<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ramadhan Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/ramadhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/ramadhan/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2020 22:33:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Ramadhan Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/ramadhan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Polusi Suara Mengepung MENI</title>
		<link>https://unjkita.com/polusi-suara-mengepung-meni/</link>
					<comments>https://unjkita.com/polusi-suara-mengepung-meni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2019 02:10:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=21979</guid>

					<description><![CDATA[<p>Polusi merupakan pencemaran atau pengotoran[1]. Meliputi udara, air, dan tanah. Namun penulis mengungkapkan kata polusi ini hanya sebagai kiasan supaya pembaca juga bertanya-tanya apa maksud...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/polusi-suara-mengepung-meni/">Polusi Suara Mengepung MENI</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Polusi merupakan pencemaran atau pengotoran[1]. Meliputi udara, air, dan tanah. Namun penulis mengungkapkan kata polusi ini hanya sebagai kiasan supaya pembaca juga bertanya-tanya apa maksud dari judul “Polusi Suara Mengepung Meni” khususnya untuk masyarakat Universitas Negeri Jakarta.</p>
<p>Pada hakikatnya, sifat dari polusi adalah mengganggu. polusi ini dihasilkan dari suatu kegiatan yang diadakan tanpa memikirkan lingkungan sekitar. Bisa kita lihat ibu kota Jakarta kita yang tercinta ini. Semua gangguan alam yang kita rasakan merupakan akibat dari kegiatan-kegiatan manusia yang tak memikirkan dampak yang dihasilkan. Pabrik, asap kendaraan, sampah dan sebagainya. begitu pun dengan polusi suara. Di mana suatu kegiatan yang diselenggarakan tidak pada waktu yang tepat menghasilkan suara yang dapat mengganggu orang-orang disekeliling.</p>
<p>Sungguh fenomena yang membuat mata terbelalak, membuat kita tak habis pikir, dan akan membuat kita geleng-geleng kepala. Di Universitas Negeri Jakarta, tepatnya Masjid Nurul Irfan. Saat itu menjelang waktu sholat isya. Waktu itu, lapangan di kampus A dipenuhi gema sorak-sorak para supporter lomba futsal yang diadakan oleh jurusan X (tidak saya sebutkan). Lalu satu lagi acara yang tidak kalah gemuruhnya yakni di lapangan Terbuk, acara musik yang diadakan oleh salah satu organisasi internal UNJ.</p>
<p>Kedua acara tersebut saling mengadu suara satu sama lain. Semuanya begitu kentara dan jelas terdengar dari ruangan ibadah utama Masjid Nurul Irfan. Dari kedua acara tersebut saling menggaungkan suaranya satu sama lain. Seakan-akan menciptakan pertarungan dalam pendengaran tiap jamaah masjid.</p>
<p>Akhirnya tibalah waktu solat. Jam masjid berbunyi. Saya pun adzan. Dalam hati saya berharap ketika adzan dikumandangkan mereka mengerti dan paham bahwa kinilah waktu mereka berhenti sejenak. Tapi, semuanya di luar ekspetasi saya! Mereka terus menggaung-gaungkan kebisingan disaat adzan dikumandangkan. Adzan, merupakan kalimat panggilan yang paling baik di antara semua panggilan. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah menegaskan dalam sabdanya:</p>
<p>Dari abu hurairah radiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihu wa sallam bersabda “Apabila dikumandangkan seruan untuk sholat, setan pun pergi sambil terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan telah selesai maka ia ia kembali, jika diulangi seruan sholat (iqomah), setan pun pergi lagi. Setan pun kembali lagi ia membisikki ke dalam hati seseorang, setan berkata “ingat ini, ingat itu” yang hal tersebut tidak teringat sebelumnya, sampai seseorang tidak sadar sudah berapa rakaat dia sholat” (HR. Bukhari: 608, Al-Fath: 2/108-112)[2]
<p>Namun, ditengah kumandang adzan, mereka tetap tidak mau berhenti sejenak sekedar untuk menghormati. Dalam benak saya, yang terjadi saat itu bagaikan sebuah pertarungan yang hebat. Tidak ada yang berlebihan mengenai ini. Bagaimana tidak? Satu suara adzan dikeroyok oleh dua kebisingan sekaligus. Akhirnya setelah adzan secara tegas saya sampaikan dengan pengeras suara masjid “Bagi civitas akademika UNJ diharap untuk memberhentikan sejenak acaranya. Karena waktu sholat isya berjamaah akan segera dimulai”</p>
<p>Dengan peringatan yang saya layangkan lewat pengeras suara masjid yang lumayan terdengar sampai lapangan pun mereka masih saja tetap kukuh menjalankan acara mereka masing-masing. Saya pun berusaha untuk bersabar. “Semoga saja ketika iqomah dikumandangkan mereka bisa berhenti sejenak” ujar saya dalam hati.</p>
<p>Waktu iqomah pun tiba. Dengan sigap saya pun langsung mengumandangkan iqomah dengan agak lebih keras supaya benar-benar terdengar oleh mereka bahwa waktu sholat isya berjamaah akan dimulai. Tapi, lagi-lagi. Ekspetasi saya meleset. Mereka tetap asyik dengan acara mereka sendiri. Terus menerus menggaungkan kebisingan ditengah sholat berjamaah. Namun yang anehnya adalah, ketika sholat isya berjamaah sudah selesai mereka malah berhenti. Apa maksud dari semua ini?</p>
<p>Akhirnya, ba’da sholat isya, saya dan teman saya, Fauzi Ramadhan, mencoba mendatangi kedua tempat sumber kebisingan tersebut. “Mba maaf sebelumnya. kami dari DKM, tadi dengar suara adzan nggak mba?” Tanya fauzi. “iya denger kok mas” jawab salah seorang mahasiswi tersebut. “kalo denger kok nggak berhenti sebentar ya mba? Soalnya kan kami sholat butuh khusyuk, jadi tadi agak terganggu gitu jadinya” ujar fauzi. “ya, abis gimana ya mas. Soalnya pertandingannya udah terlanjur di mulai, jadi nggak bisa dipending” jawab mahasiswi.</p>
<p>Mendengar jawaban tersebut saya begitu tercengang. Dengan jujur dan tidak ada merasa bersalah sedikitpun dengan dalih “pertandingan terlanjur dimulai”. Saya rasa orang yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah pun bisa menggunakan akal sehatnya dan dapat membandingkan mana yang harus lebih dihormati dan dihargai. Ketika adzan dikumandangkan dan sholat berjamaah dimulai pasti tanpa perlu kita tahu dalilnya pun yang namanya orang yang sedang ibadah harus dihargai dan dihormati. Akhirnya saya tambahkan dan tegaskan “Ya sebenernya kalo pertandingannya sih nggak ganggu ya mba, tapi tolong lain kali nggak usah pake mic buat presenternya dan pendukung nggak usah sorak-sorak yang kenceng”. Akhirnya kami pun pergi dan mengunjungi lapangan Terbuk. Di sana ada semacam pertunjukan musik. Tapi yang satu ini saya akui memang lebih logis jawabannya. Dengan pertanyaan yang sama, jawaban singkat mereka, mereka mendengar suara adzan dan berhenti saat adzan, namun tidak berhenti ketika sholat dimulai, dan mereka pun mengakui kesalahan dengan meminta maaf.</p>
<p>Sebagai seorang muslim kita wajib menghargai hak-hak saudara kita. Apalagi dalam hal ibadah. Jangankan mengganggu orang yang sholat dengan suara musik atau sorak-sorak supporter futsal, bahkan mengganggu orang sholat dengan bacaan Al-Quran yang keras pun kita dilarang. Dalam suatu makna hadis disampaikan:</p>
<p>“Siapa diantara kalian yang membaca (Surat Sabbihisma Robbikal A’la di belakangku) ? Lantas ada seseorang yang menjawab, ‘Saya (namun saya tidak mengingankan/meniatkan dari hal itu kecuali kebaikan)’. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda, “Sungguh aku telah mengetahui bahwa sebagian kalian telah menyelisihiku padanya”[3].</p>
<p>Para ulama mencoba mengungkap makna pengingkaran nabi yang terdapat dalam hadis tsb, salah satunya adalah ibnu taymiyah Ibnu Taimiyah Rohimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang membaca Al Qur’an sedangkan orang lain sedang sholat sunnah maka dia tidak boleh mengeraskan bacaannya (karena) hal itu akan mengganggu, membuat orang lain tersebut tidak khusyuk”.</p>
<p>Dipertegas lagi oleh Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam Bughyatul Mustarsyidin: “Sekelompok orang membaca Al-Quran dengan lantang di masjid. Sebagian orang mengambil manfaat dari pengajian mereka. Tetapi sebagian orang lainnya terganggu. Jika maslahatnya lebih banyak dari mafsadatnya, maka baca Al-Quran itu lebih utama (afdhal). Tetapi jika sebaliknya yang terjadi, maka baca Al-Quran itu menjadi makruh”.</p>
<p>Di akhir tulisan ini, inti yang ingin saya sampaikan ialah, bahwa kita sebagai manusia yang diberi akal oleh Allah ta’ala seharusnya kita mampu menimbang mana yang harus dihormati dan mana yang harus menghormati, Mana yang diprioritaskan dan mana yang bisa dinomorduakan. Kita adalah mahasiswa. Di dalam kelas kita mampu berargumen dengan lihainya dengan diksi-diksi yang cantik nan memesona. Seakan-akan melambangkan bahwa mahasiswa adalah puncak dari cara berpikir intelektual. Namun sayang, semua itu hanya sebagai pelepas dahaga pikiran kita di ruang kelas, tak kita bawa dalam cara kita ber-hablumminannas. Seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’i: “ilmu itu adalah yang diamalkan, bukan hanya yang bertengger di kepala”</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
[1] https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/polusi<br />
[2] Imam Az-Zubaidi, Ringkasan Shahih Bukhari (tahqiq: Ahmad Ali Sulaiman), (Solo: Insan Kamil, 2016), h. 127<br />
[3] HR. Bukhari – Muslim dari jalur periwayatan ‘Imron bin Hushoin Rodhiyallahu ‘anhu, (dalam sholat dzuhur)</p>
<p>Oleh: Tusmana</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/polusi-suara-mengepung-meni/">Polusi Suara Mengepung MENI</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/polusi-suara-mengepung-meni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ibnu Abbas : Mufassir yang Didoakan Rasulullah Saw</title>
		<link>https://unjkita.com/ibnu-abbas-mufassir-yang-didoakan-rasulullah-saw/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Asrul Pauzi Hasibuan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2018 00:06:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=21095</guid>

					<description><![CDATA[<p>Biografi Ibnu Abbas mempunyai nama lengkap Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf al-Quraisy al-Hasyimi. Abdullah bin Abbas lebih dikenal dengan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ibnu-abbas-mufassir-yang-didoakan-rasulullah-saw/">Ibnu Abbas : Mufassir yang Didoakan Rasulullah Saw</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Biografi</strong></p>
<p>Ibnu Abbas mempunyai nama lengkap Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf al-Quraisy al-Hasyimi. Abdullah bin Abbas lebih dikenal dengan nama Ibnu Abbas, beliau juga dipanggil dengan sebutan Abul Abbas. Dari Ibnu Abbas inilah nantinya akan lahir silsilah khalifah Bani Abassiyah.</p>
<p>Ibnu Abbas mempunyai hubungan saudara sepupu dengan nabi <a href="https://unjkita.com/manajemen-akhlaq-sang-khalifah/">Muhammad <em>Saw</em></a>. Hal itu karena Abbas bin Abdul Muthalib ayah dari Ibnu Abbas bersaudara dengan Abdullah bin Abdul Muthalib ayah dari Nabi Muhammad <em>Saw</em>. Ibundanya bernama Lubanah binti Al-Harits Al-Hilaliah dan dijuluki sebagai Ummu Al-Fadhl karena bersaudara dengan Maimunah binti Al-Harist salah seorang istri dari Nabi Muhammad <em>Saw</em>. Ibnu Abbas lahir di Syi’ib pada saat kaum kafir Quraisy memboikot Bani Hasyim, dan wafat di Thaif. Namun ada perselisihan pendapat mengenai kapan wafatnya Ibnu Abbas. Ada yang berpendapat Ibnu Abbas wafat pada tahun 65 H, pendapat lain mengatakan Ibnu Abbas wafat pada tahun 67 atau 68 H. Para jumhur ulama sepakat bahwa pendapat Ibnu Abbas wafat pada tahun 68 H lah yang dipandang <em>shahih</em>, beliau wafat pada usia 71 tahun.</p>
<p>Pada saat kanak-kanaknya, Ibnu Abbas memperoleh <a href="https://unjkita.com/memahami-pancasila-memaknai-pendidikan/">pendidikan</a>nya di rumah Nabi Muhammad <em>Saw</em>. Beliau banyak sekali mengiringi Nabi Muhammad <em>Saw</em> dan mendapatkan ilmu darinya, juga menyaksikan tentang berbagai peristiwa turunnya sebagian ayat dari Alquran. Ibnu Abbas kerap menyiapkan air wudhu untuk Nabi Muhammad <em>Saw</em>, shalat berjama’ah bersama, melakukan perjalanan bersama, dan kerap kali menghadiri majelis-majelis ilmu Nabi Muhammad <em>Saw</em>. Karena itulah Ibnu Abbas banyak sekali mengingat dan mengambil pelajaran dari setiap perkataan maupun perbuatan Nabi Muhammad <em>Saw</em>.</p>
<p>Nabi Muhammad <em>Saw</em> sendiri mengajarinya dan pernah mendoakanya. Pernah suatu ketika, Ibnu Abbas masih kanak-kanak dan sedang merangkak di atas tanah, Nabi memanggilnya, menepuk-nepuk bahunya seraya berdoa, yang antara lain berbunyi : “<em>Allahumma ‘allimhu al-kitab wa al-hikmah</em>”, dan dalam riwayat lain berbunyi : “<em>Allahumma faqqihhu fi al-din wa ‘allimhu al-takwil</em>” yang artinya “Ya Allah, jadikanlah Ia seorang yang mendapat pemahaman mendalam mengenai agama Islam dan ilmu tafsir”. Setelah Nabi Muhammad <em>Saw</em> wafat, Ibnu Abbas menambah ilmunya kepada para sahabat besar dengan cara bergaul bersamanya. Para sahabat besar itu seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Tholib, Mu’az bin Jabbal, serta Abu Zar Al-Giffari. Dari para sahabat besar Nabi Muhammad <em>Saw</em> itulah Ibnu Abbas mendapat pengetahuan luas tentang tempat dan sebab turunnya ayat dalam Alquran. Beliau juga mempunyai pengetahuan yang luas mengenai disiplin ilmu bahasa Arab.</p>
<p>Ibnu Abbas sering dijuluki dengan gelar Turjuman Alquran yang artinya penafsir Alquran, Habrul Ummah yang artinya guru umat, <em>Ra’isul Mufassirin</em> yang artinya pemimpin para mufasir, dan Al-Bahr yang artinya lautan. Ia diberi gelar Al-Bahr karena ilmunya yang luas dan banyak seumpama lautan. Ia dikenal dengan seseorang yang memiliki kemampuan cepat dalam memahami sesuatu, memiliki banyak ilmu, mempunyai pemikiran yang tajam, ingatannya yang kuat, dan bijak sana serta murah hati. Teman-temannya pernah berujar &#8220;kami tidak menemukan rumah yang di dalamnya terdapat banyak makanan, minuman, dan ilmu yang banyak selain rumah Ibnu Abbas&#8221;.</p>
<p>Mengenai sosok Ibnu Abbas, beliau mempunyai badan yang tinggi tetapi tidak kurus, berkulit putih kekuningan, janggut yang diwarnai dan wajahnya berseri. Selain itu, Ibnu Abbas juga memiliki sikap yang tenang, berbudi pekerti yang mulia, rendah hati, mempunyai empati dan simpati antar sesama, penuh cinta, ramah, akrab, tegas, dan bersifat terpuji, juga tidak suka melakukan sesuatu hal yang tiada manfaat. Ketika Masruq bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai bagaimana cara beliau mendapatkan ilmunya, Ibnu Abbas menjawab “dengan lisan yang gemar bertanya dan akal yang suka berfikir”.</p>
<blockquote><p>&#8220;kami tidak menemukan rumah yang di dalamnya terdapat banyak makanan, minuman, dan ilmu yang banyak selain rumah Ibnu Abbas&#8221;.</p></blockquote>
<p>Pada masa Ibnu Abbas, ada empat orang diantaranya yang bernama Abdullah yang di beri julukan Al-Abadillah, dan salah satunya adalah Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas. Tiga orang yang lainnya adalah Abdullah bin Umar yang biasa disebut Ibnu Umar, Abdullah bin Zubair atau Ibnu Zubair, dan Abdullah bin Amr. Mereka berempat adalah termasuk kedalam tiga puluh orang yang menghapal serta menguasai Alquran pada saat penaklukan kota Mekkah . Al-Abadillah ini kemudian termasuk kedalam lingkar ulama yang dipercaya dalam memberikan fatwa pada masanya.</p>
<p><strong>Corak Tafsir</strong></p>
<p>Tidak terhitung banyaknya riwayat Ibnu Abbas mengenai tafsir. Semua yang telah dinukil darinya telah dihimpun dalam sebuah kitab tafsir ringkas yang kurang sistematis tajuknya bernama Tafsir Ibni Abbas. Dalam kitab tersebut terdapat berbagai macam riwayat dan sanad. Melalui kitab tafsir Ibni Abbas, diketahui sanad terbaik adalah melalui jalur Abi Thalhah Al-Hasyim dari Ibnu Abbas. Terbukti sanad ini menjadi pedoman Bukhari dalam kitab Shahihnya. Adapun sanad yang cukup baik adalah dari jalur Qais bin Muslim Al-Kufi, dari ‘Atha bin As-Sa’ib.</p>
<p>Namun dalam kitab tafsir besar lainnya yang disandarkan kepada Ibnu Abbas terdapat kerancuan dalam sanadnya. Diketahui sanad yang paling rancu dan lemah adalah melalui jalur Al-Kalbi dari Abu Shalih. Karena, jika sanad ini digabungkan dengan riwayat Muhammad bin Marwan As-Suddi As-Shaghir, akan menjadi ‘silsilah al-kadzib’ yang artinya mata rantai kebohongan. Hal yang sama juga terjadi pada sanad Muqatil bin Sualiman bin Bisyr Al-Azdi, karena Muqatil mempunyai pemahaman yang kurang baik atau karena terikatnya beliau dengan berbagai madzhab. Sementara ada pula sanad ‘<em>munqathi</em>’ yang artinya terputus, yaitu sanad dari Adh-Dhahhak bin Muzahim Al-Kufi dari Ibnu Abbas. Karena dalam hal ini Adh-Dhahhak tidak bertemu secara langsung dengan Ibnu Abbas, dan jika digabungkan dengan riwayat Bisyr bin Imarah, maka riwayat tersebut tetap akan lemah, karena Bisyr memang mempunyai sanad yang lemah. Adapula sanad yang sangat lemah dan ditinggalkan oleh para ulama, yaitu sanad melalui riwayat Juwaibir. Lain halnya dengan sanad melalui Al-‘Aufi dan seterusnya dari Ibnu Abbas, padahal Al-‘Aufi seorang yang dinilai lemah, tetapi kadang dinilai hasan oleh At-Tirmidzi serta banyak digunakan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.</p>
<p>Sumber :<br />
Buku “Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an” karangan Syaikh Manna Al-Qaththan<br />
http://www.lingkaran.org/biografi-ibnu-abbas.hymn</p>
<p>Wallaahu &#8216;alam bishshowab</p>
<p><strong>Hestia Raharti<br />
</strong>Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam FIS U<br />
10 Ramadhan 1439 H</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ibnu-abbas-mufassir-yang-didoakan-rasulullah-saw/">Ibnu Abbas : Mufassir yang Didoakan Rasulullah Saw</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
