<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hari Pendidikan Nasional Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/hari-pendidikan-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/hari-pendidikan-nasional/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 May 2016 05:56:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Hari Pendidikan Nasional Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/hari-pendidikan-nasional/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>BIMBEL: Industrialisasi dalam Pendidikan</title>
		<link>https://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 May 2016 00:09:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbel]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2814</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut, itulah yang dikatakan oleh Ibnu...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/">BIMBEL: Industrialisasi dalam Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut, itulah yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusianya. Salah satu caranya ialah dengan meningkatkan pendidikan dari semua sumber daya manusianya. Begitu pentingnya pendidikan sehinga menjadi gerbang sebuah peradaban.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu kita baru saja merayakan Hari Pendidikan Nasional, hari yang seharusnya menjadi bahan evaluasi kita bersama mengenai carut marut pendidikan di Indonesia. Pada awal April yang lalu siswa-siswi SMA di Indonesia baru saja melaksanakan Ujian Nasional (UN) yang katanya sebagai alat penilaian terhadap tenaga pendidik dan kependidikan, serta satuan pendidikan. Dan beberapa hari lagi siswa-siswi SMP dan SD pun akan melaksanakan UN juga, semoga pelaksanaan UN memang benar-benar sebagai alat untuk mengukur tenaga pendidikan dan kependidikan serta satuan pendidikan.</p>
<p>Jika kita berbicara UN, maka kita tidak akan terlepas dari sebuah lembaga yang identik dengan UN, yaitu lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel). Seperti dua sisi mata uang Bimbel dan UN tidak dapat dipisahkan. Di Indonesia, Bimbel seperti sebuah kebutuhan bagi masyarakat Indonesia. Bimbel berdasarkan UU nomor 20 tahun 2003 pasal 26 ayat (4) ialah satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Bimbingan belajar (Bimbel) merupakan salah satu contoh dari lembaga kursus. Adanya Bimbel ini sesuai dengan pasal 26 ayat (5) ialah untuk membantu peserta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.</p>
<p>Jika dilihat dari definisi atas mengenai Kursus dan Bimbel, kita bisa mengetahui bahwa Bimbel merupakan salah satu jenis dari Kursus. Perbedaannya ialah, Kursus sangat mengedepankan keterampilan, sedangkan Bimbel tujuannya tidak mengedepankan keterampilan melainkan mampu menjawab soal-soal guna menghadapi ujian, baik ujian masuk PTN ataupun ujian sekolah dan ujian nasional (UN). Kedua faktor tersebut yang menjadikan Bimbel semakin berkembang, dan menjadikan Bimbel merupakan fenomena sosial dimana adanya Bimbel menyesuaikan kebutuhan industri pasar dalam dunia pendidikan.</p>
<p>Bimbel dikatakan sebagai bentuk budaya karena adanya perilaku yang berkembang di masyarakat. Para peserta didik berlomba-lomba memasuki Bimbel karena faktor agar lolos memasuki PTN favorit dan lulus UN. Adanya Bimbel menciptakan perubahan tingkah laku dalam masyarakat, dimana ketika memasuki Bimbel masyarakat akan merasakan prestise. Tingkah laku masyarakat yang berkembang seperti fenomena tersebut menyebabkan Bimbel sebagai gaya hidup (<em>Lifestyle</em>) dan kebutuhan dalam pendidikan.</p>
<p>Selain kedua faktor di atas berkembangnya Bimbel juga karena kurang optimalnya peran sekolah sebagai pendidikan formal, sehingga hal tersebut dijadikan celah oleh lembaga Bimbel untuk melebarkan sayapnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Paulston dan Le Roy.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>“Pendidikan formal mengalami kegagalan logistik dan fungsi sehingga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang begitu besar dan cepat maka munculah sistem pendidikan alternatif di luar pendidikan formal.( Wiratomo, Paulus 1986, Indonesian Non Formal Education Program: Problems of Access and The effect of The Programs on The Attitudes of Learners, Albany: State University of New York)”.</em></p>
<p>Dalam pembelajarannya di Bimbel tidak ada proses, yang ada hanya paradigma bagaimana caranya belajar dengan cepat dan tepat agar lulus UN dan masuk PTN favorit. Bimbel seolah-olah merupakan industri pendidikan yang berorientasi “lulus UN” dengan cepat dan tepat tanpa menekankan proses. Bimbel merupakan lembaga yang mempraktikkan teori Behavioristik yang memberikan stimulus dan respon kepada peserta didik sehingga peserta didik bisa dan biasa dengan soal-soal uji kognitif, teori ini dikemukanakan oleh Ivan Pavlov. Aliran ini menekankan pada terbentuknya prilaku yang tampak sebagai hasil belajar, hal tersebut sangat bertentangan dengan bunyi UU SISDIKNA Nomor 20 tahun 2003 yang sangat menekankan proses.</p>
<p>Meskipun Bimbel lahir sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan formal yang gagal, namun peran Bimbel tetap saja tidak akan mampu menggeser peran pendidikan formal, yaitu Sekolah. Hal tersebut dikarenakan di Bimbel hanya diajarkan aspek-aspek kognitif sedang aspek-aspek psikomotorik dan afektif tetap membutuhkan lembaga formal seperti sekolah untuk menerapkannya.</p>
<blockquote><p><strong>Baca juga: <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="http://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/">Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</a></span></strong></p></blockquote>
<p>Semoga dengan adanya tulisan ini bisa menjadikan kita sebagai pelaku pendidikan, menyadari bahwa dalam pendidikan proses sangat diperlukan dan menjadikan Hari Pendidikan Nasional bukan hanya satu hari dalam satu tahun untuk dijadikan bahan evaluasi. Namun, setiap hari adalah Hari Pendidikan Nasional untuk mengevaluasi pendidikan yang ada saat ini.</p>
<p>Oleh:<strong> Nur Hayati (FIS UNJ)</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/">BIMBEL: Industrialisasi dalam Pendidikan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</title>
		<link>https://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2016 18:11:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbel]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2807</guid>

					<description><![CDATA[<p>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu! Siswa telah mengandalkan Bimbel (Bimbingan Belajar) untuk keberhasilan menjawab soal-soal UN atau untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi....</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/">Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</em></p>
<p>Siswa telah mengandalkan Bimbel (Bimbingan Belajar) untuk keberhasilan menjawab soal-soal UN atau untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Lalu apa gunanya sekolah? Apakah sekolah telah berubah fungsinya hanya sekadar produsen ijazah sebagai pemenuhan persyaratan administratif untuk masuk ke jenjang pendidikan berikutnya? Benarkah kredibilitas sekolah di negeri ini sudah merosot tajam dan tak mampu mencetak siswa berkualitas?</p>
<p>Fenomena tersebut sudah sering terjadi. Wahai para guru di sekolah, seharusnya Anda tidak tenang-tenang saja! Apa yang salah dengan sistem sekolah? Apa yang salah dengan kualitas Anda? Harusnya guru cemburu ketika para siswanya ‘berselingkuh’ dengan Bimbel, tidak tenang-tenang saja seperti ini! Kondisi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi sekolah terutama para guru. Maraknya lembaga Bimbel sedikit banyak adalah representasi dari ketidakpercayaan orang tua dan siswa terhadap sekolah formal. Lihat, Bimbel menjamur dan begitu populer, digandrungi bak seperti buah yang sedang musim panen!</p>
<p>Apakah Bimbel sebagai pelengkap (pengayaan) pelajaran di sekolah? Atau… Tidak hanya itu! Apakah karena Bimbel mampu mempersiapkan siswa secara sistematis, intensif dan terpadu dalam mengerjakan soal-soal ujian apapun? Apakah karena Bimbel mempunyai bank soal yang lengkap, variasi soal yang banyak, dapat memprediksi soal seperti apa yang akan keluar pada ujian nanti? Apakah karena Bimbel mempunyai tutor yang berasal dari mahasiswa atau tamatan PTN favorit?</p>
<p><em>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</em></p>
<p>Apakah para guru di sekolah sudah tidak layak dipercaya lagi sehingga siswa lebih memilih Bimbel sebagai jaminan kelulusan dengan nilai yang tinggi? Atau sistem pendidikan sekolah yang sudah tidak layak dipercaya? Atau… apakah memang kehadiran Bimbel sangat dibutuhkan untuk mengalihkan tanggungjawab pelayanan pendidikan yang berkualitas dan meringankan tugas yang seharusnya diemban sekolah dan guru?</p>
<p>Silakan dijawab.</p>
<p>Perselingkuhan ini merupakan pemborosan waktu dan biaya. Perselingkuhan ini juga terlalu membebani siswa sehingga kebebasan waktu bagi mereka untuk mengekspresikan dan mengaktulisasikan diri menjadi terbatas karena dari pagi hingga malam harus men-<em>drill</em> soal-soal dan belajar terus secara simultan. Wahai para guru, tegakah kalian melahirkan generasi mesin dan robot penjawab soal?</p>
<p>Cemburu artinya harus bergerak! Ini namanya telah terjadi pemotongan esensi pendidikan di Bimbel. Sudah seharusnya sekolah memperbaiki kinerjanya kepada siswa untuk mengembalikan kepercayaan tersebut. Jika sekolah telah berperan sesuai dengan visi dan misi sekolah, tentu kinerjanya menghasilkan kepuasan bagi siswa. Guru dan sekolah harus bisa mengoreksi cara pembelajaran agar tetap bisa menyenangkan dan memberi layanan pendidikan yang baik, sehingga hak-hak siswa tidak tertinggal. Ingat, substansi pendidikan adalah memanusiakan manusia menjadi manusia sesungguhnya.</p>
<p><em>Wahai para guru, mari kita berefleksi!</em></p>
<p>Sekolah dan guru tidak lagi akan dipercaya oleh masyarakat, khususnya siswa yang merasa tidak diberi layanan maksimal di sekolahnya. Dan selama itu pula, lembaga Bimbel tetap akan dijadikan alternatif yang jitu untuk menjembatani masa depan peserta didik untuk diterima dan mengikuti pendidikan di jenjang berikutnya.</p>
<p><strong>Ironi Bimbel Sebagai Bahan Evaluasi Sistem Pendidikan</strong></p>
<p>Baiklah, mari kita akui, Bimbel lahir karena adanya kekurangan dari pendidikan formal, yaitu sekolah. Sistem pendidikan formal seperti di sekolah memang belum baik, karena masih menitikberatkan pada nilai atau hasil saja. Penyelenggara Bimbel, ada yang tergerak mendirikan bimbel dengan alasan ingin terlibat dalam menyelesaikan persoalan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Namun, Bimbel hadir sebagai katalis pemburuknya, yaitu komersialisasi pendidikan. Industri bimbel telah mengambil celah bisnis itu. Penyelenggara juga butuh mata pencaharian untuk mendapatkan uang dan perlu menciptakan lapangan kerja bagi yang mempunyai kemampuan mengajar.</p>
<blockquote><p><strong>Baca juga: <span style="color: #993300;"><a style="color: #993300;" href="http://unjkita.com/bimbel-industrialisasi-dalam-pendidikan/">BIMBEL: Industrialisasi Dalam Pendidikan</a></span></strong></p></blockquote>
<p><em>Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</em></p>
<p>Memang apa istimewanya Bimbel? Pendidikan berbasis teknologi informasi justru telah lebih dulu dikembangkan bimbingan belajar daripada sekolah formal. Banyak Bimbel menggunakan sarana komputer, internet dan multimedia. Para pembimbingnya juga masih <em>fresh graduate</em>. Cara mengajarnya juga sangat menyenangkan, tidak membosankan, sungguh <em>up to date</em> dengan informasi dan ilmu-ilmu pengetahuan baru.</p>
<p>Dibanding melihat sisi komersialisasi pendidikan, pemotongan esensi pendidikan di Bimbel dan lain sebagainya, ironi Bimbel yang telah terjadi dapat dijadikan bahan untuk mengevaluasi kesalahan apa yang telah diperbuat oleh sekolah dan para gurunya. Ya, sekolah dan para guru harus berani melakukan koreksi dan introspeksi diri terhadap nilai minus yang disandangnya, sehingga para siswa dan orang tuanya lebih mengandalkan Bimbel untuk melakukan proses belajar.</p>
<p>Sekolah jangan hanya memikirkan bagaimana caranya naik kelas, lulus, masuk sekolah/universitas yang bagus. Sekolah harus mulai berbenah diri untuk melakukan perubahan sistem dari berbagai aspek, baik sarana-prasarana, kurikulum, sumber belajar dan sebagainya. Selain itu, kualitas guru di sekolah juga harus ditingkatkan! Jangan sampai kualitas guru di sekolah “kalah” oleh kualitas pengajar di Bimbel.</p>
<p>Guru jangan hanya terpaku pada kurikulum tanpa mau mencari inovasi-inovasi dalam meramu materi dan menciptakan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan. Guru juga harus dilatih bagaimana mempersiapkan semua model pendekatan baru dalam implementasi praktik pembelajaran. Seperti, pembuatan satuan pembelajaran, evaluasi, alat bantu, perubahan filosofi, pergeseran paradigma interaksi pembelajaran dengan siswa dan sebagainya. Tanpa ada perubahan yang baik dilihat dari aspek profesionalisme guru, sulit dibayangkan akan terjadinya keberhasilan praktik pembelajaran di sekolah.</p>
<p>Jika siswa merasa percaya diri mengikuti berbagai seleksi setelah beberapa minggu belajar di tempat Bimbel, maka mengapa ia tidak percaya diri setelah enam tahun belajar di SD atau tiga tahun belajar di SMP/SMA/MA/SMK? Jawabannya mungkin saja metode belajar yang tidak tepat. Guru harus melakukan perubahan paradigma “mengajar” dan metode atau strategi dalam proses belajar dan pembelajarannya. Jika guru-guru di sekolah tidak melakukan terobosan strategi pembelajaran yang tepat, jangan heran proses belajar yang dilakukan di sekolah selama bertahun-tahun tidak akan berkenan di hati para siswa, dan mereka merasa bangga dengan lembaga Bimbel yang diikuti.</p>
<p>Ya, guru, sekolah dan orang tua siswa pasti telah melakukan upaya yang terbaik. Namun, jika guru hanya “menggugurkan” kewajiban melaksanakan proses pembelajaran yang ala kadarnya, sekolah hanya sekadar menjalankan perannya sebagai tempat penghasil nilai dan pencetak ijazah, dan orang tua hanya mendukung dari segi doa dan dana, maka selama itu pula akan lahir lulusan-lulusan sekolah yang tidak berkualitas. Ingat, cemburu itu artinya bergerak. Ayo, mari bergerak!</p>
<p>Sekali lagi, Selamat Hari Pendidikan! Wahai para guru jangan tenang-tenang saja, harusnya kalian cemburu!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em><a href="http://www.giaghaliyah.com">Gia Ghaliyah,</a> </em></strong><em>salah seorang tenaga pendidik yang sedang terbakar api cemburu.</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/wahai-para-guru-harusnya-kalian-cemburu/">Wahai Para Guru, Harusnya Kalian Cemburu!</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>‘’Education For All’’, Sudahkah Dirasakan Di Indonesia?</title>
		<link>https://unjkita.com/education-for-all-sudahkah-dirasakan-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Syahiidah Muthmainnah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2016 13:39:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Berkebutuhan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2799</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tepat 2 Mei kemarin adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hari dimana Ki Hajar Dewantara menperjuangkan Hak pendidikan bagi rakyat Indonesia. Bahwa pendidikan bukan hanya untuk...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/education-for-all-sudahkah-dirasakan-di-indonesia/">‘’Education For All’’, Sudahkah Dirasakan Di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tepat 2 Mei kemarin adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hari dimana Ki Hajar Dewantara menperjuangkan Hak pendidikan bagi rakyat Indonesia. Bahwa pendidikan bukan hanya untuk orang belanda dan priyayi saja, namun untuk semua kalangan. Sebagaimana nilai yg diperjuangkan bapak pendidikan kita ini, maka seharusnya ruh pendidikan ini yang kita perjuangkan. Ruh bahwa setiap anak indonesia memiliki hak yang ‘’sama’’ akan pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan hanya untuk si kaya, bukan pula hanya untuk si anak kota. Bukan hanya untuk si anak yang sudah pintar, dan bukan pula hanya untuk si anak yang &#8220;normal&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Tunggu, normal??!  Iya. &#8220;Normal&#8221;. Seperti pendikotomian yang sering diungkapkan masyarakat kita. Anak normal dan anak cacat. Oh Tuhaan&#8230; Apakah mereka meragukan ciptaan Mu?. Apa mereka tak meyakini bahwa Kau tak pernah menciptakan sesuatu yang cacat, sebagaimana sifatMu yang maha sempurna?. Ah semoga saja itu hanya karna mereka belum paham.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak bisa kita pungkiri masih banyak masyarakat Indonesia yang membeda-beda kan anak. Si cacat. Begitu lazim nya panggilan yang mereka sebut untuk anak-anak yang &#8220;berbeda&#8221; dari anak-anak pada umum nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya tak ada anak yang cacat. Karna saya yakin Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang cacat. Setiap anak itu spesial dengan keunikan dan keunggulan masing-masing, bagaimanapun kondisi si anak. Dan setiap anak memiliki kebutuhan masing-masing disetiap pertumbuhan dan pembelajarannya. Maka, bagi si anak yang berbeda dengan anak pada umum nya, saya (dan teman-teman PLB) menyebutnya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dikatakan berkebutuhan khusus karna ia memiliki kebutuhan khusus dan layanan khusus untuk bertumbuh dan belajar dibandingkan dengan teman-teman nya pada umumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejatinya kita semua dalam proses belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik. Belajar menjadi pribadi yang mandiri dan dapat bermanfaat. Termasuk anak berkebutuhan khusus. Hanya saja, waktu yang dibutuhkan untuk si khusus ini memang lebih lama dibanding anak pada umumnya. Misalnya dalam hal mengancingkan baju. Jika anak pada umumnya mampu mengancingkan baju dalam waktu 2-3 menit, anak berkebutuhan khusus (khususnya anak tuna grahita) mungkin dapat melakukannya dalam 5-10 menit. <em>See</em>? Pada akhirnya mereka mampu. Mereka bisa. Hanya saja membutuhkan waktu yang lebih lama. Begitupun dalam hal lain. Intinya, tak ada yang anak pada umumnya bisa lakukan, tak bisa dilakukan anak berkebutuhan khusus. Mereka hanya menbutuhkan waktu yang lebih dan cara yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Education For All</em>&#8221; sejatinya adalah amanat Undang-Undang Dasar 1945. Bunyi dari Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yaitu : “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Kata &#8220;setiap&#8221; diawal pasal tersebut menunjukkan bahwa tak ada satupun anak di Indonesia yang tak memperoleh pendidikan yang layak. Termasuk Anak Berkebutuhan Khusus.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya, sudahkah pemerintah menyediakan pendidikan yang layak untuk anak berkebutuhan khusus? Dan sudah setarakah hak pendidikan bagi mereka yang memiliki kebutuhkan khusus untuk kita penuhi secara adil? Atau kah hingga kini kita masih sibuk dengan pendikotomian anak normal dan anak &#8221;cacat&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga di momentum hardiknas kali ini kita bersama-sama kembali merefleksikan diri bahwa pendidikan untuk seluruh kalangan menjadi tanggung jawab bagi kita semua, tidak lagi ada dikotomi anak normal, anak cacat atau anak dalam keterbelakangan mental. Karna mereka semua punya hak yang sama dan setara.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/education-for-all-sudahkah-dirasakan-di-indonesia/">‘’Education For All’’, Sudahkah Dirasakan Di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tanpa Tanda Jasa, yang Tertinggal</title>
		<link>https://unjkita.com/tanpa-tanda-jasa-yang-tertinggal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmat Mustakim]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2016 10:51:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2786</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saban waktu, kita pernah bertatap lugu tanpa tahu, siapa yang muncul dari balik pintu di depan kelas, seseorang itu berdiri tepat di hadapannya, kamu terduduk...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/tanpa-tanda-jasa-yang-tertinggal/">Tanpa Tanda Jasa, yang Tertinggal</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saban waktu, kita pernah bertatap lugu</p>
<p>tanpa tahu, siapa yang muncul dari balik pintu</p>
<p>di depan kelas, seseorang itu berdiri</p>
<p>tepat di hadapannya, kamu terduduk rapi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>perkenalan singkat kemudian terjadi</p>
<p>hangat keakraban perlahan menyelimuti</p>
<p>sebagian besar menyambut haru</p>
<p>sisanya terdengar membisu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sejak hari itu,</p>
<p>kamu sudah mengenal sosok guru</p>
<p>yang membagi ilmunya dengan senang hati</p>
<p>juga pengalamannya yang berarti</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>walau terkadang ditemui</p>
<p>kepalamu menyandar di buku ekonomi</p>
<p>atau asyik bicara dengan teman sebangku</p>
<p>saat jam belajar tengah merayu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kalau ditegur, berarti pertanda rindu</p>
<p>perhatian yang tulus buat kamu</p>
<p>bukan untuk ditakuti</p>
<p>bukan untuk jauh dimusuhi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kamu harus beranjak dan berlari</p>
<p>mengejar cita-cita yang tinggi</p>
<p>biasakanlah untuk menyisih uang saku</p>
<p>lalu datanglah ke toko buku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>pergilah ke dunia khayalmu</p>
<p>bukan berkenang tentang masa lalu</p>
<p>bacalah berita di koran pagi</p>
<p>catatlah yang terdekat sehari-hari</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>jangan tunda untuk bilang nanti</p>
<p>apalagi sampai keburu nyawa ini pergi</p>
<p>penyesalan memang seperti hantu</p>
<p>mengikuti langkahmu selalu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ijab sah itu belakangan, ijazah dahulu</p>
<p>berikanlah nilai bagus kepada ibu</p>
<p>lanjutkanlah hingga ke perguruan tinggi</p>
<p>hingga jauh menyeberangi provinsi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kamu harus bangga pada diri sendiri</p>
<p>yang terlahir sempurna hati</p>
<p>bersyukurlah kepada Allah selalu</p>
<p>sebab usia tidak ada yang tahu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>begitulah nafas dunia; sesingkat itu</p>
<p>jadi, lekatkanlah karya di pundakmu</p>
<p>di antara nama yang abadi</p>
<p>terkelir di nisan makam yang sepi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>tak pernah ada, guru meminta diberi</p>
<p>imbalan jasa berupa materi</p>
<p>yang penting, kamu menyusul sang guru</p>
<p>dengan menggapai impian satu per satu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>terima kasih, teruntuk semua anak-anakku</p>
<p>dan siapa pun yang berada di situ</p>
<p>di sekolah tercinta, di tempat ini</p>
<p>begitu banyak cerita lekat menghampiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>*Puisi ini terlahir selepas penulis melaksanakan Praktek Keterampilan Mengajar (PKM) di SMAN 83. Semangat untuk calon Sarjana Pendidikan mahasiswa UNJ yang akan menuju detik-detik PKM. Jadilah guru yang berwawasan luas dan mendidik secara totalitas!</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/tanpa-tanda-jasa-yang-tertinggal/">Tanpa Tanda Jasa, yang Tertinggal</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hari Udik Nasional*</title>
		<link>https://unjkita.com/hari-udik-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rahmat Mustakim]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2016 10:48:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2784</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Tunggu guru selfie dulu.. Ganteng dikit, cekrek! Ganteng banyak, cekrek! Ganteng banget.. cekrek cekrek upload!” Hayooo sobat UNJKita.com, di mana lo pernah denger dan liat...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hari-udik-nasional/">Hari Udik Nasional*</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>“Tunggu guru selfie dulu.. Ganteng dikit, cekrek! Ganteng banyak, cekrek! Ganteng banget.. cekrek cekrek upload!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hayooo sobat UNJKita.com, di mana lo pernah <em>denger</em> dan <em>liat</em> kalimat itu? Yup, lead dalam tulisan ini pada mulanya merupakan salah satu tagline iklan fenomenal dari provider Axis yang begitu menciduk perhatian dari pengonsumsi tayangan di televisi. Isi iklannya? Menceritakan tentang seorang pelajar yang udah kecanduan <em>selfie</em>. Hmm&#8230; lalu?</p>
<p style="text-align: justify;">Selain bertuju sebagai alat pemasaran, jauh seperti yang Roland Barthes katakan, produksi iklan menciptakan konteks yang secara tematis mengandung makna tertentu bagi khalayak yang dituju. Bagi Barthes, iklan mengandung kode berkombinasi. Yang bila diartikan, teks mengarahkan pembaca melalui gejala petanda dari citra, dan menyebabkan pembaca menghindari yang satu dan menerima yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, oleh Axis, teks mengenai kegandrungan selfie boleh jadi produksinya sengaja dirancang untuk dialirkan lagi melalui arus sosial media. Dalam hitungan kilat, meme dengan model pelajar sekolah yang narsis langsung tersebar di banyak akun hiburan di instagram seperti @dagelan. Sebagian dari kita lalu mencontoh dengan membuat meme serupa agar dibilang lucu dan kekinian, sebagian lagi menjadi <em>silent reader</em> dengan menyungging senyum getir.</p>
<p style="text-align: justify;">Emang sih, sosial media punya peran penting selain cuma sekedar hiburan tong kosong, yaitu dalam hal penyebaran informasi. Namun, meski memiliki keragaman informasi, si pengonsumsi berita via internet justru cenderung akan menderita kekurangan besar dalam hal kedalaman dan keluasan ilmu (bukan sekedar informasi). Bila tidak dibarengi dengan menimbun kekayaan literatur dari buku, meminjam bahasa Haidar Bagir, si pengonsumsi berita via internet dipastikan akan menderita penyakit ‘amnesia buku’.</p>
<p style="text-align: justify;">Persoalan ‘amnesia buku’ dimulai ketika negara ini belum berhasil dalam mengembangkan budaya baca yang merata, ditambah masih didominasi oleh budaya tutur, masyarakat kita sudah masuk ke budaya audio-visual (radio dan televisi) yang lebih mudah menyedot perhatian masyarakat. Tambahan lagi, dalam pergulatan penuh susah payah dengan budaya audio-visual itu, kita sudah ‘terpaksa’ larut dalam budaya digital (Kompas, 28/04/16).</p>
<p style="text-align: justify;">Haidar menilai, besarnya pasokan informasi yang menerpa serta sifat sebagian besar tulisan yang tersedia di media digital telah menyebabkan para pengguna internet mengakses lebih banyak tulisan-tulisan pendek yang kurang keluasan dan kedalaman. Alih-alih gampang mencari informasi yang <em>multi-tasking</em>, justru dengan mengakses informasi gila-gilaan via internet, secara tidak langsung menjadi faktor penyebab si pengonsumsi berita tersebut lebih cepat mengakibatkan rasa capai (<em>fatigue</em>). Beda rasanya dengan menggali informasi dari buku-buku cetak yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecemasan Haidar juga dirasakan betul oleh si pembaca tulisannya. Ia katakan, bahwa pemilihan bahan bacaan melalui internet, juga sosial media, bisa mempermanenkan <em>habit</em> keengganan membaca buku. Apalagi ketika telepon pintar berlayar kecil telah mulai merampas fungsi PC/laptop ataupun tablet sebagai reader, lambat laun akan memberikan dampak besar dalam hal penurunan daya baca (literasi buku) di masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Gak perlu jauh-jauh. Dalam pola pikir mahasiswa yang miskin literasi buku pun bisa dilihat. Banyak <em>footnote</em> skripsinya dikutip melalui situs berita <em>online</em> yang bahan bacaannya lebih ringkas dari cerita pendek. Kalau buku? Ada yang mencomot dari buku lawas hasil penelitian sebelumnya. Hmm, ramalan mengenai keadaan masyarakat di masa depan seperti yang ditakutkan Nicholas G Carr mungkin ada benarnya, tentang akan lahirnya generasi “orang-orang dangkal” (<em>the shallows</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, merayakan hari momentum pun, harus juga kita sikapi dengan memperkaya beragam perspektif sejarah mengenai kelahiran hari tersebut. Peristiwa apa yang melatarbelakangi kejadian itu? Bagaimana bisa terjadi dan berkesudahan? Siapa saja yang terlibat di dalamnya? Bila orang-orang mendokumentasikan hanya dengan ucapan selamat, kita harus dengan tulisan. Bila stasiun televisi mengangkat berita <em>human interest</em> yang setiap tahunnya hanya berganti penggalan kisah, kita harus berupaya untuk mencari solusi yang konkret. Sebab, euforia yang mula-mula hadir dalam apapun bentuk kesejarahan –termasuk perayaan hari momentum setiap tahun– seperti yang Goenawan Mohamad bilang, hanya akan senantiasa berakhir menjadi melankolia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai didikan perguruan tinggi, kita sama-sama punya tanggung jawab dalam mereproduksi generasi pembaca buku. Jangan sampai masa-masa kuliah hanya dihabiskan dengan <em>wefie</em> di ruang kelas. Dilanjut nongkrong kuliner di kedai hits sambil memfoto makanannya, lalu meng<em>upload</em>nya di sosial media. Jabatan mahasiswa tingkat akhir pun disandang, hingga akhirnya lulus sidang dan diwisuda. Selepas menerima ijazah paling berharga hanya untuk memperoleh pekerjaan, orang tuanya dibiarkan telantar untuk menyaksikan anak-anaknya bahagia ber<em>wefie</em> ria. Cekrek.. cekrek.. cekrek.. Masing-masing galeri <em>smartphone</em>nya lalu penuh dengan bukti janji yang pernah diutarakan sebelumnya, “pokoknya kita harus bisa selfie bareng pake toga!”</p>
<p style="text-align: justify;">Belum sembuh penyakit ‘amnesia buku’, setelah kejadian itu, muncullah penyakit <em>kepo</em> dan <em>baper</em> yang ditularkan secara alamiah: (1) Kerja di mana? (2) Kapan <em>ngundang</em>?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>*esai jenaka yang ditulis untuk menyemarakkan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan memakai bahasa satire. Ketimbang hanya berucap &#8216;selamat&#8217; di sosial media, yuk, baca buku!</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hari-udik-nasional/">Hari Udik Nasional*</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan, Sudikah Kau Dipermainkan (Lagi)?</title>
		<link>https://unjkita.com/pendidikan-sudikah-kau-dipermainkan-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2016 03:09:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2767</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagai pelangi yang berlapis-lapis, pendidikan pun seperti itu. Tidak cukup sekali saja dilakukan, melainkan perlu adanya perbaikan secara terus menerus untuk membentuk generasi yang lebih...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pendidikan-sudikah-kau-dipermainkan-lagi/">Pendidikan, Sudikah Kau Dipermainkan (Lagi)?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagai pelangi yang berlapis-lapis, pendidikan pun seperti itu. Tidak cukup sekali saja dilakukan, melainkan perlu adanya perbaikan secara terus menerus untuk membentuk generasi yang lebih gemilang dari masa ke masa. Namun, dalam hal ini bukan seperti menulis dengan pensil di buku tulis yang apabila tidak sesuai kehendak maka dapat segera dihapus kemudian diganti dengan tulisan baru. Ini tentang bagaimana cara mendidik terbaik, keefektifan membagikan ilmu, menciptakan insan yang berkarakter kuat dan baik, memahami ilmu dengan makna yang betul, dan hal lainnya yang bisa menggambarkan kesempurnaan wajah pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali kita melihat di televisi baik sinetron, kartun, atau film bagaimana gambaran seorang guru ketika masuk ke dalam kelas? Masuk kelas dengan wajah <em>stay cool</em>, duduk di tempatnya, siswa memberi salam beramai-ramai, kemudian guru menjawab, mengecek kehadiran siswa, kemudian langsung memulai pelajaran dengan menjenuhkan. Terlebih lagi, tempat duduk siswa selalu berdua-berdua dengan jajaran rapi ke belakang dan memang selalu seperti itu. Lalu di mana cerminan suasana kelas yang menyenangkan dari hal tersebut?</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa tahun terakhir, istilah <em>student centered</em> sedang booming di dunia nyata maupun dunia maya. Student centered adalah suatu pendekatan yang dilakukan untuk mencapai pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa. Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu yang saklek melainkan guru juga bisa belajar dari siswa (secara tidak langsung). Guru pun dituntut untuk membuat siswa aktif dalam memahami konsep materi atau poin penting lainnya sehingga diharapkan siswa dapat belajar dari pengalamannya. Menarik bukan? Karena memang sebelum hal ini dijadikan sorotan, nyatanya guru masih sangat banyak yang “tidak mau ambil pusing” tentang bagaimana kondisi siswa setelah ia ajar. Hal yang terpenting yaitu materi sudah disampaikan sesuai silabus (bahkan RPP pun seringkali hanya dijadikan formalitas). Terkait siswa memahami atau tidak bukan lagi urusannya. Memang mungkin tak sekejam itu, tapi begitulah fakta yang hampir sebagian besar terlihat di lapangan. Miris bukan? Padahal pemerintah sudah menggelontorkan dana besar untuk melakukan perbaikan ini dan itu di segala sisi bidang pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Keseriusan pemerintah pun dituangkan dalam pergantian kurikulum lama dengan kurikulum yang lebih spesifik menggambarkan <em>student centered</em>. Kurikulum 2013 namanya. Kurikulum yang menggunakan pendekatan <em>scientific</em> dalam pelaksanaannya. Namun, ketika melihat di lapangan seringkali guru tidak menjalankan kurikulum tersebut dengat baik. Siswa belajar seperti sebelumnya (<em>teacher centered</em>). Siswa juga belum terlalu memahami perihal kurikulum yang diadakan untuk lebih memberikan hak-hak mereka selama KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).</p>
<p style="text-align: justify;">Terlebih lagi jika ditinjau lebih dalam, perbedaan antara kurikulum 2013 dengan KTSP 2006 memang tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal proses belajar. Kurikulum yang baru tersebut hanya lebih memerinci kurikulum yang lama. Artinya sebenarnya pemerintah tidak perlu “repot-repot” mengganti kurikulum untuk menerapkan pembelajaran berbasis <em>student centered</em>, melainkan akan lebih baik jika memfokuskan pada pencerdasan terhadap para guru terkait kurikulum yang sebelumnya sedang diterapkan. Guru hanya perlu memaksimalkan proses pembelajaran yang ia lakukan di dalam kelas dengan penuh kesadaran dan berpegang teguh pada visi yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (dengan cara memknai setiap proses pembelajaran dalam kelas).</p>
<p style="text-align: justify;">Alhasil, dapat kita saksikan bahwa kurikulum 2013 yang telah dicetuskan dan diterapkan dengan “terburu-buru” ini pun tidak berjalan dengan gemilang. Sekolah-sekolah yang telah dijadikan sample untuk menerapkan kurikulum ini pun diminta untuk kembali ke kurikulum sebelumnya. Hanya sebagian kecil yang memutuskan untuk tetap menerapkannya. Bisa jadi memang “sudah terlanjur basah” menurut pihak sekolah. Baiklah, ini menjadi pelajaran yang sangat berarti untuk para akademisi dalam memutuskan kebijakan selanjutnya. Semoga generasi Indonesia dapat menjadi contoh yang baik bagi negara lainnya, minimal bagi lingkungan sekitarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Bagai memanjat tebing di pegunungan, kita harus memilih batu atau pegangan yang kuat jika ingin terus melangkah sampai puncak. Apabila kita memungkiri hal tersebut, bersiaplah untuk mengalami hal yang tidak diinginkan. Itu pula yang terjadi dengan pendidikan.</em>”</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/pendidikan-sudikah-kau-dipermainkan-lagi/">Pendidikan, Sudikah Kau Dipermainkan (Lagi)?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dosen, Orangtua yang Terlupakan</title>
		<link>https://unjkita.com/dosen-orangtua-yang-terlupakan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2016 03:05:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Dosen]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2764</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perayaan Hari Pendidikan Nasional pada tahun 2016 ini harus dinodai dengan adanya sebuah insiden memilukan. Sungguh ironi ketika para mahasiswa sedang menyuarakan aspirasinya agar pendidikan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/dosen-orangtua-yang-terlupakan/">Dosen, Orangtua yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perayaan Hari Pendidikan Nasional pada tahun 2016 ini harus dinodai dengan adanya sebuah insiden memilukan. Sungguh ironi ketika para mahasiswa sedang menyuarakan aspirasinya agar pendidikan di Indonesia bisa jauh lebih baik lagi, di salah satu universitas di daerah Medan justru terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa terhadap dosennya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari hal tersebut, kita sebagai mahasiswa yang lahir dulunya pernah duduk di bangku sekolahan pasti pernah mendengar isitilah “guru adalah orangtua kita di sekolah”. Sehingga dapat dikorelasikan terhadap keadaan kita saat ini menjadi “dosen adalah orangtua kita di kampus”. Maka sudah seharusnya dosen-dosen kita mendapatkan hak untuk ditaati dan dipatuhi selama tidak melanggar aturan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun realita saat ini adalah ketika terjadi masa transisi dari siswa menjadi mahasiswa, norma-norma dan adab-adab yang dulu kita pelajari dan kita terapkan di bangku sekolah secara perlahan-lahan mulai dilepaskan. Saat ini masih banyak mahasiswa yang sudah tidak menaruh respek terhadap dosen di kampus, baik itu adalah dosen mata kuliah wajib maupun dosen mata kuliah umum.</p>
<p style="text-align: justify;">Nasib yang lebih parah dialami oleh para dosen mata kuliah umum, dimana mata kuliah yang diambil oleh para mahasiswa biasanya dipandang sebelah mata karena pada umumnya mahasiswa mengambil hanya untuk mencari tambahan nilai. Imbasnya adalah sikap kepada dosen ketika di dalam kelas maupun di luar kelas amat sangat tidak mencerminkan diri kita bahwa kita adalah mahasiswa yang termasuk ke dalam golongan kaum terdidik.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih banyak dari kita yang melengos atau pura-pura tidak melihat bahkan pura-pura tidak mengenal dosen kita. Jangankan berjabat tangan, menyapa, atau sekadar memberi senyum, ketika mengantri untuk naik ke dalam lift saja seolah-olah dosen kita tersebut adalah orang yang tidak pernah kita kenal sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus-kasus di atas bukanlah bermaksud untuk mengeneralisir seluruh mahasiswa, namun setidaknya hal ini dapat menjadi sebuah gambaran bahwa semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat menjamin karakter seseorang akan menjadi semakin baik pula. Karena bukanlah suatu hal yang tidak mungkin ketika saat ini siswa dan mahasiswa mulai tidak menghormati lagi guru dan dosennya adalah akibat tontonan-tontonan dari tayangan yang ada di televisi yang secara tidak sadar mampu mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk bertindak seperti yang dicontohkan oleh aktor dan aktris muda saat ini.</p>
<div style="width: 550px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="http://setia1heri.com/wp-content/uploads/2015/08/etika-komunikasi-mahasiswa-dosen-di-UIN-Syarif-Hidayatullah-Jakarta.jpg" alt="Adab Komunikasi kepada Dosen" width="540" height="960" /><p class="wp-caption-text">Adab Komunikasi kepada Dosen</p></div>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya kita dapat menjadi contoh dan panutan sehingga diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan mampu menempatkan posisi yang sesuai dengan kontur dan budaya setempat. Salah satunya adalah mampu menjalin komunikasi yang baik dengan tetap memerhatikan norma-norma dan adab-adab terhadap dosen kita. Karena keberkahan dari suatu ilmu yang kita pelajari hanya dapat didapatkan ketika orang yang mengajarkan ikhlas dan ridho terhadap ilmu tersebut, dan salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan memerhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini setidaknya dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi kita bahwa untuk menjadikan suatu negeri itu maju dalam berbagai bidang tidaklah cukup ketika hanya melakukan pembenahan terhadap struktur dan sistem pendidikan yang ada. Karena biar bagaimanapun penanaman karakter kepada generasi muda saat ini merupakan langkah yang amat sangat penting dan akan memberikan dampak yang besar terhadap kemajuan bangsa ini. Karena dulu para pemuda di zaman kemerdekaan berani menumpahkan darahnya demi tercapainya kemerdekaan bangsa ini adalah karena mereka semua memiliki karakter dan karakter tersebut haruslah sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/dosen-orangtua-yang-terlupakan/">Dosen, Orangtua yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hardiknas (Bukan) Seremonial Belaka</title>
		<link>https://unjkita.com/hardiknas-bukan-seremonial-belaka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ferly Ferdyant, S.E]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 May 2016 03:05:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2706</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selayaknya hari-hari besar nasional maupun internasional, hari pendidikan nasional menjadi sebuah momen langka setiap tahunnya.  Di setiap peringatan hari besar, maka banyak kalangan yang memperingati...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hardiknas-bukan-seremonial-belaka/">Hardiknas (Bukan) Seremonial Belaka</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selayaknya hari-hari besar nasional maupun internasional, hari pendidikan nasional menjadi sebuah momen langka setiap tahunnya.  Di setiap peringatan hari besar, maka banyak kalangan yang memperingati hari tersebut dengan berbagai cara.  Jika kemarin pada tanggal 1 Mei (<em>May Day</em>) banyak buruh yang memperingati dengan melakukan aksi turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mereka sebagai buruh, maka apa yang kita lakukan sebagai insan pendidikan di negeri ini pada hari ini? Apakah peringatan Hardiknas hanya berupa sekadar perayaan yang bersifat seremonial dan hanya dihiasi oleh upacara semata?</p>
<p style="text-align: justify;">Dari tahun ke tahun kegiatan rutinitas dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu berulang hanya begitu-begitu saja dengan orasi normatif tanpa memberikan solusi yang nyata dan ide-ide bagi pencerahan kemajuan pendidikan. Satu hal yang pasti baru dalam kegiatan peringatan tersebut yaitu tema, namun tetap saja hampa, gersang dan tiada arti.</p>
<p style="text-align: justify;">Penampilan perlente dan necis para pembina upacara bak orator ulung di atas podium tidak lebih dari sekadar menggugurkan kewajiban saja dalam melewati hari sakral yang disebut Hardiknas. Sejatinya, hari peringatan ini adalah momentum untuk introspeksi diri tentang sejauh mana kita semua (seluruh elemen masyarakat) telah berkiprah dalam mengemban amanat,tugas dan tanggung jawab dalam melayani dan memenuhi hak dasar para anak bangsa dalam menerima pendidikan. Karena menurut Anies Baswedan selaku Mendikbud RI : <em>‘’Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah &#8220;dosa&#8221; setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini&#8230;’’</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 2 Mei yang kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional merupakan hari lahir Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia yang pemikirannya menjadi benih bertumbuhnya pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara mengumandangkan pemikirannya tentang pendidikan Indonesia, yaitu <em>Ing Ngarso Sing Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani</em>, dan menerapkannya dalam sekolah Taman Siswa. Inisiatif tersebut menjadi awal bentuk reformasi pendidikan di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Ki Hajar Dewantara berfokus pada pendidikan yang berbasiskan pada guru, maka tokoh pendidikan Indonesia lainnya, yaitu Moh. Syafei menggagas pendidikan keterampilan yang sarat dengan praktek melalui pendirian pusat pendidikan INS Kayu Tanam di Sumatera Barat, yang kemudian menjadi dasar pengembangan sekolah vokasi dan kejuruan di Indonesia. Apa yang telah dilakukan oleh Moh. Syafei pun merupakan salah satu bentuk awal dari reformasi pendidikan di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita mengenal pendidikan semenjak kita kecil hingga beranjak dewasa. Saat kita tua pun nantinya pendidikan akan tetap ada. Sebagai salah satu sarana pencerdasan bagi masyarakat, pendidikan seharusnya sudah melekat di bangsa ini mengingat umur yang sudah cukup banyak di angka 70 tahun lebih kemerdekaan Republik Indonesia.  Ironisnya, masih banyak kalangan yang belum terjamah pendidikan formal di negeri ini seperti yang seharusnya.  Seperti yang ada di dalam konstitusi Indonesia, bahwa tujuan negara ini adalah salah satunya mencerdaskan kehidupan bangsa.  Apa ada yang salah dengan semua ini, dengan sejauh ini kemerdekaan bangsa kita? Bahkan bukankan ketika kita dijajah oleh Belanda dan Jepang, sejatinya karena kita bodoh. Kita bukan makhluk berpendidikan yang memiliki pola pikir tinggi sehingga tidak bisa seenaknya diperlakukan dan dijajah oleh bangsa lain.</p>
<h6 style="text-align: justify;"><strong>Ketika Pendidikan Menjadi Otokritik Semua Kalangan</strong></h6>
<p style="text-align: justify;">Nampaknya hari pendidikan nasional menjadi otokritik tersendiri bagi semua kalangan negeri ini. Kami semua setuju, jika memang salah satu pihak yang harus lebih dievaluasi adalah kinerja pemerintah sebagai penyedia layanan pendidikan.  Masih banyak program yang belum menjangkau masyarakat luas di ujung timur Indonesia sana. Bahkan, di Pulau Jawa yang katanya pembangunannya sudah maju pun masih bisa kita temui banyak anak sekolah yang harus menantang maut agar bisa bersekolah menuntut ilmu. Apa kita tidak malu kepada mereka yang berjuang mati-matian demi masa depan mereka? Jika kita punya hati, tentu itu adalah hal yang sangat ironi, tetapi sekaligus menjadi cambuk bagi kita semua agar memperhatikan betapa pentingnya pendidikan. Kita hendaknya bersyukur kepada Tuhan YME karena dahulu ketika bangsa kita mengalami penjajahan ada kalangan-kalangan berpendidikan yang sadar betapa kita sedang dijajah.  Itu lah memang sudah menjadi hakikat pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk para pejabat di negeri ini, sadarlah bahwa sudah bukan waktunya lagi kau ‘bermain’ kepentingan jika tak ingin melihat bangsa kita ini hancur lebur.  Apa kau tidak berpikir, jikalau kau selalu berpikir kepentingan individu dan golonganmu, sementara rakyat menjerit dengan keras kehidupan mereka tidak berjalan seperti yang seharusnya, engkau pun akan hancur bersama rakyat nantinya. Karena kau hanya diperbudak oleh nafsu dan kepentingan. Mulailah berpola pikir kesejahteraan bagi bangsa kita.  Ubah pola pikirmu itu wahai para pejabat yang terhormat.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk para orang tua, sadarlah bahwa hidup anakmu itu bukan hanya soal mereka bisa mencari pekerjaan. Ketika mereka sudah mempunyai pekerjaan tanpa mementingkan pendidikan, dengan sendirinya pun mereka dan engkau akan hancur karena mereka tidak memikirkan nasib negeri ini. Kita akan hancur bersama karena hanya menjadi budak negara lain yang pola pikirnya maju dan rakyatnya makmur.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk para pelajar dan mahasiswa, sadarkah kau bahwa sekolahmu itu bukan untuk main-main. Orang tuamu itu sudah bersusah payah ingin agar anaknya tidak seperti orang tuanya yang tidak sekolah.  Orang tuamu ingin anaknya menuntut ilmu dan membawa perubahan yang berarti bagi bangsa Indonesia. Karena ketika kau bisa merubah bangsa ini menjadi bangsa yang rakyatnya sejahtera, bangsa ini akan bangga memiliki peajar sepertimu. Hey kau mahasiswa yang apatis, idealis, akademis, aktivis, sadarkah bahwa kau ada dibangku kuliah untuk apa? Bukankah kau ‘didudukkan’ di kursi itu untuk menuntut ilmu? Silahkan belajar, berdemo, berdiskusi, bermain layaknya anak muda, tapi jangan kau lupakan hakikat pendidikan yanng sedang kau enyam itu. Karena peran pemuda sangatah berharga bagi bangsa ini kedepannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya hari pendidikan menjadi sebuah refleksi bagi kita semua bahwa kita terhimpit dalam pelik strata kasta manusia. Masih terjebak lingkup hitam membuai mata. Anak muda bingung kemana mereka harus membawa dirinya pergi karena mereka sudah terjebak dalam sistem industri. Pola pikirnya hanya lahir, sekolah, bekerja, mati, sistem hidup pun berpatok pada materi. Sepenggal frasa dari sebuah lagu yang menyuarakan perubahan itu layak kita resapi. Pendidikan untuk semua kalangan, semua kalangan untuk pendidikan.</p>
<h6 style="text-align: justify;">Ayo Nyalakan Pelita, Terangkan Citacita</h6>
<p style="text-align: justify;">Hari Pendidikan Nasional ini kita rayakan karena kita termasuk di antara yang sudah merasakan dampaknya. Maka pada bulan Mei ini, di mana Hari Pendidikan Nasional terletak, ayo kita ikut bergerak, ikut terlibat dalam memperluas dampak pendidikan terhadap saudara-saudara sebangsa yang belum sepenuhnya merasakan kesempatan itu. Karena itulah pada tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memilih tema <em>“Nyalakan Pelita, Terangkan Citacita”</em> sebagai tema keriaan Hari Pendidikan Nasional. Kita semua ingin pendidikan benar benar berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan membuatnya bisa melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada semua yang telah merasakan manfaat pendidikan dan di bulan pendidikan ini, mari sapalah para pendidik kita dulu. Tanyakan kabarnya, ucapkan terima kasih dan tunjukkan apreasiasi pada mereka, para pendidik dan pejuang pendidikan. Lalu mari sama-sama kita tetapkan bahwa ikhtiar memajukan pendidikan akan kita lanjutkan dan kembangkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hardiknas-bukan-seremonial-belaka/">Hardiknas (Bukan) Seremonial Belaka</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hardiknas 2016 : &#8221;Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita&#8221;</title>
		<link>https://unjkita.com/hardiknas-2016-nyalakan-pelita-terangkan-citacita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ferly Ferdyant, S.E]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 May 2016 01:57:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=2721</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini kita kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional (hardiknas). Mari kita panjatkan puji dan puja ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hardiknas-2016-nyalakan-pelita-terangkan-citacita/">Hardiknas 2016 : &#8221;Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita&#8221;</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari ini kita kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional (hardiknas). Mari kita panjatkan puji dan puja ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, atas ijin, rahmat dan karunia-Nya kita dapat kembali berkumpul merayakan semangat, capaian dan cita-cita pendidikan dan kebudayaan bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada para pegiat pendidikan di seluruh penjuru Nusantara, ijinkan saya menyampaikan apresiasi atas peran aktifnya dalam mencerdaskan saudara sebangsa. Kepada Ibu dan Bapak pendidik di seluruh jenjang, yang tak lelah menyalurkan inspirasi, membuka jalan pencerahan, dan membangkitkan asa setiap insan yang dididiknya agar menjadi manusia yang berkarakter, berpengetahuan dan memberikan faedah bagi sekitarnya, ijinkan saya atas nama pemerintah menghaturkan rasa hormat mendalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Pendidikan Nasional kita rayakan sebagai hari kesadaran tentang pentingnya kualitas manusia. Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika tinggi kualitas manusianya. manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Segala capaian yang kita raih sebagai individu maupun sebagai bangsa kolektif tak lepas dari persinggungan dengan pendidikan. Mutu dan jenjang pendidikan berdampak besar pada ruang kesempatan untuk maju dan sejahtera. Maka memastikan setiap manusia Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang bermutu sepanjang hidupnya sama dengan memastikan kejayaan dan keberlangsungan bangsa.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Dunia yang berbeda</h3>
<p style="text-align: justify;">Dunia saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia beberapa dekade lalu. Perubahan terjadi begitu cepat dalam skala eksponensial yang tidak pernah ditemui dalam sejarah umat manusia sebelumnya. Revolusi teknologi menjadi pendorong lompatan perubahan yang akan berpengaruh pada cara kita hidup, cara kita bekerja, 2 dan tentu saja, cara kita belajar. Meramalkan masa depan menjadi semakin sulit karena ketidakpastian perubahan yang ada. Namun yang harus kita pastikan kepada anak-anak kita adalah bahwa kita memberikan dukungan sepenuhnya kepada mereka untuk menyiapkan diri meraih kesempatan yang terpampang di hadapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu dukungan yang perlu kita berikan pada anak-anak Indonesia adalah memastikan bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang mereka butuhkan untuk menjawab tantangan jamannya. Keterampilan utuh yang dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia di abad 21 ini mencakup tiga komponen yaitu kualitas karakter, kemampuan literasi, dan kompetensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Karakter terdiri dari dua bagian. Pertama, karakter moral, sesuatu yang sering kita bicarakan. Karaker moral itu antara lain adalah nilai Pancasila, keimanan, ketakwaan, intergitas, kejujuran, keadilan, empati, rasa welas asih, sopan santun. Yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah karakter kinerja. Di antara karakter kinerja adalah kerja keras, ulet, tangguh, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan. Kita ingin anak-anak Indonesia menumbuhkan kedua bagian karakter ini secara seimbang. Kita tak ingin anak-anak Indonesia menjadi anak yang jujur tapi malas, atau rajin tapi culas. Keseimbangan karakter baik ini akan menjadi pemandunya dalam menghadapi lingkungan perubahan yang begitu cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Literasi dasar menjadi komponen kemampuan abad 21 yang perlu kita perhatikan berikutnya. Literasi dasar memungkinkan anak-anak meraih ilmu dan kemampuan yang lebih tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Bila selama ini kita berfokus pada literasi baca-tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat, maka kini kita perlu pula memperhatikan literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial dan literasi budaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir dan tak kalah pentingnya adalah komponen kompetensi. Abad 21 menuntut anak-anak Indonesia mampu menghadapi masalah-masalah yang kompleks dan tidak terstruktur. Maka mereka membutuhkan kompetensi kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi serta kemampuan kolaborasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap anak lahir sebagai pembelajar, tumbuh sebagai pembelajar. Kita semua menyaksikan sendiri betapa anak-anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang besar dan keberanian untuk mencoba. Proses belajarnya didapatkan melalui permainan dan petualangan. Lalu saat ia mulai melangkah masuk ke sekolah, ia mulai berhadapan dengan struktur dan berbagai peraturan sebagai bagian dari sebuah model masyarakat mini. Struktur dan berbagai peraturan yang ia hadapi ini dapat mengarahkan mereka terus menjadi pembelajar, atau justru sebaliknya, meredupkan hasrat belajarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah tugas kita semua untuk memastikan binar keingintahuan di mata setiap anak Indonesia, serta api semangat berkarya di dalam dirinya tidak akan padam. Adalah tugas kita memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia untuk berkontribusi, memajukan dirinya, memajukan masyarakatnya, memajukan kebudayaan bangsanya. Rasa percaya dari orang dewasa kepada anak-anak untuk berkarya dan ikut membawa kebudayaan kita terus bergerak melangkah maju adalah kunci kemajuan negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari Pendidikan Nasional ini kita rayakan karena kita termasuk di antara yang sudah merasakan dampaknya. Maka pada bulan Mei ini, di mana Hari Pendidikan Nasional terletak, ayo kita ikut bergerak, ikut terlibat dalam memperluas dampak pendidikan terhadap saudara-saudara sebangsa yang belum sepenuhnya merasakan kesempatan itu. Karena itulah pada tahun ini kita memilih tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Citacita” sebagai tema keriaan Hari Pendidikan Nasional. Kita ingin pendidikan benarbenar berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan membuatnya bisa melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita perluas keriaan pendidikan dan kebudayaan selama sebulan ke depan. Kita bayar balik apa yang telah kita dapatkan dari pendidikan, kita gelorakan semangat bergerak untuk pendidikan, dan kita teruskan ikhtiar bersama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada semua yang telah merasakan manfaat pendidikan dan di bulan pendidikan ini, sapalah para pendidik kita dulu. Tanyakan kabarnya, ucapkan terima kasih dan tunjukkan apreasiasi pada mereka, para pendidik dan pejuang pendidikan. Lalu mari sama-sama kita tetapkan bahwa ikhtiar memajukan pendidikan akan kita lanjutkan dan kembangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Melapangkan dan Maha Meninggikan, selalu meridhai ikhtiar kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kita tercinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Hari Pendidikan Nasional,</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat merayakan dan memeriahkan bulan pendidikan dan kebudayaan.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hardiknas-2016-nyalakan-pelita-terangkan-citacita/">Hardiknas 2016 : &#8221;Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita&#8221;</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
