<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Motivasi Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/motivasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/motivasi/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Apr 2020 10:29:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Motivasi Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/motivasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Semut dan Koloninya yang Menginspirasi</title>
		<link>https://unjkita.com/semut-dan-koloninya-yang-menginspirasi/</link>
					<comments>https://unjkita.com/semut-dan-koloninya-yang-menginspirasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dian Fitriani]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Apr 2019 23:17:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=21968</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar kata semut? Hewan kecil, hewan berkoloni atau gigitannya yang sakit? Yap, ketiganya adalah benar! Meskipun semut merupakan hewan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/semut-dan-koloninya-yang-menginspirasi/">Semut dan Koloninya yang Menginspirasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar kata semut? Hewan kecil, hewan berkoloni atau gigitannya yang sakit? Yap, ketiganya adalah benar! Meskipun semut merupakan hewan yang sangat kecil, tetapi dalam kehidupannya banyak hikmah yang dapat kita petik, lho. Yuk, simak!</p>
<p>Segala penciptaan-Nya yang ada di langit dan bumi tidak ada yang sia-sia, sekalipun hewan kecil seperti semut yang hanya berukuran 2-7 mm. Semut merupakan hewan koloni yang termasuk ke dalam ordo Hymenoptera dan dijadikan sebagai salah satu surat di dalam Al-Quran, yaitu An-Naml (surat ke-27). Dalam Surat An-Naml kata ‘semut’ disebut dua kali dari 93 ayat, yaitu pada ayat ke-18 dan 19. Pada ayat ke-19 tidak ditekankan kepada semut secara langsung, tetapi yang ditekankan adalah “perkataan semut”.</p>
<p><strong>1. Jiwa sosial dan solidaritas yang tinggi </strong></p>
<p>Dalam menjalankan aktivitasnya, semut-semut selalu berinteraksi baik dengan semut lain. Interaksi ini didengar oleh Nabi Sulaiman ketika Nabi Sulaiman dan tentaranya ingin melewati sarang semut dan seekor semut yang mendengarnya langsung memberitakan kepada semut lain agar tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya. Kisah ini tertuang dalam surat An-Naml ayat 18 dan melalui ayat ini, kita mengetahui bahwa semut merupakan hewan yang memiliki jiwa sosial dan solidaritas yang tinggi. Semut begitu peduli dengan koloninya dan tidak mementingkan dirinya sendiri.</p>
<p><em>“hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka, dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu, dan dia berdoa: &#8220;Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh&#8221; .” (Q.S. An-Naml (27): 18-19).</em></p>
<p><strong>2. Berkomunikasi melalui isyarat kimiawi</strong></p>
<p>Tidak hanya itu, dari kehidupan semut kita akan mengenal kelenjar kimia bernama feromon. Kelenjar kimia ini digunakan sebagai isyarat kimiawi atau komunikasi utama oleh koloni semut. Feromon merupakan hasil sekresi dari semut dan berbau, sehingga semut lain akan mampu mendeteksi dan mengikuti jalur semut lainnya melalui baunya saat mencapai sumber makanan.</p>
<p>Jika kita pikirkan, bagaimana seekor hewan yang tidak mempunyai akal seperti manusia dapat menggunakan hasil sekresi tubuhnya sebagai isyarat dengan semut lain? Hal demikian terjadi atas kehendak-Nya bahwa tidak ada manusia dan hewan yang mengajarkan semut bagaimana memproduksi zat kimia dan menggunakannya sebagai isyarat kimiawi. MasyaAllah.. ternyata ini menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah dalam menciptakan segala sesuatu begitu kompleks.</p>
<p><strong>3. Berorientasi ke masa depan</strong></p>
<p>Memasuki musim panas dan musim dingin, semut lebih aktif bekerja sama untuk mengumpulkan makanan lebih banyak sebagai bahan persediaan makanan. Kerja keras para semut selalu membuahkan hasil, rumahnya dipenuhi oleh biji-bijian sebagai makanan pokok di musim dingin. Selain biji-bijian, makanan semut bisa berupa hewan atau serangga kecil. Semut juga membawa daun sebagai media bagi perkebunan jamur dan daun-daun dapat dibentuknya menjadi rumah.</p>
<p>Nah, semut ternyata memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa kehidupan akan terus berjalan dan bergerak. Jadi, jangan mau kalah, ya dengan semut! Persiapkan masa depan kita juga dengan bekal sebaik-baiknya agar kita dapat menikmati manisnya kesuksesan di masa yang akan tiba nanti!</p>
<p><strong>4. Kebaikan dalam kebersamaan</strong></p>
<p>Kisah selanjutnya adalah tentang bagaimana kehidupan semut yang sangat teratur dan damai. Dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa semut merupakan hewan yang berhasil membentuk kehidupan koloninya dengan sangat luar biasa. Misalnya, semut dapat membuat istana koloni dengan model rumah indah yang bertingkat-tingkat bahkan berkelok-kelok yang di dalamnya dihuni oleh ribuan semut. Jika diperhatikan, semut tidak memerlukan polisi untuk mengatur seluruh kehidupan dalam koloninya dan tidak ada pula yang mencemaskan bagian atau posisi tugasnya. Hal menariknya adalah semut selalu bersama dalam kebaikan dan tidak mengenal tindakan diskriminasi demi tercapainya tujuan bersama.</p>
<p>MasyaAllah begitu luar biasa kehidupan koloni semut selama menjalankan aktivitasnya. Sudahkah kita melakukan kebaikan seperti kehidupan semut? Kebaikan dalam memanajemen hidup menjadi lebih baik, kebaikan dalam bersosialisasi tanpa membedakan satu dengan yang lainnya, dan juga selalu melakukan kebaikan dalam kebersamaan.</p>
<p>Kehidupan semut yang canggih dengan keterbatasannya sebagai hewan yang tidak memiliki akal menunjukkan keagungan Sang Pencipta. Mulai dari kemampuannya dalam menjaga persatuan koloninya, menggunakan feromon sebagai isyarat kimiawi dan lain-lain. Dengan demikian, Allah telah merencanakan kehidupan yang luar biasa untuk makhluknya dan tidak ada satu pun makhluk yang diciptakan dengan sia-sia.</p>
<p><em>“Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.”</em> (Q.S. Al-Furqon (25): 2)</p>
<p>Nah, itu dia sekelumit kehidupan semut yang menginspirasi, semoga kita senantiasa diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik, ya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Juliawati. (2015). <em>Semut dalam Perspektif Al-Qur’an</em>. IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.</p>
<p>Kurniawan, A. (2017). <em>Keanekaragaman Semut (Subfamili: Myrmicinae) di UIN Raden Intan Lampung dan Kehidupan Sosial Semut serta Kajiannya di dalam Al-Qur’an</em>. UIN Raden Intan Lampung.</p>
<p><a href="https://ftp.unpad.ac.id/orari/library/cd-al-manaar-digilib/bahan/10.%20DIGITAL%20BOOK/Harun%20Yahya/1.%20alam%20semesta/Keajaiban%20Pada%20Semut.doc">ftp.unpad.ac.id</a> diakses pada 23 April 2019 pukul 23.45 WIB.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/semut-dan-koloninya-yang-menginspirasi/">Semut dan Koloninya yang Menginspirasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/semut-dan-koloninya-yang-menginspirasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hijrah</title>
		<link>https://unjkita.com/hijrah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2017 00:52:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=17801</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hijrah, Satu kata yang membuat seseorang bercerai dengan masa kelamnya Satu kata yang memiliki puluhan, ratusan, bahkan ribuan makna didalamnya Tapi diri ini bertanya tanya...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hijrah/">Hijrah</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hijrah,</p>
<p>Satu kata yang membuat seseorang bercerai dengan masa kelamnya</p>
<p>Satu kata yang memiliki puluhan, ratusan, bahkan ribuan makna didalamnya</p>
<p>Tapi diri ini bertanya tanya</p>
<p>Apa definisi hijrah sesungguhnya</p>
<p>Apakah hanya dengan mengetahui artinya tanpa &#8216;mendalaminya&#8217;</p>
<p>Apakah hanya sekedar menanggalkan pakaian &#8216;lama&#8217;</p>
<p>Tidak, tentu saja bukan</p>
<p>Mata hati ini berbicara,<br />
Bukan itu definisi hijrah sesungguhnya</p>
<p>Karena hijrah ialah satu kata yang membuat diri lebih mencintai Sang Pencipta</p>
<p>Satu kata yang membuat diri lebih memantaskan diri untuk siap di hadapanNya kelak</p>
<p>Lalu diri ini kembali bertanya</p>
<p>Sampai dimanakah hijrah itu dikatakan sesungguhnya</p>
<p>Seperti halnya mengendarai sepeda di jalan yang menanjak Semakin keatas semakin terasa berat</p>
<p>Jika menyerah akan kembali lagi ke titik awal</p>
<p>Jika terus berjuang akan sampai di titik dimana ada rasa kepuasan batin yaitu keistiqomahan</p>
<p>Iffatul Karina, 16 _Rabiul Ula_ 1439 H / 27 November 2017 Pukul 03:51 WIB di Cibinong</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hijrah/">Hijrah</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Balik Jeruji</title>
		<link>https://unjkita.com/dari-balik-jeruji/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2017 00:39:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=17741</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cahaya itu merekah, memenuhi sebuah ruang dalam penjara kota Damaskus. Membuat butiran-butiran bening di pelupuk mata mereka menjadi semakin jelas terlihat. Namun, Ibnu Taimiyyah hanya...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/dari-balik-jeruji/">Dari Balik Jeruji</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Cahaya itu merekah, memenuhi sebuah ruang dalam penjara kota Damaskus. Membuat butiran-butiran bening di pelupuk mata mereka menjadi semakin jelas terlihat. Namun, Ibnu Taimiyyah hanya tersenyum. Kejernihan sorot matanya memberangus bara api yang terlanjur menyala di dada para muridnya. Dan besi-besi jeruji itu menjadi saksi, kata-katanya yang menggelora hingga keabadian.</p>
<p>“Apa yang dilakukan musuh-musuhku? Demi Allah, jika mereka memenjarakanku, inilah rehat yang nikmat. Jika mereka membuangku ke negeri antah, inilah tamasya yang indah. Jika mereka membunuhku, sebagai syahid aku disambut.” “Apa yang harus kami lakukan, wahai Guru?”</p>
<p>“Beberapa hari ini, Sultan telah melarang penjaga memberiku pena, kertas dan tinta. Tolong lemparkan arang-arang itu ke dalam. Sungguh, aku ingin menulis.” Sejak saat itu, di tahun 728 H, berbekal arang sebagai pena, setiap untaian kalimat itu hadir. Hingga karya besarnya yang berjudul Risalatul Hamawiyah lahir dari balik tembok penjara.</p>
<p>Akhir kisah hidup Ibnu Taimiyyah begitu tragis. Buku-bukunya dimusnahkan. Salah seorang muridnya, Ibnul Qayyim Al Jauziyah diarak keliling kota dengan kondisi terikat di atas gerobak sampah. Tak hanya cacian dan makian, masyarakat pun sudi meludahi dan melemparinya dengan buah busuk.</p>
<p>Kehinaan mungkin meliputi Ibnu Taimiyyah dan para muridnya saat itu. Namun, sejarah tak selalu beranggapan sama. Pemikirannya banyak dikaji dan dijadikan bahan penelitian. Ianya mempelopori berbagai pemikiran yang lahir berikutnya. “Ada gerakan pemurnian dan pembaharuan,” ucap salah seorang dosen ketika memberikan materi mata kuliah Tarikh Tasyri’ di dalam kelas. Beberapa literatur mengatakan bahwa gerakan pemurnian ala Muhammad bin Abdul Wahab terinspirasi dari pemikirannya. Pun demikian dengan gerakan pembaharuan Muhammad Abduh, yang banyak literatur beranggapan lahir dari akar rumput yang sama. Maka tak heran, jika kini hampir di setiap perpustakaan orang menjumpai nama Ibnu Taimiyyah. Namanya membumbung hingga gelar “Syaikhul Islam” melekat pada dirinya. Sebuah penghargaan atas keteguhannya dalam berjihad dan berdakwah.<br />
Penjara, terlanjur melekat padanya stigma negatif. Bahkan berbagai definisi, hampir berujung pada kesimpulan yang sama, yakni bermakna tempat yang digunakan untuk menghukum pelaku kejahatan Jika memang demikian, kejahatan apakah yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyyah hingga ia harus mendekam di bui?<br />
Namun, sejarah tak selalu beranggapan sama. Penjara dengan berbagai stigma negatifnya, malah kerapkali menjadi tempat penghasil karya. Beberapa karya luar biasa malah lahir dari balik jeruji. Kitab Risalatul Hamawiyah hanyalah sebagian kecil dari berbagai karya tersebut. “Sejarah mestilah kan berulang,” ucap Bapak Sosiologi Modern, Ibnu Khaldun. Sesuatu yang pernah dialami Ibnu Taimiyyah mungkin juga berlaku bagi sebagian orang.</p>
<p>Subuh itu, Senin 13 Jumadil Ula 1386 H/ 29 Agustus 1966, pria itu melangkah dengan mantap menuju tiang gantung. Meniti setiap langkah agar sampai kepada akhir hayatnya. Hal itu merupakan tindak lanjut akan vonis humuman mati yang menimpanya. “Alhamdulillah,” ucap beliau ketika vonis hukuman mati dibacakan.”Lima belas tahun lamanya aku menjadi aktivis untuk menggapai syahadah.”</p>
<p>Berbagai tawaran agar ia mau memohon pengampunan kepada presiden Mesir saat itu, Gamal Abdul Nasser, ia tolak dengan tegas. “Telunjuk yang bersyahadat akan keesaan Allah dalam shalatnya pasti menolak menulis satu huruf untuk mengakui pemerintahan seorang tiran,” ucapnya. Jenazahnya dielu-elukan. Namanya menyejarah dan merangsek masuk ke dalam daftar tinta emas keabadian. Ya, dialah orangnya, yang oleh pendukung Ikhwanul Muslimin menyebutnya Asy Syahid Al Hayy (Syahid yang Hidup). Dialah Sayyid Quthb.</p>
<p>Tak semua orang senang dengannya. Bahkan, banyak juga yang tak segan memberinya cap sebagai teroris. Pemikirannya dianggap revolusioner oleh sebagian orang, tetapi juga dianggap radikal oleh sebagian yang lain. Sepanjang hayatnya, banyak ia lalui dengan kesulitan, duka dan nestapa. Terlebih, acapkali ia keluar masuk penjara karena pemikirannya itu.</p>
<p>Hidup dalam jeruji besi tidaklah mudah, mestilah keras dan sulit. Ianya pasti disiksa dan disakiti. Namun, hal tersebut tidaklah membuat Sayyid Qutbh sedih atau gelisah karena sakit yang diderita, tidak mengalami depresi dan tidak terganggu jiwanya. Sebaliknya, dia justru merasakan kebahagiaan dan ketenangan selama berada dalam penjara karena ia hidup di bawah naungan Al Qur’an.</p>
<p>Kitab Fi Zhilal Al Qur’an yang berarti “Dalam Naungan Al Qur’an”, merupakan karyanya yang paling fenomenal yang juga lahir dari balik jerjui. Masa-masa yang panjang dalam tahanan, Sayyid Qutbh habiskan untuk membaca dan merenungi Al Qur’an. Memahami dan larut dalam kandungannya. Menitinya kata per kata, kalimat per kalimat dan topik per topik. Pengalaman pribadi sempat ia gambarkan dalam pengantar kitabnya seperti berikut ini :</p>
<p>“Hidup di bawah naungan Al Qur’an adalah suatu anugerah. Namun, anugerah itu hanya dapat diketahui oleh seseorang yang pernah merasakan itu. Dengan anugerah itu, umur menjadi semakin bernilai, semakin berkah, dan semakin bersih&#8230; Alhamdulillah. Allah sudah anugerahi saya pengalaman hidup di bawah naungan Al Qur’an selama beberapa waktu. Pengalaman ini belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya dapat menikmati sebuah anugerah yang meningkatkan nilai usia saya, berkahnya dan keluhurannya&#8230;”</p>
<p>Kisah penulisan tafsir di dalam bui juga pernah dialami oleh ulama kontemporer dalam negeri, Buya Hamka. “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku,” tutur Bung Karno menjelang akhir hidupnya. Tanpa pikir panjang setelah beredar berita kematian Bung Karno, Hamka langsung berangkat ke Wisma Yaso di Jalan Gatot Subroto. Tiada dendam dalam benak Buya Hamka, meskipun ia tahu jenazah yang akan ia shalati itu pernah menuduhnya akan melakukan pembunuhan yang membuatnya mendekam di dalam penjara.</p>
<p>Kondisi politik saat itu, membuat Buya Hamka tak segan memberikan teguran kepada pemerintah dari mimbar-mimbar masjid. Hal itulah yang membuat telinga penguasa menjadi panas. Hingga akhirnya, siang itu di bulan Ramadhan selepas memberikan ceramah di sebuah pengajian, Buya diringkus dan harus mendekam di penjara. Ia dituduh akan melakukan pembunuhan. Buya menyusul beberapa ulama dan aktivis Masyumi yang telah diringkus sebelumnya.</p>
<p>Barulah dua tahun kemudian, saat rezim berganti Buya Hamka dan berbagai tokoh ulama yang lainnya dibebaskan. Namun, suatu hal yang menarik. Jangka waktu dua tahun yang ia lalui, ia habiskan untuk merenung dan menulis. Hingga akhirnya, kitab Tafsir Al Azhar pun terlahir dari balik jeruji. Menambah daftar karya yang muncul ditulis dari dalam penjara.</p>
<p>“Inilah bedanya antara tokoh-tokoh ulama dan Masyumi dengan beberapa tokoh lain yang juga dipenjara oleh rezim Soekarno saat itu,” ucap Ustadz Hadi Ramadhan, peneliti pusat Kajian Dewan Dakwah Islamiyah saat berbincang di depan perpustakaan di Gedung STID M. Natsir di Jalan Kramat Raya, “Mereka, para aktivis Masyumi, ketika dipenjara oleh rezim tidak akan merasa depresi. Justru mereka merasakan ketenangan yang luar biasa. Karena jiwanya terbimbing oleh Allah swt. Lihatlah Pak Natsir (Muhammad Natsir), Pak Sjaf (Sjafruddin Prawiranegara) dan beberapa ulama yang lain, ketika keluar dari penjara mereka justru malah menghasilkan sebuah karya.”</p>
<p>Keterbimbingan kepada Sang Ilahi membuat mereka merasa bahagia. Tanpa tekanan. Tenang menghadapi cobaan. Hingga akhirnya, karya-karya fenomenal lahir dari jemari-jemari mereka. Mengabadi hingga ke langit. Menjadi sebuah amal yang takkan berhenti mengalir pahalanya.</p>
<p>Keterbatasan acapkali menjadi sebuah alasan untuk kita bergerak menebar manfaat. Padahal, segala bentuk keterbatasan yang mungkin kita lalui tidaklah ada apa-apanya. Segala penderitaan yang mungkin kita rasai, tidak ada seujung kukunya dibanding mereka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Sayyid Quthb dan Buya Hamka. Berada dalam kungkungan penjara yang sempit, pengap dan menyakitkan tidaklah mudah. Namun, hal itu tak menghalangi mereka untuk terus menebar kebaikan. Memberikan manfaat kepada sesama. Dan menghasilkan karya-karya yang tak ternilai harganya.</p>
<p>oleh: Suhandi, Mahasiswa IAI FIS UNJ 2015</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/dari-balik-jeruji/">Dari Balik Jeruji</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kegelisahan dan Doa</title>
		<link>https://unjkita.com/kegelisahan-dan-doa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Aug 2017 05:07:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Kegelisahan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=12222</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sering kali manusia merasakan perasaan yang berkecamuk, berantakan, setres, cemas atau bahkan bingung. Pada dasarnya hal itu terjadi karena seseorang sedang memikirkan sesuatu yang rasanya...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/kegelisahan-dan-doa/">Kegelisahan dan Doa</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sering kali manusia merasakan perasaan yang berkecamuk, berantakan, setres, cemas atau bahkan bingung. Pada dasarnya hal itu terjadi karena seseorang sedang memikirkan sesuatu yang rasanya tidak dapat ia lakukan atau tidak dapat ia kontrol dengan baik. Hal ini menandakan seseorang sedang gelisah.</p>
<p>Gelisah sendiri dalam kamus bahasa Indonesia berarti tidak tentram, selalu kuatir, tidak sabar, cemas. Kegelisahan di dalam bahasa zaman sekarang lebih dikenal dengan istilah galau. Kegelisahan atau yang lebih akrab disebut galau ini sebenarnya adalah masalah yang kecil namun dapat menjadi sebuah masalah yang lebih spesifik. Hal ini dapat dikait-kaitkan dengan sebuah perasaan. Kegelisahan itu banyak macamnya misalnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, atau mungkin seseorang yang sedang menghadapi dua pilihan dalam hidupnya, atau seseorang yang sedang merenung, masalah pekerjaan, masalah pendidikan, masalah keluarga, atau pun segala sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, dan masih banyak lainnya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Sebenarnya kegelisahan atau galau ini datangnya dalam diri kita sendiri.</strong></p>
</blockquote>
<p>Sebenarnya kegelisahan atau galau ini datangnya dalam diri kita sendiri. Pernah tidak kalian merasakan dalam diam tiba-tiba kalian merasa ada sesuatu yang sepertinya saat kalian ingin mengerjakan sesuatu menjadi serba salah. Pada saat itu hati kita merasa tidak tenang. Pernah kah kalian bertanya kenapa hal itu dapat terjadi.</p>
<p>Manusia sering kali tenggelam dalam kegelisahan. Kegelisahan yang lama mampu menghilangkan rasa bahagia. Dan ternyata kegelisahan ini dapat menyita waktu, yang seharusnya kita dapat dimanfaatkan dengan hal yang lebih positif. Waktu inilah yang sebenarnya tidak kita sadari. Pada kenyataannya seseorang merasa gelisah atau pun galau karena dia sedang memikirkan sesuatu. Setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Ada yang memikirkan pekerjaan, ada yang memikirkan pendidikan, seperti sekolah, kuliah, ada juga yang memikirkan keluarga, dan yang paling sering kita pikirkan adalah uang. Karena sebagian orang berasumsi uang adalah segalanya, dan dengan uang kita dapat melakukan apapun. Inilah beberapa alasan mengapa kita pernah mengalami kegelisahan atau yang akrab disebut galau ini.</p>
<p>Sebelumnya, di awal paragraf ini saya mengatakan bahwa kegelisahan atau galau ini dapat menyita waktu tanpa kita sadari. Kenapa demikian, jawabannya adalah karena kita terus menerus serta selalu memikirkan masalah tersebut berulang-ulang. Sehingga tanpa kita sadari sebenarnya kegelisahan atau galau ini telah menjajah otak dan pikiran kita, tanpa kita sadari.</p>
<p>Ketika seseorang merasakan kegelisahan atau yang akrab disebut sebagai galau ini terkadang mampu membuat seseorang akan cenderung lebih tidak menyadari apa yang ada didekat kita. Dikarenakan masalah-masalah atau pun pikiran yang telah menjajah otak kita terus memikirkan solusi bagaimana masalah tersebut dapat diselesaikan. Hal ini juga dapat terjadi ketika kita di hadapi dalam sebuah pilihan atau pun sebuah situasi.</p>
<blockquote><p><strong>Ketika kita resah dan gelisah memikirkan mana yang harus kita pilih dan apa yang harus kita tentukan, maka disitulah hati dan pikiran kita tidak dapat menyatu atau bisa disebut tidak sinkron. </strong></p></blockquote>
<p>Selain dapat menyita waktu kita, kegelisahan atau yang akrab disebut galau ini juga dapat mengganggu tidur kita. Hal ini juga berkaitan erat dengan waktu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya kegelisahan dapat menyita waktu, karena kita terlalu sering memikirkan apa yang ada dalam otak dan pikiran kita. Karena terlalu seringnya memikirkan masalah ataupun sesuatu yang menghantui otak kita hal ini dapat mengganggu pola tidur kita.</p>
<p>Seperti yang kita rasakan pada umumnya, jika masalah atau dalam suatu hal dalam otak kita yang sudah kita doktrin bahwa itu merupakan masalah yang penting dan harus kita selesaikan, maka kita akan terus berusaha memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini, tanpa kita sadari terus berlanjut hingga waktu malam. Waktu dimana seharusnya otak dan seluruh tubuh kita berhenti melakukan aktifitas pada umumnya. Dimana otak dipaksa untuk bekerja, memikirkan apa yang sejak dari tadi menganggu otak dan pikiran kita. Tentu saja ini bukan suatu hal yang baik untuk tubuh kita. Akibatnya di pagi hari saat kita bangun tubuh kita tidak sesegar orang bangun tidur pada umumnya. Sudah pasti kepala akan terasa sakit, karena otak dipaksa bekerja saat waktunya beristirahat. Dan tentu saja masalah yang hanya kita fikirkan sejak malam akan terus menempel pada otak kita di sepanjang hari.</p>
<p>Bayangkan, jika kegelisahan atau yang akrab disebut galau ini menimpa kita setiap malam. Apakah hari-hari kita akan lebih baik dari hari sebelumnya. Yap, ini bukanlah sebuah solusi untuk kita, bahkan ini akan menjadi masalah baru untuk kita. Tubuh kita tidak bugar,lemah, tidak konsentrasi, bahkan sepanjanghari kita akan terasa lebih berat dari hari sebelumnya. Mengapa kita harus gelisah atau pun galau padahal kita punya Tuhan yang selalu ada untuk kita, yang selalu bersedia mendengarkan curahan hati kita.</p>
<blockquote><p><strong>Apakah kalian lupa, kalian ada di dunia karena Nya, kalian bernafas, berjalan, melihat dunia karena Nya. </strong></p></blockquote>
<p>Kenapa tidak kalian memohon dan meminta kepadaNya agar kegelisahan dan kegalauan ini sirna dalam otak dan fikiran kalian ,serta memohon agar diberikan jalan keluar. Apakah kalian ragu akan kekuasanya. Inilah yang sering dilupakan oleh banyak remaja atau pun orang pada umumnya. Karena sesungguhnya ketika seseorang merasa gelisah atau pun galau, maka artinya orang tersebut sedang jauh dari tuhanNya. Kita punya orang tua, kita punya teman bahkan sahabat, kita telah mencurahkan segala sesuatunya namun tetap saja masalah itu masih menganggu otak dan pikiran kita.</p>
<p>Namun pada kenyataannya tempat terbaik untuk mencurahkan hati kita hanyalah kepada Tuhan. Terdapat sepenggal ayat Al-qur‘an menerangkan ; Dan Tuhanmu berfirman: <strong>“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”. (Q.S. Gafir: 60).</strong></p>
<p>Dengan doa kepada Nya, kita curahkan segala sesuatu yang mengganggu otak dan pikiran kita dengan harapan Tuhan berikan jalan yang terbaik untuk kita<br />
Setiap orang pasti pernah merasakan kegelisahan atau yang akrab disebut galau. Namun kegelisahan atau galau ini sebaiknya kita tidak tenggelam atau pun berlarut-larut dalam kegelisahan dan kegalauan ini. Ada baiknya jika kita berdoa dan memohon kepada Tuhan agar diberikan jalan dalam masalah tersebut. Pasrahkan segalanya kepada Tuhan. Percayalah tuhan tidak akan pernah tidur dan membiarkan umatnya sedih dan susah. Serta lakukanlah hal-hal positif di sekitar kalian agar kegelisahan atau pun kegalauan kalian perlahan sirna.</p>
<p><strong>Oleh: Rifka Alfiatin Zahroh</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/kegelisahan-dan-doa/">Kegelisahan dan Doa</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>9 Nasihat Bijak Al Ghazali yang Menginspirasi</title>
		<link>https://unjkita.com/9-nasihat-bijak-al-ghazali-yang-menginspirasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ihsan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2016 13:18:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4305</guid>

					<description><![CDATA[<p>Imam al-Ghazali (w. 505/1111) merupakan seorang ulama yang pandai serta menjadi tokoh utama kebangkitan umat Islam pada masanya. Ia lahir di Tus, Khurasan, pada 450/1058. Al-Ghazali hidup di era umat Islam sedang...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/9-nasihat-bijak-al-ghazali-yang-menginspirasi/">9 Nasihat Bijak Al Ghazali yang Menginspirasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Imam al-Ghazali (w. 505/1111) merupakan seorang ulama yang pandai serta menjadi tokoh utama kebangkitan umat Islam pada masanya. Ia lahir di Tus, Khurasan, pada 450/1058.</p>
<p>Al-Ghazali hidup di era umat Islam sedang mengalami kemunduran dikarenakan perpecahan yang sangat serius. Dengan kemampuan intelektualnya serta kesungguhan dalam mencari kebenaran dan jalan terbaik bagi ummat, karya-karyanya kemudian memberi arah perbaikan serta menjadi pilar kebangkitan bagi masyarakatnya.</p>
<p>Banyak sekali kitab karya al Ghazali yang sampai saat ini rutin di kaji umat Islam masa kini diantaranya adalah Ihya’ Ulumuddin dan Al Bidayah wa An Nihayah.</p>
<h2>9 Nasihat al Ghazali</h2>
<p>Penulis mengumpulkan beberapa nasihat bijak al Ghazali yang bisa menjadi bahan renungan dan introspeksi diri. Berikut 9 nasihat tersebut:</p>
<ol>
<li>Hiduplah kamu bersama manusia sebagaimana pohon yang berbuah, mereka melemparinya dengan batu, tetapi ia membalasnya dengan buah.</li>
<li>Kata-kata lembut melunakkan hati yang lebih keras dari batu, kata-kata kasar mengeraskan hati yang lebih lembut dari sutra.</li>
<li>Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka.</li>
<li>Lidah yang lepas dan hati yang tertutup dan penuh dengan kelalaian itu alamat kemalangan besar.</li>
<li>Jagalah rahasia temanmu, tutupilah keburukannya dan diamlah jangan memperbesar kesalahannya yang sedang dibicarakan oleh orang lain.</li>
<li>Jadikan kematian itu hanya pada badan karena tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap masa.</li>
<li>Hidup beradab bukan hidup untuk biadab.</li>
<li>Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan, kerelaan penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan menampakkan sikap angkuh dan sombong.</li>
<li>Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan, kerelaan penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan menampakkan sikap angkuh dan sombong.</li>
</ol>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/9-nasihat-bijak-al-ghazali-yang-menginspirasi/">9 Nasihat Bijak Al Ghazali yang Menginspirasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak Burung Belajar Terbang</title>
		<link>https://unjkita.com/anak-burung-belajar-terbang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2016 17:34:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4028</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Memberitahu yang baik itu adalah dengan mencontohkan&#8221; -Sebuah kalimat dari alumni kami saat mengisi materi di acara Pembekalan Pengabdian Sosial mahasiswa prodi Manajemen Pendidikan. Belajar;...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/anak-burung-belajar-terbang/">Anak Burung Belajar Terbang</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Memberitahu yang baik itu adalah dengan mencontohkan&#8221; -Sebuah kalimat dari alumni kami saat mengisi materi di acara Pembekalan Pengabdian Sosial mahasiswa prodi Manajemen Pendidikan.</p>
<p>Belajar; bukan berarti kita hanya menimba ilmu di dalam ruang kelas saja. Bukan hanya kita konsentrasi pada bidang pelajaran dan fokus pada teks bacaan yang berisikan wawasan ilmu pengetahuan, atau mencari tempat ternyaman untuk mencerna apa yang dipelajari. Makna belajar itu bisa diartikannya sangat luas. Bisa dilihat dari perspektif manapun, dan ini sangat menarik.</p>
<p>Seperti halnya seekor anak burung yang melihat induknya terbang.</p>
<p>&#8220;Bagaimana ibu bisa terbang?&#8221;<br />
(Induknya hanya tersenyum, kemudian terbang lagi mencari makanan)<br />
&#8220;Issh, ibu mah ditinggal lagi aku&#8221;</p>
<p>Setiap hari ia selalu memperhatikan, mengamati, dan bertanya-tanya bagaimana cara terbang. Sampai ia mempunyai keinginan untuk bisa terbang seperti ibunya.<br />
Bagi seekor burung: mereka tidak membutuhkan buku bacaan, ruangan yang kondusif supaya fokus belajar, dan biaya yang dibayarkan untuk bisa terbang. Namun dimulai dengan &#8216;memperhatikan&#8217; saja ternyata bisa menimbulkan rasa ingin tahu dalam dirinya.</p>
<p>Pada dasarnya, sangat sulit untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dalam diri kita. Rasa ingin tahu itu tumbuh dari apa yang kita lihat-dengar-rasakan. Kemudian otak kita mulai merancang struktur pertanyaan yang tepat terhadap peristiwa yang kita lewati itu.</p>
<p>Sewaktu kita sekolah dulu misalnya. Wajar saja kalau kita mengetahui konteks belajar itu ialah hanya di dalam kelas, mengerjakan PR dirumah, dan belajar dengan menggunakan metode SKS (Sistem Kebut Semalam) saat ujian datang. Namun ketika kita memasuki dunia kampus yang konon katanya &#8220;bisa mencetak sarjana-sarjana muda maupun tua yang terampil, cakap, beriman dan sejahtera&#8221; itu sudah sangat berbeda dibandingkan pada waktu sekolah dulu. Terlihat dari bagaimana cara kita memaknai maksud belajar itu sendiri.</p>
<p>Apa yang ada di bayangan kita jika burung bisa berbicara bahkan berpuisi layaknya penyair dan kita bisa terbang mengelilingi angkasa, menembus awan kemudian awan lagi seperti burung? Waaah! Tidak usah dibayangkan. Tapi cukup kita renungkan. Bahwa sekarang ini sudah ada teknologi yang diciptakan oleh ilmuan agar manusia dapat berpindah tempat dengan cepat tanpa melalui jalur darat maupun laut, menembus awan dan mengelilingi angkasa luas. Dengan kata lain, manusia bisa terbang!</p>
<p>Adanya ilmuan yang menciptakan suatu penemuan mutakhir itu berawal dengan memperhatikan sekelilingnya. Mereka mencermati bagaimana burung itu bisa terbang bermil-mil jauhnya dan bisa terbang tinggi sekali. Akhirnya timbul pertanyaan: Jika manusia memiliki kemampuan berpikir melebihi mahkluk hidup lainnya, mengapa manusia malah kalah dengan burung dalam urusan terbang?</p>
<p>Praduga ini kemudian muncul. Mungkin burung itu bisa saja lebih pandai daripada manusia ; atau mungkin saja burung itu memang tidak bisa terbang, tapi usahanya yang membuat burung itu bisa. Mungkin saja, kan masih praduga.</p>
<p>Tapi jika dugaan itu memang benar, kenapa manusia yang sudah memiliki kemampuan berpikir diatas mahkluk hidup lainya masih sukar untuk belajar, atau yang sudah belajar masih jauh dari kata yang disebut berhasil? Kata kunci nya ada pada keingintahuan manusia akan sekitarnya. Secara patennya kita menanamkan pada alam bawah sadar kita kalau belajar hanya dibatasi ruang, gerak, waktu, dan kemungkinan.</p>
<p>Kita masih sangat dini untuk membahas makna belajar yang sesungguhnya. Karena belajar itu berlangsung terus menerus selama hidup kita. Dengan kata lain, &#8220;Belajar Untuk Hidup&#8221;. Jika kita sudah mengerti dan mengetahui hal itu sedini mungkin, itu berarti pemahaman kita masih sama seperti anak burung di dalam sarang yang belum bisa terbang. Karena nyatanya kita sampai sekarang masih belum tahu arti hidup kita untuk apa. Rasa ingin tahu kita hanya sebatas perspektif pribadi sebagai manusia melihat dunia, tapi kita tidak merasakan perspektif-perspektif lain dari mahkluk hidup selain kita di dunia ini.</p>
<p>Bahwa belajar kita masih sebatas apa yang kita pelajari, bukan kenapa hal itu bisa terjadi. Kita masih berlomba-lomba untuk menjadi peringkat pertama, tapi kita tidak tahu untuk apa kita lakukan itu semua. Kebanggaan kita hanya pada hasil yang kita raih, tapi tidak berasal dari proses yang kita lakukan.</p>
<p>Jangan heran jika nantinya kita melihat peraih olimpiade matematika tingkat nasional tapi disuruh jaga warung sama ibunya saja sulitnya minta ampun. Padahal untuk urusan hitung-menghitung mereka lebih handal dibanding anak putus sekolah yang merelakan masa sekolahnya selama 12 tahun hanya untuk menjaga warung demi membiayai tempat tinggal keluarganya dari makelar tanah.</p>
<p>Atau kalian boleh mempertanyakan, kenapa ayah melarang kita merokok tapi sendirinya masih merokok?</p>
<p>Kalian boleh mempertanyakan kepada anak-anak sekolah elite, kenapa di dalam kelas mereka sudah belajar mata pelajaran Sosiologi, nilainya A+ saat ujian dan tanpa nyontek tapi masih menjadi manusia paling ansos (anti-sosial) di RT/RW nya?</p>
<p>Mau sampai kapan kita tetap kalah dengan anak burung itu yang sekarang sudah bisa terbang dan mempunyai sekawanan burung pada tiap pepohonan yang berbeda. Bahkan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan sekarang.</p>
<p>Kawan&#8230;<br />
Bukan waktunya lagi kita selalu dimanja, dibuatkan bekal, dan diberi uang jajan tiap hari/bulannya. Sebagaimana kita itu bukan anak kecil lagi. Seharusnya kita sudah bisa masak sendiri, dan kita sudah bisa menabung walau seribu sehari.</p>
<p>Karena pada hakikatnya kita masih belajar menjadi manusia seutuhnya. Bukan hanya dalam kelas, buku teks bacaan, atau mengikuti perlombaan kejuaraan kelas saja. Tapi lebih dari itu. Kita masih memiliki waktu banyak untuk terus belajar melihat sekeliling kita.</p>
<p>Sebagaimana kita masih bisa belajar dari mereka yang tidak belajar dikelas; masih bisa belajar dari bayi yang baru lahir bahwa betapa hebatnya ia terus berjuang untuk bisa terlahir di dunia; dan kita masih bisa belajar dari kecoa ataupun jenis serangga menjijikan lainnya bahwa betapa sabarnya mereka menjalani hidup sebagai hewan yang sering dihina, diusir bahkan ingin dibunuh.</p>
<p>Kuatkan tekad bahwa kita ini masih belajar, terus belajar, dan tak pernah bosan untuk belajar. Sampai kita suskes pun tak ada yang menyalahkan kita untuk terus belajar. Seperti halnya pepatah lama mengatakan, &#8220;Semakin padi berisi, semakin merunduk&#8221;. Semakin kita belajar banyak hal, semakin banyak hal lain yang kita tidak tahu.</p>
<p>Dan hebatnya, kita bisa belajar dari apapun. Selagi kita masih memiliki kepekaan yang tinggi terhadap alam dan seisinya. Hasil dari belajar kita adalah sebuah renungan. Kita merenung bahwa betapa mulianya manusia di mata Tuhan, bahwa betapa kecilnya kita dibandingkan semesta, dan betapa banyak air mata yang selalu menetes ketika tangan ini menengadahkan doa memohon ampun padaNya. Seperti halnya aku yang masih belajar menulis tulisan ini.</p>
<p>Salam Mahasiswa Semester 5,</p>
<p><strong>Alvyn Naufal Mahmaris</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/anak-burung-belajar-terbang/">Anak Burung Belajar Terbang</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
