<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>First Step Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/first-step/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/first-step/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Apr 2020 05:26:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>First Step Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/first-step/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menjadi Mahasiswa Baru, Jangan Culture Shock!</title>
		<link>https://unjkita.com/menjadi-mahasiswa-baru-jangan-culture-shock/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KOMBUN UNJ]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2016 17:59:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[First Step]]></category>
		<category><![CDATA[KOMBUN]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Baru UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4515</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mungkin memang sangat menyenangkan ketika nama kita tertera dalam pengumuman kelulusan SNMPTN/SBMPTN atau masuk Perguruan Tinggi yang diidam-idamkan. Ya, memang suatu kebanggaan yang luar biasa...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/menjadi-mahasiswa-baru-jangan-culture-shock/">Menjadi Mahasiswa Baru, Jangan Culture Shock!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin memang sangat menyenangkan ketika nama kita tertera dalam pengumuman kelulusan SNMPTN/SBMPTN atau masuk Perguruan Tinggi yang diidam-idamkan. Ya, memang suatu kebanggaan yang luar biasa jika dunia studi yang kita harapkan selama ini bisa benar-benar terwujud di kehidupan kita sekarang. Namun ingat, jangan terlalu lama-lama nyaman dengan apa yang telah digapai, karena ini bukan akhir dari masa studimu, tapi ini adalah awal dimana kamu akan fokus pada bidang yang kamu pilih, dan ini pula yang akan membawamu ke dunia kerja nanti.</p>
<p>Melangkah ke dunia studi baru biasanya akan memberikan semangat dan energi baru, terlebih dunia studi tersebut adalah yang diharapkan selama ini. Menyandang perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa, pasti memberikan kebanggaan tersendiri bagi tiap pelakunya. Namun, sebelum berjibaku di bangku perkuliahan, ada baiknya para mahasiswa baru (MABA) perlu mempersiapkan diri dengan matang. Sebab, sukses di bidang akademik tidak hanya membutuhkan kecerdasan otak, tapi juga membutuhkan keterampilan dalam segala hal.</p>
<p>Nah, saya akan berbagi pengalaman dengan kamu mahasiswa baru, langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan setelah menyandang status “Mahasiswa” :</p>
<h4><strong>1. Pastikan jurusan yang diambil sesuai</strong></h4>
<p>Di sebuah kampus, entah itu kampus <em>favorite</em> ataupun tidak, pasti ada yang namanya mahasiswa masuk jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan atau biasa disebut “kecemplung”, dikarenakan pilihan terakhir. Kalau kamu merasa bahwa kamu memang tidak berminat, tidak nyaman, bukan <em>passion-</em>mu, bahkan tidak memiliki keahlian dibidangnya, maka cepatlah ambil tindakan sebelum terlambat. Karena jika kamu memilih untuk pindah jurusan dari semester awal itu lebih baik daripada setelah sudah melewati 5 semester dan kamu baru menyadari bahwa kamu tidak suka atau tidak berbakat dibidang tersebut. Kamu tidak akan membuang-buang sisa umurmu dengan kesia-siaan. <em>So</em>, putuskan sekarang juga!</p>
<h4><strong>2. Tentukan target kelulusan</strong></h4>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-4233" src="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-800x600.jpg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-800x600.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-150x113.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-560x420.jpg 560w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-80x60.jpg 80w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-100x75.jpg 100w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-180x135.jpg 180w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-238x178.jpg 238w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-640x480.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ-681x511.jpg 681w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/09/WISUDA-UNJ.jpg 1040w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Disinilah banyak janji-janji palsu yang akan terucap ketika menjadi MABA. Sangat mudah menjawab ketika orang bertanya “Target lulus mau sampai berapa tahun?” dan dengan keyakinannya MABA menjawab “ 3,5 tahun dong!”.  Tapi tidak disangka-sangka setelah semester 4 janji itu akan sedikit demi sedikit memudar karena pergaulan bebas, terlalu sibuk organisasi, mendapatkan nilai di luar ekspektasi, bekerja sambil kuliah, dan sebagainya.</p>
<p>Yang harus kamu lakukan sebagai MABA yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong adalah tentukanlah target kelulusanmu, kemudian kamu bisa menempelkan target itu besar-besar di kamar agar kamu selalu ingat tinggal berapa tahun/bulan/hari lagi kamu harus lulus dari kampus tersebut. Kemudian kamu harus yakinkan dirimu setiap hari bahwa kamu harus konsisten akan janjimu.</p>
<h4><strong>3. Hindari kebiasaan-kebiasaan buruk di SMA</strong></h4>
<p>Sangat sulit menghilangkan kebiasaan ketika kita masih di SMA, karena memang selama kurang lebih 3 tahun kita berkutat di sekolah dengan teman yang itu-itu saja dengan guru yang itu-itu saja dan dengan pelajaran yang itu-itu saja. Sehingga kita sudah terlalu nyaman dengan kebiasaan belajar yang juga itu-itu saja.</p>
<p>Ketika kamu sudah memasuki dunia perkuliahan, terkadang kamu akan merasakan <em>Jetlag belajar</em>, yaitu dimana kamu akan merasa tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Berbeda dengan SMA yang masuk pukul 6.30 dan pulang pukul 15.00, jam mata kuliah di kampus akan sangat bervariasi. Terkadang kamu akan mendapatkan <em>full day class</em>, dimana kamu akan berangkat gelap dan pulang gelap, kemudian ada pula jam kuliah bolong-bolong, contohnya kamu hanya memiliki dua mata kuliah, masuk pukul 8 pagi setelah selesai kamu harus menunggu matakuliah kedua di jam 4 sore. Disini kamu harus benar-benar memanfaatkan waktu senggang tersebut dengan bijak, karena yang sudah terjadi mereka yang memiliki waktu senggang seperti itu akan lebih memilih mampir ke kostan teman dan memilih untuk tidur atau sekedar menonton. Padahal yang seharusnya dikerjakan mahasiswa adalah berdiskusi.</p>
<p>Maka, kuatkanlah imanmu agar tidak terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan malas sewaktu di SMA, belajarlah ketika ada waktu kosong, minimal diskusikan apa yang akan dipelajari nanti, itu akan sangat membantu.</p>
<h4><strong>4. Siap-siap <em>Culture Shock</em>!</strong></h4>
<p>Apasih <em>Shock Culture</em>? Saya juga baru menemukan kata tersebut dibangku perkuliahan. Dimana kamu akan benar-benar bertemu dengan berbagai karakter-karakter manusia secara langsung, kemudian melihat kebiasaan-kebiasaan yang janggal. Di SMA biasanya kamu akan bertemu dengan orang-orang yang masih dominan normal, tapi ketika masuk kampus mungkin kamu akan berkata “<em>gila gila gila beda banget&#8230; 180<sup>o</sup> beda.</em>” Kenapa? karena disana kamu akan bertemu dengan orang-orang yang terkadang lucu, unik, bahkan menyenangkan tapi bisa jadi kamu akan bertemu dengan orang yang aneh, tidak wajar,  kemudian kalian juga bisa menemukan orang-orang yang tidak ada rasa malu memamerkan kemesraannya dimuka umum dannnn&#8230; coba temukan sendiri. Kuncinya, jangan kaget dan adaptasi terus ya.</p>
<blockquote><p>Baca juga: <a href="https://unjkita.com/tri-dharma-perguruan-tinggi-mahasiswa-wajib-tahu-tentang-hal-ini/">Tri Dharma Perguruan Tinggi, hal yang harus maba ketahui.</a></p></blockquote>
<h4><strong>5. Carilah teman yang sesuai dengan karaktermu dan mendukungmu</strong></h4>
<p>Penting sekali untuk berkumpul dengan komunitas yang baik, karena <em>insyaAllah </em>kita akan tertular sifat baiknya. Bisa diibaratkan seperti penjual minyak wangi, kalau kita berteman dengannya kita akan kecipratan wanginya.</p>
<p>Komunitas yang baik dan mendukung itu yang bagaimana? Di dunia kampus, kamu akan menemui berbagai macam komunitas, yang terdiri dari beragam orang yang memiliki karakter yang berbeda. Ada yang pola hidupnya agamis, sosialis, hedonis, nasionalis, sampai-sampai ada yang anarkis. Apapun itu, seorang mahasiswa baru bagai lembaran kertas putih yang harusnya diberi tinta emas untuk menuliskan kisah perjalanan dengan baik. <em>So</em>, pilih komunitas yang baik dan manfaatkan itu untuk menjaga motivasi dan niat baik kamu kuliah di kampus ini.</p>
<p>Oiya satu hal, jika kamu tidak menemukan komunitas yang menurutmu baik dan mendukung, sebagai <em>agen of change</em> tentunya kamu punya hak untuk mengubahnya atau dengan membuat komunitas baru yang baik.</p>
<h4><strong>6. Jadilah mahasiswa Baru yang baik dan kenali karakteristik dosen</strong></h4>
<p>Ikuti kuliah dengan baik, dengarkan penjelasan dosen, ikuti aturan mainnya dengan cerdik. Yang terpenting adalah ikuti kuliah di pertemuan awal, biasanya akan disampaikan kontrak kuliah, peraturan hasil kesepakatan dosen – mahasiswa, dan seterusnya. Umumnya, mahasiswa baru yang <em>fresh graduate</em> dari SMA lebih menurut dari pada yang lebih senior, karena datangnya tidak telat, rajin masuk, dan sebagainya. Walaupun biasanya ada jatah “absen” 10 -20% pertemuan kuliah, tapi jangan ada niat untuk memanfaatkannya di awal, gunakanlah kesempatan tersebut jika kalian merasa sakit atau ada hal yang sangat penting yang tidak bisa ditinggalkan.</p>
<p>Ada berbagai macam dosen yang akan kamu temui. Dosen yang cuek dengan mahasiswa, dosen yang sangat <em>care</em>, tidak terlelak pula selalu ada dosen <em>killer</em>, dosen yang selalu Baper, ada dosen yang selalu memberikan nilai E satu angkatan, ada pula dosen yang tidak pernah memuji tetapi ada juga yang memuji berlebih, ada dosen yang sangat idealis, ada dosen yang mengajarnya jelas dan tidak jelas sama sekali, ada dosen yang tampan ada juga dosen yang cantik sehingga sering kali mahasiswa salah fokus. Dengan mengenal karakteristik dan model dosen yang mengajar, kamu bisa menyesuaikan model dan strategi belajarmu.</p>
<h4><strong>7. Mahasiswa Kupu-Kupu?</strong></h4>
<p>Ini bukan berarti mahasiswa kupu-kupu adalah mahasiswi yang suka dengan kupu – kupu sampai semua aksesorisnya serba kupu-kupu. Kamu akan sering mendengar kata ini setelah masuk kuliah. Mahasiswa Kupu-Kupu ini adalah mahasiswa Kuliah Pulang – Kuliah Pulang, maksudnya dalam hidupnya sebagai mahasiswa kegiatannya hanya kuliah kemudian pulang ke kost/kontrakan/rumah saja, tidak memiliki kegiatan yang bermanfaat selama berada di kampus.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Baca Juga: <a href="https://unjkita.com/awal-kuliah-mahasiswa-baru/">7 Tips Produktif Mengawali Perkuliahanmu</a></strong></p>
<p>Selagi kita masih berstatus Mahasiswa baru, pasti rasa ingin tahu <em>(kepo)</em> masih sangat besar, masih semangat, maka manfaatkan Open House UKM, event-event di kampus, kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan-kegiatan komunitas dengan baik. Minimal ada satu kegiatan yang kamu suka, minati, inginkan dan dambakan sejak SMA. Tetapi jika ada dari kamu yang sama sekali tidak tertarik dengan UKM, BEM, kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lainnya, tenang masih banyak pilihan di luar kampus, kalian bisa mencari peruntungan lain dengan mengajar les, ikut kegiatan sosial, dst. Karena masa menjadi mahasiswa ini adalah masa dimana kita bisa banyak belajar untuk persiapan kembali ke masyarakat dan membangun negeri ini. Dengan catatan, baik kegiatan non akademik maupun akademik, semua harus seimbang.</p>
<p><em>“Akademik jangan sampai mengganggu kita dalam berkarya, berkarya jangan sampai mengganggu kita dalam akademik.” -Talitha</em></p>
<h4><strong>8. Tulis impianmu di awal semester ini dan atur strategimu</strong></h4>
<p>Tulis impianmu melalui kampus ini sejak dini dan jadikan itu menjadi target kesuksesanmu selama kuliah. Jangan jadikan semuanya itu hanya mimpi, tapi berusahalah untuk mewujudkannya dengan mengatur strategi. Bagaimana itu? Jangan menyendiri, akan tetapi galilah informasi sebanyak-banyaknya dari para senior yang telah menginspirasimu untuk sukses, baik itu mahasiswa berprestasi dalam akademik, non akademik, atau juga yang telah sukses dalam kehidupannya.</p>
<p><strong>Oleh: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://talithashabrina.blogspot.co.id/2016/09/menjadi-mahasiswa-baru-jangan-shock.html">Talitha Shabrina</a></span></strong></p>
<p><em>Tulisan ini merupakan salah satu tulisan bulanan dengan tema <strong>“First Step Mahasiswa Baru UNJ”</strong> yang dipersembahkan oleh <strong>KOMBUN (Komunitas Blogger UNJ)</strong>. </em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/menjadi-mahasiswa-baru-jangan-culture-shock/">Menjadi Mahasiswa Baru, Jangan Culture Shock!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Langkah Pertama Mahasiswa Baru UNJ Ala Fitri</title>
		<link>https://unjkita.com/langkah-pertama-mahasiswa-baru-unj-ala-fitri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KOMBUN UNJ]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2016 16:28:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[First Step]]></category>
		<category><![CDATA[KOMBUN]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Baru UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4506</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fitri juga mahasiswa baru, tapi dua tahun lalu jadi mahasiswa barunya. Mahasiswa baru bagi Fitri adalah identik dengan wajah cerah, penuh semangat, berbinar, dan bawa map...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/langkah-pertama-mahasiswa-baru-unj-ala-fitri/">Langkah Pertama Mahasiswa Baru UNJ Ala Fitri</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Fitri juga mahasiswa baru, tapi dua tahun lalu jadi mahasiswa barunya. Mahasiswa baru bagi Fitri adalah identik dengan wajah cerah, penuh semangat, berbinar, dan bawa map hijau bergambarkan gedung UNJ, nah maka Map hijau adalah langkah pertama bagi MABA UNJ, kenapa? Karena Map hijau itu berisi berkas-berkas yang harus dilengkapi untuk daftar ulang, maka kesimpulannya adalah daftar ulang merupakan <strong>langkah pertama </strong>bagi mahasiswa baru UNJ. Sekarang tahu kan apa langkah pertama jadi seorang mahasiswa baru UNJ? Jadi langkah pertamanya bukan cari gebetan buat dijadiin pacar ya, tapi daftar ulang hehe.</p>
<p>Rasanya kurang afdol ya kalau ngomongin langkah pertamanya saja? Langkah selanjutnya selesai daftar ulang, yaitu mempersiapkan keperluan-keperluan untuk MPA (Masa Pengenalan Akademik). Nah MPA ini biasanya berjalan selama satu minggu.</p>
<p>MPA bukan hanya sekadar MPA, tapi ada manfaatnya juga. Nah, manfaat MPA bagi penulis sendiri adalah: <strong>pertama</strong> kita jadi mengenal lingkungan kampus, <strong>kedua </strong>kita jadi mengenal teman satu jurusan dan teman satu fakultas, <strong>ketiga</strong> kita jadi mengenal dosen-dosen yang nantinya akan mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat (keliatan kan tuh mana yang killer mana yang engga), <strong>keempat </strong> kita jadi mengenal kakak senior kita, dan <strong>kelima</strong> kita jadi mengenal organisasi-organisasi yang ada di kampus. Bermanfaatkan MPA itu? meski lelah, tapi semua itu sebanding dengan apa yang kita dapatkan, belum lagi pengalaman yang akan terus kita kenang dari MPA itu sendiri.</p>
<p>Kemudian langkah selanjutnya, bagi kamu anak rantau bisa cari kos-kosan yang mau nampung kamu tentunya. Selain yang mau nampung kamu, cari juga yang tempat yang nyaman dan sesuai karaktermu. Kalau kamu tipe yang suka keramaian bisa cari kontrakan yang nampung sampe 10 orang, atau kos-kosan yang satu kamar bisa berdua dan tetangganya lebih dari 20 kamar. Tapi buat kamu yang sukanya tidak terlalu ramai bisa cari kos-kosan yang satu kamar sendiri saja, dan tetangganya di bawah 5 kamar, ya kayak Fitri gini (ini sudah tahun ke-2 Fitri jadi anak kos <span style="text-decoration: line-through;">kurang gizi).</span></p>
<p>Pengalaman Fitri sendiri pas “First Step MABA UNJ” menyenangkan kok, penuh bunga dan kebahagiaan. Tapi bunga yang dulu tumbuh mekar kini sudah layu, dan mulai rontok, tapi itu tidak mengurangi kebahagiaanku sebagai Mahasiswa yang kini sedang menjejakan kaki di semester 5. Intinya mengesankan sekali masa-masa jadi MABA. Setiap mengenang masa-masa itu suka tertawa sendiri seperti yang kurang waras.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Baca Juga: <a href="http://unjkita.com/awal-kuliah-mahasiswa-baru/">7 Tips Produktif Mengawali Perkuliahanmu</a></strong></p>
<p>Udah ya basa-basi penuh cintanya tentang &#8220;Firts Step MABA UNJ&#8221;</p>
<p>Ps; Selalu senang ketika lihat mahasiswa-mahasiswa baru yang (masih) penuh semangat.</p>
<p><strong>Oleh: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://tapakbasah.blogspot.co.id/2016/09/first-step-maba-unj.html">Fitri Rizka Maulia </a></span></strong></p>
<p><em>Tulisan ini merupakan salah satu tulisan bulanan dengan tema <strong>“First Step Mahasiswa Baru UNJ”</strong> yang dipersembahkan oleh <strong>KOMBUN (Komunitas Blogger UNJ)</strong>.</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/langkah-pertama-mahasiswa-baru-unj-ala-fitri/">Langkah Pertama Mahasiswa Baru UNJ Ala Fitri</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Maba Candu Buku</title>
		<link>https://unjkita.com/maba-candu-buku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KOMBUN UNJ]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2016 16:11:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[First Step]]></category>
		<category><![CDATA[KOMBUN]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Baru UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4502</guid>

					<description><![CDATA[<p>Benar kata dosen saya, buku adalah pacar yang paling setia. Gak cemburuan lagi. Gak PHP-in. Gak kaya kamu. Iya kamu.  Semester ini saya ingin menabung....</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/maba-candu-buku/">Maba Candu Buku</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 30px;"><strong>Benar kata dosen saya, buku adalah pacar yang paling setia. Gak cemburuan lagi. Gak PHP-in. Gak kaya kamu. Iya kamu. </strong></p>
<p>Semester ini saya ingin menabung. Rekening BNI yang ATM-nya menyatu dengan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sejak dulu kering kerontang. Selalu diselimuti debu yang membuat mata tak sanggup melihatnya. Cara menabung bagaimana? Yaa saya harus lebih rajin menulis di Poros ataupun menahan nafsu saya membeli buku. Hal yang menurut saya menjadi penyebab ini semua. Tai Pat Kai, Siluman Babi dan filosof flamboyan di serial “Kera Sakti” pernah mengatakan bahwa cinta itu penderitaan tiada akhir. Saya setuju. Untuk saat ini cinta masih menjadi bahan penderitaan tiada akhir. Apa lagi waktu dia meninggalkan saya pasca hari jadinya yang ke 20. Ahhh Sial saya kebablasan curhat. Tapi untuk buku, saya tak paham apakah membeli buku untuk dibaca adalah bentuk cinta yang menderita atau tidak.</p>
<p>Saya akui, daya beli buku saya membuncah waktu kuliah. Ketika masih menjadi Mahasiswa Baru menjadi awal saya rajin membeli buku. Awalnya paksaan dari berbagai mata kuliah. Tapi cinta itu tumbuh. Karena paksaan? Mungkin karena lingkungan. Saya adalah mahasiswa Jurusan Sosiologi dan itu yang menuntut saya untuk terus membaca.</p>
<p>Buku bacaan tentang ilmu sosiologi kalau tidak tebal, tipis tapi full bahasa inggris. Jikapun karya terjemahan, masih sulit untuk dimengerti. Begitupun dosennya. Ada dosen dari awal saya ketemu di semester 1 sampai tahun ketiga saya masih suka tidak mengerti apa yang beliau jelaskan. Tetapi walaupun begitu, dosen itu rajin menulis buku, menulis opini di Koran dan menjadi salah satu dosen yang terkenal di dunia akademis sosial-humaniora Indonesia. Bahkan para mahasiswa atau akademisi lain sering membicarakan pemikirannya. Bangga sih, tapi saya masih sering gagal paham ketika dia mengajar.</p>
<p>Beragam kesulitan itu tidak membuat saya menyerah. Pernah sih frustasi, tapi karena sudah kadung masuk Jurusan ini, masa iya harus menyerah di semester pertama. Untuk itu saya mulai baca buku. Sederhana, saya memulai membaca buku-buku sebelum kegiatan kuliah dimulai. Seperti anak sekolahan. Malamnya baca untuk besok di kelas. Kadang saya tulis dalam buku catatan untuk lebih mengingat. Hasilnya bagus. Saya mulai mengerti apa yang diucap dosen dan bisa sedikit melontarkan pertanyaan dan komentar pada saat perkuliahan di kelas. Dosen pun apresiatif dan saya makin mencintai membaca buku.</p>
<p><strong>Candu Buku</strong></p>
<p>Saya mulai rajin membaca dan membeli buku. Bukan berarti sok kaya, tapi membeli buku terasa lebih nyaman ketimbang meminjamnya. Setidaknya buku tersebut bebas saya stabilo, hehehe. Dahulu di depan Jurusan IKK FT ada bazaar buku dan saya rajin membeli buku di sana. Mulai dari buku bacaan wajib perkuliahan sampai buku sejarah dan teori sosiologi yang sebenarnya belum perlu dibaca untuk mahasiswa semester awal.</p>
<p>Saya membeli buku Soe Hok Gie yang berjudul “Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan” dan George Ritzer yang judulnya “Sosiologi Berparadigma Ganda”. Buku itu saya beli dengan alasan-alasan yang sederhana. Pertama karena bukunya tipis dan murah. Kedua karena sampul buku Soe Hok Gie berwarna merah, warna favorit saya, dan terakhir karena buku George Ritzer ada sosiologi-sosiologinya di bagian judul. Tidak ada tujuan untuk mengenal Soe atau sok-sokan jadi mahasiswa sosiologi yang sok baca buku-buku teori.</p>
<p>Pencarian buku tidak berhenti disitu saja. Saya menjelajahi perpustakaan kedua sepupu saya yang umurnya sekitar 10 tahun lebih tua dari saya. Mereka adalah Bang Didang dan Bang Pizzaro. Bang Didang adalah alumnus FISIP UI jurusan ilmu politik. Saya tahu dia punya banyak buku karena sejak kecil saya sering bermain di kamar dia. Maklum, rumah orangtuanya dan orangtua saya sangat berdekatan. Bahkan bersebelahan langsung sampai bangunannya saling menempel. Beda Bang Didang, beda Bang Pizzaro. Beliau adalah lulusan Pendidikan Konseling UIN Jakarta. Dia yang sekarang menjadi wartawan media Islampos memiliki buku yang banyak dirumahnya. Sebenarnya itu bukan buku-bukunya semua. Ayah dan kakaknya juga penggila buku sehingga menambah banyak koleksi buku di rumahnya tersebut.</p>
<p>Dua sepupu saya ini memiliki koleksi buku yang berbeda. Bang Didang lebih pada buku sejarah perang dari Perang Dunia II sampai dinamika politik di peristiwa 65. Sedangkan Bang Pizzaro buku mentereng mulai dari psikologi ala Freudian dan Deleuze-Guattari, konspirasi Yahudi dan Syiah sampai isu media dan pergerakan organisasi Islam. Saya menyukai koleksi buku mereka. Bahkan saya sering terbantu dengan buku-buku mereka dikala mengerjakan tugas.</p>
<p>Seperti saat saya harus mengerjakan tugas mata kuliah Filsafat Ilmu, saya meminjam buku tentang peristiwa 65 dari Bang Didang begitupun waktu saya mengerjakan tugas akhir mata kuliah Teori Sosiologi Klasik saya meminjam buku-buku tentang kajian media dari Bang Pizzaro. Bahkan untuk Bang Pizzaro, untuk “menyelamatkan” buku-buku bagus yang takutnya bakal hilang karena banyaknya koleksi buku dirumahnya saya sengaja menaruh buku-buku tersebut di rumah. Nanti saya akan mengembalikannya.</p>
<p>Buku saya cari karena saya semakin merasa senang kala membaca. Rasanya ada kenikmatan tersendiri ketika membaca buku sampai habis. Mungkin seperti kala pendaki gunung mencapai puncak, para gamers menamatkan permainan atau yaaa coba bayangkan sendirilah. Saya tidak mau membuat metaphor berlebihan tentang membaca. Itu yang membuat saya semakin rajin mencari buku untuk dibeli.</p>
<p>Pencarian buku saya tidak di kampus saja. Saya mulai melakukan penjelajahan di toko buku ataupun toko buku online. Toko buku pun saya jarang sekali di toko buku besar seperti Gramedia. Entah kenapa saya lebih sering memborong buku di toko buku kecil seperti yang ada di dekat rumah abang saya di sekitar Villa Pertiwi Cilodong, ataupun Toko Buku Kharisma di Graha Cijantung yang sekarang sudah tutup. Saya pernah memborong buku tentang pendidikan bahkan buku Restorasi Pendidikan karya LKM UNJ yang waktu itu dosen saya Pak Syaifudin ikut menyumbang tulisan kala masih mahasiswa ataupun buku-buku tentang kajian budaya populer dan nasionalisme di Toko Buku Kharisma. Sisanya saya membeli di toko buku online.</p>
<p>Untuk Online saya memiliki dua toko buku langganan di Yogjakarta. Bahkan setiap liburan semester ataupun awal kuliah saya selalu memesan buku baik untuk sekadar mengisi waktu libur untuk membaca ataupun tuntutan matakuliah. Mengenai biaya untuk membeli buku saya membagi menjadi dua sumber dana.</p>
<p>Soal buku untuk tuntutan matakuliah saya meminta dari orangtua. Sebagai anak terakhir dengan kedua kakak yang sudah berkeluarga dan meninggalkan rumah otomatis semua berpusat kepada saya sekarang sehingga untuk urusan pendidikan orangtua memberi perhatian penuh kepada saya termasuk membeli buku. Apakah saya senang? iya, tapi saya berusaha untuk tidak berfoya-foya.</p>
<p>Di kampus, saya banyak belajar dari kawan yang mencari nafkah demi uang kuliah untuk mandiri dan berhemat. Untunglah sejak tahun 2014 saya mulai menjadi wartawan lepas di media nasional. Honor dari menulis saya jadikan sumber dana kedua dan tambahan uang untuk membeli buku khususnya buku yang saya ingin baca bukan karena tuntutan kuliah. Sisanya jika ada saya tabung. Itu saya lakukan sampai sekarang. Menjadi mahasiswa semester 7. Membaca buku demi tuntuan kuliah atau karena ingin membacanya. Saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan jika mampu saya menuliskannya ulang dengan gagasan saya.</p>
<p><strong>Oleh: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://anduhanaksosial.blogspot.co.id/2016/09/maba-candu-buku.html">Naufal Mamduh</a></span> (Fakultas Ilmu Sosial)</strong></p>
<p><em>Tulisan ini merupakan salah satu tulisan bulanan dengan tema <strong>“First Step Mahasiswa Baru UNJ”</strong> yang dipersembahkan oleh <strong>KOMBUN (Komunitas Blogger UNJ)</strong>. Ingin bergabung dengan kami? Silakan daftarkan dirimu di:<strong><a href="http://goo.gl/forms/hXtu6HKl4N">http://goo.gl/forms/hXtu6HKl4N</a></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/maba-candu-buku/">Maba Candu Buku</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lengkap Sudah Keterarahanku</title>
		<link>https://unjkita.com/lengkap-sudah-keterarahanku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KOMBUN UNJ]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2016 23:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[First Step]]></category>
		<category><![CDATA[KOMBUN]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Baru UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4457</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku pernah merasa &#8220;asing&#8221;, dimana tempat itu begitu terlihat nyata tidak aku kenal. Mimpi singkat yang selalu aku elu-elukan. Harapan yang aku bawa terbang tinggi, pada akhirnya...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/lengkap-sudah-keterarahanku/">Lengkap Sudah Keterarahanku</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Aku pernah merasa &#8220;asing&#8221;, dimana tempat itu begitu terlihat nyata tidak aku kenal. Mimpi singkat yang selalu aku elu-elukan. Harapan yang aku bawa terbang tinggi, pada akhirnya jatuh juga.</em></p>
<p>Singkat cerita, aku bukan tipe seseorang yang mempunyai mimpi jangka panjang. Mimpiku hanya mimpi-mimpi pendek seperti tidur malam kemarin. Akupun pernah kecewa dengan mimpiku sendiri. Justru, kekecewaan itu membawa aku ke tempat yang sama sekali tidak aku kenal.</p>
<p>Mimpi, lagi-lagi mimpi. Mimpiku dulu menjadi insinyur, membangun jembatan kecil untuk teman-teman di daerah agar terasa nyaman saat berangkat sekolah. Namun, kehendak-Nya berkata lain. Mimpiku kandas membantu teman-teman di daerah. Aku kecewa, niat baikku pupus sudah.</p>
<p>Kalau kata anak zaman sekarang, <em>move</em> <em>on! </em></p>
<p>Tahun 2013<em>, </em>aku diberi kesempatan oleh-Nya berkuliah di salah satu Universitas Negeri di Jakarta melalui jalur SBMPTN. Kau tahu apa? Aku berkuliah di program studi Pendidikan Tata Boga. Program studi &#8220;Tata Boga&#8221; saja aku tidak kenal, apalagi dengan embel-embel &#8220;Pendidikan&#8221;. <em>Move on</em>-ku ini semakin gila, semakin galau ketika aku tahu Program Studi-ku ini berada di Fakultas Teknik. Yaps, salah fakultas impian yang mencetak gelar &#8220;Insinyur&#8221;. Pedih? Iya!</p>
<p><em>Aku seperti merasa tersesat. Benar-benar tersesat.</em></p>
<p>Karena galau ini, rasa bingung yang berlebihan. Membawa aku ke beberapa tempat yang asing. G-304, istilah pada salah satu ruangan di Gedung G. Salah satu tempat dengan plang bertuliskan &#8220;Lembaga Pers Mahasiswa DIDAKTIKA&#8221;. Sebuah tempat yang membuat aku tersadar akan pentingnya budaya literasi dan media massa. Sayang, mimpiku yang ingin kurajut bersama G-304 terhalang oleh izin orang tua.</p>
<p><em>Lagi-lagi aku harus move on. </em></p>
<p>Di semester 2 tahun pertama, aku menjadi mahasiswa biasa. Datang hanya karena ada kelas yang disebut kuliah. Di semester ini aku merasa hampa. Terasa tidak ada jalan untuk pulang, mau pulangpun enggan. Hingga di tahun ke-2, ada pembukaan pendaftaran anggota Komunitas Blogger UNJ. Setidaknya, aku merasa terarah akan kehadiran KOMBUN.</p>
<p>Dilanjut pada tahun ke-3, aku mendaftar disalah satu organisasi ekskutif tingkat Universitas dengan amanah Departemen Komunikasi dan Informasi. Disini, bahkan aku pernah diamanahkan menjadi seorang &#8220;editor&#8221;, sebuah lakon yang penting dalam dunia warta. Kini, aku sedang berada di organisasi eksekutif tingkat fakultas dengan Departemen yang sama seperti sebelumnya.</p>
<p>Lengkap sudah keterarahanku, rasa galau dan bimbang ini mulai pudar. Keresahan ini membawa aku menjadi pribadi yang lebih tangguh, aku belajar banyak, bahkan hingga sebuah ikatan ukhuwah yang begitu dekat.</p>
<p>Urusan akademik? Saat tahun kedua kuliah, aku hanya mempunyai modal tekad, yakin akan rencana-Nya jauh bermanfaat bagi diriku dan orang lain, dan aku pasti dapat menjadi &#8220;seseorang&#8221; melalui Pendidikan Tata Boga. Aku mulai merajut mimpi bersama &#8220;Pendidikan Tata Boga&#8221;.</p>
<p>Membuat sebuah <em>brand</em> untuk produk kulinerku sendiri, #DapurMuti. Melalui Praktik Kerja Lapangan/ PKL, membuat aku semakin <em>melek</em> dengan dunia industri makanan. Literasi dan tata boga, aku gabungkan menjadi beberapa tulisan dengan tema Masak ataupun Kuliner. Zona kehidupan yang sedang aku nikmati saat ini. Puncaknya, aku bahagia bukan kepalang mendapat panggilan <em>interview</em> magang di salah satu media massa berbasis kuliner.</p>
<p>Namun kehendak masih berkata lain, tawaran itu datang disaat aku sedang PKM. Praktik Keterampilan Mengajar, sebuah babak baru bagiku. Di situ, aku belajar menjadi seorang pendidik. Tawaran interview magang aku tinggalkan demi kewajibanku sebagai mahasiswa PKM dan tentu, belajar sebagai pendidik.</p>
<p><em>Tanpa aku sadari -entah- sudah berapa kali aku move on dari kehidupanku sendiri. Mencari babak baru dalam hidupku. Bergerak itu harus diciptakan! Kalau diam saja, ya tetap ditempat dong. Rasa gelisah, bimbang, tersesat, adalah hal yang manusiawi. Berserah pada-Nya, tetap berusaha, pasti ada jalan untuk kamu-kamu yang mau bergerak maju.</em></p>
<p>Saat ini, aku jadi penasaran, apa lagi ya yang akan menantiku di masa depan?</p>
<p><strong> “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” &#8211; QS Ar-Ra&#8217;d:11.</strong></p>
<p><strong>Oleh: </strong><strong><a href="http://justmuti.blogspot.co.id/2016/09/asing.html">Mutiara Kinanti</a></strong><strong> (Fakultas Teknik)</strong></p>
<p><em>Tulisan ini merupakan salah satu tulisan bulanan dengan tema <strong>&#8220;First Step Mahasiswa Baru UNJ&#8221;</strong> yang dipersembahkan oleh <strong>KOMBUN (Komunitas Blogger UNJ)</strong>. Ingin bergabung dengan kami? Silakan daftarkan dirimu di: </em><strong><em><a href="http://goo.gl/forms/hXtu6HKl4N">http://goo.gl/forms/hXtu6HKl4N</a></em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/lengkap-sudah-keterarahanku/">Lengkap Sudah Keterarahanku</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Bukan (Masih)siswa</title>
		<link>https://unjkita.com/mahasiswa-bukan-masihsiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[KOMBUN UNJ]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2016 16:36:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[First Step]]></category>
		<category><![CDATA[KOMBUN]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Baru UNJ]]></category>
		<category><![CDATA[MPA UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4509</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agustus 2014, dua tahun berlalu sejak saya menginjakkan kaki di sebuah tempat yang saya nggak pernah bayangin bisa ada di sini. Saya masih ingat, seorang...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mahasiswa-bukan-masihsiswa/">Mahasiswa Bukan (Masih)siswa</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Agustus 2014, dua tahun berlalu sejak saya menginjakkan kaki di sebuah tempat yang saya nggak pernah bayangin bisa ada di sini. Saya masih ingat, seorang diri kebingungan kesana kemari nyari loket FMIPA. Akhirnya ketemu dan dikejutkan dengan antrean panjang verifikasi berkas SNMPTN. Lolos verifikasi saya kira udah bisa jadi mahasiswa.</p>
<p dir="ltr">Ternyata untuk menjadi mahasiswa sungguhan nggak sampai disitu saja. Saat itu, saya baru dengar istilah MPA (Masa Pengenalan Akademik). Wajib diikuti untuk setiap mahasiswa baru. Mungkin sejenis MOS yang dimarah-marahin dan pakai atribut nggak jelas, pikir saya. Ternyata nggak separah waktu MOS dulu masa awal masuk SMA.</p>
<p dir="ltr">Saat MPA, saya dan teman-teman diminta untuk datang jam 5 pagi! Kuliah saja nggak ada yang jam 5 pagi! Lagi pula belum ada angkot sepagi itu. Saya pernah sekali terlambat 2 menit datang MPA. Saya kira paling dihukum <em>push up</em> atau lari di lapangan seperti jaman SMA dulu. Ternyata ini hanya pikiran ala anak SMA. Bukannya disuruh <em>push up</em> saya malah disuruh bikin esai refleksi diri. Padahal telatnya cuma 2 menit, loh. Akhirnya saya sadar, ada dosen yang nggak menolerir keterlambatan.</p>
<p dir="ltr">Di MPA juga ada penugasan, disuruh bikin esai tentang mahasiswa ideal. Saat SMA dulu biar tugas cepat kelar saya hanya <i>copy paste</i> artikel dari mbah gugel. Cara yang sama saya lakukan untuk bikin penugasan esai, toh hanya dikumpulkan. Lagi-lagi ini pikiran ala siswa, ternyata esainya di cek dan&#8230;ketauan deh. Esai saya dan beberapa orang dicap plagiasi. Wah, nggak nyangka. Saya juga sadar, skripsi nanti kalau ketauan plagiasi bisa dituntut hukum, tuh.</p>
<p dir="ltr">Dari MPA akhirnya saya belajar banyak kalau dunia kampus dan masa SMA itu beda. Kita disiapkan untuk menjadi mahasiswa sejati bukan siswa yang manja!</p>
<p dir="ltr">Mahasiswa baru biasanya mengalami <i>shocking culture</i>. Karena berbeda budaya saat SMA dan budaya kampus. Saya dari Fakultas MIPA, yang terkenal religiusnya. Saat menjadi maba dulu saya merasa asing dengan budaya MIPA yang religius dan budaya kampus yang begitu intelek. Lalu, saya disadarkan lagi kalau saya bukan lagi siswa yang berpikiran sempit dan menghabiskan waktu mencari hiburan. Sekarang saya amat bersyukur ada di tempat ini. <em>Tittle</em> &#8216;Maha&#8217; kini tersemat dalam status <u>kita</u> saat ini. Sudah seharusnya cara berpikir dan tingkah laku mahasiswa lebih baik dari siswa.</p>
<p dir="ltr">Dan teruntuk adik-adik saya, Penakluk Peradaban (FMIPA 2016), saya hanya berharap kalian mampu menaklukkan jalan juang kalian untuk empat tahun ke depan. Sudah bukan saatnya duduk diam lalu mengoceh sendiri, bangun dan lantangkan kebaikan. Karna kita, kalian bukan lagi siswa tapi mahasiswa. Hidup Mahasiswa!</p>
<p dir="ltr"><strong>Oleh: <a href="http://aprilliapuadji.blogspot.co.id/2016/09/mahasiswa-bukan-masihsiswa.html"><span style="color: #800000;">Aprillia Apuadji</span></a> (Fakultas MIPA)</strong></p>
<p dir="ltr"><em>Tulisan ini merupakan salah satu tulisan bulanan dengan tema <strong>“First Step Mahasiswa Baru UNJ”</strong> yang dipersembahkan oleh <strong>KOMBUN (Komunitas Blogger UNJ)</strong>. Ingin bergabung dengan kami? Silakan daftarkan dirimu di:<strong><a href="http://goo.gl/forms/hXtu6HKl4N">http://goo.gl/forms/hXtu6HKl4N</a></strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mahasiswa-bukan-masihsiswa/">Mahasiswa Bukan (Masih)siswa</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
