<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aksi Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/aksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/aksi/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 May 2017 00:25:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Aksi Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/aksi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Minimnya Demokrasi, Tingkatkan Komersialisasi</title>
		<link>https://unjkita.com/minimnya-demokrasi-tingkatkan-komersialisasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 May 2017 14:23:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hardiknas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=8253</guid>

					<description><![CDATA[<p>UUD 1945 pasal 28E ayat 3 berbunyi &#8220;Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat&#8221;. Terasa berat ya kalau berbicara tentang hukum&#8230; Apa...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/minimnya-demokrasi-tingkatkan-komersialisasi/">Minimnya Demokrasi, Tingkatkan Komersialisasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>UUD 1945 pasal 28E ayat 3 berbunyi &#8220;Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat&#8221;. Terasa berat ya kalau berbicara tentang hukum&#8230; Apa lagi itu merupakan hukum yang paling tinggi.</p>
<p>Baru-baru ini kita telah gegap gempita dalam merayakan hari pendidikan nasional. Masyarakat miniatur peradaban UNJ merayakannya dengan banyak hal. Ada yang merayakannya dengan upacara sampai menyampaikan pendapat (aksi) ke Kemendikbud dan Kemenristekdikti.</p>
<p>Hampir genap 19 tahun kita telah beranjak dari momentum reformasi. Dan selama itulah kita mengisi masa-masa pasca reformasi dengan tetap mengeluarkan pendapat. Namun ironisnya, setelah sekian lama kita memaknai kata reformasi dan kebebasan beraspirasi, tepat tanggal 2 mei kemarin hal itu dinodai begitu saja.</p>
<p><strong>Baca juga: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/refleksi-hari-pendidikan-apa-kabar-wahai-kampusku/">Refleksi Hari Pendidikan: Apa Kabar Wahai Kampusku?</a></span></strong></p>
<p>Dengan maksud untuk melakukan agitasi dalam rangka aksi hardiknas di kemendikbud dan kemenristekdikti, tiba-tiba mobil sound yang baru beberapa meter memasuki kampus (tepatnya dipersimpangan FIP-Bakhum) dihentikan begitu saja oleh birokrator kampus.</p>
<p>Secara garis besar oknum birokrator tersebut melarang mobil sound masuk untuk agitasi dengan berlandaskan tiga hal, yaitu karena ada acara salah satu stasiun televisi yang sedang live, kebisingan suara mobil sound dan juga khawatir menimbulkan kemacetan karena mobil sound berjalan lambat.</p>
<p>Pada saat negosiasi ditempat, mahasiswa sudah mengajukan opsi untuk meminimkan suara di titik yang memang sedang diselenggarakan acara dan juga menawarkan untuk mempercepat laju mobil sound. Namun ternyata usul itu ditolak dengan alasan bahwa, &#8220;mobil kaya gitu gak boleh masuk&#8221; dan katanya &#8220;emang sudah aturannya kayak gitu&#8221;.</p>
<blockquote><p><strong>Sungguh ironisnya, demokrasi yang sudah sejak lama kita junjung nampaknya diciderai begitu saja.</strong></p></blockquote>
<p>Yang pertama, jika memang alasan kebisingan lah yang dikedepankan, tetapi mengapa acara-acara yang menggunakan suara lebih besar diperbolehkan? &#8220;Oh karena mereka ada izin&#8221;</p>
<p>Lantas, jika memang harus mengajukan surat izin (untuk agitasi dengan mobil sound), mana peraturannya? Kapan disosialisasikannya?</p>
<p>Rasanya tidak perlu saya utarakan secara gamblang lagi, pada awal tulisan ini sudah saya kemukakan hukum tertinggi yang jelas-jelas menjamin hak untuk mengeluarkan pendapat. Dan kalaupun ada hukum yang melarang adanya penyampaian aspirasi, kembali lagi kepada asas <em>Lex superior derogat legi inferior</em> (peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan yang rendah).</p>
<p>Keadaan pembungkaman aspirasi, kritik, dan demokrasi dalam kampus yang sekarang ini sedang menuju kembali kepada era orde baru semakin diperparah dengan adanya agenda komersialisasi pendidikan. Dimana kini lembaga pendidikan mengalami pergeseran tujuan dari lembaga pendidikan menjadi perusahaan peraup keuntungan.</p>
<p>Sudah suatu ketidaklaziman yang dengan tidak sengaja dilazimkan bahwa biaya pendidikan tiap tahunnya akan mengalami kenaikan. Hingga, sekarang ini sudah timbul<em> status quo</em>, jika ingin pintar kamu harus kaya!</p>
<p>Dan lagi, dengan biaya yang semahal itu, kampus masih saja membuka tangannya untuk bekerjasama dengan pihak-pihak yang ingin menyelenggarakan kegiatan yang berorientasi keuntungan dan jauh dari habitus intelektual. Lagi-lagi hal itu dilakukan dengan landasan &#8220;atas nama baik kampus&#8221;.</p>
<p>Mohon maaf, bukan maksud untuk menggeneralisasi segala macam kegiatan itu mengkomersialisasi kampus. Memang ada bagusnya kalau ada beberapa kegiatan seperti itu. Tetapi, menurut saya alangkah lebih baiknya jika hal tersebut masih tetap menjaga koridor intelektual kita sebagai kaum yang mendiami miniatur peradaban.</p>
<p>Yahhh&#8230; Namun beginilah faktanya. Beginilah keadaannya. Beginilah ironisnya.</p>
<p><strong>Baca juga: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/menanggapi-tulisan-wajah-kampus-mulai-bopeng-oleh-ubedilah-badrun/">Menanggapi Tulisan “Wajah Kampus Mulai Bopeng? Oleh: Ubedilah Badrun”</a></span></strong></p>
<p>Memang hari ini kita menuju kepada kondisi pembungkaman seperti orde baru. Bahkan bisa dikatakan, menuju kondisi &#8220;neo orde baru&#8221;. Dimana pembungkaman yang terjadi dipercantik dengan adanya permasalahan lain yang mengekor dibelakangnya. Seperti masalah komersialisasi ini.</p>
<p>Dan akan ada suatu pertanyaan besar yang sama-sama akan lewat dalam benak kita. &#8220;Jika kondisi yang hari Ini terus dibiarkan begitu saja, akankah muncul gejolak besar di kemudian hari?&#8221;</p>
<p><strong>Oleh: Akbar Kurnianto (Mahasiswa UNJ)</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/minimnya-demokrasi-tingkatkan-komersialisasi/">Minimnya Demokrasi, Tingkatkan Komersialisasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Hari Pendidikan: Apa Kabar Wahai Kampusku?</title>
		<link>https://unjkita.com/refleksi-hari-pendidikan-apa-kabar-wahai-kampusku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 May 2017 13:54:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hardiknas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=8301</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masih terngiang di pikiran kita semua mengenai Hari Pendidikan. Bersorak sorai masing-masing elemen masyarakat dalam memperingati Hari Pendidikan. Ada yang memperingatinya dengan cara pawai pendidikan,...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/refleksi-hari-pendidikan-apa-kabar-wahai-kampusku/">Refleksi Hari Pendidikan: Apa Kabar Wahai Kampusku?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Masih terngiang di pikiran kita semua mengenai Hari Pendidikan. Bersorak sorai masing-masing elemen masyarakat dalam memperingati Hari Pendidikan. Ada yang memperingatinya dengan cara pawai pendidikan, festival bertajuk pendidikan, aksi turun ke jalan hingga refleksi malam. Tiada yang salah selagi dalam memperingati pendidikan dengan terdidik.</p>
<p>Kampusku, yang dikatakan sebagai kampus pendidikan dengan lulusan (pada umumnya) sebagai tenaga pengajar. Apa kabar wahai kampusku? Wisma yang dirubuhkan dan akan dibangun hotel, benarkah? Hingga banyak komersial yang masuk ke dalam kampus (pendidikan) dan mengadakan acara ‘hedon’, dalam artian jauh dari kultur pendidikan. Kemana habitus intelektual dalam suatu miniatur peradaban?</p>
<p>Dalam struktur sosial, ada kekuasaan dan wewenang. Kekuasaan itu penting dalam suatu birokrasi. Kekuasaan itu bagaimana kemampuan (penguasa) dalam mempengaruhi (yang dikuasainya). Hal tersebut didapatkan dari kedudukan dan kepercayaan (Haryanto, 2005). Baiklah, dari segi kedudukan seorang pimpinan universitas memang sah secara legalitas. Apakah dari segi kepercayaan telah didapatkan olehnya? Kekuasaan yang bersumber dari kepercayaan hanya muncul di masyarakat di mana anggota-anggotanya mempunyai kepercayaan yang dimiliki pemegang kekuasaan. Artinya, bisa dikatakan bahwa kebanyakan masyarakat UNJ yang belum mempercayakan pada pimpinannya. Kenapa? Atas perilaku yang diperbuat.</p>
<p>Saya dengar ada beberapa (bahkan banyak) dosen yang mengkritik seorang pimpinannya malah ditangkis secara unprofesional. Ada ungkapan bahwa mereka (dosen yang mengkritik) dipanggil polisi. Saat 2 Mei kemarin, ketika perwakilan massa aksi ingin melakukan agitasi mengelilingi UNJ dengan menggunakan mobil sound, malah dijegal. Alih-alih mengganggu keamanan kampus, padahal apa yang kami lakukan dijamin sesuai amanat UU No.9 tahun 1998 tentang kebebasan berpendapat. Masih teringat pada awal tahun 2016 atas keluarnya SK pengeluaran Ronny Setiawan karena sikap kritis terhadap Rektor. Membuktikan bahwa sikap yang anti kritik dan anti demokrasi ini terjadi disuatu ruang demokrasi (kampus). Seharusnya, pemimpin itu besar dengan kritik.</p>
<p>Dimana letak habitus intelektual suatu kampus pendidikan? Seyogyanya suatu kampus pendidikan di isi dengan kultur pendidikan, hidupnya budaya diskusi dan literasi, lengkapnya suatu literatur perpustakaan, hingga birokrasi yang berpihak terhadap mahasiswa. Karena menurut Peter Blau, suatu birokrasi ialah suatu tipe organisasi untuk menyelesaikan tugas administratif. Artinya birokrasi ini menjadi daya pendukung dalam kegiatan kemahasiswaan. Bagaimana realitanya? Teman-teman yang bisa menjawabnya.</p>
<p>Bagaimana kemajuan kampusku? Permasalahan diatas hanyalah segelintir. Masih banyak yang belum tercantumkan. Akankah hati mahasiswa sudah tumpul? Kemana langkah pergerakan mahasiswa dalam memperbaiki rumahnya yang concern di bidang pendidikan? Akankah terciptanya suatu perubahan besar? Apabila mekanisme, kebijakan, dan sikap birokrasi kampus tidak adanya perubahan bahkan semakin memburuk, akankah diam saja? Periksa kembali hati kita. Lakukan apa yang harus dilakukan oleh Mahasiswa.</p>
<h5><strong>Baca juga:</strong> <span style="color: #800000;"><strong><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/menanggapi-tulisan-wajah-kampus-mulai-bopeng-oleh-ubedilah-badrun/">Menanggapi Tulisan “Wajah Kampus Mulai Bopeng? Oleh: Ubedilah Badrun”</a></strong></span></h5>
<p><strong>Oleh: Fajar Subhi (Mahasiswa FIS UNJ)</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/refleksi-hari-pendidikan-apa-kabar-wahai-kampusku/">Refleksi Hari Pendidikan: Apa Kabar Wahai Kampusku?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menanggapi Tulisan &#8220;Wajah Kampus Mulai Bopeng? Oleh: Ubedilah Badrun&#8221;</title>
		<link>https://unjkita.com/menanggapi-tulisan-wajah-kampus-mulai-bopeng-oleh-ubedilah-badrun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 May 2017 13:46:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hardiknas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=8295</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya mungkin bukanlah penulis yang hebat seperti Pak Ubedilah Badrun, saya hanyalah mahasiswa biasa dari Fakultas Ilmu Olahraga. Baca juga: Wajah Kampus Mulai Bopeng? Sesuai dengan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/menanggapi-tulisan-wajah-kampus-mulai-bopeng-oleh-ubedilah-badrun/">Menanggapi Tulisan &#8220;Wajah Kampus Mulai Bopeng? Oleh: Ubedilah Badrun&#8221;</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mungkin bukanlah penulis yang hebat seperti Pak Ubedilah Badrun, saya hanyalah mahasiswa biasa dari Fakultas Ilmu Olahraga.</p>
<h5><strong>Baca juga:</strong> <span style="color: #800000;"><strong><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/wajah-kampus-mulai-bopeng/">Wajah Kampus Mulai Bopeng?</a></strong></span></h5>
<p>Sesuai dengan tulisan Pak Ubedilah Badrun &#8220;Menuliskan kebenaran adalah cara terbaik mencintai kampus. Sekali lagi, menuliskan kebenaran adalah cara terbaik mencintai kampus, sepahit apapun kebenaran itu.&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu akhirnya saya bertekad untuk menulis sesuai dengan kebenaran dan realita yang terjadi.</p>
<p>Selasa 02 Mei 2016 adalah Hari Pendidikan Nasional, di hari itu ada upacara bendera di kampus A UNJ, dan dihari itu juga ada aksi Hari Pendidikan Nasional di depan KEMENDIKBUD dan KEMENRISTEKDIKTI, seperti yang terjadi sebelumnya, teman-teman mahasiswa selalu melakukan agitasi masa atau bisa dibilang berkeliling kampus untuk menjemput dan memberikan semangat kepada mahasiswa yang sudah siap aksi maupun yang masih ragu-ragu untuk turun aksi menjadi percaya diri, dan semangat kembali untuk aksi dan bergabung didalam barisan perjuangan.</p>
<h5><strong>Baca juga: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/refleksi-hari-pendidikan-apa-kabar-wahai-kampusku/">Refleksi Hari Pendidikan: Apa Kabar Wahai Kampusku?</a></span></strong></h5>
<p>Biasanya ketika teman-teman masa aksi melakukan agitasi masa itu bisa menggunakan TOA ataupun Mobil Sound, kebetulan kemarin teman-teman yang bertugas menjadi tim agitasi masa menggunakan mobil sound untuk berkeliling di dalam kampus sambil mengajak dan memberikan isu yang akan kita angkat. Tapi ketika itu teman-teman tim agitasi masa yang dihadiri oleh Sulaiman FMIPA 2015, Akbar Kurnianto FE 2015, Fajar Subhi FIS 2015, M Fajri Abdullah FT 2015, dan Dwi Agus Hendardi FIO 2016 masuk ke dalam kampus menggunakan mobil Sound dijegat dipertigaan depan BAKHUM, Gedung FIP dan Gedung Hasyim Ashari.</p>
<p>Miris rasanya ketika tahu kampus pendidikan dan kampus perjuangan, ketika mahasiswanya mau melakukan demonstrasi dan hanya sekadar berkeliling untuk agitasi masa dengan menggunakan mobil sound /mobil komando malah dilarang dan dijegat oleh oknum dosen dan dikawal oleh MENWA dengan alasan suara yang berasal dari mobil komando itu berisik dan mengganggu aktivitas pembelajaran. Lucu mendengarnya, karena pada kenyataannya kami sudah sering aksi dan sering berkeliling kampus menggunakan mobil sound/ mobil komando untuk agitasi masa.</p>
<p>Akhirnya terjadilah konflik saling berargumen antara tim agitasi masa aksi dengan oknum dosen tersebut yang didampingi oleh MENWA, ketika itu Sulaiman dan Akbar Kurnianto merasa keberatan dan tidak terima jika mobil sound tidak boleh keliling di dalam kampus, dan akhirnya mereka berdua berargumen dengan oknum dosen tersebut.</p>
<p>Ketika argumentasi itu terjadi, Dwi Agus Hendardi hanya berdiam diri di atas mobil sound, dan tiba-tiba dia dipanggil oleh salah satu oknum dosen tersebut untuk turun dan ditanya dengan beberapa pertanyaan.</p>
<p>Kronologis yang terjadi di lapangan &#8220;Dwi dipanggil oleh oknum dosen tersebut dan ditanya, dari fakultas mana kamu?&#8221; lalu dwi hanya terdiam karena dia tau dosen itu adalah dosen yang mengajar di Fakultasnya dan karena budaya yang ada di Fakultas saya dan Dwi, Dwi merasa takut diintervensi karena dia masih mahasiswa baru. Ketika itu dia ditanya kembali, dan akhirnya dia menjawab saya dari Fakultas Ilmu Olahraga/FIO pak. Kemudian oknum dosen itu langsung berkata saya dosen kamu, ngapain kamu disini? Prodi apa kamu? Cabang Olahraga apa kamu?&#8221;</p>
<p>Ketika itu dwi tidak mau menjawab dan menolak dengan kata-kata yang sopan, serta takut diintervensi dan lain sebagainya, lalu pada akhirnya dwi menjawab pertanyaan dosennya karena dia disuruh menjawab pertanyaannya dengan nada yang agak tinggi.</p>
<p>Setelah itu ketua BEM UNJ 2017 datang ke lokasi, akhirnya berdebat dan argumentasi selesai, namun masalah ini ternyata tidak selesai begitu saja.</p>
<p>Dwi dipanggil ke ruangan Wakil Rektor 3 ditemani Ilham Mubarak FMIPA 2014 untuk bertemu dengan oknum dosen tersebut, dosen itu bilang, &#8220;Saya tidak melarang kamu aksi dan lain-lain, tapi tolong <em>attitude</em>-nya dijaga,&#8221; dan dosen itu bilang bahwa masalah ini sudah selesai.</p>
<h5><strong>Tapi kenyataannya masalah ini terus berlanjut dan dibesar-besarkan!!!</strong></h5>
<p>Rabu, 03 Mei 2017, Dwi dipanggil oleh pihak WD 1 dan ditanyakan kronologis yang ada, ketika itu Dwi sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya dan bahkan saya pun ada bukti rekaman obrolan antara Dwi dan oknum tersebut bahwa Dwi tidak membentak oknum dosen tersebut ataupun melakukan suatu perkataan yang tidak sopan dan lain sebagainya. Tapi nyatanya Dwi difitnah!</p>
<p>Dwi dibilang membentak oknum dosen tersebut dan difitnah bahwa dia bawa-bawa nama prodi dan nama Cabang Olahraga yang dia tekuni!</p>
<p>Setelah itu Dwi dipanggil oleh kaprodinya dan dibilang kalau Dwi tidak dikeluarkan dari BEM Prodi, maka BEM Prodi tersebut akan dibubarkan!</p>
<p>Tidak hanya disitu, nama Dwi juga tercoreng di cabang olahraga yang dia tekuni dan Dwi dianggap sudah mencoreng nama baik cabang olahraga tersebut.</p>
<p>Saya kecewa dengan kejadian yang sudah menimpa adik saya, Dwi Agus Hendardi dari Fakultas Ilmu Olahraga, pasalnya dia sudah difitnah dan nama baiknya sudah tercemar oleh berita yang tidak benar adanya yang ditujukan kepada dirinya!</p>
<p>Menurut saya ini adalah pembunuhan karakter dan pembungkaman pergerakan mahasiswa!</p>
<p>Hanya karena dia mahasiswa baru dan karena dia aksi pada tanggal 02 mei 2017 kemarin dia harus menerima fitnah seperti ini?</p>
<p>Apakah ada urusannya antara aksi dengan Prodi dan cabang olahraga? Padahal kenyataannya dia sendiri masih belum aksi, dan kemarin aksinya itu di KEMENDIKBUD dan KEMENRISTEKDIKTI bukan didalam kampus. Adik saya juga tidak mau menyebutkan identitasnya kalo tidak dipaksa, lalu kenapa ketika dia sudah menyebutkan identitasnya dengan kata-kata sopan tetapi malah diberitakan hal negatif tentang dirinya?!</p>
<p>Saya mengecam tindakan pembukaman pergerakan mahasiswa dan pembunuhan karakter pada mahasiswa yang ingin berdemontrasi atas keinginan dan kemauannya sendiri berlandaskan apa yang dia yakini.</p>
<p>Karena menyampaikan pendapat dan kebebasan berpendapat, berorganisasi, dan mengeluarkan pikirannya melalui tulisan dan lisan itu dilindungi oleh Konstitusi UUD 1945 pas 28 &#8211; 28 E, UU no 9 tahun 1998, dan Hak asasi manusia yang dilindungi UU No 39 tahun 1999.</p>
<p>Tidak satupun KEKUASAAN yang boleh MELARANGNYA termasuk Kepolisian, karena sudah dilindungi KONSTITUSI berdasarkan pasal 18 UU no 9 tahun 1998.</p>
<p>Bahkan siapapun yang MELARANGNYA dan MEMBUBARKANNYA akan dipidana 1 Tahun Dipenjara.</p>
<p>Oleh karena itu, saya mengecam tegas atas tindakan oknum yang ingin membungkam pergerakan mahasiswa dan menyerang mahasiswa dengan fitnah ataupun adu domba kepada mahasiswa yang ingin ikut berdemontrasi. jika hal ini terjadi kembali saya tidak akan segan-segan untuk menyerukan perlawanan dan menuntut oknum tersebut untuk diturunkan dari jabatannya!!!</p>
<p>Semoga kita menjadi bagian dari sejarah masa depan UNJ yang menghadirkan perubahan dan peradaban.</p>
<p>Hal ini adalah bukti wajah kampus yang sudah bopeng sesuai dengan tulisan pak Ubedilah Badrun sebelumnya.</p>
<p>Salam hangat perjuangan, semakin kalian bungkam dan kalian halangi. Maka kami akan semakin menggelora!</p>
<p>Karena sejatinya hanya kematianlah yang dapat menghentikan langkah perjuangan kami!</p>
<p><strong>Oleh: Burhanuddin (</strong><strong>Ketua BEM FIO UNJ)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/menanggapi-tulisan-wajah-kampus-mulai-bopeng-oleh-ubedilah-badrun/">Menanggapi Tulisan &#8220;Wajah Kampus Mulai Bopeng? Oleh: Ubedilah Badrun&#8221;</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pergerakan Mahasiswa Gaya Baru?</title>
		<link>https://unjkita.com/pergerakan-mahasiswa-gaya-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Apr 2017 03:52:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi]]></category>
		<category><![CDATA[Pergerakan Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=7718</guid>

					<description><![CDATA[<p>Konsep awal suatu pergerakan mahasiswa berawal dari tahun-tahun yang panjang, dimana bahkan disaat itu Indonesia masih belum bisa mengibarkan bendera kebangsaannya. Budi utomo adalah salah...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pergerakan-mahasiswa-gaya-baru/">Pergerakan Mahasiswa Gaya Baru?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Konsep awal suatu pergerakan mahasiswa berawal dari tahun-tahun yang panjang, dimana bahkan disaat itu Indonesia masih belum bisa mengibarkan bendera kebangsaannya. Budi utomo adalah salah satu bukti nyata atas kisah pergerakan pemuda pada masa itu. Dimulai dengan pertemuan-pertemuan kecil antara orang-orang yang merasakan ketidak nyamanan atas kondisi yang terjadi disekitar mereka, kemudian menyadarkan dari hasil logika dan cara berfikir kritis yang cantik ala pemuda bahwa ketidak benaran yang memberikan ketidak nyamanan adalah dari olah sistem Negara yang diterapkan oleh pemerintah yang berpihak tidak sepenuhnya pada rakyat Indonesia.</p>
<p>Telah kita ketahui bahwa pada 17 Agustus 1945, Indonesia mencanangkan dirinya sebagai Negara yang bebas dari penjajahan dengan peran pemuda sebagai golongan orang yang dengan tegas dan berani melakukan penekanan pada Ir. Soekarno untuk segera melakukan pernyataan yang kini dapat kita rayakan sebagai hari kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Para pemuda dengan sadar mengharapkan suatu perbaikan dari permasalahan-permasalahan yang nyatanya telah menjadi suatu kenyamanan tersendiri bagi rakyat tanpa mereka sadari, seperti halnya pada awal kemerdekaan Indonesia, bahwa rakyat telah terbiasa dengan kondisi tertindas oleh bangsa lain, namun para pemuda dengan tegas mengatakan, “Cukup”. Sebab penindasan pada bangsa mereka sendiri adalah hal yang harus segera dicukupkan.</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Bila engkau melihat kemungkaran ubahlah dengan tan- gan (kekuatan), dan bila tidak mampu ubahlah dengan lidah (kritik/nasehat) dan bila tidak mampu juga ubahlah dalam hati dan itu adalah selemah-lemahnya iman.&#8221; Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.</strong></p></blockquote>
<p>Namun dijajakannya pernyataan bahwa Indonesia telah merdeka bukanlah menjadi hal yang kemudian menampik segala tindak penjajahan oleh kepentingan suatu golongan yang mementingkan diri sendiri. Seusai pembacaan proklamasi, Ir. Soekarno menjadi presiden pertama bagi Indonesia yang dimana pidato-pidatonya sangat menginspirasi bagi sebagian golongan hingga pada akhirnya, rakyat lagi-lagi merasa nyaman dengan kalimat yang digelontorkan dengan apik oleh Ir. Soekarno, namun pemuda lagi-lagi merasakan benih-benih keresahan dimana kepemimpinan pada masa Soekarno mulai menghadap pada suatu kepentingan diluar kepentingan rakyat Indonesia.</p>
<p>Salah satu pemuda yang vokal dalam menyatakan keresahan dan ketidaknyamanan atas kondisi Negaranya adalah Soe Hok Gie, seorang pelajar keturunan tionghoa. “Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan,” ujar Soe Hok Gie.</p>
<p>Keterampilannya membuat logika atas berbagai masalah yang terjadi pada masanya sehingga menjadi sebuah olahan pengetahuan bagi kawan-kawan mahasiswa dan pada akhirnya dengan kumpulan massa dari para pemuda yang semangatnya sedang tidak baik-baik saja mampu menggulingkan orde lama. Namun dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa pada kenyataannya, penggulingan Orde Lama tidak sepenuhnya dimotori oleh para Mahasiswa, namun juga hadirnya para TNI yang ikut andil menjatuhkan Orde Lama yang tentunya dengan di garis bawahi mengenai suatu kepentingan golongan. Hal ini terjadi tersebab tiga Mahasiswa yang memiliki idealisme tinggi sedang berada diluar zona masalah, atau tidak berada dilokasi masalah.</p>
<p>Kejadian ini menegaskan, bahwa idealisme adalah hal penting yang menjadi pilihan besar pada tiap mahasiswa untuk menentukan apakah ia akan menjadi pionir perubahan atau menjadi golongan yang tenggelam dalam gelombang kepasifan.<br />
Berlanjut pada masa orde baru yang lagi-lagi sempat melehakan rakyat dengan segala kemudahan ekonomi dan pendidikan, namun pada dasarnya rakyat sedang dinina bobokan dengan kepicikan politik sehingga menjadikan presiden kedua, Soeharto mampu menggoda tiap periode untuk kemudian mampu menjadikan jabatan presiden bagi Soeharto secara terus menerus.</p>
<p>Hal ini semakin meresahkan para mahasiswa atas data dan kajian atas meruginya rakyat Indonesia atas situasi tersebut, maka terjadilah aksi 98 besar dimana ekonomi Negara kian krisis. Kerusakan besarpun terjadi tersebab keresahan yang terlalu lama terpendam akibat peraturan pada masa Soeharto bahwa Mahasiswa atau bahkan rakyat sipil dilarang keras melakukan pergerakan menentang pemerintah atau dikenal sebagai kebijakan NKK (Normalisasi Kegiatan Kampus). Mahasiswa memiliki tugas besar untuk menyadari bahwa perlahan namun pasti, sistem Negara yang mana bila terus berlanjut tanpa ada orang-orang yang memperingati maka akan timbul suatu permasalah yang nantinya tidak lagi diatasi karena ketidak adanya revisi dari tiap kebijakan yang menyimpang. Presiden RI telah berganti tiap periodenya dengan membawa visi misinya yang harus tetap di kawal dengan pandangan yang netral.</p>
<p>Permasalahan terbesar terjadi pada gerakan mahasiswa ketika mahasiswa itu sendiri terlah terjual suara dan kelantangannya. Terjual dengan segala kenikmatan atas perkembangan zaman di tahun 2000. Terlebih ditekankannya pendidikan yang menggiurkan bagi tiap-tiap mahasiswa berprestasi pada akademiknya, secara besar-besaran menyerap semangat Mahasiswa untuk akhirnya memilih di jalan pembelaan rakyat, dan lebih memilih bersaing diantara tugas-tugas dan berbagai even ajang unjuk kemampuan intelektual dengan berbagai kemasan. Tanpa disadari Mahasiswa melupakan tujuan dicapainya intelektual pada tingkat Mahasiswa adalah untuk menjadi bahan atas jiwa kemanusiaan dan dasar kepekaan atas kondisi yang terjadi pada sekitarnya. Hal ini membawa pertanyaan besar, apakah pergerakan Mahasiswa perlu gaya baru?</p>
<blockquote><p><strong>Hal ini membawa pertanyaan besar, apakah pergerakan Mahasiswa perlu gaya baru?</strong></p></blockquote>
<p>Sebab permasalahan Indonesia semakin kompleks, berbagai penyimpangan dalam pengaturan kebijakan oleh pemerintah yang tentunya memberikan dampak pada rakyat kecil.<br />
Sebab zona perang pergerakan mahasiswa tidak lagi mengenai suatu tindakan yang dirasakan keresahan atas kekeliruannya oleh banyak pihak, bahkan mahasiswa kini memilih terjun bebas pada kesibukan pribadi meskipun mereka merasakan dan menyadari bahwa Indonesia semakin hanyut menuju jurang yang tidak bisa diprediksi jaraknya. Sebab zaman semakin menapaki pembaharuan atas setiap aspeknya. Maka, apakah pergerakan mahasiswa memerlukan suatu ‘gaya baru’ atau suatu pergerakan lama yang diperbaharui?</p>
<p>Perlu kita ketahui bahwa di berbagai Negara, suara pemberontakan yang dilakukan atas dasar keresahan bersumber pada golongan masyarakat yang memerlukan perubahan itu sendiri. Permasalah Negara kita adalah bahwa pergerakan Mahasiswa kini selalu mencanangkan bahwa mereka membela rakyat. Namun dapat kita temukan pada masa ini adalah, teknis demo dimana massa aksi digiring pada titik kumpul aksi dengan metromini atau kendaraan sejenis, ada yang tertidur selama perjalanan, ada yang melamun, ada yang bermain dengan gadgetnya, dan ada satu dua yang asyik berdiskusi mengenai berbagai isu. Berbagai rumah warga terlewat begitu saja, bahkan sangat mungkin bahwa rakyat sama sekali tidak memahami permasalahan apa yang dibawa Mahasiswa. Klimaks yang kemungkinan diketahui oleh masyarakat awam adalah sebuah keos atau insiden yang saling menyalahkan antar pihak. Hal yang mungkin terbentuk kemudaian dalam benak rakyat adalah bahwa mahasiswa melakukan pergerakan yang tidak mendasar dan tidak jelas.</p>
<blockquote><p><strong>Hal yang mungkin terbentuk kemudaian dalam benak rakyat adalah bahwa mahasiswa melakukan pergerakan yang tidak mendasar dan tidak jelas.</strong></p></blockquote>
<p>Maka, bagi pemuda dengan idealisme tinggi, mereka akan mengatakan satu kata bagi pemikiran ini adalah, Lawan.<br />
Soe Hok Gie dengan sukses memberikan pencerdasan dari berbagai aspek yang mencangkupi politik di dalam tiap bidang seperti budaya, seni, surat kabar, dan lain sebagainya agar mampu menyadarkan masyarakat sebagai objek yang ia bela sebagai penentangannya pada pemerintah.</p>
<p>Maka, bukan hal sulit bagi mahasiswa untuk berbagi hasil diskusi dan konsolidasi melalui satu dua jam percakapan dalam radio yang notabene mudah dikonsumsi masyarakat dengan radio maupun gadgetnya. Berbagi pandangan politik dan sosial dengan pembawaan yang menyenangkan tentunya akan mudah menarik jiwa kepekaan pada tiap individu. Pun Mahasiswa dalam perjalanan menuju lokasi aksi mampu tiga empat kali memberhentikan kendaraannya untuk membagikan selembaran masalah yang akan di angkat pada aksi saat itu dengan gaya penulisan yang mudah diserap masyarakat awam.</p>
<p>Melawan tiap permasalahan sekecil apapun dalam pergerakan Mahasiswa adalah bukti nyata kokohnya idealisme pemuda.<br />
Apakah pergerakan Mahasiswa membutuhkan gaya baru?</p>
<p><strong>Oleh: Wafa Kamilah<br />
akuwafazhera@gmail.com<br />
</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pergerakan-mahasiswa-gaya-baru/">Pergerakan Mahasiswa Gaya Baru?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
