<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Karya Mahasiswa Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/karya-mahasiswa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/karya-mahasiswa/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Dec 2017 00:41:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Karya Mahasiswa Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/karya-mahasiswa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rembulan Sepanas Mentari</title>
		<link>https://unjkita.com/rembulan-sepanas-mentari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2017 00:41:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=18653</guid>

					<description><![CDATA[<p>Indah nian bunga mawar kuning yang mekar di pekarangan rumahku Gelombang indah mahkota dengan warna jingga kekuningan membuat tergiur hasrat ceria Hijau daun dan tangkainya...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/rembulan-sepanas-mentari/">Rembulan Sepanas Mentari</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Indah nian bunga mawar kuning yang mekar di pekarangan rumahku<br />
Gelombang indah mahkota dengan warna jingga kekuningan membuat tergiur hasrat ceria<br />
Hijau daun dan tangkainya membuat semakin dipuja<br />
Aku dapat melihat indah mekarnya bunga-bunga<br />
Dapat melihat burung berkicau bahagia<br />
Dapat melihat ikan muncul dipermukaan mencari udara<br />
Dan dapat melihat senyum indah dari orangtuaku, adikku, guruku, dan kawanku setiap harinya</p>
<p>Namun,<br />
Di negeri suci tiga agama ㅡdahuluㅡ<br />
Di negeri panutan bangsaku untuk rukun<br />
Terdengar tangisan pedih saudaraku</p>
<p>Senapan tepat di depan kepala yang akan dengan mudah mengoyak tengkorak<br />
Manusia tak diperlakukan manusiawi malah diperlukan bengis oleh zionis<br />
Tak ada mekar mawar menciptakan ketenangan disana<br />
Tak ada ikan, burung, kupu-kupu yang hidup disana</p>
<p>Jangankan hewan,<br />
Tak ada harap melihat hangat senyum dari saudara yang sudah terbujur kaku dengan darah menutupi cantiknya<br />
Tak ada harap pelukan perlindungan dari orangtua yang entah kabar ada di dunia atau sudah pucat pasi<br />
Hanya pekikan penyemangat dengan acungan telunjuk mengudara</p>
<p>Allahuakbar!<br />
Allahuakbar!<br />
Allahuakbar!</p>
<p>Tak ada rasa ingin mengungkit human right yang dideklarasikan dengan gamblang<br />
Hanya berjuang atas nama Allah.<br />
Karena tak ada penolong selain Allah, percayanya.<br />
Hanya segenggam do’a yang menjadi senjata abadi, bukan senjata canggih dari Trump biadab!<br />
Hanya berjuta do’a dari saudara seiman yang menjadi menyemangat dikala melihat satu persatu kawan tumbang<br />
Hanya bermilyar dukungan dari sesama manusia yang menjadi alasan mereka untuk tetap dan akan tetap berdiri tanpa alas kaki meski rembulan akan lebih panas dari mentari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh : Silviana Eka Dewi Hapsari</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/rembulan-sepanas-mentari/">Rembulan Sepanas Mentari</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Literasi Panjat Diri</title>
		<link>https://unjkita.com/literasi-panjat-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2017 00:40:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=18659</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sungguh, Tak pernah aku membenci malam nan gulita. Walau selalu malam yang membunuh senja. Walau selalu malam yang membutakan rasa. Romansa diciptakan senja. Semakin menjadi...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/literasi-panjat-diri/">Literasi Panjat Diri</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh,<br />
Tak pernah aku membenci malam nan gulita.<br />
Walau selalu malam yang membunuh senja.<br />
Walau selalu malam yang membutakan rasa.</p>
<p>Romansa diciptakan senja.<br />
Semakin menjadi saat malam tiba.<br />
Bersimpuh lalu berdo&#8217;a.<br />
Mengingat dari datang fajar sampai senja.<br />
Detik-detik penggores dosa.</p>
<p>Kemunafikan diri sebagai duri.<br />
Mengucap pembelaan, hanya janji.<br />
Padahal mereka, tapi telah ku ucap kami.<br />
Bahasa membunuh nurani.<br />
Literasi hanya media panjat diri.<br />
Agar dilabeli peduli.<br />
Padahal sabodo teuing yang di bui.</p>
<p>HAHA<br />
Tertawa terbahak,<br />
Lalu mati tersedak.<br />
Lupa, menulis adalah kejujuran.<br />
Dengan mudah aku mengumbar kemunafikan.<br />
Orang percaya? Tentu, karna aku terpercaya.<br />
Tulis, tulis, tulis dan enyahlah data.</p>
<p>HAHA<br />
Sumpah! Bukan aku yang tertawa.<br />
Oh, Tuhan tertawa disinggahsananya.<br />
Betapa goyah hambanya,<br />
Hanya karna harta atau bahkan sekedar nama.<br />
Lupa orientasi hidup bukan manusia.</p>
<p>Terbisik,<br />
Berubah walau tertatih.<br />
Jujur walau pedih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh : Silviana Eka Dewi Hapsari</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/literasi-panjat-diri/">Literasi Panjat Diri</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sumpah Pemuda, Sumpah Masa Lalu?</title>
		<link>https://unjkita.com/sumpah-pemuda-sumpah-masa-lalu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2017 12:15:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=17849</guid>

					<description><![CDATA[<p>Marilah kawan, mari kita kabarkan Ditangan kita tergenggam arah bangsa Marilah kawan, mari kita nyanyikan Sebuah lagu tentang kebebasan Ahad, 28 Oktober 1928 yang dikenal...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sumpah-pemuda-sumpah-masa-lalu/">Sumpah Pemuda, Sumpah Masa Lalu?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Marilah kawan, mari kita kabarkan<br />
Ditangan kita tergenggam arah bangsa<br />
Marilah kawan, mari kita nyanyikan<br />
Sebuah lagu tentang kebebasan</p>
<p>Ahad, 28 Oktober 1928 yang dikenal sebagai hari sumpah pemuda. Sebuah ikrar yang telah dideklarasikan dengan tegas dan lugas bahwa&#8230;</p>
<p>Pertama,<br />
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia<br />
Kedoea,<br />
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia<br />
Ketiga,<br />
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia</p>
<p>Dengan dideklarasikannya ikrar tersebut lebih menegaskan bahwa pemuda ada untuk Indonesia, rela berjuang demi kemerdekaan Indonesia, dan menjadi garda terdepan dalam memerangi kezaliman. Namun tanpa dideklarasikan pun pemuda sudah dilabeli dan diamanahkan tugas yang sangat berat, seperti agent of change, tunas bangsa, masa depan negara, wajah negara, dan lain-lain.</p>
<p>Namun&#8230;<br />
Apakah ikrar, label, dan amanah tersebut masih diemban pemuda zaman now?<br />
Masihkah peduli pada negeri? Atau sibuk panjat diri?<br />
Masihkah haus mengkritisi? Atau diam berpijak di negeri tirani?<br />
Atau bahkan memilih dilabeli apatis dari pada menjunjung idealis?<br />
Duh sebenarnya apa yang terjadi pada pemuda masa kini?<br />
Apa ini hanya stand up comedy atau wajah asli negeri?</p>
<p>Hanya segelintir pemuda yang masih berjalan dengan memegang teguh amanah yang diwarisi tersebut. Katanya mereka mencari apa yang sebenarnya terjadi di negerinya ini. Dan katanya mereka percaya ditangannya tergenggam arah bangsa, maka dari itu mereka bergerak menyuarakan sebuah keadilan dan menyanyikan lagu tentang kebebasan. Jika saja pemuda berdiam diri dan hanya menonton kasus-kasus negeri sambil minum kopi disetiap pagi, negeri ini jadi negeri sang penguasa dan rakyat akan mati perlahan.</p>
<p>Dibawah kuasa tirani,<br />
Ku susuri garis jalan ini,<br />
Berjuta kali turun aksi,<br />
Bagiku satu langkah pasti.</p>
<p>Namun apakah turun kejalan sebuah langkah yang benar?<br />
Jika benar, apakah mereka yang tidak turun ke jalan bisa dibilang apatis?<br />
Jawabannya tidak. Tidak ada yang memaksa untuk turun kejalan dan tidak ada yang menahan untuk tidak turun kejalan.</p>
<p>Dari pandangan subjektif penulis, pemuda itu ada empat jenis, yaitu</p>
<p>Pertama, mutlak apatis. Pemuda jenis ini sabodo teuing, sedikit pun tak ada rasa memiliki negeri. Karena semakin kita merasa memiliki semakin kita bergerak untuk memperbaiki, sangat berbeda dengan pemuda jenis ini. Jika ditanya opini tentang permasalahan Indonesia mereka akan menaiki sebelah alisnya lalu berkata</p>
<p>&#8220;hm ada korupsi E-KTP? Setnov nabrak tiang? Yaudah sih ada hukum yang ngurus kan&#8221;</p>
<p>Atau<br />
&#8220;Duh ga ngerti lah gua, biar mereka-mereka aja yang ngurus.&#8221;</p>
<p>Dan yang lebih parahnya<br />
&#8220;Bodo amat lah, ga ngaruh juga sama hidup gua. Toh gua makan nyari duit sendiri.&#8221;</p>
<p>Yap ini benar terjadi seperti apa yang dialami penulis.</p>
<p>Kedua, literasi panjat diri. Pemuda jenis ini pengetahuannya bisa diacungi jempol. Mengkritisi negeri dengan berbagai cara, contohnya dengan cara menulis dan debat dikelas. Mengapa debat dikelas? Karena pemuda jenis ini kebanyakan mengerti dan memahami hanya untuk penilaian dikelas. Dan kebanyakan pemuda jenis ini jika diajak diskusi diluar kelas dengan berbagai macam alibi menjawab tidak. Namun pemuda jenis ini lebih baik daripada pemuda jenis pertama tadi, setidaknya pemuda ini tau negerinya sedang tidak baik-baik saja.</p>
<p>Ketiga, peduli namun tak mengerti. Pemuda jenis ini harus dijaga baik-baik. Sebagian pemuda jenis ini hanya ikut-ikutan. Nah karena berawal dari ikut-ikutan, pemuda jenis ini tak tahu dasar permasalahannya, dikhawatirkan pemuda ini menerima informasi tanpa disaring. Dan sebagiannya lagi akan banyak mengikuti diskusi untuk mendapatkan informasi yang fakta dan aktual. Setidaknya peduli saja dulu, masalah informasi bisa didapat dengan mudah dengan cara searching ataupun diskusi.</p>
<p>Keempat, idealis. Pemuda ini lah yang menjadi garda terdepan dalam pergerakkan. Literasi bukan panjat diri yang diinginkan hanya mampu menyuarakan kegelisahan dalam hati. Mengkritisi dengan tujuan pembangunan negeri. Merangkul pemuda lain yang ingin bergerak namun tak memiliki wadah. Yang meneriakkan Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! dari dalam hati dan membuat hati yang lainnya bergetar hebat. Pemuda yang memiliki planning-planning hebat untuk Indonesia kedepannya.</p>
<p>Hidup adalah pilihan, Bung. Tinggal pilih mau jadi pemuda jenis keberapa. Jangan jadikan sumpah pemuda hanya jadi sumpah masa lalu. Negeri ini milik semua yang bernaung dibawahnya, bukan hanya milik mereka yang berkuasa. Bergerak maupun diam adalah kontribusi untuk negeri, entah kontribusi yang berbuah baik atau buruk nantinya.</p>
<p>Untuk kata terakhir penulis, getarkan hati dengan menyanyikan lagu pemersatu pemuda khususnya mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, totalitas perjuangan</p>
<p>Kepada para mahasiswa<br />
Yang merindukan kejayaan<br />
Kepada rakyat yang kebingungan<br />
Di persimpang jalan</p>
<p>Kepada pewaris peradaban<br />
Yang telah menggoreskan<br />
Sebuah catatan kebanggaan<br />
di lembar sejarah manusia</p>
<p>Wahai kalian yang rindu kemenangan<br />
Wahai kalian yang turun ke jalan<br />
Demi mempersembahkan jiwa dan raga<br />
Untuk negeri tercinta</p>
<p>Wahai kalian yang rindu kemenangan<br />
Wahai kalian yang turun ke jalan<br />
Demi mempersembahkan jiwa dan raga<br />
Untuk negeri tercinta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh : Silviana Eka Dewi Hapsari</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sumpah-pemuda-sumpah-masa-lalu/">Sumpah Pemuda, Sumpah Masa Lalu?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nyontek</title>
		<link>https://unjkita.com/nyontek/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tiyni Saftiani]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Oct 2017 07:37:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=16355</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gaduh Bisik-bisik itu terdengar nyaris nyaring Suara-suara pelan bersahutan mengharap keibaan Pembodohan! Lembar demi lembar kertas masih saja kosong Tanpa tinta menggores Wajah-wajah penuh kecemasan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/nyontek/">Nyontek</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gaduh<br />
Bisik-bisik itu terdengar nyaris nyaring<br />
Suara-suara pelan bersahutan mengharap keibaan<br />
Pembodohan!<br />
Lembar demi lembar kertas masih saja kosong<br />
Tanpa tinta menggores<br />
Wajah-wajah penuh kecemasan<br />
Was-was sepanjang masa<br />
Kanan kiri menutup kuping<br />
Beberapa dari mereka kelimpungan<br />
Memasang mata yang begitu awas<br />
Mengendap-ngendap bertanya<br />
Namun dengan sigap menampi saat sepasang mata membidik<br />
dan seakan menghardik: Kerjakan sendiri!<br />
Jawaban bukan hujan yang bisa saja jatuh dari langit cuma-cuma<br />
Butuh perjuangan untuk menemukannya<br />
Jauh sebelum ujian tiba<br />
Tidak instan dan menunggu pemberian kawan</p>
<p>Cipinang, 311017</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/nyontek/">Nyontek</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hari Ini</title>
		<link>https://unjkita.com/hari-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 May 2017 03:05:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Literasi 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=8777</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menoleh kebelakang, Tak bisa. Melihat kedepan, Tak kuasa. Hanya melipat tangan, tertunduk rapi. Bersandar di rotan, dan gumam dalam hati. Mau jadi apa nanti ?...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hari-ini/">Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Menoleh kebelakang, Tak bisa.</em></p>
<p><em>Melihat kedepan, Tak kuasa.</em><br />
<em> Hanya melipat tangan, tertunduk rapi.</em><br />
<em> Bersandar di rotan, dan gumam dalam hati.</em></p>
<p><em>Mau jadi apa nanti ?</em></p>
<p><em>Halah&#8230;&#8230;..</em><br />
<em> Biar saja pertanyaan itu terlewati,</em><br />
<em> Mau jadi apa nanti !</em><br />
<em> Lagi-lagi terlewati</em></p>
<p><em>Tak usah mengkhawatiri nanti.</em><br />
<em> Hari ini tau arti.</em><br />
<em> Hari ini tau diri.</em><br />
<em> Sudah cukup untuk nanti.</em></p>
<p><em>Biar aku tak tau nanti</em><br />
<em> Biar aku tak tau pasti</em><br />
<em> Tapi,</em><br />
<em> Aku tau arti, mau buat apa hari ini.</em><br />
<strong>Oleh: Titi Muntiarti (Pendidikan AP UNJ Angkatan 2014)</strong></p>
<p><em>Tulisan ini dipersembahkan untuk Pesta Literasi 2017 yang diselenggarakan oleh UNJKita.</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hari-ini/">Hari Ini</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rintikan yang Nyatanya Hilang</title>
		<link>https://unjkita.com/rintikan-yang-nyatanya-hilang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2016 01:36:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=5544</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hai, Berjumpa di kumpulan goresan warna ku. Nuansa di hari-hari ini berisi dengan berbagai kampanye dengan propaganda yang bervariasi. Seruan coblos nomer anu dan anu...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/rintikan-yang-nyatanya-hilang/">Rintikan yang Nyatanya Hilang</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Hai,</em><br />
<em> Berjumpa di kumpulan goresan warna ku.</em></p>
<p><em>Nuansa di hari-hari ini berisi dengan berbagai kampanye dengan propaganda yang bervariasi.</em><br />
<em> Seruan coblos nomer anu dan anu yang memiliki warna dan temanya sendiri, menghiasi miniatur negara ini, ataupun negara besarku ini.</em></p>
<p><em>Hingga hari ini masih saja aku memilih diam. Lagi-lagi mengalah pada rasa lelah dan malas mengolah kesan disetiap detik ini.</em></p>
<p><em>Lagi lagi pelatihan dengan konsep yang tak jauh beda berlangsung secara berkala di setiap fakultasnya. Lagi?</em><br />
<em> iya. Kukatakkan ini bak lingkaran kotak berbentuk segitiga yang tak pernah bertemu mana awal dan akhirnya.</em><br />
<em> Apa arti yang sebenarnya diharapkan. Hingga akhirnya birokrasi dengan cakar halusnya yang tertancap dengan semena-menanya tetap berlenggok di panggung drama.</em><br />
<em> Membawa koaran dalam pencapaian kebaikan namun terus saja membawa lagu lama.</em></p>
<p><em>Bukan rahasia lagi bila permainan iblis berbentuk kertas yang dengan bangganya dijilat oleh para penyantap dunia.</em></p>
<p><em>Hmmmmm&#8230;.</em><br />
<em> Masih.</em><br />
<em> Dengan malu menyadari,</em><br />
<em> bahwa aku masih saja terdiam dibalik rintikan ku.</em><br />
<em> Hahaha</em><br />
<em> Apa pula harapan Indonesia?</em><br />
<em> Katakan saja, rinduku kini terburai sejak lalu bersama rintikan yang diam.</em><br />
<em> Lama sudah kuyakini..</em></p>
<p><em>Rintik itu, Nyatanya sudah hilang..</em></p>
<p><em>Ini tentang rasa malu ku</em><br />
<em> bersama berbagai haluan angin yang diam.</em></p>
<p>#PovEnd</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/rintikan-yang-nyatanya-hilang/">Rintikan yang Nyatanya Hilang</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nasihat Tentang Rindu untuk Pemuda</title>
		<link>https://unjkita.com/nasihat-tentang-rindu-untuk-pemuda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2016 03:48:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=5454</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menatapmu wahai yang bermata jeli Menjadi air yang menghujani keringnya jiwa ini Memandangmu wahai yang senyumnya bak mutiara terangkai Menjadi udara segar bagi hati yang...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/nasihat-tentang-rindu-untuk-pemuda/">Nasihat Tentang Rindu untuk Pemuda</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Menatapmu wahai yang bermata jeli</em><br />
<em>Menjadi air yang menghujani keringnya jiwa ini</em><br />
<em>Memandangmu wahai yang senyumnya bak mutiara terangkai</em><br />
<em>Menjadi udara segar bagi hati yang penuh akan polusi</em></p>
<p><em>Bukannya aku sombong wahai ukhti</em><br />
<em>tapi ada kekuatan lain yang memalingkan</em><br />
<em>wajahku saat ingin memandangmu dalam</em></p>
<p><em>Bukannya aku tak sanggup bergurau merayu padamu</em><br />
<em>tapi lidah ini tertahan oleh rasa “cinta”</em><br />
<em>yang mendominasi dalam qolbu</em></p>
<p>Begitulah bait-bait syair yang ditulis oleh seorang pemuda ketika saat diserang oleh <em>“penyakit”</em> kerinduan. Mungkin itu adalah salah satu dari puluhan puisi yang ditulisnya saat dirundung asmara kepada seorang yang dipujanya. Tiap kali ia berusaha menepis bayangan sosok pujaannya yang menghantui pikiranya itu, tetap saja muncul seperti sediakala bahkan lebih agresif menggodanya.</p>
<p>Itulah yang (mungkin) dirasakan oleh seseorang (khususnya pemuda) saat dirinya mengagumi sosok yang menawan hatinya. Hampir-hampir mereka yang terserang “penyakit” ini merasa dirinya seperti orang gila atau bahkan orang yang terkena sihir. Di salah satu syair Qais bin Mulawwih yang dikenal dengan Majnun Laila:</p>
<p>Mereka mengatakan:<br />
<em>&#8220;Kamu begitu tergila-gila</em><br />
<em>dengan wanita yang kamu cintai<br />
</em><br />
Kujawab mereka:<br />
<em>Rindu memang lebih berat daripada penyakit gila.</em><br />
<em>Orang yang dilanda kerinduan tak dapat disadarkan</em><br />
<em>sepanjang tahun, tetapi orang tidak sadar</em><br />
<em>karena penyakit gila hanya memakan waktu sesaat.”</em></p>
<p>Kerinduan bisa dikategorikan <em>“penyakit”</em> manakala seseorang menjadi buta ketika melihat kekurangan seseorang yang dicintainya. Kerinduan yang tidak terkendali mempunyai konsekuensi yang lumayan menyakitkan. Kita harus bersiap dilanda kecemasan dan kegelisahan. Akal sehat pun tertutupi oleh angan-angan yang bukan-bukan. Maka tepatlah Plato mengatakan bahwa rindu merupakan aktivitas jiwa yang kosong. Sebagaimana penyair Majnun Laila di atas mengatakan :</p>
<p>Cinta kepadanya melanda diriku<br />
sebelum aku mengenal cinta<br />
Maka cinta pun menjumpai kalbu yang kosong<br />
sehingga menguasainya</p>
<p>Maka seorang muslim yang sudah ngaji pasti langsung teringat di salah satu ayat di surat Al-Jumu’ah yang berbunyi <em>“&#8230;Fadzkurullaha katsiron la’allakum tuflihuun”.</em> Maka ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Karena sejatinya kalbu yang kosong adalah yang sepi dari <em>dzikrullah.</p>
<p></em></p>
<h6><strong>Belajarlah Dari Kesucian Yusuf</strong></h6>
<p>Bukanlah seorang pemuda kalau tidak memiliki dorongan (syahwat). Bukanlah seorang pemuda kalau ia tidak memiliki hasrat kepada lawan jenis. Maka itulah yang terjadi pada diri seorang Yusuf ketika dijebak oleh permaisuri raja untuk berbuat serong. Bukankah sudah dijelaskan di kisah yang terbaik (Ahsanal Qoshoshi) dalam al-Quran bahwa ketika itu Nabi Yusuf telah berduaan di rumah sang permaisuri dan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Tidak ada penghalang saat itu untuk <em>“berbuat”</em> dengan sang permaisuri.</p>
<p>Bahkan sangat banyak faktor yang akhirnya <em>“memaklumkan”</em> seseorang untuk melakukan serong yang terjadi pada diri Yusuf. Permaisuri raja yang pastinya memiliki paras yang cantik, mungkin saja kecantikannya bertambah ketika itu saat melancarkan<em> “aksinya”.</em> Perlu diingiat pula, saat itu yang sangat berhasrat untuk <em>“berbuat”</em> adalah sang permaisuri. Semua pintu rumah pun dikuncinya supaya tidak ada orang yang memergoki. Maka telah hilang beberapa penghalang untuk Yusuf menerima tawaran dari sang permaisuri.</p>
<p>Belum lagi kalau kita kaji dari perspektif Yusuf. Dia adalah seorang pemuda, yang pastinya memiliki hasrat juga kepada lawan jenis. Dia adalah seorang budak (ketika itu), yang tidak perlu pusing memelihara nama baik dirinya, berbeda dengan orang merdeka. Dia berada jauh dari kampung halamannya, yang tidak perlu malu jika diketahui oleh keluarga dan kerabatnya. Lalu bagaimanakah kalau sekiranya ujian ini diberikan kepada pemuda selain Yusuf pada saat itu, mungkin ceritanya akan berbeda sekali.</p>
<p>Walaupun dikatakan pada kisah ini sesungguhnya Yusuf pun berhasrat melakukannya dengan wanita itu, maka ada dua pendapat mengenai ini. Pertama, Yusuf tidak mempunyai hasrat setelah melihat bukti kekuasaan Tuhannya. Seandainya tidak ada itu, maka Yusuf pun berhasrat melakukan itu. Kedua, hasrat Yusuf bersifat sepintas, lalu dia melupakannya karena Allah. Oleh karena itu, Allah memberinya pahala yang besar. Berbeda dengan sang permaisuri yang begitu menggebu-gebu dan berusaha untuk melampiaskannya namun tidak kesampaian.</p>
<p>Maka kita yang secara level keimanan sangat jauh di bawah Yusuf setidaknya bisa lebih mawas diri terhadap fitnah semacam ini. Jangan sampai terkena <em>“jebakan”</em> seperti yang dialami Nabi Yusuf. Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Yusuf tentang betapa besarnya fitnah Ikhtilath (berduaan) dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Apalagi dengan begitu banyak kesempatan yang ada untuk seorang aktivis dakwah, seperti ngobrol dengan suasana yang cair di Sosmed atau lebih parahnya di dunia nyata.</p>
<p>Karena tidak menutup kemungkinan kisah sang permaisuri yang menggoda Yusuf, melampiaskannya setelah memendam rindu yang begitu lama. Hingga menemukan celah kosong untuk berbuat serong di rumahnya. Ketampanan Yusuf yang dikatakan dapat membuat para wanita haidh, terang saja membuat sang permaisuri gelisah karena dorongan jiwanya begitu besar.</p>
<h6><strong>Ikhtitam</strong></h6>
<p>Setiap penyakit ada obatnya, dan obat paling mujarab bagi dua orang yang sedang dimabuk cinta adalah menikah. Jika dirasa belum mampu, maka puasa, menjaga pandangan dan adab pergaulan menjadi alat untuk menghindari fitnah itu. Semoga Allah selalu menetapkan hati-hati kita di dalam ketaatan kepada-Nya.</p>
<p><em>Maraji’: Taman Jatuh Cinta &amp; Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, Irsyad Baitus Salam</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh : Muhammad Rahmat Ramadhani</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/nasihat-tentang-rindu-untuk-pemuda/">Nasihat Tentang Rindu untuk Pemuda</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Malu Jadi Benalu</title>
		<link>https://unjkita.com/malu-jadi-benalu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2016 11:37:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=5418</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika dakwah ini ibarat sebuah pohon. Malulah engkau yang hanya menjadi benalu, ketika yang lain menjadi &#8216;petani&#8217; dalam menyemai bibit dakwah. Jika dakwah ini ibarat...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malu-jadi-benalu/">Malu Jadi Benalu</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika dakwah ini ibarat sebuah pohon. Malulah engkau yang hanya menjadi benalu, ketika yang lain menjadi &#8216;petani&#8217; dalam menyemai bibit dakwah.</p>
<p>Jika dakwah ini ibarat sebuah pohon. Malulah engkau yang hanya menjadi benalu, ketika yang lain menjadi &#8216;pupuk&#8217; dalam mensuburi dakwah.</p>
<p>Jika dakwah ini ibarat sebuah pohon. Malulah engkau yang hanya menjadi benalu, ketika yang lain menjadi &#8216;air&#8217; dalam menggemburkan ladang dakwah.</p>
<p>Jika dakwah ini ibarat sebuah pohon. Malulah engkau yang hanya menjadi benalu, ketika yang lain menjadi &#8216;buah&#8217; dari tanaman dakwah.</p>
<p>Malulah engkau hanya menjadi benalu di pohon dakwah.<br />
Secara kasat mata, kau memang ada pada pohon dakwah, bahkan menjadi bagian dari pohon dakwah.<br />
Akan tetapi, apa kebermanfaatanmu? Bukankah manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?</p>
<p>Malulah engkau hanya menjadi benalu di pohon dakwah.<br />
Secara lahiriah kau memang berada di barisan orang-orang berjamaah yang menegakkan Al-Quran dan Sunnah, namun batin dan ruhiyah masih sering berpayah-payah.</p>
<p>Astaghfirullah&#8230;<br />
Seharusnya engkau malu bila hanya jadi benalu, masuk dalam barisan para da&#8217;i, namun penuh daki. Ibadahnya payah. Ruhiyah sering kalah dengan rupiah. Kader namun sering keder. Junud tapi jumud. Karena amal jama&#8217;i tidak dijaga dengan istiqomah&#8230;</p>
<p>Astaghfirullah&#8230;<br />
Lebih parahnya lagi, kesemua itu ada pada diriku. Diriku hanya menjadi benalu.</p>
<p>Ya Rabb, peliharalah kesucian ruh hamba, agar hamba senantiasa bertahan dalam barisan para tentara dakwah hingga akhir hayat. Dipuncak kebaikan dengan khusnul khotimah, dipuncak iman, dipuncak pengabdian.<br />
Isy kariman au mut syahidan. Aamiin.</p>
<p>Oleh : Anas Abi Anzah</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malu-jadi-benalu/">Malu Jadi Benalu</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pancasila, Mana Saktimu?</title>
		<link>https://unjkita.com/pancasila-mana-saktimu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Annisa Indriyani]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2016 09:17:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4449</guid>

					<description><![CDATA[<p>Adanya ia korbankan ragam peristiwa Buah pikir manusia merdeka Menitip asa negara dalam lima sila Sakti kata sakral makna Menjaga Indonesia tetap jaya Ah, terlalu...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pancasila-mana-saktimu/">Pancasila, Mana Saktimu?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Adanya ia korbankan ragam peristiwa<br />
Buah pikir manusia merdeka<br />
Menitip asa negara dalam lima sila<br />
Sakti kata sakral makna<br />
Menjaga Indonesia tetap jaya</p>
<p>Ah, terlalu suci harapmu kini<br />
Tak ada adil dalam sosial<br />
Si kaya tetap kuasa<br />
Si miskin membatin prihatin<br />
Mana wajah sila lima?<br />
Masihkah sakti Pancasila?</p>
<p>Asa itu hanya gurauan<br />
Tak ada mufakat dalam musyawarah<br />
Semua tarik urat bersuara tentang ego<br />
Mencaci perspektif, menentang kebijakan<br />
Itukah cerminan sila empat?<br />
Masihkah sakti Pancasila?</p>
<p>Adalah kepuasan jiwa adu domba nyata dan maya<br />
Tebar cerita fana berepisode tiada hingga<br />
Sikut sana, sikut sini<br />
Wahai ibu Pertiwi tak nyerikah ulu hati?<br />
Nampakkah padanya sila tiga?<br />
Masihkah sakti Pancasila?</p>
<p>Berprikemanusiaan tak laku di pasaran<br />
Berprikehewanan laris manis diburu jiwa<br />
Bunuh sana, perkosa sini, perbudak iman tiada henti<br />
Adakah rasa sila dua?<br />
Masihkah sakti Pancasila?</p>
<p>Menyinyir Tuhan soal biasa<br />
Mengaku agama enggan bernorma<br />
Santai umbar zina di khalayak ramai<br />
Mendebat Ulama dengan digital<br />
Inikah manifestasi sila satu?<br />
Masihkah sakti Pancasila?</p>
<p>71 tahun tegak berdiri mencoba berdikari<br />
Hingga terkoyak tiada rupa ideologi<br />
Pancasila, mana saktimu?</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pancasila-mana-saktimu/">Pancasila, Mana Saktimu?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
