Home Suara Anda Opini

Ditelan Zaman

611
BAGIKAN

Tidak ada yang lebih cepat daripada waktu. Ia berjalan tanpa mengenal siapapun. Membawa dan menyimpan segala bukti dan memori yang terekam dalam kehidupan sehari-hari. Membiarkan cerita itu hempas, lepas atau bebas. Misalnya, cerita bersejarah yang tertuang dalam buku, sampai cerita yang hanya sekadar sampai dari mulut ke mulut, atau bahkan cerita yang tidak ada satupun manusia yang tahu. Bukan tentang siapa pemiliknya, tetapi seberapa penting peristiwa yang terekam oleh waktu. Bukan hal yang semestinya diherankan pula bahwa ada perbedaan dari setiap generasi―dari zaman di mana pra-sejarah sampai kekinian yang semakin tak tentu arah. Semakin divergen.

Begitu cepat waktu berlalu, semakin jauh ibu pertiwi meninggalkan hulu. Usia yang semakin menua menandakan bahwa negeri ini sudah lansia. Indonesia, sebuah negara yang sudah berhasil memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945. Lalu, sudah semerdeka manakah negara kita jika berbicara waktu? Bermain atau dipermainkan oleh waktu?

Lalu, sudah semerdeka manakah negara kita jika berbicara waktu? Bermain atau dipermainkan oleh waktu?

Indonesia adalah negara yang kaya akan suku, budaya, bahasa dan agama, dan sudah merdeka selama 71 tahun lamanya, namun kemerdekaan sesungguhnya belum dirasakan oleh setiap insan yang duduk di pangkuan ibu pertiwi. Contoh dalam lingkungan kecil di Ibu Kota dan pinggir kota masih banyak anak yang putus sekolah dan bahkan tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Jangankan berpakaian seragam merah-putih dan bersepatu, cukup dengan membawa seperangkat alat tulis di genggaman mereka sejatinya sudah siap menempuh pendidikan meskipun di luar sekolah. Namun, nasib yang menggiring mereka menjadi anak-anak yang akhirnya berada di pinggir jalan untuk mengemis, mengamen, bahkan berniaga. Sungguh ironis, membuat hati menangis dan teriris.

Bisa dibayangkan, ribuan anak jalanan dan pedalaman di Indonesia merupakan aset berharga di masa depan untuk pembangunan negeri yang lebih makmur, namun sejak dini mereka belum mengenal pendidikan, lalu, bagaimana jika tanpa mereka negara ini selama belasan tahun ke depan? Lagi-lagi, bangsa ini sedang dipermainkan oleh waktu. Ditelan zaman yang tak menentu. Membiarkan pendidikan runtuh oleh waktu. Lalu, bagaimana bermain dengan waktu?

“Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis kita dikenal dunia.”

Begitulah sepenggal kalimat yang hakikatnya mangacu pada pendidikan. Salah satu sumber pendidikan adalah buku. Buku merupakan jembatan ilmu, dengan membaca kita dapat menjelajah ke seluruh dunia, mulai dari mempelajari buku-buku akademik sampai non-akademik, mengetahui acara dan kabar luar negeri setiap harinya yang tertulis di koran, mempelajari bahasa asing dalam kamus, sehingga dapat fasih dengan sendirinya, wawasan serta pengalaman hidup seseorang yang dapat memotivasi setiap manusia yang tertuang dalam buku-buku inspiratif.

Seseorang yang pandai memulai segala sesuatu dengan membaca, menghapal, mengulang, menerapkan, lalu menyosialisasikannya. Apalagi di zaman modern ini, perkembangan teknologi begitu pesat. Berbagai teknologi sudah sangat membantu kita dalam memperbarui perkembangan informasi dan berita di media elektronik maupun media cetak secara mudah. Membaca ribuan tulisan dan buku-buku melalui media elektronik―internet―misalnya, merupakan cara praktis mendapatkan informasi dalam membuka jendela dunia.

Namun, apakah kita akan mampu bermain dengan semua itu? Dapatkah kita mempergunakan waktu tersebut? Atau hanya membutuhkan waktu saat melakoni hal tersebut. Karena jika menengok berbagai kasus yang ada, masih banyak orang-orang yang menyalahgunakan keadaan, baik dalam media elektronik ataupun media cetak. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan waktu sangat abstrak.

Lain hal, bagaimana dengan anak-anak yang keberadaannya ada di pinggir kota dan sudut negeri, apakah mereka sudah mengenal media elektronik? Keterjangkuan tempat lagi-lagi membuat keadaan anak-anak pelosok negeri dan pinggir kota semakin sulit mengenal bacaan pendidikan, baik yang bersumber pada buku ataupun media elektronik.

Tentu, lagi dan lagi bangsa kita tidak bisa bermain dengan waktu. Dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, sangatlah miris melihat wajah Indonesia yang justru semakin letih dan tak berdaya dalam bermain dengan waktu. Seharusnya semakin lama negara kita berkembang, semakin berfungsi bagian-bagian dari berbagai sistem yang ada. Untuk itu, perlu didirikan sebuah usaha memberantas kebodohan walaupun dengan hal terkecil, agar kita dapat bermain dengan waktu, bukan justru menjadi tak berdaya karena waktu.

Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah masalah yang serius. Jika pendidikan belum tersebar merata, maka pendidikan harus disebar merata dengan pendidikan pula.

Sebab pendidikan di Indonesia sejatinya sudah mengakar kuat menjadi isi dalam UUD 1945. Meskipun tidak bisa dipungkiri pada kenyataannya perundang-undangan tersebut masih menjadi teori, dan masih perlu penggarapan yang khusus. Pendidikan harus diutamakan dalam bangsa ini, untuk mengubah dunia harus dibutuhkan perubahan dalam diri sendiri.

Oleh karena itu, untuk membuka wawasan dan menumbuhkan rasa keingintahuan yang sangat besar, harus dibutuhkan ketulusan terlebih dahulu. Ketulusan ini merupakan kunci. Bisa jadi selama ini pendidikan yang dibangun tidak tulus, dalam artian hanya sebagai wujud dari visi dan misi saja, karena ketidakmerataan kontur dan arus pendidikan di Indonesia. Menuluskan hati tidak semata-mata memberikan sesuatu cuma-cuma, tetapi bagaimana menjadikan yang cuma-cuma menjadi sangat berharga. Bisa jadi, pendidikan yang dibangun selama ini masih perlu ditengok lagi sampai dapur-dapurnya, karena jika bukan kita siapa lagi?

Perwujudan perihal bermain dengan waktu dapat diterapkan seperti mendirikan sebuah kegiatan. Kegiatan dapat membangun karakter, dan memanfaatkan serta mengolah waktu menjadi bermanfaat. Misalnya mendirikan sebuah rumah berbasis buku. Rumah yang memfasilitasi buku―formal dan non-formal, fiksi dan non-fiksi― dan media elektronik. Jika sebuah usaha yang didirikan dapat membantai jalan buntu banyak orang dan membuka satu peluang dalam meningkatkan daya juang seseorang.

Sebelum itu semua terwujud, yang utama dan pertama adalah penggunaan bahasa. Tanpa bahasa tidak akan ada orang yang mengerti konsep kita. Dalam bangsa kita, bangsa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Seperti yang telah tertuang pada isi Sumpah Pemuda, “Kami Putra dan putri bangsa Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Sudah jelas bahwa bahasa merupakan kebutuhan khusus suatu negara yang dijasdikan sebagai alat dan media interaksi dan komunikasi antar sesama manusia. Banyak sekali keanekaragaman bahasa dalam bangsa kita, namun hal itu tidak menyurutkan bahasa persatuan. Namun, seringkali penggunaan bahasa Indonesia tidak sesuai pada tempatnya. Bahasa Indonesia memiliki ragam-ragamnya, kaidah penulisan dan penggunaannya. Misalnya pada lingkungan kampus, penggunaan bahasa harus diperhatikan, baik pada media cetak ataupun elektronik. Penambahan ataupun pengurangan satu huruf dapat memengaruhi arti yang terkandung.

Oleh sebab itu, sebagai kampus intelektual dan membangun pemimpin masa depan, harus dibutuhkan kecermatan dan kehati-hatian, karena setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Mari budayakan membaca agar tidak lagi rentan ditelan zaman dan tidak mempermainkan pribadi diri dan bangsa kita.

 Oleh: Dian Fitriani (Pendidikan Kimia UNJ Angkatan 2016)

Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita.

Komentar Kamu?

BAGIKAN

Ruang Publik Kepada Seluruh Civitas Akademika UNJ untuk menyampaikan kritik, & Saran. Yuk Kirimkan Buah Pikiranmu