<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mahasiswa Menulis Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/mahasiswa-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/mahasiswa-menulis/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jul 2018 06:30:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Mahasiswa Menulis Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/mahasiswa-menulis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</title>
		<link>https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Asrul Pauzi Hasibuan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 01:19:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20504</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” Imam Al-Ghazali. Ungkapan pada kalimat tersebut bermakna cukup dalam. Dimana ketika...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/">&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar</em><em>,</em> maka <em>jadilah penulis.</em>” Imam Al-Ghazali.</strong></p></blockquote>
<p>Ungkapan pada kalimat tersebut bermakna cukup dalam. Dimana ketika kita menjadi penulis, maka kita bisa setara atau bahkan melampaui predikat anak raja yang –hanya- dilihat karena tahta ayahnya, begitu pun yang kedua, ketika anak ulama besar ini hanya ‘menggunakan’ kebesaran ayahnya –tidak karena ke keilmuannya sendiri.</p>
<p>Demikianlah, menjadi seorang penulis cukup ‘menjanjikan’, hingga pencapain tebaik bagi seorang penulis ialah abadi dari waktu ke waktu. Tulis Pramoedya Ananta Toer suatu waktu, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.</p>
<p>Kemudian menjadi sesuatu yang menarik ketika seseorang yang berpredikat sebagai mahasiswa pasca reformasi yang dituntut sesegera mungkin merampungkan studinya dengan waktu yang cukup terbatas, mampu menuliskan suatu buku di sela-sela kesibukan akademiknya –bahkan juga kesibukan lainnya seperti organisasi.</p>
<p>Melihat sesuatu yang cukup jarang dijumpai itu, tim UNJKita mengadakan RUBRIK (Ruang Terbuka UNJKita) via <em>Whatsapp </em><em>dengan tema “Ketika Mahasiswa Menjadi Penulis Buku”.</em></p>
<p>Narasumber termin pertama untuk diskusi online “Ketika Mahasiswa Menjadi Penulis Buku” pada Jum’at malam (17/3/18) yaitu, Tyo Prakoso, seorang alumni Pendidikan Sejarah FIS UNJ 2012 dengan bukunya “Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra” (2016).</p>
<p><em><strong>Baca juga:<a href="http://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/"> Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a></strong></em></p>
<p>Sobat <a href="http://UNJKita.com">UNJKita.com</a>, yuk simak QnA bersama Tyo Prakoso!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong><em>“Bagaimana sih kak cara bagi-bagi waktu buat produktif menulis, karena selain akademik ada juga organisasi dan teman-teman lain yang suka minta waktu kita?”</em></strong></h4>
<p><em>“Waduh, berat ini. </em><em>Sejujurnya, saya amatlah orang yang tidak sistematis dalam urusan membagi-bagi waktu. Saya kerap kali terlampau asik dg apa yang saya senang lakukan. Sehingga urusan dan kewajiban saya agak kedodoran. Itulah kenapa, mungkin, studi saya telat. </em></p>
<p><em>Jadi jawaban atas pertanyaan ini: perbanyak waktu terjaga di malam hari. Untuk baca dan hal-hal lainnya. Risikonya, kita tergabung ke Tareqat Al-Insomniyyaah.”</em></p>
<h4><strong><em>“Sejak kapan Kak Tyo mulai menulis intens? Bagaimana dengan kegiatan membaca buku, apa harus saat malam hari atau seinginnya kita aja?”</em></strong></h4>
<p><em>“Saya malah menulis intens semasa kuliah. Silakan berkunjung ke laman gerakanaksara.blogspot.com laman yang saya kelola bareng teman-teman yang lain. Kebetulan saya lebih senang menulis sastra, ketimbang sejarah. Saya merasa menulis sastra seperti berada di rest area dalam perjalanan jauh (yakni belajar sejarah). Dan tanpa saya sadari, koleksi buku saya, 70% buku sastra ketimbang sejarah. Ini tragedi sih. Hehehe. </em></p>
<p><em>Untuk membaca, sampai sekarang saya memaksa diri untuk membaca minimal 2 jam dalam satu momen (artinya tidak diselingi kegiatan apapun). Waktunya bisa kapan saja. Biasanya saya larut malam. Menjelang tidur.&#8221;</em></p>
<h4><strong><em>&#8220;Apakah Kak Tyo membaca satu buku dulu baru bisa menulis? Apa sesuai halaman yang kakak baca dihari itu?&#8221;</em></strong></h4>
<p><em>“Kalau saya sih fleksibel saja. Malah terlampau sering saya membaca tidak meniatkan untuk menulis sesuatu. Baca ya baca saja. Tidak berharap nanti bakal nulis hasil dari baca buku tersebut.</em></p>
<p><em>Malah lebih sering ketika dihadapkan pada satu momen, dan saya teringat dengan sebuah buku, maka saya buka ulang buku tersebut. Itu kenapa saya senang mencoret-coret buku, baik dengan stabilo, pensil, atau post it, agar mudah ketika membaca ulang. </em></p>
<p><em>Dan saya senang membaca berulang-ulang sebuah buku. Bukan apa-apa, karena saya merasa membaca (ulang) buku itu seperti seorang flaneur, pejalan kaki, yang keluyuran ke satu tempat yang (sama), dan menemukan hal yang tak terduga. Begitu dah. </em></p>
<p><em>Jadi, saran saya, ketika usai membaca sebuah buku, bikinlah review atau resume atau ringkasan atau sekalian dicoret-coret bukunya, untuk mengingat dan memudahkan ketika membaca ulang dan menulis.”</em></p>
<h4><strong><em>“Pernah gak sih Kak Tyo mengalami rasa malas atau mengantuk ketika sedang menulis? Nah, kalo pernah, kasih tau dong kak tips-tips menghadapi rasa malas atau cepat mengantuk saat sedang nulis?&#8221;</em></strong></h4>
<p><em>“Kalau saya pribadi punya prinsip (ngawur), &#8220;Malas adalah hak,&#8221;. Meski hak itu diperoleh setelah menuntaskan kewajiban kan. Dan membaca adalah kewajiban, bagi saya sih. Meski hobi saya tetap, tidur siang. </em></p>
<p><em>Itu untuk membaca. Karena bagi saya, prinsipnya menulis adalah efek samping (giat) membaca.</em></p>
<blockquote><p><strong><em>Menulis adalah efek samping (giat) membaca.</em></strong></p></blockquote>
<p><em>Nah, kalo sedang nulis lalu rasa malas datang, maka biasanya saya tinggal tulisan. Dan memilih ngelakuin hal-hal lain. Baca atau main PES atau pacaran. Pokoknya yang bisa bikin mood kembali. </em></p>
<p><em>Jangan membayangkan proses menulis itu sekali jadi. Menulis itu jalan yang panjang.”</em></p>
<h4><em><strong>&#8220;Kiat-kiat apa yang harus dilakukan oleh penulis pemula ketika rasa cemas dan keputusa-asaan datang menghampiri?&#8221; </strong></em></h4>
<p><em>&#8220;</em><em>Tentu kita tahu kan penulis Indonesia paling moncer belakangan ini, yang karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 20an bahasa di dunia, yap betul; Eka Kurniawan.</em></p>
<p><em>Novel pertamanya itu Cantik Itu Luka. Pertama kali novel itu enggak ada yang mau nerbitin. Akhirnya diterbitin secara mandiri. Lalu, ada penerbit mayor mau menerbitkan ulang. Dan saat itu novelnya dicaci-maki karena dianggap buruk oleh seorang Kritikus Sastra Ternama.</em></p>
<p><em>Apa yang kita bisa ambil dari cerita di atas? Saya pikir dua hal, yaitu, pertama, saya rasa semua penulis pasti mengalami titik cemas dan putus asa terhadap karyanya dan bahkan kritik. Jadi jangan terlampau khawatir dan cemas. Jadikan itu proses belajar. Lalu, kedua, bila ada kritik, ya terima saja. Karena kritik itu adalah proses bergeraknya sesuatu. Tanpa kritik sesuatu statis. Saya pikir demikian lah dg menulis.&#8221;</em></p>
<h4><em><strong>“Selain malas, apa kendala lain yang Kak Tyo temui di dunia tulis menulis, khususnya kendala untuk menerbitkan/ membukukan tulisan tersebut? Bagaimana cara kakak mengatasinya? Satu lagi, apa salah satu tulisan kakak yang tidak berkaitan dengan sejarah?</strong></em></h4>
<p><em>“Tampaknya saya harus mengklirkan dulu perihal &#8216;sejarah&#8217; yang saya maksud deh. Bagi saya, ada dua sejarah. Yakni Sejarah (dengan S besar) dan sejarah (dengan s kecil). Bedanya, Sejarah adalah yang tertulis dan dipelajari di sekolah atau kampus atau buku. Sedangkan, sejarah adalah apapun di masa silam yang pernah kita lalui. Semua orang mempunyai sejarah (baca: masa lalu), dan belum tentu semua memiliki Sejarah. Karena Sejarah kerap ditulis oleh pemenang untuk kekuasaan.</em></p>
<p><em>Lalu, apa hubungannya sejarah dan Sejarah? </em></p>
<blockquote><p><strong><em>Saya percaya, kita hidup karena kita memiliki sejarah. Dan hidup yang baik adalah perjuangan dari sejarah menjadi Sejarah.</em></strong></p></blockquote>
<p><em>Nah, yang saya tulis adalah sejarah. Dalam artian, kisah-kisah masa lalu tiap-tiap tokoh yang saya buat di tiap cerita saya. Tokoh-tokoh itu, tanpa disadari, mereka sedang berjuang dari sejarah menjadi Sejarah.</em></p>
<p><em>Kendala, adalah kesabaran. Sebagai penulis ijig-ijig, saya tidak cukup sabar untuk mematangkan ide-ide tulisan saya. Jadi, ketika sudah beredar di pembaca, masih juga banyak perkara yang belum selesai. Saya pikir ini masalah akut yang bisa diselesaikan dengan proses belajar terus menerus.</em></p>
<p><em>Selain menulis cerpen, saya juga menulis esai. Kebanyakan malah saya enggak menulis Sejarah. Meulis sehari-hari yang paling saya suka adalah cerpen Goen dan Pram dan Esai Montase Sepakbola.”</em></p>
<p><em><strong>Baca juga: <a href="http://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/">Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</a></strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/">&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</title>
		<link>https://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 00:35:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20465</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Saya punya anggapan keren bahwa Self-publishing jalan tepat untuk buku pertama setiap penulis. Buku berikutnya terserah,&#8221; ungkap Tyo saat Rubrik (Ruang Terbuka UNJKita) Edisi Mahasiswa Penulis Buku...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/">Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Saya punya anggapan keren bahwa Self-publishing jalan tepat untuk buku pertama setiap penulis. Buku berikutnya terserah,&#8221; ungkap Tyo saat Rubrik (Ruang Terbuka UNJKita) Edisi Mahasiswa Penulis Buku pada tanggal 17 Maret 2018 lalu.</em></p>
<p>Ialah Tyo Prakoso alumni Jurusan Pendidikan Sejarah FIS UNJ Angkatan 2012 yang telah menulis buku kumpulan 21 cerita pendek berjudul, &#8220;Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra” pada tahun 2016.</p>
<p>Tyo, begitu panggilan akrabnya, tidak pernah meniatkan jika ia harus menulis suatu buku seperti judul di atas. Namun, Tyo memang gandrung menulis dengan beragam jenis tulisan, termasuk cerita pendek (cerpen).</p>
<p><em><strong>Baca juga: <a href="http://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/">Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a></strong></em></p>
<p>Kegelisahan dan membaca ialah sebab Tyo menulis, hingga akhirnya tulisan (cerpen) Tyo ada tempat di satu dan tempat lainnya, tanpa terkodifikasi dengan baik. Kemudian dari sana, dalam keadaan sedang mengerjakan skripsi, maka terpikirkan cerpen-cerpen yang tidak terkodifikasi itu untuk dikumpulkan dan disulap menjadi sebuah buku narasi-narasi sejarah yang dirajut menggunakan sastra.</p>
<p>&#8220;Saya percaya, kita hidup karena kita memiliki sejarah. Dan hidup yang baik adalah perjuangan dari sejarah menjadi Sejarah. Nah, yang saya tulis adalah sejarah. Dalam artian, kisah-kisah masa lalu tiap-tiap tokoh yang saya buat di tiap cerita saya. Tokoh-tokoh itu, tanpa disadari, mereka sedang berjuang dari sejarah menjadi Sejarah,&#8221; jelas Tyo.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-20468" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso.jpg" alt="" width="720" height="960" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso.jpg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-113x150.jpg 113w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-450x600.jpg 450w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-315x420.jpg 315w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-640x853.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-681x908.jpg 681w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p>Menurut Tyo, menerbitkan secara <em>indie</em> pada buku pertama, itu berarti penulis tidak batasi oleh hal-hal yang acapkali menjadi pertimbangan penerbit. Penerbit <em>indie</em> memungkinkan hal itu. Dan buku pertama haruslah demikian. Setidaknya itu akan menggambarkan bagaimana perjalanan seorang penulis selanjutnya.</p>
<p>&#8220;Menulis itu luka, kata Eka Kurniawan,&#8221; ungkap Tyo.</p>
<p>Soal kendala menerbitkan buku sendiri, tentu banyak. Menurutnya, yang paling rumit adalah marketing dan pemasaran buku. Untungnya, saat itu Tyo bersama teman-teman yang baik dan selalu memberi dukungan padanya<i>.</i> Mereka semualah yang menemaninya menyusun, berdiskusi, memilih sampul, sampai acara meluncurkan buku.</p>
<p>Untuk bagaimana merajut antara fiksi dan fakta, Tyo sudah menuliskannya dalam esai &#8220;Sosiologi (dan) Sastra: Sebuah Telaah Kemanasukaan Atas Realitas dan &#8216;Realitas&#8221; [<a href="http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/04/sosiologi-dan-sastra-sebuah-telaah.html">http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/04/sosiologi-dan-sastra-sebuah-telaah.html</a>]. Dia tidak terlalu membuat garis tegas antara yang-fiksi dan yang-fakta atau sastra dan sejarah. Karena keberadaan imajinasilah yang mempertemukan keduanya.</p>
<p>&#8220;Kalau saya mau nulis cerpen yang menggunakan cerita Sejarah, maka saya riset dulu sih. Cari bahan-bahannya,&#8221; kata Tyo.</p>
<p>Salah satu contonya bagaimana ia merajut antara fiksi dan fakta; sastra dan sejarah, ialah cerpen &#8220;Gempa Waktu dan Kisah Tokoh Kita Pada Sebuah Simposium&#8221; [<a href="http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/05/gempa-waktu-dan-kisah-tokoh-kita-pada.html">http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/05/gempa-waktu-dan-kisah-tokoh-kita-pada.html</a>]. Cerpen tersebut berkisah tentang sosok bocah lelaki yang berada di kemelut peristiwa 1965. Dia menggunakan kisah keluarga DN Aidit sebagai bahan utama cerita. Tokoh utamanya adalah anaknya DN Aidit, Ilham Aidit.</p>
<blockquote><p><strong><em>“Jangan bermimpi jadi penulis hebat, berupayalah jadi pembaca tekun.” Zen Res.</em></strong></p></blockquote>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/">Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</title>
		<link>https://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2018 23:45:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20459</guid>

					<description><![CDATA[<p>PADA MUSIM SEMI yang hujan tahun 1957, Penulis Kolombia itu sedang berjalan di Boulevard St. Michel di Paris. Ia melihat Sang Maestro sedang berjalan bersama...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/">Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PADA MUSIM SEMI yang hujan tahun 1957, Penulis Kolombia itu sedang berjalan di Boulevard St. Michel di Paris. Ia melihat Sang Maestro sedang berjalan bersama istrinya di sisi seberang menuju Taman Luxemberg. Sang Maestro mengenakan celana koboy yang tampak kuat, kemeja wol, dan topi pemain bola. Juga kacamata berbingkai logam yang menyentel di hidungnya. Kacamata itu berukuran amat kecil sehingga membuat muka Sang Maestro seperti seorang yang belum waktunya menjadi kakek.</p>
<p>Sang Maestro adalah penulis idola Penulis Kolombia. Itu kali pertama Penulis Kolombia melihat Sang Maestro yang saat itu berusia 57 tahun. Sang Maestro tampak sehat dan bugar. Ia terlihat kerasan tinggal di kota itu dengan anak-anak muda yang terus mengalir ke kafe-kafe di Sorbonne.</p>
<p>&#8220;Maestroooo!&#8221; tanpa Penulis Kolombia itu sadari ia berteriak ke arah Sang Maestro dengan mencungkupkan kedua tangan di dekat mulut, seperti Tarzan.</p>
<p>Penulis Kolombia itu tidak menyangka apa yang baru saja dilakukannya. Ia memang berada dalam situasi yang sulit. Maksudnya ia tidak mengerti apa yang sedang dialami oleh tubuhnya ketika dihadapkan oleh sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Ia tidak menyangka akan bertemu Sang Maestro, idolanya, pada situasi demikian. Penulis Kolombia masih terhitung muda. Ia berumur 28 tahun.</p>
<p>&#8220;Adioooss, amigo!&#8221; sahut Sang Maestro dengan bahasa Castilia. Sepertinya ia tahu hanya ada satu maestro saat itu.</p>
<p>Sang Maestro adalah Ernest Hemingway, penulis asal Amerika Serikat. Penulis Kolombia itu ialah Gabriel Garcias Marquez. Dua begawan sastra dunia yang namanya acap diperbingcangkan.</p>
<p>Bagi saya, momen pertama Gabo (panggilan akrab Gabriel Garcias Marques) dengan Hemingway di atas amat dikenangnya dan menjadikan salah satu palagan sejarah kepenulisannya. Bahwa kerja keras untuk terus mencoba dan menulis adalah satu hal yang musti dilakukan oleh seorang penulis. Perjalanan kisah sebagai manusia an sich yang dilingkupi konteksnya juga turut mempengaruhi proses perjalanan literer tersebut. Sebab keberhasilan seorang penulis, hemat saya, adalah kesuksesan mempertaut pengalaman subyek dengan subyek-subyek lainnya.</p>
<blockquote><p><strong>Menulis merupakan suara pribadi (penulis) yang bertaut dan kadang berbenturan dengan suara di luar dirinya.</strong></p></blockquote>
<p>Di titik inilah, kegiatan menulis bergerak dari ruang privat ke ruang publik. Menulis merupakan suara pribadi (penulis) yang bertaut dan kadang berbenturan dengan suara di luar dirinya. Menulis akan selalu berada di tegangan antara kedua ruang tersebut dalam proses literer.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>URAIAN di atas akan mengantar kita pada persoalan, misalnya, mengapa judul tulisan ini demikian. Mungkin judul tulisan ini segera mengusik common sense pembaca alih-alih tidak mengacuhkannya.</p>
<p>Artinya saya berhasil. Sebab judul itu dipertujukan kepada kita yang mengemban tanda sebagai mahasiswa. Dan konon, selain Agen Perubahan, tanda mahasiswa identik dengan kegiatan literasi, membaca dan menulis. Dari sanalah, saya rasa, pemahaman Civitas Akademika berangkat.</p>
<p>Saya tidak ingin menggarami air laut, untuk terus memproduksi mitos bahwa minat baca anak muda (bukan hanya mahasiswa) negeri ini jebluk. Saya ingin kita mempersoalkan fungsi dan peran universitas (sebagai tempat dimana tanda mahasiswa itu berada, kan) terhadap kenyataan bahwa ada mahasiswa yang menulis dan tidak.</p>
<p>Jika bukan karena universitas, misalnya, mengapa mahasiswa menulis? Alih-alih menulis dan demonstrasi, mengapa mahasiswa tidak melakukan hal faedah lainnya, misal, memancing di tengah danau?</p>
<p>Karena saya tidak ingin jawabannya adalah persoalan diri, atau bahkan, persoalan mengubah sesuatu hal, maka saya rasa kita harus bertanya mengapa universitas gagal menjalankan fungsi dan perannya? Sebab jika ruang dimana kegiatan literasi menjadi satu hal yang mafhum masih menjadi kendala, maka itu sebuah petaka.</p>
<p>Saya rasa, pertanyaan mengapa mahasiswa menulis menjadi menemukan relevansinya. Di titik ini kisah Gabo dan Hemingway di atas menjadi ilustrasi yang mengasikkan. Bahwa pertemuan itu terjadi di jalan adalah satu momen semiotik, dan sialnya arbitre. Maksudnya, kegiatan literasi berada dalam ruang yang goyah; antara alasan kenapa melakukannya dengan sebab tidak melakukannya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>MARI kita tinggalkan persoalan kenapa mahasiswa menulis atau tidak. Bila pertanyaan mengapa saya tidak menulis, maka jawabannya, biasanya, karena saya sedang membaca. Dan membaca, adalah proses saya untuk menangkap hal-hal yang kiranya menjadi pertanyaan-pertanyaan. Juga membaca adalah kiat paling ampuh untuk memahami sesuatu yang menjadi keresahan.</p>
<blockquote><p><strong>Membaca adalah proses saya untuk menangkap hal-hal yang kiranya menjadi pertanyaan-pertanyaan. Juga membaca adalah kiat paling ampuh untuk memahami sesuatu yang menjadi keresahan.</strong></p></blockquote>
<p>Jika kita sepakat, bahwa membaca bukanlah tindakan heroik (apalagi bagi mahasiswa), maka membaca haruslah dipahami bukan sekedar berhadapan dengan sebongkah benda bernama buku. Karena kata literasi, sebuah kegiatan yang sepadan dengan pemahaman kita tentang membaca dan menulis, dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Inggris, literacy, yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin, literatus, yang berarti orang yang belajar. Dalam bahasa Latin juga terdapat istilah littera (huruf) yaitu sistem tulisan dengan konvensi yang menyertainya.</p>
<p>Karena unsur utama dari kata literasi adalah belajar, atau lebih tepatnya orang yang belajar, maka mengamati seorang petani di sawah dan memahami proses kerja tani dari persoalan menyiapkan tanah, menebar bibir hingga panen, dus persoalan sosial-ekonomi yang melingkupinya, dapatlah kita sebut sebagai membaca. Di titik inilah, bagi saya membaca bukanlah persoalan remeh. Membaca adalah kegiatan tak-berkesudaran antara kondisi sadar akan situasi ketidaktahuan. Singkatnya membaca adalah proses untuk tetap gelisah, karena pertanyaan-pertanyaan yang mengiung di kepala.</p>
<p>Lalu mengapa kemudian saya menulis? Jawabannya adalah untuk tetap berada dalam tegangan kegelisahan tersebut. Artinya menulis adalah respon per se terhadap proses membaca yang saya lakukan. Di titik ini saya harus katakan bahwa, bagi saya menulis adalah anasir-lain dari membaca. Saya tidak akan mungkin menulis bila tidak membaca.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Bila penjelasan di atas dirasa rumit, maka baiklah saya memang harus menceritakan bagaimana akhirnya saya membaca dan kemudian menulis.</p>
<p>Jika kau percaya kepada ingatan saya, maka pertama kali saya membaca adalah dongeng sebelum tidur yang dikisahkan oleh nenek saya. Juga gunjingan sanak-keluarga saya tentang asal-usul keluarga yang, beberapa, beririsan dengan cerita sejarah. Setidaknya kemudian yang saya ketahui.</p>
<p>Karena bermula dari cerita-cerita yang dituturkan dan saling beririsan dan kadang bertabrakkan perihal kebenarannya itu, saya mulai menemukan buku sebagai sebuah cerita-lain, yang mulanya tidak berkaitan dengan kisah-kisah yang dituturkan tersebut. Di titik inilah perjalanan literer saya bermula. Hingga kemudian membawa saya studi sejarah di Rawamangun.</p>
<p>Buku pertama yang saya baca dengan serius adalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer. Sebuah memoar miris tentang perjalanannya sebagai manusia buangan di bawah Rezim Orde Baru. Bukan sebuah kebetulan bila hal tersebut beririsan dengan kisah keluarga saya. Di titik ini kau tahu yang saya maksud bertautan.</p>
<p>Melalui Pram saya mengetahui kisah sejarah yang tidak dikisahkan oleh buku-buku pelajaran di sekolah. Namun, dalam derajat tertentu, saling mendukung kisah-kisah yang dituturkan sanak-keluarga. Bagaimana kisah sejarah yang dituturkan Pram beririsan dengan kisah keluarga, biarlah nanti saya tulia di kesempatan lainnya. Di sini hanya perlu disebutkan bahwa sastra sangat mungkin digunakan untuk menceritakan masa lalu.</p>
<p>Dengan pemikiran demikianlah saya kemudian menulis cerita-cerita pendek yang saya bangun pondasinya dari puing-puing sejarah. Tentu sejarah yang acapkali diartikan sejarah (bukan dengan S besar)-yang acap menjadi satu narasi oleh kekuasaan. Melainkan kisah individu-individu yang saya narasikan dalam karya sastra. Seringkali kisah individu-individu tersebut bertabrakan dengan kisah Sejarah kekuasaan.</p>
<p>Harus saya katakan bahwa sastra, bagi saya, adalah area istirahat dalam perjalanan saya studi sejarah. Dan olehnya saya merasa yakin bahwa sastra, pada esensinya, adalah membebaskan. Sastra hanyalah satu kemungkinan dari sekian kemungkinan yang terjadi saat itu.</p>
<p>Meski saya tahu benar bahwa tidak ada karya sastra yang dapat mengubah dunia. Melainkan seseorang yang membaca karya sastra yang mengubah dunia. Namun itu bukanlah garis yang linier. Dua orang membaca satu karya sastra selalu menghasilkan reaksi yang berbeda.</p>
<p>Kondisi demikianlah yang saya idap ketika menulis sejumlah cerita pendek yang kemudian dibukukan pada tahun 2016 berjudul Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra. Akhirnya, mengapa saya menulis (sastra) adalah satu kemungkinan yang bisa saya lakukan untuk terus berada di tegangan kegelisahan atas perjalanan literer yang sudah dan akan saya lalui.</p>
<blockquote><p><strong>Berliterasi adalah sikap wajar yang dijalankan oleh manusia.</strong></p></blockquote>
<p>Berliterasi adalah sikap wajar yang dijalankan oleh manusia. Bagi saya, mengendarai motor dalam arena tong setan tidaklah lebih buruk ketimbang menulis. Atau bahkan merancap seekor kuda sekalipun. Begitu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Sebuah catatan pengantar diskusi Rubrik (Ruang Terbuka UNJKita) edisi Mahasiswa UNJ Penulis Buku pada tanggal 17 Maret 2018 yang dibuat oleh narasumber Tyo Prakoso (Alumni Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNJ Angkatan 2012).</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/">Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
