<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Perempuan Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/perempuan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/perempuan/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2020 22:24:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Perempuan Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/perempuan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Feminisme: Emansipasi yang Kebablasan</title>
		<link>https://unjkita.com/feminisme-emansipasi-yang-kebablasan/</link>
					<comments>https://unjkita.com/feminisme-emansipasi-yang-kebablasan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2020 06:30:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=22558</guid>

					<description><![CDATA[<p>Islam sebagai agama rahmatallil ‘aalamiin sudah mengatur begitu rapi tanpa cacat maupun belang sekalipun. Semua sendi kehidupan dan jiwa-jiwa yang telah Allah ciptakan telah diatur...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/feminisme-emansipasi-yang-kebablasan/">Feminisme: Emansipasi yang Kebablasan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Islam sebagai agama rahmatallil ‘aalamiin sudah mengatur begitu rapi tanpa cacat maupun belang sekalipun. Semua sendi kehidupan dan jiwa-jiwa yang telah Allah ciptakan telah diatur segala ketentuan atasnya; termasuk makhluk yang bernama “perempuan”. Ditegaskan dalam QS. Al-Maidah ayat 3, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…”. Orang-orang yang ber-Islam dengan sebenar-benarnya iman dan berislam secara Kafah, seharusnya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa dalam sistem kehidupan yang Allah rancang dalam islam sudah mengatur keadilan bagi perempuan dan tidak merendahkannya. Bukan justru merekonstruksi sistem yang sudah mapan; yang sudah jelas berbasis wahyu.</p>
<p>Sepertinya, kaum Liberal sudah kehabisan bahan materi supaya bisa “terlihat” intelek. Bagi mereka, ‘kalo nggak nyleneh ya nggak akademis’. Saya jadi teringat kutipan ceramah KH. Zainudin MZ; “Kalo mau terkenal seluruh dunia, kencingi saja sumur zam-zam!”. Ironisnya banyak Mahasiswa – yang baru seumur jagung – dengan latahnya; sok ikut-ikut memperjuangkan hak perempuan, ketertindasan, dan ketidaksetaraan perempuan atas laki-laki; tanpa mempelajari konsep keadilan bagi perempuan di dalam islam terlebih dahulu. Dengan bermodalkan “dalil-dalil” orang-orang Orientalis – yang mereka sendiri bukan orang Islam – mereka dengan pede nya mengkritik ajaran islam dengan membabi buta.</p>
<p>Feminisme. Entah kapan awalnya Iblis “mengilhamkan” ini kepada kaum hawa; ia merupakan gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Tujuan utama dari paham ini ialah ingin membebaskan perempuan dari peran Gender yang over opresif. Untuk menguatkan paham ini, mereka memanfaatkan fenomena sosial yang memperlihatkan peran sosial perempuan dalam tatanan masyarakat lebih rendah dari laki-laki; yang secara zhahir terlihat sebagai suatu penindasan terhadap perempuan; cukup ampuh untuk menyerang psikologis kaum hawa untuk menerima pemikiran ini.</p>
<p>Bagi kaum intelektual, pemikiran tak ubahnya seperti “Roh” yang diciptakan oleh penggagasnya; pada waktunya akan ‘diumbar’ berkeliaran di publik. Merasuki jutaan kepala dan bergulat dengan segala pemikiran di dalamnya.</p>
<p>Mungkin pula pemikiran ini diperdagangkan dalam institusi-institusi pendidikan dalam kemasan yang apik lagi menarik. Sudah menjadi rahasia umum; kampus tidak hanya sebatas tempat menuntut ilmu, juga sebagai &#8220;pasar” pemikiran. Bahkan, tak hanya pada tingkat universitas; pada tingkatan Sekolah Dasar tanpa sadar kita sudah dicekoki pemikiran ini. Masih ingat dengan R.A Kartini? Beliau dinobatkan sebagai pahlawan emansipasi.</p>
<p>Emansipasi di sini tidak hanya sekedar usaha untuk setara dengan laki-laki. Sekali lagi bukan! Tapi memaksa untuk dapat jauh di atas laki-laki. Hal ini bukan tanpa data, dalam buku beliau – berisikan kompilasi surat-surat Kartini – “Habis Gelap, Terbitlah Terang”; secara tidak langsung beliau mengatakan bahwa perempuan harus berpendidikan tinggi sehingga kelak bisa mandiri menafkahi keluarga, dan ia tidak perlu menikah karena merupakan ketergantungan terhadap laki-laki. Coba kita berpikir sebentar saja; emansipasi macam apa yang membolehkan perempuan tidak perlu menikah?; Emansipasi macam apa yang berlawanan dengan syari’at?; dengan mengatakan menikah adalah simbol ketertindasan dan ketaklukan perempuan atas laki-laki? Padahal dalam syari’at Islam sendiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan manusia untuk menikah; karena ia merupakan separuh dari agama.</p>
<p>Dalam riwayat hidupnya, Kartini, akhirnya melepaskan pemahaman feminisnya itu. ia lebih senang menjadi perempuan yang sebenar-benarnya perempuan; kembali pada fitrahnya. Kartini memilih menikah, punya anak, tidak mencari nafkah dari tangannya sendiri; jauh dari apa yang diangankannya waktu itu. Bahkan, percaya atau tidak, pernikahan poligami yang sebelumnya amat ia kutuk dan ia anggap sebagai penindasan, pada akhirnya ia jalani juga. Ini juga didukung dengan data yang valid. Beberapa hari setelah pernikahan yang keempat bagi suaminya itu; Kartini mengirim surat kepada J.H. Abendanon dan istrinya; “Kawan-kawan yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah, di rumah itu dalam segala hal keadaan saya baik dan menyenangkan; di situ yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia…” (Surat-Surat Kartini, hal. 348).</p>
<p>Dari pemikiran Feminisme yang pernah beliau anut, perlu kita pertanyakan dan telisik lagi lebih dalam; bagaimana dan dari mana Kartini bisa terpengaruh paham tersebut? Padahal Kartini merupakan perempuan Jawa yang lebih menghayati kehidupan budayanya. Ia tidak pernah menjadi pemberontak seperti yang diajari para feminis.</p>
<p>Jalur pendidikan merupakan jalur yang sangat efektif bagi Barat menanamkan Hagemoninya dengan ekspor pemikiran liberal. Pandangannya terhadap kedudukan laki-laki dengan perempuan banyak dipengaruhi paham-paham liberal yang diajarkan di sekolah Belanda tersebut; belum lagi dengan buku-buku dan surat kabar dari sekolah tersebut yang berhaluan liberal. Perlu kita ketahui, yang membantu terbentuknya pemikiran Kartini juga didorong oleh teman pena nya, Stella Zeehandelar. Stella merupakan feminis garis keras asal Belanda. Pertama kali Kartini mengenal Stella, melalui redaksi De Hollandse Leile; majalah wanita terpopuler di masa itu.</p>
<p>Ketika Kartini meninggalkan paham feminisnya – dibuktikan dengan pernikahan suaminya yang ke-4 – sangat disayangkan oleh Stella; sebagai penganut feminisme garis keras, ia tak mengerti mengapa Kartini berubah haluan. Beruntung Kartini tidak sampai ekstrim – sampai memusuhi laki-laki – dalam menganut feminisme-nya itu. Mungkin, feminisme kala itu hanya sebatas menjadi pergolakan pemikiran dalam diri Kartini yang perlu diekspresikan melalui surat-surat.</p>
<p>Tahukah kita? Sebenarnya Kartini sendiri sebenarnya tidak mem-publish surat-suratnya tersebut hingga menjadi satu buku yang sekarang kita kenal dengan judul “Habis Gelap, Terbitlah Terang&#8221;. Buktinya ialah, sampai beliau meninggal pun pada tahun 1904; pada usia 25 tahun, surat-suratnya pun tidak terpublikasikan. Ini menguatkan asumsi bahwa Kartini sendiri memang tidak ada niatan untuk itu. yang melakukannya ialah Mr. J.H. Abendanon; ia menteri Agama dan pengajaran Hindi Belanda pada masa itu. Dia mengumpulkan surat-surat Kartini dan menerbitkannya setelah tujuh tahun wafatnya Kartini. Abendanon sendiri secara politis, menganut paham etis (liberal); sangat wajar jika ia mempromosikan pemikiran feminis melalui surat-surat Kartini. Secara tidak langsung, Abendanon ingin menanamkan feminis-liberal di Indonesia, namun dengan meminjam tangan anak bangsa. Ini merupakan ironi yang berkepanjangan. Hingga saat ini di sekolah-sekolah, para siswa dijejali dengan kata “emansipasi” tanpa diajarkan pula batasan-batasan dari emansipasi itu sendiri, tanpa diajarkan bahwa Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam ini sangat menjunjung tinggi kemuliaan wanita dan sangat peduli dengan emansipasi. Ketika emansipasi ini tidak diberi batasan-batasan secara proporsionalnya, maka ia akan menjelma sebagai “monster” feminisme. Semoga kita semua Allah lindungi dari paham-paham menyesatkan, dari siksa api neraka.</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p>Oleh: Tusmana</p>
<p>Sumber:<br />
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/feminisme<br />
https://insists.id/liberalisme-dan-feminisme-2/<br />
https://id.wikipedia.org/wiki/Jacques_Henrij_Abendanon</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/feminisme-emansipasi-yang-kebablasan/">Feminisme: Emansipasi yang Kebablasan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/feminisme-emansipasi-yang-kebablasan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dibalik Propaganda Hari Kartini</title>
		<link>https://unjkita.com/propaganda-hari-kartini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ihsan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2016 10:15:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2550</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perang Salib berakhir tragis bagi pasukan Kristen. Konstantinopel berhasil direbut oleh Sultan Muhammad Al Fatih pada tahun 1453. Dengan jatuhnya kota tersebut akhirnya dua kerajaan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/propaganda-hari-kartini/">Dibalik Propaganda Hari Kartini</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perang Salib berakhir tragis bagi pasukan Kristen. Konstantinopel berhasil direbut oleh Sultan Muhammad Al Fatih pada tahun 1453. Dengan jatuhnya kota tersebut akhirnya dua kerajaan besar yaitu Portugis dan Spanyol melakukan pelayaran untuk mencari ‘dunia baru’ lewat Perjanjian Tordesillas yang dipelopori oleh Paus Alexander VI dengan membawa slogan: Gold, Glory, Gospel. Pelayaran mencari rempah-rempah pun dimulai Belanda menancapkan kuku penjajahannya di Indonesia, semenjak kedatangan VOC. Sistem ‘tanam paksa’ pun digencarkan hingga akhirnya kehidupan rakyat pribumi begitu menyedihkan. Melihat kondisi rakyat jajahan semakin menderita, munculah golongan etnis di Belanda. Van Deventer yang mengajukan politik yang diperjuangkan untuk kesejahteraan pribumi yang dikenal politik etnis.</p>
<p>Politik Etnis ini dilakukan sebagai ‘balas budi’ kepada rakyat Indonesia yang sudah mereka peras segalanya, akibat sistem tanam paksa hingga VOC yang awalnya mendapatkan keuntungan besar hingga akhirnya gulung tikar. Jabaran Politik Etis itu diberlakukan oleh Ratu Wilhemina tahun 1901. Kemudian oleh Van Deventer dikonsepsikan dalam wujud irigasi, edukasi dan emigrasi. Perbaikan sosial yang tampak mulai ditanggapi antara lain adalah pendidikan. Tahun 1903 didirikan sekolah rendah yang dinamakan Volk School (Sekolah Desa) dengan masa belajar 3 tahun. Kemudian Vervolg School (sekolah lanjutan) dengan masa belajar 2 tahun. Kemudian dilanjutkan Meer Uitgebreid Leger Onderwijs (MULO) setingkat SMP dan program Algemeene Middlebare School (AMS) setingkat SMA. Meskipun terlihat baik namun terdapat kesan kuat bawa kegiatan pendidikan bagi pribumi hanya semata kelancaran ekonomi dan politik Belanda.</p>
<h3>Sepenggal Kisah Kartini</h3>
<p>Kartini lahir tanggal 21 April 1879. Ia terlahirkan dari keluarga ningrat Jawa, cucu Pangeran Ario Tjondronegoro, Bupati Demak yang terkenal suka akan kemajuan. Sedangkan Ayahnya R.M.A.A Sosroningrat dan Ibunya bernama M.A Ngasirah, putri seorang guru agama Islam di Telukur, Jepara. Karena ibunya bukanlah seorang bangsawan, maka Ayahnya menikah lagi dengan keturunan langsung Raja Madura yaitu R.A Woerjan. Setelah itu, barulah ayahnya diangkat menjadi bupati di Jepara atas aturan kolonial yang diharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat dan melanggengkan kekuasaan Belanda. Kartini anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri dan kartini anak perempuan tertua.</p>
<p>Usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.<br />
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Stella Zeehandelaar yang biasa disapa Stella di Amsterdam yang juga anggota Social Democratische Arbeiderspartij (SDAP) dan juga sahabat dari gembong sosialis Ir. H van Kol wakil dari SDAP di Tweede Kamer (parlemen Belanda).</p>
<p>Kartini mengenal Stella melalui koran terkait berita pergerakan wanita di Eropa. Ia kemudian menulis memasang sebuah iklan di majalah Belanda De Hollandsche Leile, di mana ia ingin berkenalan dengan ‘teman wanita pena’. Iklan inilah yang kemudian direspon oleh Stella.<br />
Maka dalam salah satu suratnya kepada Nyonya van Kol, Stella menulis:</p>
<p>“Saya menjadi sangat cinta kepada anak cerdas dari bangsa kulit cokelat ini karena hatinya yang besar dan penuh cinta serta penuh cita-cita yang mulia. Kartini beragama Islam saya Yahudi, tetapi kami mempunyai pikiran yang sama mengenai Tuhan Yang Maha Esa”.</p>
<p>Akhirnya oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.</p>
<p>Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.</p>
<p>Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.</p>
<h3>Permikiran Kartini dan Isu Feminisme</h3>
<p>Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan sesorang diukur dengan darah. Semakin biru darah seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya. Seperti dituliskannya kepada sahabat penanya,</p>
<p><em>&#8220;Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi&#8221; [Surat Kartini kepadaNy. Van Kol, 21 Juli 1902]</em></p>
<p>Kartini mengakui bahwa kaum perempuan telah tertindas dibawah hukum dan budaya yang dibentuk dengan asas patriarki Kartini mengungkap. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. yang semuanya berisi ketidakadilan bagi perempuan. Dan itulah cita-cita Kartini pada awalnya untuk merubah tatanan yang ada.</p>
<p>Jadi wajar mengapa pemikiran Kartini begitu maju namun terkesan ‘liberal’ maupun ‘feminis’ karena ia berada dilingkaran orang-orang yang memiliki paham seperti itu. Karena masyarakat merupakan pola yang terorganisir melalui interaksi antar individu. Karena itu inti dari masyarakat adalah “self” (jadi diri) kemampuan untuk merefleksikan harapan lingkungan terhadap peran seseorang dalam interaksi. Ia juga pernah membaca buku Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta Karya Multatuli yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudia karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karna Augusta de Witt roman-roman feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Qaffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya pun berbahasa Belanda.</p>
<p>Pada mulanya Kartini sangat kecewa dengan ajaran Islam dan adat istiadat jawa. Keduanya dianggap sebagai penghambat kemajuan.</p>
<p><em>“Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adiikku harus merangkak, bila hendak berlalu dihadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh ber-kamu dan ber-engkau kepadaku. Mereka hanya menegur aku dengan bahasa kromo inggil. Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah&#8230;” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).</em></p>
<p>Sementara terhadap ajaran Islam, agama yang dipegang dengan teguh, Kartini pernah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan dengan guru ngajinya sewaktu ia itu karena Kartini sering mengajukan pertanyaan tapi tidak bisa dijawab oleh guru ngajinya. Hal ini yang kemudian membuat gurunya marah terhadap Kartini karena Kartini menganggap gurunya sendiri tidak menyukai pelajaran itu. Kemudian ia sampaikan kepada Stella:</p>
<p><em>“Mengenai agamaku Islam, Stella aku aharus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikan dengan umat lain. Lagi pula sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkannya ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya.” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890)</em></p>
<p>Namun, saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.</p>
<p>Tak hanya itu saja, akhirnya Kartini bertemu dengan K.H Muhammad Sholeh bin Umar seorang ulama besar dari Darat, Semarang Lewat Kyai ini Kartini terbuka pikirannya dan meminta diajarkan agama dengan mempelajari Al Qur’an dengan cara yang dapat ia mngerti. Kyai Sholeh pun memberikan Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada hari pernikahnnya (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid 1 yang terdiri dari 13 Juz mulai dari surat Al fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah saat itu Kartini mempelajari Islam dalam arti sesungguhnya. Namun tidak berlangsung lama, Kyai Sholeh meninggal dunia sebelum ia menyelesaikan terjemahan Al Qur’an tersebut.</p>
<p><em>“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi? Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain merupakan dosa yang sebesar-besarnya” (ditujukan kepada Abendanon, 31 Januari 1903).</em></p>
<p><em>“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya” (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903).</em></p>
<p><em>“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah (Abdullah).” (ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903).</em></p>
<p>Pada saat Kartini mempelajari Al Qur’an terjemahan bahasa Jawa, ia menemukan dalam surat Al Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:</p>
<p>“Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin-pemimpin mereka ialah Thagut yang mengeluarkan merekad adari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalmnya”.</p>
<p>Makna bahwa Allah lah yang membimbing orang-orang yang beriman dari kegelapan kepada cahaya. Kartini sangat terkesan dengan ayat ini, karena merasakan secara langsung proses perubahan dirinya sendiri dari pemikiran jahilliyah kepada pemikiran hidayah.</p>
<p>Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak mengulang kata-kata “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang ditulis dalam bahasa Belanda dengan Door Duisternis tot Licht. Kemudian makna ini bergeser tatkala Armijn Pane menerjemahkan dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam dan tidak memiliki arti ruhiyyah. Jika Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam maka tidak mustahi jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan ajaran Islam.</p>
<p>Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.</p>
<p>Kartini tetap berada dalam naungan hukum dan budaya adat Jawa yang dulu ditentangnya. Tetapi perubahan pemikiran itu juga tetap tercermin untuk melakukan gerakan feminsime kepada perempuan-perempuan Jawa. Terlihat dia tetap membuka sekolah bagi perempuan bumiputra dan juga mengembangkan ukiran Jepara.</p>
<p>Perubahan pemikiran Kartini berubah dari liberal menjadi corak ekofeminisme, hal ini terlihat dari beberapa tindakan kartini yang tetap dalam kungkungan adat jawa dan juga dia tetap melakukan aktivitasnya menjadi seorang istri dan juga perempuan dan bahkan dia tetap menjadi rela dipoligami yang dulu saat ditantangnya.</p>
<h3>Hakikat Perjuangan Kartini</h3>
<p>Kartini tidak pernah mengajarkan emansipasi perempuan yang didefinisikan sebagai perempuan harus keluar berkarier menjadi pesaing para pria di berbagai lapangan kehidupan, untuk kemudian membiarkan anak dan rumah tangganya terbengkalai, melainkan ia hanya memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita.</p>
<p><em>&#8220;Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]</em></p>
<p>Memang banyak anggapan yang menghinakan perempun. Ada yang menganggap perempuan itu manusia kelas dua, sehingga tidak diberi kesempatan menganyam pendidikan dan pengajaran. Wajar jika Kartini mengangkat hal itu untuk diperhatikan. Akan tetapi, bukan ‘persamaan dalam segala hal’ antara lelaki dan perempuan–emansipasi, kata orang-yang dituntut Kartini.</p>
<h3>Mengapa Wanita Harus Bergerak?</h3>
<p>Karena suatu bangsa tidak akan maju apabila para wanitanya tidak memami pendidikan dengan baik. Hal ini berarti perlu kita pahami bersama bahwa R.A Kartini menekankan pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan karena perempuan adalah tonggak pertama pendidikan bagi anak-anaknya.</p>
<p>Wanita yang sukses mengelola tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga hakikatnya telah menciptakan sebuah pondasi bagi bangunan masyarakat. Keluarga yang harmonis dan kokoh serta lahirnya generasi yang bermutu adalah syarat utama kekokohan bangunan sebuah bangsa. Dan semua itu terwujud melalui peran yang dilakukan secara mumpuni oleh wanita.</p>
<p>Di belakang seorang pemimpin handal pastilah berdiri seorang wanita yang telah menemaninya sejak dari dalam kandungan hingga ia memimpin urusan masyarakat. Wanita itu tentu telah memberikan corak kepada sang pemimpin sehingga kertas putih yang tadinya bersih kini penuh dengan coretan indah penuh makna dan hikmah atas bimbingan sang ibu.</p>
<p>Harus dipahami bahwa ungkapan tiang negara tidak bisa dimaknai sebagai bentuk tuntutan agar wanita berkiprah dalam urusan politik praktis (misaInya, menjadi penguasa). Peran strategis wanita juga tidak diukur dari seberapa besar kontribusinya secara ekonomi bagi bangsa. Sungguh peran-peran tersebut bisa dan telah dilakukan oleh kaum laki-laki. Adapun perkara melahirkan generasi dan mengokohkan bangunan keluarga, perannya lebih spesifik bagi wanita. Oleh karena itu, wanita menempati posisi sebagai penentu lahirnya generasi berkualitas. Hal ini didukung pula oleh fakta bahwa ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak. Sejak awal kehadirannya (dalam rahim ibu hingga besar), ibulah yang paling memahami kondisi anak. Ibu pun memiliki ikatan batin yang paling kuat terhadap anak. Melihat hubungan tersebut, maka fungsi ibu sangat sulit digantikan pihak lain. Sedemikian eratnya hubungan ibu dengan anak, maka apabila ibu mampu mendidiknya dengan benar, maka ibu telah mengantarkan menuju terwujudnya generasi dan pemimpin berkualitas.</p>
<h3>Pendidikan Setinggi-tingginya bagi Wanita</h3>
<p>Fitrah manusia yang senantiasa membutuhkan nasehat dan perhatian. Kenapa demikian? Karena manusia adalah makhuk yang diciptakan Tuhan. Dengan demikian, manusia termasuk di dalamnya wanita butuh untuk selalu diingatkan dan diarahkan. Karena tabiat manusia yang membutuhkan hidup berkelompok (sosial).</p>
<p>Tak itu saja pendidikan dalam beberapa hal melatih bagaimana wanita dapat hidup berkelompok dengan berbagai tanggung jawabnya. Karena manusia memiliki tabiat lemah dan bodoh. Dengan kesadaran ini, maka wanita kan terpacu untuk senantiasa menambah ilmu dan wawasan sehingga akan dapat mengarungi kehidupannya dengan ilmu dan pemahaman</p>
<h3>Peran Wanita di Masa Depan</h3>
<p><strong>1. Wanita akan menjadi seorang Ibu dan Mendidik Anak</strong><br />
Ketika anak mulai memasuki dunia sekolah, tugas ibu tak lantas menjadi tergantikan oleh sekolah. Bahkan sang ibu dituntut untuk dapat mengimbangi apa yang diajarkan di sekolah. Peran yang demikian strategis ini, menuntut wanita untuk membekali dirinya dengan ilmu yang memadai. Maka, wanita harus terus bergerak meningkatkan kualitas dirinya. Karena, untuk mencetak generasi yang berkualitas, dibutuhkan pendidik yang berkualitas pula. Hal itu berarti, seorang wanitia tidak boleh berhenti belajar</p>
<p><strong>2. Pendidik Bagi Masyarakat</strong><br />
Maksudnya adalah seorang wanita juga memiliki peran dan tanggungjawab dalam kehidupan masyarakatnya, sehingga dengan itu dirinya memiliki kontribusi dalam melakukan perbaikan dan pembanguan di tengah masyarakatnya, terutama dalam rangka mencetak individu yang baik yang kelak menjadi anggota masyarakat yang baik. Dan baik buruknya wanita dapat mempengaruhi kondisi suatu masyarakat.</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya perbaikan separuh dari jumlah masyarakat yang ada, bahkan sebagian besarnya tidak akan pernah bisa dipisahkan dari peran wanita,”</p></blockquote>
<p>Hal ini karena ada dua alasan:<br />
Pertama, jumlah wanita sama banyak dengan jumlah laki-laki, bahkan bisa lebih banyak dari laki-laki sebagaimana pernah disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Akan tetapi, perbandingan ini terkadang berubah-ubah setiap waktunya atau berbeda-beda antara tempat yang satu dengan yang lain. Kadangkala di suatu negara wanitanya lebih banyak dibanding laki-laki, namun di negara lain sebaliknya, laki-lakinya yang lebih banyak.</p>
<p>Kedua, pertumbuhan generasi muda pada awalnya pasti beranjak dari pangkuan seorang ibu (wanita).<br />
Dengan demikian, maka tampak jelas bagaimana pentingnya peran yang harus diemban oleh para wanita dalam memperbaiki masyarakat.</p>
<p>Hendaknya seorang wanita giat di dalam meningkatkan taraf keilmuan kaumnya. Hal itu dapat dilakukan di tengah-tengah masyarakat, baik sekolah, universitas ataupun jenjang yang lebih tinggi lagi. Tak hanya itu saja, mempelajari ajaran agama juga sangat penting. Apalagi dasar negera Indonesia adalah Pancasila, yang pertama bicara akan Ketuhanan. Bicara tentang agama. Serta Wanita juga harus mampu mengembangkan keterampilannya. Karena pendidikan tanpa keterampilan pun akan terasa sia-sia. Ibarat ilmu tanpa amal, dan sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.</p>
<p>Semoga Mencerdaskan dan Mencerahkan!</p>
<p><strong>Oleh: Ima Nirwana (FIS 2011)</strong></p>
<p>Catatan:<br />
Tulisan ini disampaikan pada Kajian Rutin Forum Perempuan Red Soldier Tim Aksi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta. Kamis, 21 April 2016.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/propaganda-hari-kartini/">Dibalik Propaganda Hari Kartini</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perempuan : Budaya Patriarki dan Kesetaraan Gender</title>
		<link>https://unjkita.com/perempuan-budaya-patriarki-dan-kesetaraan-gender/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2016 11:03:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Gender]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2437</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pandangan mengenai kesetaraan gender begitu kental akan gerakan feminism, bahkan istilah gender pun berasal dari para feminis, jika menurut penulis buku Cultural Studies Chris Barker...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/perempuan-budaya-patriarki-dan-kesetaraan-gender/">Perempuan : Budaya Patriarki dan Kesetaraan Gender</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pandangan mengenai kesetaraan gender begitu kental akan gerakan feminism, bahkan istilah gender pun berasal dari para feminis, jika menurut penulis buku Cultural Studies Chris Barker beranggapan bahwa subordinasi kepada perempuan terjadi dalam semua institusi, baik sosial maupun prakter institusi, oleh karena itu pensubordinasian terhadap perempuan dianggap struktural maka di gambarkan sebagai patriarki, budaya patriarki sendiri begitu kental di Indonesia, budaya patriarki merupakan sebuah gambaran sistem dimana menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam sebuah organisasi sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Negara Indonesia sendiri, memperlihatkan mengenai kedudukan seorang laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, jika kita menguak sejarah menjelaskan bahwa laki-laki diperbolehkan meneruskan pendidikan sedangkan perempuan tidak boleh karena ujung-ujungnya akan Dapur, Kasur, Sumur, sehingga perempuan kurang mendapatkan pendidikan, lalu muncullah gerakan emansipasi perempuan yang digagas oleh Raden Ajeng Kartini, dalam hal ini sebenarnya menuntut hak perempuan dalam dunia pendidikan, bagaimana perempuan dapat menjadi role model dalam sosialisasi primer di keluarga jikalau perempuan tidak mampu memberikan pemahaman mengenai pembelajaran pendidikan, sehingga penting perempuan dalam menempuh pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun dalam gambaran sejarah bahwa perempuan kaum termarginalkan namun paradigma terus terhegomoni hingga sekarang sehingga perempuan selalu dianggap kaum lemah, namun inilah faktanya bahwa seberapa kuat gerakan feminism di Indonesia namun budaya patriarki yang sudah dipegang erat oleh masyarakat Indonesia susah untuk dihilangkan. Walaupun perempuan saat ini sudah dapat menempuh pendidikan dengan bebas namun kembali lagi jika sudah berumah tangga harus dapat membagi peran, sebenarnya bias gender seperti ini muncul karena kontruksi masyarakat itu sendiri, misalkan pada zaman dulu perempuan menempati Kamar, Kasur dan Dapur namun sekarang di bidang politik pun 30% membutuhkan posisi perempuan dalam setiap Partai Politik.</p>
<p style="text-align: justify;">Budaya patriarki akan terus ada selama masyarakat yang terus mengkontruksi mengenai status dan peran itu sendiri, sebagai analisis pada sebuah lagu Aku Cuma Punya Hati, di dalam lagu tersebut di setiap bait syair lagu mengambarkan bahwa perempuan adalah kaum yang lemah, bagaimana tidak, ditinggalkan dia diam, di sakiti dia diam dengan alasan bahwa perempuan punya hati, sehingga tergambarkan dalam benak masyarkat khususnya remaja saat ini mengimplementasikan bahwa perempuan pakai perasaan sedangkan laki-laki mengunakan logika, dan terus berlanjut sehingga gerakan-gerakan untuk menaikan derajat perempuan akan tergusur jikalau pengunaan hal yang “in” untuk kembali mendoktrin masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan dari kecil pun anak-anak sudah di doktrin melalui beberapa film Disney, yang mana mengambarkan bahwa perempuan lemah, perempuan menjual tubuhnya untuk kepentingan, bahkan perempuan tidak punya pendirian, sedangkan kaum pria digambarkan kuat, berpendirian, hal-hal kecil seperti inilah yang perlu diperjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki pada dasarnya setara namun pada peran-peran yang sesuai, seperti halnya agama islam menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa secara umum dalam setiap ayatnya telah membicarakan mengenai hubungan gender, hubungan antara laki-laki dan perempuan serta hak-hak mereka dalam konsepsi yang bersifat adil.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-22815 aligncenter" src="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/04/Budaya-Patriaki.jpg" alt="" width="653" height="373" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/04/Budaya-Patriaki.jpg 653w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/04/Budaya-Patriaki-150x86.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/04/Budaya-Patriaki-100x57.jpg 100w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /></p>
<p style="text-align: justify;">Al Qur’an dalam agama islam dipandang sebagai pedoman hidup sehingga segala sesuatu berpayung dalam Al Qur’an dan Hadist, dalam permasalahan gender diperjelaskan dalam Qs. An-Nisa yang memandang perempuan sebagai makhluk yang mulia dan harus di hormati, yang pada satu waktu masyarakat Arab sangat tidak menghiraukan nasib mereka. Pada ayat Pertama Surat An-Nisaa menjelaskan bahwa Allah telah menyamakan kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai hamba dan Makhluk Allah yang masing-masing jika beramal soleh akan diberikan pahala sesuai dengan amalnya, kedua-duanya diciptakan mela;ui jiwa yang satu, yang mengisyaratkan bahwa tidak ada perbedaan, yang membedakan adalah Amal ibadah. Walaupun menyetarakan namun Islam tetap membagi masing-masing fungsi dan tugas, Tanpa itu, dunia, bahkan alam ini akan berhenti dan hancur. Oleh karenanya, sebagai hikmah dari Allah untuk menciptakan dua pasang manusia yang berbeda, bukan hanya pada bentuk dan postur tubuh serta jenis kelaminnya saja, akan tetapi juga pada emosional dan komposisi kimia dalam tubuh.</p>
<blockquote><p>Walaupun menyetarakan namun Islam tetap membagi masing-masing fungsi dan tugas</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sehingga kesetaraan gender hanya konstruksi dari masyarakat itu sendiri, dan akan sulit diterapkan di Indonesia yang mana masyarakatnya kental akan budaya patriarki yang telah mendarah daging, jadikanlah dirimu laki-laki dan perempuan sesuai dengan tugas dan perannya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Helmina Mutia</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mahasiswa UNJ</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/perempuan-budaya-patriarki-dan-kesetaraan-gender/">Perempuan : Budaya Patriarki dan Kesetaraan Gender</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahasiswi UNJ, Yuk Menjadi Inspirator Dengan Meneladani 4 Perempuan Hebat Ini</title>
		<link>https://unjkita.com/mahasiswi-unj-yuk-menjadi-inspirator-dengan-meneladani-4-perempuan-hebat-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2016 08:24:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirator Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2086</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjadi perempuan hebat yang menginspirasi orang-orang disekitarnya memang menjadi salah satu harapan yang didambakan setiap perempuan. Karena secara tidak langsung kita merasa orang lain merasakan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mahasiswi-unj-yuk-menjadi-inspirator-dengan-meneladani-4-perempuan-hebat-ini/">Mahasiswi UNJ, Yuk Menjadi Inspirator Dengan Meneladani 4 Perempuan Hebat Ini</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi perempuan hebat yang menginspirasi orang-orang disekitarnya memang menjadi salah satu harapan yang didambakan setiap perempuan. Karena secara tidak langsung kita merasa orang lain merasakan kebermanfaatan dengan kehadiran kita. Namun, untuk menjadi inspirasi banyak orang membutuhkan sifat-sifat yang menjembataninya. Diantaranya perempuan-perempuan zaman Rasululullah Saw yang begitu menginspirasi. Berikut ini beberapa sifat-sifat yang bisa kita pelajari dari keteladanan mereka.</p>
<h3>Belajar bijaksana dan cerdik dari Khadijah binti Khuwailid ra.</h3>
<blockquote><p><em> “Nabi Muhammad Saw tidak akan menerima tawaran Khadijah walaupun seandainya dia adalah wanita paling kaya di dunia dan wanita paling cantik se-jagat raya, jika saja beliau tidak melihat wanita tersebut memiliki pikiran yang matang dan bijaksana. Ia juga mendengar kesaksian kaumnya tentang diri Khadijah yang memiliki sifat-sifat yang mulia, karya-karya yang terpuji, pandai menjaga kehormatan diri, kepribadian yang bersih, dan garis keturunannya yang terpandang.”</em></p></blockquote>
<p>Pikiran yang matang dan bijaksana menjadi salah satu sifat yang dapat menginspirasi orang lain. Karena dari sifat itulah awal mula setiap kebaikan lainnya. Sifat itulah yag dapat melahirkan ketenangan dan pandai memandang permasalahan dengan tepat.</p>
<h3>Belajar dermawan dan peduli dari Saudah binti Zam’ah ra</h3>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-2093" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/03/Perempuan-hebat.jpg" alt="Perempuan hebat" width="640" height="356" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/03/Perempuan-hebat.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/03/Perempuan-hebat-300x167.jpg 300w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<blockquote><p><em>“Saudah ra. adalah seorang wanita yang dermawan dan murah hati. Ia tidak pernah tergoda oleh kemewahan dan kesenangan dunia yang pasti sirna. Setiap kali ia mendapat harta, maka ia akan mengutamakan orang-orang yang ada di sekitarnya kerena lebih mendambakan kenikmatan abadi di sisi Allah yang tidak akan sirna dan musnah.”</em></p></blockquote>
<p>Sifat saling berbagi memang sangat dianjurkan bagi setiap orang khususya perempuan. Karena hal ini juga dapat melatih kepekaan sosial yang baik apabila terus dibiasakan sejak dini.</p>
<h3><strong>Belajar cerdas dan pintar dari ‘Aisyah binti Abu Bakar ra</strong></h3>
<p>‘Aisyah ra. Berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk lebih banyak mengerti tentang masalah-masalah agama.” (HR. Muslim)</p>
<blockquote><p><em>“ ‘Aisyah ra. adalah seorang wanita mujtahid yang memiliki pandangan-pandangan tajam dan pemahaman yang mendalam tentang masalah-masalah ushuluddin dan ayat-ayat Al-Qur’an yang terbilang pelik. Selain itu, ‘Aisyah ra. Juga pandai membaca. Padahal, hanya sedikit sahabat Rasulullah Saw. Yang memiliki kemahiran ini. Lebih dari itu, tidak jarang ‘Aisyah ra. Meralat dan meluruskan pendapat-pendapat para sahabat. Dan, jika mereka tahu ‘Aisyah meluruskannya, maka mereka tidak segan-segan untuk mengikuti pendapatnya.”</em></p></blockquote>
<p><em>Bukankah perempuan juga punya kewajiban untuk menuntut ilmu?</em> Dengan memiliki ilmu, kita bisa memperbaiki keadaan sekitar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika ada yang salah maka diberitahu hal yang benarnya seperti apa. <em>Selain itu, bukankah Allah juga sudah menjanjikan bahwa siapa yang menuntut ilmu akan ditinggikan beberapa derajat?</em></p>
<h3>Belajar amanah dari Hafshah binti Umar ra.</h3>
<blockquote><p><em>“Hafshah ra., telah mengemban amanah penjagaan Al-Qur’an, karena Abu Bakar ra. Menunjuknya untuk menjaga lemaran-lembaran tulisan Al Qur’an seteah berhasil dihimpun oleh Zaid bin Tsabit ra. Lembaran-lembaran Al-Qur’an itu tetap berada di tangannya hingga masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan ketika ia memutuskan menghimpun Al Qur’an dalam satu mushaf.”</em></p></blockquote>
<p>Dapat dipercaya merupakan cerminan diri yang harus ada pada diri setap perempuan karena inilah teladan yang juga diajarkan oleh Rasulullah Saw. <em>Bagaimana caranya agar kita dapat amanah?</em> Belajarlah untuk mengerjakan segala aktivitas kita dengan sebaik-baiknya. <em>Insyaa Allah</em> hal ini akan melatih diri kita untuk bisa amanah dalam setiap hal.</p>
<p>Selain keempat sahabat wanita tersebut juga masih banyak lho perempuan-perempuan yang hidup di zaman Rasulullah Saw. yang dapat dijadikan teladan bagi kita para perempuan khususnya mahasiswi UNJ yang siap menginspirasi orang-orang di sekitar. Tentunya dengan meluruskan niatnya kembali.  Semangat belajar yaa!</p>
<p>Selamat Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2016!</p>
<p>(kutipan diambil dari buku Mahmud Al-Mishri, <em>35 Sirah Shahabiyah</em> jilid 1)</p>
<p>Oleh: <strong>Evarani Jihan Yoanda (FMIPA 2012)</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mahasiswi-unj-yuk-menjadi-inspirator-dengan-meneladani-4-perempuan-hebat-ini/">Mahasiswi UNJ, Yuk Menjadi Inspirator Dengan Meneladani 4 Perempuan Hebat Ini</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
