Home Berita Buku Mahasiswa Bergerak, Narasi Gerak Mahasiswa Dalam NKK/BKK Hingga Reformasi

Buku Mahasiswa Bergerak, Narasi Gerak Mahasiswa Dalam NKK/BKK Hingga Reformasi

59

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, maka matilah sebuah bangsa.” Pramoedya Ananta Toer

Sejarah Indonesia mencatat peran vital pemuda dalam tiap lembarannya. Sedari pasca diterapkannya politik etis di awal abad 20. Hingga saat ini dapat kita temui jejak-jejak pemuda-pemudi dalam arus perubahan bangsa.

Baik mereka yang golongan terpelajar juga mereka-mereka pemuda milisi di medan laga. Terkhusus setelah diterapkannya politik terpimpin Orde Lama. Pemuda terpelajar di bangku-bangku kuliah. Atau biasa kita sebut mahasiswa punya peran tersendiri dalam panggung perlawanan.

Lewat aksi massa serta diskursus-diskursus yang didirikan golongan ini. Dua rezim mampu ditumbangkan. Orde Lama a la Soekarno jua Orde Baru-nya Soeharto. Dalam rentan 32 tahun jarak antar dua kejadian tersebut terdapat sebuah narasi yang terpendam dalam hingar-bingar sejarah.

Hal tersebut yang mendorong seorang Andhika Ramadhan F. untuk kembali mengangkat kisah-kisah yang melatarbelakangi hadirnya sebuah proses revolusi yang hari ini kita namai Reformasi kedalam buku perdananya yang berjudul “Mahasiswa Bergerak”.

Berikut hasil wawancara tim redaksi UNJKITA dengan alumni Sejarah UNJ angkatan 2012:

1. Jadi apa ingin penulis angkat di buku ini?

Yang ingin saya angkat dalam buku ini ialah sejarah perlawanan mahasiswa sejak NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) sampai kejatuhan rezim Orde Baru.

2. Kenapa anda tertarik mengangkat hal tersebut?

Karena saya melihat buku-buku gerakan yang membahas dinamika kampus dan gerakan mahasiswa pasca NKK/BKK itu sangat minim adanya. Bahkan hampir tidak ada. Padahal pengetahuan sejarah tentang gerakan di era NKK/BKK itu penting karena di masa ini, rezim Orde Baru sangat keras menindak mahasiswa. Mahasiswa dijauhkan dari politik, kehidupan kuliah hanya terbatas pada kegiatan di dalam kelas saja. Begitu mahasiswa bergerak, rezim langsung menggunakan segala upaya termasuk diantaranya cara represif untuk meredam tindak-tanduk mahasiswa.

Di tahun 2016, waktu saya masih kuliah. Saya jadi saksi deretan kasus DO (Drop Out) mahasiswa oleh Rektor di kampusnya sendiri.

Keputusan untuk DO mahasiswa itu sengaja dilakukan oleh pimpinan kampus agar mahasiswa takut dan akhirnya tidak mau lagi mengkritik Rektor.

Waktu itu saya berpikir, DO ini keputusan yang benar-benar menghancurkan gerakan mahasiswa.

Karena itu, bagi saya penting untuk kita belajar dari gerakan mahasiswa di zaman Orde Baru agar kita bisa tahu bagaimana caranya teman-teman mahasiswa pada saat itu melawan penguasa yang anti-kritik dan bersikap keras ke aktivis mahasiswa.

Selain itu, pengetahuan sejarah juga penting bahwa Reformasi atau “Menaklukan Orde Baru” itu bukan usaha satu-dua tahun. Melainkan usaha puluhan tahun dari para mahasiswa yang terus melanjutkan tongkat estafet perjuangan dari angkatan satu ke angkatan lainnya.

3. Untuk pengerjaan buku ini sendiri, bagaimana proses yg dilalui penulis?

Buku ini awalnya adalah riset dalam skripsi S1 saya di Universitas Negeri Jakarta. Namun sekarang sudah banyak dilakukan revisi. Seperti menambahkan sumber lisan (wawancara pelaku sejarah) dan sumber tulisan (kajian pustaka).

Untuk proses penyusunan buku ini sendiri perlu usaha ekstra. Sangat sulit menyusun simpul sejarah gerakan mahasiswa yg hilang. Gerakan pasca NKK/BKK tahun 1980-an itu bukan angkatan yg dapat sorotan banyak pihak. Karena itu sumber-sumbernya sangat sulit didapatkan. Mahasiswa angkatan 80-an juga rata-rata sudah berusia 50 tahun-an, jadi agak sulit sekali ditemui dan dimintai keterangan. Buku sendiri ini disusun kira-kira sejak tahun 2016 dan selesai pada tahun 2018.

4. Lalu menurut penulis, mengapa mahasiswa harus memiliki buku ini?

Pengetahuan akan sejarah itu penting . Kita tidak bisa ahistoris terdapat gerakan mahasiswa. Selama ini sering saya temui dalam materi pelatihan kepemimpinan mahasiswa di kampus. Mereka (pembicara) hanya membicarakan romantisme pergerakan 1998.

Mereka tidak tau bahwa gerakan 98 itu adalah sebuah generasi yang bisa saya sebut “generasi pemetik bunga”. Karena sebelum-sebelumnya, mahasiswa angkatan 80 sampai 90-an awal sudah berusaha dalam mengkader adiknya untuk bergerak dan melawan sampai meruntuhkan rezim Orde Baru di 1998.

Artinya kalau kita ingin bersikap ataupun ingin merespon tindakan represif terhadap mahasiswa. Dapat kita berkaca pada perjuangan mahasiswa di era Orde Baru, tepatnya saat NKK/BKK yang terdapat dalam buku ini. Karena disaat itu mahasiswa ditindak sangat keras.

Namun hebatnya disaat itu mereka dapat keluar dari cengkraman itu, bahkan-bahkan sampai meruntuhkan rezim Orba. Jadi kenapa tidak kita sebagai generasi milenial belajar dari pengalaman para pendahulu untuk merespon sikap pemerintah terhadap gerakan mahasiswa, gerakan pemuda, atau juga gerakan pelajar.

5. Lalu bagaimana cara para pembaca mendapatkan buku ini?

Untuk saat ini buku dapat didapatkan lewat saca pre-order. Teman-teman dapat langsung kontak saya di Instagram @andikaramadhanf atau WhatsApp 081291537235

Dengan format: Nama Pemesan – Nomor Hp – Alamat Lengkap

Selanjutnya akan ada info berkaitan dengan total biaya yang harus ditanggung pembeli (Harga Buku + Ongkir) beserta nomor rekening Bank.

Komentar Kamu?