<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hari Guru Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/hari-guru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/hari-guru/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Nov 2017 00:48:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Hari Guru Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/hari-guru/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sudahkah Kalian Berterimakasih? &#8211; Selamat Hari Guru</title>
		<link>https://unjkita.com/sudahkah-kalian-berterimakasih-selamat-hari-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2017 00:44:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=17585</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8221;Seorang guru mempengaruhi keabadian; ia tidak pernah bisa mengungkapkan dimana pengaruhnya akan berhenti.&#8221; &#8211; Henry Brooks Adams. Dalam dunia pendidikan kita mengenal adanya sosok figur...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sudahkah-kalian-berterimakasih-selamat-hari-guru/">Sudahkah Kalian Berterimakasih? &#8211; Selamat Hari Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;Seorang guru mempengaruhi keabadian; ia tidak pernah bisa mengungkapkan dimana pengaruhnya akan berhenti.&#8221; &#8211; Henry Brooks Adams.</p>
<p>Dalam dunia pendidikan kita mengenal adanya sosok figur yang mampu memberikan pembelajaran atas suatu hal yang sebelumnya tidak kita mengerti, lalu dituntut untuk memberikan arahan yang baik agar kelak kita dapat menjumpai masa depan kita dengan cita-cita dan keberhasilan. Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu, yang mana tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta melakukan evaluasi terhadap peserta didiknya.</p>
<p>Menjadi seorang guru bukanlah perkara yang mudah, dimana setiap langkah mereka harus dihadapkan dengan berbagai risiko dan masalah. Apakah artinya risiko dan masalah tersebut yang pada akhirnya membuat seorang guru itu gagal? Dengan tegas saya mengatakan, â€œTidak !â€ tidak sepantasnya kita menyebutnya sebagai suatu kegagalan, sementara kita sudah berhasil memijaki bumi yang menua sampai pada hari ini dengan ilmu yang telah mereka tularkan, tentunya dengan campur tangan Tuhan.</p>
<p>Bayangkan, apa jadinya kita saat ini apabila tidak ada satu pengetahuan pun yang kita miliki? Apa jadinya dunia ini tanpa adanya seorang guru? Dapat dipastikan kita semua akan berada dalam keadaan kebingungan, dan akan terseok-seok dalam menjalani kehidupan yang ada karena larut pada kebodohan yang melekat. Tidak akan ada sebuah bangunan karena tidak adanya seorang arsitek, tidak akan ada orang yang sehat dan sembuh dari sakit karena tidak adanya seorang dokter atau tenaga medis, tidak akan ada sebuah negara karena tidak adanya seorang presiden/ raja/ sultan/ sebutan pemimpin negara lainnya; bahkan tidak akan adanya orang-orang baik karena tidak adanya seorang ulama/ pemuka agama, dan sebagainya. Tentunya, kembali saya sebutkan bahwa semuanya terjadi atas campur tangan Tuhan yang Maha Kuasa.</p>
<p>Allah SWT berfirman dalam Qurâan surah An-Nahl ayat 43; yang artinya : &#8221;Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.&#8221;</p>
<p>Ilmu itu sangat luas cakupannya, bahkan apabila seluruh pohon yang ada di dunia ini kayunya dijadikan pena, dan lautan dijadikan tintanya; maka belumlah habis ilmu Allah SWT. Bertanyalah kepada para ulama/ guru, begitu pesan yang Allah sampaikan pada ayat tersebut, yang mana Allah maksudkan kita dalam mendapatkan suatu ilmu maka perlu adanya perantara, perantara yang dimaksudkan adalah seorang guru. Sehingga, dengan bertanya maka akan hilang kebodohan, hilang keraguan, serta mendapatkan ilmu. Begitu pentingnya arti seorang guru bagi suatu ilmu. Kendati demikian, dalam bertanya/ berguru kita perlu memperhatikan adab-adab dalam berilmu yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Termasuk di antaranya menyampaikan rasa terimakasih kita kepada guru. Yang menjadi pertanyaannya adalah, sudahkah kita berterimakasih? Dan sudahkah kita cukup membalas kebaikan mereka dengan hanya berterimakasih?</p>
<p>Masih ingatkah kalian kapan pertama kalinya kalian dapat mengenal huruf, angka, dan warna; masih ingatkah kalian siapa yang mengajari kalian sehingga kalian dapat membaca, menulis, dan berhitung? Berlanjut kejenjang sekolah dasar; masih ingatkah kalian siapa yang dengan sabar menghadapi tingkah laku kalian di sekolah yang sedang masanya bermain dan nakal-nakalnya? Masih ingatkah kalian siapa yang mengajari kalian perhitungan Al-Jabar sampai kalian memahami betul seluk beluknya (ketika kalian berseragamkan putih biru). Masih ingatkah kalian dengan rumitnya logaritma? Dan lain-lain.</p>
<p>Dan masih ingatkah kalian siapa yang dengan sabar menghadapi tingkah laku orang-orang yang baru beranjak dewasa, yang berkeinginan mengikuti kehendaknya sendiri (tidak suka diatur)? Dapatkah kalian menyebutkan satu-persatu guru-guru kalian yang telah menularkan ilmunya kepada kalian? Lantas bagaimana cara kita berterimakasih, diminta untuk menyebutkannya saja kita tidak mampu?</p>
<p>Sedih jika kita kembali mengingat dan merenunginya, banyak sekali kesalahan yang dengan atau tanpa kita sadari sudah melukai hati mereka. Ingin sekali rasanya kita kembali ke masa itu untuk menyampaikan permohonan maaf kita kepada mereka dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dahulu.</p>
<p>Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan mendoakan mereka dan memanfaatkan ilmu yang telah mereka tularkan di jalan-jalan yang di benarkan oleh Allah SWT. Lalu, menyampaikannya lagi pada orang lain, karena hal tersebut merupakan suatu amalan yang tidak akan terputus pahalanya walaupun orang yang menularkan ilmu sudah meninggal dunia (Ilmu yang bermanfaat). Inilah hakikat daripada keabadian yang dimaksud dari penggalan kalimat yang dikemukakan di atas.</p>
<p>Selamat Hari Guru, 25 November 2017; untuk guru-guruku tercinta !</p>
<p>Namamu<br />
Abadi,<br />
Dalam<br />
Relung<br />
Hati ini.</p>
<p>Peluk hangat murid kesayangan.</p>
<p>Jakarta, 25 November 2017<br />
<strong>Adi Rahzalafna.</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sudahkah-kalian-berterimakasih-selamat-hari-guru/">Sudahkah Kalian Berterimakasih? &#8211; Selamat Hari Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Guru, Mendidik Itu Melawan!</title>
		<link>https://unjkita.com/selamat-hari-guru-mendidik-itu-melawan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2017 00:42:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=17591</guid>

					<description><![CDATA[<p>Guru, digugu dan ditiru. Mungkin kita teramat sering mendengar kata-kata tersebut. Tak aneh, toh secara historis kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah eks Institut Keguruan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/selamat-hari-guru-mendidik-itu-melawan/">Selamat Hari Guru, Mendidik Itu Melawan!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Guru, digugu dan ditiru.</p>
<p>Mungkin kita teramat sering mendengar kata-kata tersebut. Tak aneh, toh secara historis kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah eks Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) atau lebih jauh lagi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia kampus Rawamangun. Tentu ruh kepengajaran tetap melekat di kampus UNJ walau hari ini sudah menggagas nama Universitas yang di dalamnya bukan hanya terdapat keilmuan pendidikan, tetapi juga ilmu murni, teknik, dan program profesi lainnya.</p>
<p>Tepat pada hari ini kita memperingati Hari Guru Nasional (25/11). Hari guru Nasional sendiri diambil berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994 dan juga di UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen yang juga bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia. Untuk alasan kedua, ternyata Hari Guru Nasional memiliki historis yang sangat patriotik di dalamnya.</p>
<p>Tepat 3 bulan setelah kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 24-25 November 1945 dilaksanakan lah Kongres Guru Indonesia di Surakarta. Hal tersebut berangkat dari semangat Proklamasi dan keinginan akan persatuan guru-guru dari lintas latar belakang. Semangat persatuan tersebut kemudian diimplementasikan lewat penyatuan berbagai organisasi dan kelompok guru yang di pada zaman itu terbedakan berdasarkan perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama dan suku.</p>
<p>Dalam terjangan mesiu-mesiu dan timah panah yang dilontarkan tentara Inggris atas Studio RRI Surakarata, para peserta kongres merumuskan tiga hasil kongres berupa:</p>
<p>1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia<br />
2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan<br />
3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, Guru pada khususnya</p>
<p>Dan sejak Kongres tersebut, semua guru di Indonesia menyatakan dirinya bersatudi dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia. Dan sejarah mencatatkan bahwa Guru menjadi tonggak perjuangan banggsa. Hari ini kita mengenal nama-nama macam Mohammad Syafei (pendiri INS Kayutanam), Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara (pendiri perguruan Taman Siswa), Surjopranoto (salah satu pendiri sekolah Arjuna), E.F.E. Douwes Dekker (pendiri perguruan Ksatriaan Institut).</p>
<p>Atau pun dalam sejarah lain, mencatat nama dwi tunggal Tan Malaka dan Soedirman.</p>
<p>Tan malaka adalah seorang politikus kenamaan Indonesia, langkah-langkah perjuangannya terdengar sampai seantero Asia dan Rusia. Buku Massa Actie (Massa Aksi)nya menjadi pedoman pejuang-pejuang kala itu. Bahkan sampai-sampai orang Filipina pada masa itu menyandingkan Tan dengan Jose Rizal dan Emilio Aguinaldo, bapak bangsa Filipina. Dalam hidupnya, dari total 7 pekerjaan yang dilakoninya. 4 pekerjaan Tan melingkupi dunia kependidikan, dari mulai guru sampai pendiri sekolah.</p>
<p>Kemudian nama kedua, Soedirman. Namanya begitu harus sebagai Jendral Besar, perang gerilya begitu melekat dengan sosoknya. Dari pribadinya sangat dikenang karena sifat bijak dan arifnya. Hal tersebut sendiri sudah terlihat bahkan sejak sebelum terjung di medan laga. Seperti yang dikutip dari laman okezone.com</p>
<p>&#8220;Saat menjadi guru, Soedirman mendidik murid-muridnya melalui pendekatan moral. Ia kerap menggunakan contoh dari kehidupan mulia para Nabi Muhammad Salallahu &#8216;alaihi wasallam dan kisah wayang tradisional. Murid-muridnya menyatakan Soedirman adalah guru yang adil dan sabar, kemudian sering menampilkan humor serta cerita nasionalisme dalam pelajaran. Hal ini membuat Sang Jenderal Besar populer di kalangan murid.</p>
<p>Kala itu Pak Guru Soedirman diketahui digaji kecil, namun tetap mengajar dengan giat. Hingga pada beberapa tahun kemudian ia diangkat menjadi kepala sekolah. Otomatis, gaji bulanannya meningkat empat kali lipat dari 3 gulden menjadi 12,5 gulden.</p>
<p>Ketika sudah menjabat kepala sekolah, Soedirman mengerjakan berbagai tugas administrasi, termasuk mencari jalan tengah di antara guru yang berseteru. Seorang rekan kerjanya mengisahkan bahwa Soedirman adalah pemimpin yang moderat dan demokratis. Ia juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun untuk lainnya.&#8221;</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Seri Buku TEMPO: Bapak Bangsa Tan Malaka<br />
http://www.ekaikhsanudin.net/2015/11/sejarah-singkat-pgri.html<br />
https://news.okezone.com/read/2017/11/24/337/1820044/okezone-story-sisi-lain-jenderal-soedirman-menjadi-guru-sebelum-berjuang-memerdekakan-indonesia</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/selamat-hari-guru-mendidik-itu-melawan/">Selamat Hari Guru, Mendidik Itu Melawan!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>600 Ribu Lebih Guru Di Indonesia Berpendidikan Dibawah S1</title>
		<link>https://unjkita.com/600-ribu-lebih-guru-di-indonesia-berpendidikan-dibawah-s1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2016 00:28:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=5020</guid>

					<description><![CDATA[<p>UNJKita.com &#8211;  Guru, banyak yang menyebutnya pahlawan tanpa tanda jasa. Hal tersebut tak berlebihan jika dilihat dari besarnya jasa guru dalam membangun sebuah bangsa. Jasa...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/600-ribu-lebih-guru-di-indonesia-berpendidikan-dibawah-s1/">600 Ribu Lebih Guru Di Indonesia Berpendidikan Dibawah S1</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">UNJKita.com &#8211;  Guru, banyak yang menyebutnya pahlawan tanpa tanda jasa. Hal tersebut tak berlebihan jika dilihat dari besarnya jasa guru dalam membangun sebuah bangsa. Jasa besarnya guru terjadi dari perannya sebagai aktor utama bagi terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas, tidak hanya dari sisi intelektulitas saja melainkan juga dari tata cara berperilaku dalam masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengutip dari Undang-undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen :</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama </em><em>mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, </em><em>menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan </em><em>anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, </em><em>dan pendidikan menengah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Namun dibalik kebesarannya, masih ada kendala besar menanti dari segi pendidikan seorang Guru. Dilansir dari data Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2015 ada 19 persen guru di jenjang dini, dasar dan menengah di Indonesia belum berijazah sarjana (S1). Berarti jika dihitung 19 persen dari total 3.400.000-an guru yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, ada sekitar 600 Ribu an guru belum menyandang gelar sarjana. Padahal jika kembali kita menilik dari UU No 14 tahun 2005 bahwa pemerintah berkewajiban meningkatkan kualifikasi guru yang belum sarjana dalam waktu sepuluh tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Jenjang PAUD menjadi penyumbang tersebesar sebanyak 48.09 persen. Kemudian SLB berada dibawa PAUD dengan besaran 19.96 persen, sedangkan di posisi ketiga ada Sekolah Dasar (SD) dengan 18.95 persen. Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Mengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) berada dikisaran beruntut 12.75 persen, 7.57 persen, dan 4.49 persen.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/600-ribu-lebih-guru-di-indonesia-berpendidikan-dibawah-s1/">600 Ribu Lebih Guru Di Indonesia Berpendidikan Dibawah S1</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
