p><a href="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Mencari-Informasi.jpg" rel="attachment wp-att-933"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-933 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Mencari-Informasi.jpg" alt="Mencari Informasi" width="640" height="418" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Mencari-Informasi.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/Mencari-Informasi-300x196.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a></p>
<p>Biasanya orang menggunakan facebook juga dipengaruhi kegemaranya (hobi). Facebook memiliki bentuk akun halaman (Fan Page) yang dimiliki oleh suatu tokoh, komunitas, produk, dst. Facebook jadi salah satu cara mendapatkan info terbaru dari sesuatu yang kita gemari. Kalau kita senang sama dunia pendidikan biasanya kita akan mengikuti berbagai macam fan page pendidikan dan ikut serta didalam group yang rutin diskusi pendidikan.</p>
<h4>Tukang Gosip &amp; Ajang Pamer</h4>
<p><a href="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/selfie-pamer-diri.jpg" rel="attachment wp-att-994"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-994 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/selfie-pamer-diri.jpg" alt="selfie pamer diri" width="640" height="408" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/selfie-pamer-diri.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/selfie-pamer-diri-300x191.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a></p>
<p>Mungkin tipe ini adalah tipe mayoritas di social media. Bagi mereka semua wajib update di social media, SOP segala macam kegiatan wajib diawali dengan foto kemudian upload di social media. Penyakit pamer di social media terdiri dari beberapa tingkatan mulai dari hal simpel sekedar pamer jalan-jalan atau makan di restoran hingga yang pamer donasi, berbuat kebaikan atau ritual ibadah. Tipe ini bahaya sob perbaiki lagi niat kalo kamu termasuk didalamnya.</p>
<p>Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dosen jurnalistik Dr Renee Barnes dan ahli psikologi Profesor Doug Mahar dari University of the Sunshine Coast, terungkap bahwa &#8220;Apabila di dunia nyata orang tersebut memiliki kepribadian tertutup, maka dengan berinteraksi di internet secara online akan lebih membantunya dan mengasyikkan karena mereka akan muncul sebagai sosok anonim,&#8221; jelasnya.</p>
<h4>Guru Kehidupan</h4>
<p><a href="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/dai-sejuta-follower-Indonesia.jpg" rel="attachment wp-att-995"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-995 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/dai-sejuta-follower-Indonesia.jpg" alt="dai-sejuta-follower-Indonesia" width="448" height="294" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/dai-sejuta-follower-Indonesia.jpg 448w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/dai-sejuta-follower-Indonesia-300x197.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 448px) 100vw, 448px" /></a></p>
<p>Manusia tipe ini diwakili oleh akun-akun Ulama, ustadz, rohaniawan, dan tokoh publik. Mereka aktif di sosial media dengan tujuan berbagi ilmu dan memberikan pencerahan kepada orang lain. Akun tipe ini wajib kamu follow untuk mendapatkan ilmu baru dan menjadi tempat berdiskusi keilmuan.</p>
<h4>Pedagang</h4>
<p><a href="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/jualan-di-facebook.jpg" rel="attachment wp-att-1002"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1002 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/jualan-di-facebook.jpg" alt="jualan di facebook" width="638" height="359" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/jualan-di-facebook.jpg 638w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/jualan-di-facebook-300x169.jpg 300w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/01/jualan-di-facebook-320x180.jpg 320w" sizes="auto, (max-width: 638px) 100vw, 638px" /></a></p>
<p>Tipe ini termasuk minoritas di dunia facebook. Pedagang difacebook ada yang masih konvensional hingga modern. pedagang yang masih konvensional biasanya mereka mengganggu kita dengan men&#8221;tag&#8221; foto-foto dagangan mereka secara acak, Sehingga sering kali membuat risih orang yang disematkanya.</p>
<p>Pedagang modern di facebook sering di sebut internet marketer, mereka memiliki metode yang lebih soft, seperti bagi-bagi ebook gratis, dengan senang hati berbagi tips, dst. tapi tujuan initnya adalah mengambil data kita untuk di follow up kemudian hari. biasanya orang-orang yang sudah dikumpulkan oleh para internet marketer akan di golongkan pada beberapa kelompok, mana yang sudah bisa kita ajak beli produk, mana yang masih haris di panas-panasin.hehe</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/6-tipe-manusia-pengguna-facebook/">6 Tipe Manusia Pengguna Facebook</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/6-tipe-manusia-pengguna-facebook/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Mengetahui 9 Foto Instagram Paling Terkenal di Akun Kamu</title>
		<link>https://unjkita.com/cara-mengetahui-9-foto-instagram-paling-terkenal-di-akun-kamu/</link>
					<comments>https://unjkita.com/cara-mengetahui-9-foto-instagram-paling-terkenal-di-akun-kamu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ihsan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2015 23:15:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Instagram]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=892</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebentar lagi akan kita akan memasuki tahun 2016 Masehi. Sepanjang 2015 tentunya kamu banyak merekam momen &#8211; momen terbaik ke media digital berbasis foto seperti...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/cara-mengetahui-9-foto-instagram-paling-terkenal-di-akun-kamu/">Cara Mengetahui 9 Foto Instagram Paling Terkenal di Akun Kamu</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebentar lagi akan kita akan memasuki tahun 2016 Masehi. Sepanjang 2015 tentunya kamu banyak merekam momen &#8211; momen terbaik ke media digital berbasis foto seperti instagram. Dari semua momen yang terekam foto instagram mana yang paling banyak dapat apresiasi follower kita?</p>
<p>Cara mengetahui hal tersebut kamu dapat memanfaatkan situs <strong><a href="http://2015bestnine.com/" target="_blank">2015bestnine</a>, </strong>melalui situs ini dapat diketahui 9 foto terbaik di instagram kamu sepanjang tahun 2015. situs ini berkerja dengan mengumpulkan 9 foto dengan  like terbanyak.</p>
<p>Melalui situs <strong><a href="http://2015bestnine.com/" target="_blank">2015bestnine</a> </strong>kita juga bisa melihat 9 foto terbaik dari akun-akun lain selama akun tersebut tidak di setting privasi.<a href="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2015/12/ihsanamuslim_full-1.jpg" rel="attachment wp-att-893"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-893 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2015/12/ihsanamuslim_full-1.jpg" alt="ihsanamuslim_full (1)" width="480" height="600" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2015/12/ihsanamuslim_full-1.jpg 480w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2015/12/ihsanamuslim_full-1-240x300.jpg 240w" sizes="auto, (max-width: 480px) 100vw, 480px" /></a></p>
<p>Situs ini di kembangkan oleh Lip Inc. situs ini adalah salah satu bentuk beta dari aplikasi bernama NINE untuk pengguna Instagram yang akan diluncurkan pada bulan Januari mendatang. Aplikasi NINE diawali untuk platform iOS terlebih dahulu.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/cara-mengetahui-9-foto-instagram-paling-terkenal-di-akun-kamu/">Cara Mengetahui 9 Foto Instagram Paling Terkenal di Akun Kamu</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/cara-mengetahui-9-foto-instagram-paling-terkenal-di-akun-kamu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
