<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini Alumni Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/opini-alumni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/opini-alumni/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jun 2020 07:07:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Opini Alumni Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/opini-alumni/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Merawat Pemikiran Pendidikan H.A.R. Tilaar</title>
		<link>https://unjkita.com/merawat-pemikiran-pendidikan-h-a-r-tilaar/</link>
					<comments>https://unjkita.com/merawat-pemikiran-pendidikan-h-a-r-tilaar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKITA.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2020 07:07:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=22950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kebhinnekaan selalu menjadi diskurus yang relevan pada konteks masyarakat yang multikultural. Perbincangan terhadap persatuan bangsa tidak boleh stagnan, harus selalu dirawat, disegarkan, disadarkan, agar terinternalisasi...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/merawat-pemikiran-pendidikan-h-a-r-tilaar/">Merawat Pemikiran Pendidikan H.A.R. Tilaar</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kebhinnekaan selalu menjadi diskurus yang relevan pada konteks masyarakat yang multikultural. Perbincangan terhadap persatuan bangsa tidak boleh stagnan, harus selalu dirawat, disegarkan, disadarkan, agar terinternalisasi dan menjadi cara pandang kehidupan masyarakat Indonesia. Meskipun beberapa konflik telah terdeeskalasi, namun faktor sosio-historis tetap memiliki potensi konflik dikemudian hari.</p>
<p>Kematangan toleransi di Indonesia perlu direfleksikan melalui laporan tahunan Social Progress Index yang melihat kualitas kemajuan sosial suatu negara. Laporan terbaru, pada 2019 skor toleransi dan inklusi Indonesia adalah 39.96 dari skor 100. Negara tetangga seperti Malaysia memiliki skor 43.37 dan Singapura 52.32. Dari 149 negara Indonesia menempati peringkat 99, Malaysia 87, sementara Singapura 56. Bila dirinci salah satu subkomponen toleransi dan inklusi yaitu diskriminasi dan kekerasan terhadap minoritas, Indonesia peringkat 101. Data ini merupakan indikator ataupun survei persepsi atas dinamika sosial yang terjadi.</p>
<p>Masyarakat membutuhkan lembaga pendidikan, sebagai transformasi kebudayaan masyarakat dan pengembangan keterampilan. Namun, perkembangan pendidikan dan kurikulum belum terangkai secara utuh dengan belum tuntasnya membumikan toleransi dan kebhinnekaan. Konflik antarsuku di Sampit, konflik kepentingan berbalut agama di Ambon, konflik antar golongan keagamaan, dan gerakan separatisme adalah pelajaran sekaligus pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Pada titik ini lembaga pendidikan dipertanyakan perannya, sejauh mana kontribusi lembaga pendidikan menanamkan kebhinnekaan?</p>
<p>Sejak dirancangnya Rencana Pelajaran 1947 (bentuk kurikulum pertama di Indonesia, Rencana Pelajaran 1960, hingga Kurikulum 2013 ada satu aspek yang perlu menjadi sorotan, karena menyangkut cara pandang kehidupan masyarakat Indonesia yaitu multikulturalisme. Tilaar pernah mengatakan urgensi pembangunan sosial budaya ini, “pembangunan itu terjadi kalau ada dialog, dialog itu terjadi karena budaya. Nah itu adalah arti budaya di dalam pembangunan berkelanjutan.”</p>
<h2>Re-konstruksi Multikulturalime oleh H.A.R Tilaar</h2>
<p>Masyarakat itu dinamis, cara pandangannya terus berubah, kebudayaan serta sistem pendidikannya berkembang. Pada konteks masyarakat Indonesia yang multikultur menurut Tilaar perlu merekonstruksi konsep multikulturalisme. “Kebudayaan kita itu adalah kebudayaan Nusantara, yang multikultural, disitulah letak kekuatan kita itu. Bukan suatu bangsa yang satu bahasa, tapi sekian ratus bahasa, sekian ratus suku bangsa kita, tapi kita mempunyai kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Disitulah letak kekuatannya.” Cara pandang yang perlu diubah yakni berbagai perbedaan ini bukanlah sumber konlfik, melainkan sumber kekuatan bangsa. Salah satu kekuatannya itu apa yang disebut kearifan lokal bangsa Indonesia. The Local Wisdom kita yang hidup di tengah-tengah kekuatan Globalisasi yang tidak memiliki jiwa.</p>
<p>Pandangan multikulturalisme pada dasarnya mengandung pengertian pengakuan terhadap keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Keragaman budaya tersebut berarti pula adanya pengakuan akan eksistensi dari budaya-budaya yang dimiliki oleh berbagai sukubangsa. Menurut Tilaar ada dua prinsip penting dalam pengertian multikulturalisme:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, budaya yang dimiliki tiap suku bangsa tidak bersifat statis, bagaimanapun usaha masyarakata setempat menutup diri, tetapi akan berkembang dengan cepat atau lambat sesuai perubahan zaman.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, perbedaan kebudayaan antarsuku tidak menjadikan alasan bermusuhan satu dengan yang lain, akan tetapi memupuk kebanggaan dan mencari nilai-nilai yang bersamaan atau dapat dicontoh oleh suku-suku yang lain itu.</p>
<p>Kedua prinsip kebhinnekaan masyarakat merupakan suatu proses dan bukan suatu yang hadir begitu saja. Proses demikian adalah proses pendidikan. Ilmu pengetahuan dan tekonologi hanya sebagai alat bantu mewujudkan kondisi ini. Tilaar mengatakan, <em>“Hanya manusia yang punya moral, dan moral itu tidak bisa ditularkan dengan IT. Dia bisa bantu, tapi moral itu, baik, buruk, kerjasama tidak bisa dibentuk melalui IT. Nah inilah perkembangan moralitas, menghargai orang lain, atau yang disebut empati antar manusia dan tidak bisa dibentuk melalui IT. Yang hanya bisa dibentuk melalui relasi, dialog antar sesama.”</em> Tugas yang tidak akan pernah usai ialah membangun toleransi di dalam menyelengarakan kehidupan bersama, demi membangun kehidupan Indonesia yang aman dan sejahtera.</p>
<p>Oleh: <strong>Fatoni Ihsan</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/merawat-pemikiran-pendidikan-h-a-r-tilaar/">Merawat Pemikiran Pendidikan H.A.R. Tilaar</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/merawat-pemikiran-pendidikan-h-a-r-tilaar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bucin Ketokohan</title>
		<link>https://unjkita.com/bucin-ketokohan/</link>
					<comments>https://unjkita.com/bucin-ketokohan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 May 2019 22:02:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://unjkita.com/?p=22030</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akui sajalah, sudah lama kita menjadi budak cinta (bucin) ketokohan. Bukan saat Pemilu ini saja. Kita terpukau dengan ketokohan, tapi tidak pada pikiran, ide, gagasan,...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bucin-ketokohan/">Bucin Ketokohan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akui sajalah, sudah lama kita menjadi budak cinta (bucin) ketokohan. Bukan saat Pemilu ini saja. Kita terpukau dengan ketokohan, tapi tidak pada pikiran, ide, gagasan, paham, nilai, dan gerak yang dibawa dan dilakukan sang tokoh. Alhasil saat tokoh itu benar, kita menyanjungnya setinggi langit, dan ketika dia salah, kita tetap menganggapnya benar, menyembunyikan kesalahannya, membelanya mati-matian, dan “mengharamkan” orang lain mengkritiknya. Pokoknya tokoh kita harus terlihat kinclong dan jangan ada noda sedikitpun.</p>
<p>Maka betapa bahayanya menjadi bucin ketokohan ini. Kita terancam menipu dan membodohi diri sendiri. Bahaya dan rugi juga sebenarnya buat sang tokoh. Karena si bucin kerjanya hanya menjilat-jilat, memuji-muji melulu dan tidak enakan mengkritik. Akibatnya sang tokoh bisa merasa benar-benar saja dengan apa yang diucapkan dan dilakukannya. Dia jadi tidak tahu kesalahannya, dan dengan begitu, dia tidak memperbaikinya. Citra baiknya pun terancam merosot.</p>
<p>Padahal, kita, umat Islam, sebenarnya sudah memahami dan meyakini bahwa hanya Nabi sajalah yang terjaga dari kemaksiatan dan dosa (ma’shum). Selain Nabi, kita semua tak luput dari kedua hal itu. Tapi kita mendadak lupa dengan hal mendasar ini manakala kita menjadi bucin. Seakan-akan kita menyejajarkan tokoh kita dengan para Nabi.</p>
<p>Yang bisa salah dan berdosa ya kita-kita ini dan tokoh-tokoh idola kita, seperti Prabowo, Jokowi, Kiai Ma&#8217;ruf, Sandiaga Uno, Megawati, SBY, Amien Rais, Fadli Zon, Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung, Fahri Hamzah, Eggi Sudjana, Kivlan Zen, Habib Rizieq, Yusril, Mahfud MD, Ahok, Anies, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Said Aqil, Quraish Shihab, Cak Nur, Cak Nun, Syafii Maarif, Haidar Bagir, Felix Siauw, Ulil Abshar Abdalla, Tengku Zulkarnain, UBN, UAS, Natsir, Aidit, Karl Marx, Pramoedya Ananta Toer, Hamka, Bung Karno, dan tokoh-tokoh lainnya.</p>
<p>Karena mereka semua bisa salah, maka tidak bisa kita benarkan semua omongan, sikap, dan perilakunya. Juga tidak bisa kita salahkan sepenuhnya omongan, sikap, dan perilakunya. Lantaran mereka juga bisa benar. Jadi, mending kita lebih melihat pada pikiran, ide, gagasan, paham, nilai, dan gerak yang dibawa dan dilakukan oleh sang tokoh. Bukan malah tertawan dengan ketokohan. Ini agar pikiran kita bisa merdeka, kritis, jujur, proporsional, dan objektif dalam menilai tokoh baik ketika mereka benar maupun salah.</p>
<p>Kalau tokoh-tokoh tadi salah, maka sudah sepatutnya dikritik. Tentu dengan niat meluruskan. Bukan “meludahinya” dengan caci maki, dan merasa paling benar sendiri atau sampai mengulik-ulik masalah pribadinya dan mencari-cari kesalahannya yang lain. Sementara jika mereka benar, sudah selayaknya didukung dan diikuti. Tentu juga dengan cara-cara yang tidak berlebihan. Tidak lantas mengkultuskan atau mensucikannya. Sewajarnya sajalah. Karena sekali lagi, tokoh-tokoh ini bukan Nabi.</p>
<p>Tidak Ikut Masuk Penjara dan Kemakan Hoax<br />
Dengan kita menyadari bahwa tokoh-tokoh tadi bisa salah, maka kita bisa tidak ikut masuk penjara bersama sang tokoh. Maksudnya begini. Bisa saja tokoh-tokoh itu melanggar hukum. Entah karena ketidaktahuan, ketidaksengajaan, atau kekhilafannya melakukannya. Kalau kita menjadi bucin, maka kita akan menganggap perbuatan tokoh itu tidak melanggar hukum. Bahkan kita turut mendukung dan mengikuti langkahnya. Akibatnya bisa berjamaah masuk bui.</p>
<p>Selain bisa masuk bui, menjadi bucin bisa membuat diri kita kemakan hoax. Di era banjir informasi ini, tokoh-tokoh kita bisa saja menyebarkan hoax. Mungkin saja karena ketidaksengajaan dan ketidaktahuannya. Kalau kita jadi bucin, maka kita akan langsung percaya begitu saja dengan hoax yang disebarkan sang tokoh. Karena bagi kita, apa yang disebarkan sang tokoh pasti benar atau info valid. Apalagi info itu menguntungkan kubunya dan merugikan lawannya. Maka dengan semangat 45, jempol kita akan menyebarluaskannya ke facebook, twitter, instagram, dan grup-grup whats app keluarga! Demi longsornya wibawa lawan. Sialnya, kita tidak tahu kalau informasi itu sebenarnya hoaks. Belakangan hari baru tahu ketika dilaporkan lawan ke polisi dan akhirnya kita harus menginap di penjara. Lalu kita tertunduk malu dan menyesal di pojok sel. Ya, benar, penyesalan memang selalu datang terlambat.</p>
<p>Tapi kalau kita bukan dari golongan bucin, maka kita akan lebih kritis dan hati-hati dalam membaca dan menyebarkan informasi dari sang tokoh tadi. Salah benarnya informasi ditelusuri dengan pencarian berbagai data dan fakta. Sehingga kesimpulan informasi itu benar atau hoax akan terjawab valid. Sehingga kita tidak kemakan hoaks. Ini semua dilakukan bukan berarti kita tidak sedang menghormati tokoh. Bukan begitu. Tapi dengan melakukan itu, justru kita membantu memberi tahu ke tokoh bahwa ini hoax loh Pak, Bu. Tokoh yang rendah hati dan open mind tentu akan senang dan berterimakasih kepada kita. Karena ia jadi tahu bahwa informasi yang disebarkannya itu hoax. Dan selanjutnya ia bakal mengklarifikasi kepada publik agar tidak ikut kemakan hoax.</p>
<p>Maka, mari kita segera insyaf dan mengakhiri kisah hidup menjadi bucin ketokohan. Sudah saatnya kita move on, guys di bulan Ramadhan ini!</p>
<p><strong>Andi Ryansyah</strong>, Esais tinggal di Jakarta</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/bucin-ketokohan/">Bucin Ketokohan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://unjkita.com/bucin-ketokohan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Surat Cinta untuk Bapak Tito Karnavian</title>
		<link>https://unjkita.com/surat-cinta-untuk-bapak-tito-karnavian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Oct 2017 11:31:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Tito Karnavian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=15951</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaykum. Salam sejahtera untuk Bapak Tito. Bagaimana kabarnya Pak? Semoga sehat selalu. Apa tidurnya nyenyak tadi malam, Pak? Kebetulan tidur saya kurang nyenyak beberapa hari...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/surat-cinta-untuk-bapak-tito-karnavian/">Surat Cinta untuk Bapak Tito Karnavian</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaykum.<br />
Salam sejahtera untuk Bapak Tito.</p>
<p>Bagaimana kabarnya Pak? Semoga sehat selalu.<br />
Apa tidurnya nyenyak tadi malam, Pak?</p>
<p>Kebetulan tidur saya kurang nyenyak beberapa hari ini, teringat adik-adik saya yang masih ditangkap dan ditahan pihak kepolisian. Pastinya tidur mereka lebih tidak nyenyak dibanding kita ya, Pak. Kasihan.</p>
<p>Apalagi kabarnya mereka sempat dipukuli pihak kepolisian, terlihat dari foto-foto mereka yang beredar di media sosial. Ada yang matanya lebam membiru, bibirnya bengkak, hidungnya berdarah mungkin patah.<br />
Merinding saya membayangkannya, pasti tidurnya makin tidak nyenyak. Berbeda sekali dengan kita ya Pak yang sehat dan mungkin sedang makan enak.</p>
<p>Kabarnya adik-adik kami ini agak nakal, berdemo melewati jam 18.00, padahal telah dijelaskan dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a Perkap No. 7 Tahun 2012, bahwa “Penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan, pada tempat dan waktu sebagai berikut: Di tempat terbuka antara pukul 06.00 sampai dengan 18.00 waktu setempat;…”</p>
<p>Harus diakui dalam konteks ini mereka memang salah. Tak perlu dibela.</p>
<p>Tapi saya percaya polisi adalah orang-orang pilihan, pribadi cerdas yang mampu berdialog dan berkomunikasi persuasif. Apalagi yang dihadapi hanya mahasiswa yang sedang sholawatan dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Agaknya teramat berlebihan jika mereka harus dipukuli hingga babak belur.</p>
<p>Kata Bang Haji Rhoma &#8220;Masa muda masa yang berapi-api&#8221;, pastinya saat itu mereka sedang sangat bersemangat dan gigih untuk bertemu ayahanda tercinta, Bapak Jokowi. Sehingga sampai malam pun mereka setia menunggu, asal bisa bertemu Pak Jokowi untuk tujuan mulia, menyampaikan evaluasi dan masukan atas 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK.</p>
<p>Tidak semua pemuda masih memikirkan kondisi negara, apalagi mau susah payah datang ke istana. Mereka yang kemarin bapak pukuli adalah aset bangsa, anak-anak muda yang kritis dan peduli. Toh, yang mereka perjuangkan adalah nasib rakyat banyak, termasuk nasib Pak Polisi dan keluarganya di rumah.</p>
<p>Mereka mengira asalkan aman dan tidak membuat kerusakan sepertinya tidak masalah untuk aksi hingga larut malam, mencontoh aksi menyalakan lilin yang waktu itu diizinkan sampai malam hari, tidak dibubarkan, bahkan dijaga oleh aparat kepolisian.</p>
<p>Sama-sama bentuk penyampaian aspirasi, dilakukan di malam hari, tapi tragis, sikap dari kepolisian yang jauh berbeda.<br />
Sungguh adil.</p>
<p>Bahkan mereka dipukuli hingga berdarah dan babak belur. Sungguh beradab.</p>
<p>Dalam Pancasila, setelah sila pertama tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sila utama antar manusia adalah sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Jika polisi sudah tidak adil dan tidak berabab, hati-hati Pak, Polisi bisa di cap Anti-Pancasila. *senyum</p>
<p>Pecinta binatang saja marah jika lihat binatang dipukuli. Ini mahasiswa dipukuli. Kaum muda terdidik diperlakukan tidak menusiawi. Seluruh rakyat bisa marah, Pak.</p>
<p>Ingat Pak, kaum muda terdidik lah yang dulu menyatukan bangsa ini dengan sumpah pemuda, mereka juga yang merancang kemerdekaan Republik ini, menghadirkan revolusi tahun 1966, membawa angin perubahan dengan Reformasi di tahun 1998. Sejarah Indonesia adalah sejarah tentang mahasiswa.</p>
<p>Penganiayaan terhadap kaum muda terdidik terbukti selalu berakhir dengan hancurnya sebuah rezim.</p>
<p>Jadi, bersikap keras terhadap mahasiswa adalah langkah yang salah kaprah.</p>
<p>Saran saya, bersegeralah minta maaf Pak, lepaskan adik-adik mahasiswa yang masih ditahan, dan perbaiki kinerja kepolisian. Jika tidak, saya khawatir sejarah akan berulang.</p>
<p>Ini bukan ultimatum, hanya ungkapan rasa cinta dari seorang rakyat yang tidak ingin kepolisian dianggap anti pancasila karena bersikap tidak adil dan tidak beradab.</p>
<p>Salam cinta,</p>
<p><strong>Agus Taufiq</strong></p>
<p><strong>*penulis adalah alumnus Fakultas Teknik Universitas Indonesia angkatan 2009, pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Mesin FT UI 2011 dan Ketua Umum BEM FT UI 2012.</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/surat-cinta-untuk-bapak-tito-karnavian/">Surat Cinta untuk Bapak Tito Karnavian</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Alumni IKIP Jakarta Menyambangi Prof. Conny Semiawan</title>
		<link>https://unjkita.com/ketika-alumni-ikip-jakarta-menyambangi-prof-conny-semiawan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jul 2017 06:33:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Professional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Bangsa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=11825</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Refleksi Kritis untuk Civitas UNJ) Selalu ada waktu dan sejarah untuk dikenang. Tidak terkecuali bagi Alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ) ketika hari ini, Jumat 7...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ketika-alumni-ikip-jakarta-menyambangi-prof-conny-semiawan/">Ketika Alumni IKIP Jakarta Menyambangi Prof. Conny Semiawan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>(Refleksi Kritis untuk Civitas UNJ)</strong></h4>
<p>Selalu ada waktu dan sejarah untuk dikenang. Tidak terkecuali bagi Alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ) ketika hari ini, Jumat 7 Juli 2017 menyambangi rumah Sang Guru, Ibu Prof. Dr. Conny Semiawan. Bukan sekadar silaturahim, tapi sekaligus memanggil memori Sang Guru. Agar tetap dihormati, agar dapat dipanggil kembali untuk &#8220;esok yang lebih baik&#8217;.</p>
<p>Adalah Prof. Dr. Conny Semiawan. Mungkin sekitar 28 tahun, alumni IKIP Jakarta tidak bertemu lagi. Beliau adalah salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang luar biasa. Sekaliber Prof. HAR Tilaar, Prof Winarno Surakhmad, Dr. Sudjatmoko di era 1990-an. Ibu Conny, begitu alumni IKIP Jakarta memanggilnya. Selama 2 periode (1984-1992) menjabat sebagai Rektor IKIP Jakarta. Seorang rektor yang &#8220;hidup&#8221; di era keras rezim Orde Baru. &#8220;Sekali demo, maka kalian akan aku bungkam&#8221; begitu rasa mencekam di kalangan kampus di bawah rezim Presiden Soeharto.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h6><strong>Tapi kala itu, apakah anak-anak IKIP Jakarta dibungkam?</strong></h6>
<p>Sama sekali tidak. Di bawah kepemimpinan dan tangan dingin seorang Ibu Conny, IKIP Jakarta saat itu menjadi &#8220;Center of Excellence&#8221;, sebagai salah satu kampus tempat  lahirnya gagasan dan pergerakan &#8220;perlawanan terhadap rezim&#8221; yang kritis dan elegan. Kampus bukan hanya &#8220;kawah candradimuka&#8221; hadirnya gagasan akademik, riset dan intelektualias semata. Tapi kampus, harus mampu menjadi &#8220;ruang terbuka&#8221; untuk menyampaikan aspirasi dan mimbar kebebasan berpikir. Untuk siapapun; mahasiswa maupun dosen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h6><strong>Di IKIP Jakarta dulu, ketika Ibu Conny mendidik kami; Ibu Conny memimpin kampus.</strong></h6>
<p>Jangankan anak-anak yang apatis atawa gila akademik hingga pintar. Anak-anak yang &#8220;nakal&#8221; pun bukan hanya dilindungi tapi juga &#8220;ditemani&#8221;. Di era beliau, mahasiswa kritis dan pendemo &#8212; termasuk dosen &#8212; bukan malah dimusuhi atawa &#8220;ditenggelamkan&#8221; istilah sekarang. Tapi dirangkul, diajak berdiskusi secara intensif. Tujuannya sederhana, agar tercipta iklim akademik dan lingkungan kampus yang kondusif dan kompetitif.  Agar sikap kritis yang ada, bernilai tambah bagi kampus bagi kegiatan-kegiatan kampus yang lebih produkktif.</p>
<p>Anak-anak &#8220;nakal&#8221; itu biasanya aktivis mahasiswa yang baru bisa kelar kuliah di atas 5 tahun; kerjanya demo-demo dan nongkrong diskusi di kampus hingga larut malam. Jika perlu menginap di kampus. Berbagai kebijakan kampus dikritisi, didemo oleh anak-anak &#8220;nakal&#8221; ini. Sering kali, mereka berseberangan dengan rektor atawa kampus, tapi sekali lagi tetap &#8220;ditemani dan dirangkul&#8221; oleh Ibu Conny agar tetap kritis yang elegan dan kompetitif ke luar kampus.</p>
<p>Asal tahu saja Bapak/Ibu, ketika saya kuliah di IKIP Jakarta tahun 1989-1994. Dan menjadi aktivis di kampus mulai dari HMJ, SEMA Fakultas, SEMA IKIP. Saya belajar satu hal yang paling penting, bahwa kampus adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang mencintai ILMU dan PENGETAHUAN. Bukan seperti orang-orang yang bekerja, mereka hanya mencintai UANG. Jadi kampus itu tempat kita mencari dan mengembangkan ILMU dan PENGETAHUAN hingga kita mampu menyebarkannya ke orang banyak di luar kampus.</p>
<p>Mungkin kita lupa. <strong>ILMU DAN PENGETAHUAN ITU BISA HIDUP KARENA KRITIK.</strong></p>
<p>Ilmu dan pengetahuan itu milik orang kampus. Ilmu dan pengetahuan itu makin maju karena dikritik. Oleh karena itu, biarkan kritik tetap hidup di kampus. Kebebasan kritis dan tradisi ilmiah itu &#8220;kampung halamannya&#8221; di kampus. Maka, manajemen kampus itu memang manajemen kritis, manajemen konflik. Bukan manajemen harmoni. Untuk apa harmoni dan aman-aman saja jika tidak membuat kampus itu maju? Untuk apa, ayo jawab?</p>
<blockquote><p><strong>MAKA DI KAMPUS DAN CIVITAS-NYA, GAK BOLEH SIKAP KRITIS DIBELENGGU APALAGI DIKUCILKAN. BERSEBERANGAN PIKIRAN GAK BOLEH DITENGGELAMKAN APALAGI DIPOLISIKAN. KITA MEMANG BUKAN PENGGEMAR KONFLIK TAPI BUKAN PULA PENYEMBAH HARMONI. TAPI KITA DI KAMPUS ADALAH PENCINTA ILMU DAN PENGETAHUAN.</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi, gak perlu membungkam kritikan, gak perlu takut beda pendapat, gak usah tabu  berseberangan pemikiran. Karena itu semua, justru membuat kita tetap bergerak, tetap dinamis. Bukan malah merasa nyaman lalu gak mau berbuat apa-apa. Katanya, orang kampus gitu lho &#8230;</p>
<p>Orang kampus itu, kalo gak sama bukan berarti gak boleh beda. Itu berarti, beri &#8220;ruang terbuka&#8221; agar kritikan, konflik tetap hidup di kampas. Buatlah FORUM KRITIK yang elegan, tempat <em>brainstorming</em>dan berbadai pikiran untuk memajukan kampus itu sendiri.</p>
<blockquote><p><strong>KRITIK ITU BUTUH RUANG BUKAN UANG. JANGAN CARI HARMONI BILA BIKIN SESAT; CARI DISHARMONI BILA BIKIN HEBAT.</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Duhh, maaf ya. Kok jadi ngalor-ngidul gini.</p>
<p>Kembali ke soal &#8220;<strong>Ketika Alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ) menyambangi Sang Guru, Prof. Dr. Conny Semiawan&#8221; di rumahnya. Buat saya, inilah momentum untuk &#8220;memanggil kembali&#8221; kenangan lama untuk pergerakan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) ke depan yang lebih baik.  UNJ yang lebih terkenal prestasi akademisnya. Bukan masalahnya yang gede atawa apapun yang gak produktiif buat civitas dan kampusnya.</strong></p>
<p><strong>Apa fakta UNJ hari ini? Lalu, gimana kita menyikapinya ? Mau ngapain ?</strong></p>
<p><strong>Tahun 2015 versi KemenRistekDikti (tidak ada versi terbaru:</strong> di <a href="http://ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2016/02/klasifikasi20151.pdf" target="_blank" rel="noreferrer noopener">sini</a><strong>), UNJ berada di peringkat ke-60. Kalah dari Tadulako, M</strong>ahasaraswati Denpasar atawa Muhammadiyah Jakarta. Kalo versi terbaru lebih mengerikan, UNJ ada di peringkat ke-78 (100 besar kampus di Indonesia versi  4ICU yang dirilis Januari 2017: <a href="http://www.4icu.org/id/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">http://www.4icu.org/id/</a>). Bahkan jika dibandingkan PT eks LPTK di Indonesia, UNJ berada di peringkat ke-9 dari 12 LPTK. Ironis, dan penting untuk disikapi. Karena UNJ merupakan PT Negeri yang ada di Jakarta.</p>
<p><strong>Masih belum puas? Silakan aja di-googling tentang UNJ.</strong></p>
<p><strong>Lebih banyak &#8220;berita baik&#8221; atawa &#8220;berita buruk&#8221;. Aneh aja, kalo nama kampus di-googling lebih banyak berita buruknya, mulai dari soal</strong>DO mahasiswa, kasus korupsi, pelecehan seksual, kampus banjir, dan sekarang soal &#8220;dosen yang dipolisikan&#8221;. Ya, tentu pasti juga UNJ punya &#8220;berita baik&#8221;. Tapi faktanya, kenapa lebih banyak &#8220;berita buruk&#8221; daripada &#8220;berita baik&#8221;. Kalo civitas UNJ sehari main internet dan <em>smartphone</em>3 jam sehari saja, kenapa gak <em>create</em> &#8220;berita baik&#8221; tentang UNJ. Kenapa gak bisa? Kenapa sih, kalo ada berita jelek, kita gak mau bikin berita bagus &#8230; biar imbang gitu llho.</p>
<p><strong>Buat saya, UNJ itu gak akan bisa HARUM DI LUAR jika gak bisa SELESAI dengan urusan kampusnya sendiri. Sebagai kampus, harusnya UNJ FOKUS PADA KEBIJAKAN DAN KEGIATAN YANG BERORIENTASI PADA PRESTASI AKADEMIS. Semuanya, baik mahasiswanya maupun dosennya apalagi pimpinannya.</strong></p>
<p>Saya gak tahu. Apakah Ibu Conny baca tulisan ini. Atawa pimpinan, mahasiswa, dosen dan  civitas akademika UNJ lainnya membaca tulisan ini. Tapi kalo mereka baca, pesan peting yang saya mau sampaikan adalah AYO DONG LEBIH PEDULI UNTUK UNJ SEBAGAI KAMPUS BAGUS UNTUK TRI DHARMA PERGURAN TINGGI. Mari kita berdiskusi tentang pengajaran yang luar biasa, tentang penelitian yang hebat, dan pengabdian masyarakat yang berdaya guna. Lebih produktif, lebih kompetitif buat kampus.</p>
<p>IKIP JAKARTA dulu, UNJ sekarang. Tapi IKIP Jakarta penuh prestasi, sementara UNJ setidaknya buat saya gak berprestasi. Makanya tulisan ini saya buat. Karena UNJ itu pernah punya nama besar. Kalo udah begini, kita itu kangen banget pada pemikiran dan kiprah orang-orang yang pernah memimpin UNJ, seperti: Prof. Dr. Slamet Imam Santoso, Dr. Deliar Noer, Prof. Dr. Winarno Surachmad, dan Prof. Dr. Conny Semiawan. Mereka itu memang tinggal sejarah. Tapi mereka adalah sosok mantan Rektor UNJ yang memiliki integritas keilmuan dan akademis yang luar biasa. Berkat kiprah mereka pada eranya, nama IKIP Jakarta begitu mengabadi dan sangat diperhitungkan.</p>
<p><strong>Lalu, bagaimana kampus UNJ hari ini? Apa masih ribut soal dosen yang dipolisikan? Apa masih ramai soal tuntutan mundur Rektor ?</strong></p>
<p>Jujur, sebenarnya itu pertanyaan-pertanyaan yang tidak menarik. Gak signifikan untuk kehidupan kampus sebesar UNJ hari ini. Sementara di luar sana, mereka sibuk riset dan inovasi di ruang &#8220;diskusi dan praktik&#8221; untuk menambah kemaslahatan umat, sementara kita &#8220;gak pernah selesai&#8221; dengan urusan sendiri. Sementara di luar sana, mereka sibuk mengemas sistem pendidikan dan pengajaran berbasis kreativitas yang unggul, sementara kita lagi-lagi &#8220;gak pernah selesai&#8221; dengan internal kampus sendiri. Mengenaskan banget sih, ironis banget sih &#8230;</p>
<p><strong>KESADARAN KRITIS, mungkin sudah jadi &#8220;barang langka&#8221; di UNJ hari ini.</strong></p>
<p>Kita sudah terlalu lama, tidak bertanya secara kritis. Mau dibawa kemana UNJ? Gimana cara peringkat UNJ bisa berada di 30 besar PT di Indonesia? Berapa persentase dosen yang meneliti dan menulis di UNJ? Berapa banyak mahasiswa UNJ berprestasi di PIMNAS tiap tahunnya? Mengapa kita &#8220;diam&#8221; ketika kebobrokan ada di kampus UNJ? Masih adakah tradisi kebebasan ekspresi di UNJ? Di mana hati nurani kita hari ini untuk kampus?</p>
<p><strong>JIKA BERTANYA SAJA TIDAK? GIMANA MAU CARI JAWABANNYA?</strong></p>
<p>Kita, civitas UNJ, mungkin sering baca. Tapi juga terlalu cepat lupa.</p>
<p>Al-Ghazali bilang &#8220;profesi GURU itu sangat mulia, maka didiklah mereka dengan penuh kasih sayang&#8221;. Lalu Antonio Gramsci bilang bahwa INTELEKTUAL itu sebagai puncak kesadaran manusia. Agar kita bisa memilah, kata Karl Marx, antara &#8220;kesadaran individu&#8221; dan &#8220;kesadaran kolektif&#8221; dengan jernih, bukan &#8220;KESADARAN PALSU&#8221;. Iya itu emang teori, tapi juga jangan terlalu cepat luap.</p>
<blockquote><p><strong>KARENA KESADARAN HARUS TETAP ADA PADA KAUM INTELEKTUAL AGAR BISA DIPRAKTIKKAN DAN DISEBARKAN KE MASYARAKAT. KITA GAK BOLEH TERJEBAK DALAM KESADARAN PALSU. MERASA BAIK-BAIK SAJA. TAPI NYATANYA, TIDAK LAYAK DISEBUT BAIK-BAIK SAJA.</strong></p></blockquote>
<p><strong>Lalu, apa refleksi kritis civitas akademika UNJ hari ini?</strong></p>
<p><strong>GAK BOLEH DIAM. BERGERAKLAH, BERDINAMIKALAH. Untuk UNJ ke depan yang lebih baik. Untuk UNJ sebagai &#8220;center of excellence&#8221; terlebih lagi di bidang pendidikan dan keguruan.</strong></p>
<p><strong>Buat pimpinan rektorat/dekanat, Anda boleh dipilih dan berkuasa tapi bukan untuk mengebiri kehidupan kampus yang demokratis.</strong></p>
<p><strong>Buat dosen, Anda boleh hebat di dalam kelas tapi bukan berarti apatis untuk kebaikan kampus.</strong></p>
<p><strong>Buat mahasiswa, Anda boleh teriak paling kencang di luar kampus tapi bukan berarti tradisi akademis diabaikan.</strong></p>
<p><strong>Buat alumni, Anda boleh sukses di luar sana tapi bukan berarti harus tidak peduli kepada almamater.</strong></p>
<p><strong>KITA GAK BOLEH DIAM. KITA HARUS SINERGI, KITA HARUS LEBIH PEDULI.</strong></p>
<p><strong>INGAT &#8230;</strong></p>
<p><strong>KAMPUS ITU TEMPAT BERKUMPULNYA ORANG-ORANG YANG CINTA ILMU DAN PENGETAHUAN. BUKAN TEMPAT BERSEMAYAM MEREKA YANG CINTA UANG.</strong></p>
<p><strong>ILMU PENGETAHUAN ITU DIBESARKAN DAN BISA HIDUP KARENA KRITIK.</strong></p>
<p><strong>DAN TUHAN ITU ADA DI DEKAT KITA; MAKA PIKIRAN DAN TINDAKAN KITA HARUS BENAR.</strong></p>
<p>Sebagian orang bilang ke saya, prihatin melihat UNJ hari ini.</p>
<p>Saya pun tidak membantah walau tidak sepenuhnya membenarkan. Mengapa begitu? Karena menurut saya, ada yang hilang di UNJ hari ini. <strong>DIALOG DAN KEBEBASAN EKSPRESI TIDAK LAGI DIBANGUN DENGAN BAIK DI UNJ. TRADISI AKADEMIS MELEMAH DI UNJ. </strong>Dan sebabnya sederhana. <strong>UNJ BELUM SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI.</strong> Akibat iklim birokrasi yang diciptakan sendiri dan akibat keadaan internal yang terus-terusan bermasalah atawa dipermasalahkan.</p>
<p>Wajar, saking rindunya terhadap diskusi dan dinamika bidang pendidikan dan keguruan. Beberapa teman aktivis dan alumni UNJ mendirikan Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM) sebagai kendaraan untuk melanjutkan tradisi berpikir kritis di bidang pendidikan dan keguruan. Begitu pula IKA UNJ periode 2107-2020, begitu antusias untuk &#8220;membangun sinergi&#8221; lebih nyata agar almamater-nya lebih baik, lebih punya &#8220;good news&#8221; di mata masyarakat. Harusnya, UNJ patut bangga dan mau bekerjasama akan hal ini.</p>
<p><strong>REFLEKSI KRITIS CIVITAS AKADEMIKA UNJ HARI INI.</strong></p>
<p><strong>UNJ butuh &#8220;jalan baru&#8221;, patut membuat &#8220;halaman baru&#8221;. Agar kampusnya bukan jalan di tempat, bukan sibuk dengan urusan internal kampus sendiri. UNJ hanya butuh gerakan moral yang lebih masif untuk LEBIH PEDULI MENJADI KAMPUS BERKUALITAS.</strong></p>
<p>Re-orientasi spirit UNJ hari ini.</p>
<p><strong>SEGERA TUNTASKAN MASALAH INTERNAL DENGAN BIJAK DAN JANGAN BERTENTANGAN DENGAN AKAL SEHAT ORANG KEBANYAKAN. BANGUN SINERGI, LALU FOKUS PADA TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI.</strong></p>
<p>Dalam lirik lagu MARS IKIP JAKARTA, saat saya kuliah di IKIP Jakarta dulu, ada kata-kata:</p>
<p><strong><em>Belajar sanggup, mendidik bisa, mengkritik boleh, aksi pun jadi &#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em>Dengan dilandasi kesadaran kritis, serta penuh tanggung jawab moral &#8230;</em></strong></p>
<p>Kita, civitas akademika UNJ, kini perlu membangun kesadaran kritis. Namun, tetap menjunjung tinggi tanggung jawab moral. Karena pasti, selalu ada solusi dari setiap masalah yang kita hadapi.</p>
<p><strong>Saatnya civitas akademika UNJ &#8220;MEMBANGUN SINERGI&#8221;</strong></p>
<p>Jangan lagi tercerai-berai atawa berceceran sendiri-sendiri. Karena &#8220;serigala itu hanya memangsa domba atau binatang yang keluar dari rombongannya&#8221;.</p>
<p><strong>Ingat, MUSUH KITA BUKAN DI KAMPUS SENDIRI.</strong></p>
<p><strong>TAPI PERADABAN MANUSIA DI LUAR SANA; PENDIDIKAN YANG TIDAK MEMANUSIAKAN.</strong></p>
<p><strong>Bacalah kembali sejarah UNJ (IKIP Jakarta) yang pernah ada. Rajutlah kembali yang yang berserakan. JANGAN TAKUT MELAWAN LUPA &#8230;</strong></p>
<p><strong>Dan kami, para alumni IKIP Jakarta (sekarang UNJ). AKAN SELALU ADA DI SAMPING UNJ.</strong> Salam ciamikk dan tabik &#8230; #BuildingFutureLeaders #RefleksiKritisUNJ #IKIPJakarta #IKAUNJ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Oleh : Syarif Yunus (Pekerja &amp; Pemerhati Pendidikan Bahasa. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009-2013) &amp; (2013-2017). Sekjen IKA FBS UNJ (2013-2017)</strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ketika-alumni-ikip-jakarta-menyambangi-prof-conny-semiawan/">Ketika Alumni IKIP Jakarta Menyambangi Prof. Conny Semiawan</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wajah Kampus Mulai Bopeng?</title>
		<link>https://unjkita.com/wajah-kampus-mulai-bopeng/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 May 2017 01:28:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Alumni UNJ]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=8226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirnya setelah merenung beberapa waktu. Di momentum hari pendidikan nasional ini, nalar, nurani dan jemari tak tahan juga untuk menulis tentang kampus. Tidak mudah untuk...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/wajah-kampus-mulai-bopeng/">Wajah Kampus Mulai Bopeng?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya setelah merenung beberapa waktu. Di momentum hari pendidikan nasional ini, nalar, nurani dan jemari tak tahan juga untuk menulis tentang kampus. Tidak mudah untuk merumuskan judul tulisan ini di tengah hiruk pikuk informasi, rutinitas, kerja-kerja akademik, riset, merespon isu aktual di luar kampus dan menghadapi dinamika internal kampus.</p>
<p>Kesulitan lainnya adalah dilema keberadaan diri di tengah kampus, antara menuliskan kebenaran atau menutupi &#8216;wajah kampus yang pada umumnya mulai bopeng&#8217;?. Bopeng adalah kata yang mewakili deskripsi tentang cacat berlubang-lubang yang nampak pada wajah (KBBI edisi III, 2008). Penggunaan kata bopeng dalam judul tersebut untuk menunjukan persoalan yang terjadi di kampus.</p>
<p>Menuliskan kebenaran adalah cara terbaik mencintai kampus. Sekali lagi, menuliskan kebenaran adalah cara terbaik mencintai kampus, sepahit apapun kebenaran itu. Konstruksi inilah yang menggerakkan tulisan ini. Narasi ini adalah keresahan kolektif yang ditangkap dari diskusi-diskusi dengan office boy, karyawan, mahasiswa dan kolega.</p>
<p>Ya, &#8216;wajah kampus mulai bopeng&#8217;. Kalimat tersebut bisa saja diposisikan sebagai hipotesis atau jawaban sementara (Arikunto,2002) dari problem yang terbaca tentang kampus atau bisa juga menjadi asumsi yang berbasis fakta dan data yang memandu arah kesimpulan akhir narasi ini. Bukankah salah satu dari delapan (8) karakteristik sebuah karya ilmiah adalah adanya asumsi yang berbasis fakta dan data? Menurut Paul Leedy dalam Practical Research : Planning and Design (2012) asumsi yang berbasis fakta dan data merupakan salah satu hal penting untuk ditetapkan sang peneliti atau penulis ilmiah yang dapat menjadi arah fokus obyektifitas dalam proses penelitian dan penulisan ilmiah.</p>
<p>Kesimpulan sementara bahwa &#8216;wajah kampus mulai bopeng&#8217; berbasis pada fakta makro maupun mikro. Fakta makro pemerintahan secara keseluruhan &#8216;memang bopeng&#8217;, temuan BPK menunjukan birokrasi dalam penggunaan anggaran memang &#8216;masih bopeng&#8217;, hal itu yang membuat Presiden Jokowi geram pada saat Musrenbang Nasional di Jakarta 26 April lalu. Bahkan KPK tahun lalu merilis lebih dari 300 kepala daerah tersangkut kasus korupsi. Para pejabat kampus juga tidak sedikit yang terkena kasus korupsi termasuk bahkan kampus terkemuka di ujung Surabaya sampai Ibu Kota. Kampus adalah bagian dari sistem makro yang &#8216;bopeng&#8217; itu.</p>
<p>Mengapa kampus &#8216;berwajah bopeng&#8217;? Bukankah kampus adalah miniatur peradaban?Ya, seharusnya kampus tidak bopeng. Itu terjadi jika kampus memenuhi minimal tiga ciri yang saya sebut dalam buku Pendidikan Proyek Peradaban Yang Terbengkalai sebagai kultur universitas (Ubedilah Badrun, transbook, 2006). Tiga ciri kampus tidak bopeng atau sebagai miniatur peradaban itu adalah kampus memiliki kultur intelektual, kultur demokratis dan kultur profesional yang dibingkai dalam kredo Tridharma Perguruan Tinggi.</p>
<p>Kultur intelektual dicirikan dengan kuatnya tradisi membaca, diskusi, menulis dan meneliti. Seberapa besar empat hal tersebut menjadi habitus? Itu baru pertanyaan kuantitatif, jika pertanyaannya diubah jadi pertanyaan kualitatif misalnya buku tentang apa yang dibaca? Diskusi tentang apa? Bagaimana diskusi berlangsung? Apa hasil diskusinya? Menulis tentang apa? Dimuat di mana tulisannya? Seberapa besar tulisannya menjadi rujukan? Berapa buku yang ditulis? Buku apa saja? Bagaimana segi plagiarismenya? Meneliti tentang apa? Dipublikasi di mana? Seberapa besar penelitiannya memberi manfaat bagi perbaikan masyarakat dan kemajuan bangsa? Berapa temuan riset yang masuk jurnal internasional? Bagaimana kualitas doktor yang diluluskan kampus? Apakah sekedar meluluskan doktor? Apa benar ada doktor instan? Bagaimana akademisi kampus memiliki keberpihakan pada rakyat yang terpinggirkan? Bagaimana mahasiswa berpihak pada kebenaran ilmiah dalam merespon problem sosial, politik, ekonomi dll? dan seterusnya.</p>
<p>Peringkat kampus yang tidak pernah masuk minimal 30 besar dari 100 kampus adalah fakta yang tak terelakan dari kultur intelektual. Peringkat kampus terbaru yang dikeluarkan Kemenristekdikti membuat kita harus merenung, bertengger di posisi ke-60 dari 100 kampus di Indonesia (Kemenristekdikti,2016).</p>
<p>Terlalu banyak pertanyaan kualitatif untuk melihat secara jujur perkembangan kultur intelektual di kampus ini. Hingga kita sampai pada kesimpulan wajah kampus kita masih bopeng. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang menohok para dosen dan mahasiswa. Tidak perlu malu meresponnya. Tetapi, lebih dari itu, penguasa kampus jauh memiliki tanggungjawab besar untuk membangun kultur intelektual. Sebab mereka yang menentukan kebijakan kebijakan penting di kampus untuk menciptakan atmosfir intelektual, dalam bentuk kebijakan, pembiayaan dan keberpihakanya pada dosen dan mahasiswa. Pertanyaannya sejauhmana penguasa kampus mendorong kemajuan kultur intelektual ini? Dosen dan mahasiswa seringkali bekerja keras membangun kampus sebagai miniatur peradaban dengan produk-produk intelektual atau kegiatan intelektual berupa keikutsertaan dalam konferensi internasional dan lain-lain. Tetapi seringkali pula bangunan peradaban yang dibangun dosen dan mahasiswa itu justru dirontokkan penguasa kampus dengan tiadanya dukungan finansial hingga tidak sedikit dosen atau mahasiswa yang membatalkan kegiatan internasionalnya.</p>
<p>Ciri kedua adalah kultur demokratis. Ciri kultur demokratis meliputi kuatnya cara-cara demokratis dalam mengelola kampus. Prinsip partisipatif, kebebasan akademik, terbuka untuk dikritik dan terjadinya pelembagaan demokratis dalam struktur dan birokrasi kampus. Ciri kultur demokratis ini secara substantif dapat dibaca dalam buku Contemporary Democracies : Participation, Stability, and Violence (G.Bingham Powell Jr, 1984). Memprihatinkan, bahwa ada fakta kampus yang pimpinannya memperkarakan dosen-dosennya ke bareskrim kepolisian hanya karena sikap kritis atau menyebarkan tulisan atau skema yang bernada kritik terhadap pimpinan kampus, itu cara represif yang bertentangan dengan kultur demokratis yang seharusnya dipegang teguh penguasa kampus.</p>
<p>Fakta adanya belasan dosen dipanggil polisi, itu menggenapkan sikap anti demokrasi sebelumnya yang mengeluarkan SK pemecatan terhadap Ketua BEM Ronny Setiawan pada 2016 lalu, meski kemudian dicabut karena desakan ribuan mahasiswa. Bahkan kegiatan Masa Pengenalan bagi mahasiswa baru juga diambil alih penguasa kampus. Ini bisa dimaknai bahwa area organisasi mahasiswa sebagai kawah candradimuka calon pemimpin masa depan sudah dikebiri. Belajar memimpin mengorganisir puluhan ribu mahasiswa diputus begitu saja. Apa mungkin ini bukan fakta tunggal? Tapi fakta sistemik dari skenario makro penguasa negeri ini untuk mengebiri mahasiswa dengan meminjam tangan penguasa kampus?. Bukankah kampus ini bercita-cita untuk menghasilkan pemimpin masa depan sebagaimana mottonya building future leaders ?</p>
<p>Kampus ini sejatinya tidak menanggalkan spirit pendidikan, sebab kampus ini pada mulanya adalah kampus pendidikan. Lebih dari separuh disiplin ilmunya adalah pendidikan. Sebagai kampus pendidikan ia meniscayakan cara-cara edukatif dalam mengelola kampus, termasuk dalam menghadapi kritik dosen. Bukankah pemimpin sejatinya akan besar dengan kritik dan saran, tidak karena pujian.</p>
<p>Sikap anti demokrasi dikampus seringkali wajahnya tidak tunggal, ada juga yang dikemas secara sistemik melalui memproduksi aturan (SOTK,dll) yang ujung-ujungnya sentralisasi kekuasaan pada pimpinan. Status kampus negeri menjadi BLU (Badan Layanan Umum) yang memberikan otoritas lebih ternyata bisa menjadi karpet merah bagi pimpinan, untuk bersikap tidak demokratis, pola kepemimpinan menjelma seperti &#8220;raja-raja baru di kampus &#8220;. Senat guru besar terlihat tidak berdaya melakukan fungsi kontrol sebagai bagian penting check and balances sehingga tidak salah jika muncul pertanyaan di kalangan civitas akademika, apakah mungkin senat guru besar sudah berubah wajah menjadi bagian dari borjuasi akademik di kampus. Jika ini terjadi tentu makin memperparah wajah bopeng kampus.</p>
<p>Sementara, kultur profesional itu dicirikan dengan kerja-kerja profesional seluruh civitas akademika kampus dari office boy, karyawan, dosen, dekan sampai rektor. Dalam konteks profesional ini tentu kampus kita tidak seluruhnya tidak profesional tetapi fakta penting profesionalitas adalah akuntabilitas kampus. Cara mudah mengecek akuntabilitas kampus adalah menengok hasil pemeriksaan inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia. Berapa banyak temuan yang bermasalah? Berapa milyar uang yang dibelanjakan tidak sesuai aturan yang berlaku? Berapa milyar sisa anggaran yang tidak dimasukan dalam kas keuangan? Berapa ratus alat yang dibeli tidak ditemukan bendanya? Pertanyaan pertanyaan itu jawabanya hanya ada di hasil pemeriksaan BPK. Saya tidak memiliki wewenang mengungkapkan hal tersebut di tulisan kali ini.</p>
<p>Ya, kultur profesional juga meniscayakan pemenuhan hak karyawan dibawah wewenangnya sesuai waktunya. Jika ada karyawan unit usaha kampus (labschool) yang sampai gaji bulanannya terlambat ya patut dicatat bahwa ada problem profesionalitas yang cukup serius di kampus ini.</p>
<p>Tiga indikator kultur universitas di atas bisa menjadi alat ukur seberapa tinggi kampus memenuhi kriteria sebagai miniatur peradaban yang mampu memberi kontribusi besar bagi perubahan masyarakat, bangsa dan zaman. Dari tiga indikator tersebut dapat disimpulkan tidak sedikit kampus memiliki kelemahan terbesar pada kultur intelektual, tetapi kampus tercinta ini meski terus bekerja keras tetapi masih saja didera kelemahan pada indikator lainnya. Kultur demokratis yang seharusnya melekat kuat pada kampus yang berlokasi di Ibu Kota ini, justru sebaliknya.</p>
<p>Sedihnya ini terjadi di kampus yang dikenal sebagai kampus perjuangan, kampus yang memiliki akar sejarah perlawanan yang kuat terhadap ketidakadilan, berjuang menegakkan kebenaran, berpihak pada rakyat terpinggirkan, memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah, menghormati kebebasan akademik, dan berkontribusi turut mendesain arah pendidikan nasional. Bahkan dicontohkan langsung oleh pimpinan dan tokoh kampus saat itu. Sebut saja misalnya nama Deliar Noer, Winarno Surachmat, H.A.R Tilaar, Conny Semiawan, Sudjiarto, Arief Rachman, dll. Bahkan diantara mereka merasakan kejamnya penjara dan sakitnya disingkirkan dari entitas akademik. Spirit mereka tak lekang terwarisi pada generasi berikutnya, baik di kalangan dosen maupun mahasiswa hingga terlibat dalam episode penting setiap sejarah perubahan negeri ini. Semoga kita menjadi bagian dari sejarah masa depan UNJ yang menghadirkan perubahan dan peradaban.</p>
<p>Oleh : Ubedilah Badrun, pengajar ilmu politik, Prodi Sosiologi FIS UNJ.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/wajah-kampus-mulai-bopeng/">Wajah Kampus Mulai Bopeng?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>FAST- Sosok Yang di Nanti Seorang Pemimpin</title>
		<link>https://unjkita.com/fast-sosok-yang-di-nanti-seorang-pemimpin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2016 01:51:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada DKI Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=4908</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suasana Ibu kota dari Indonesia mulai memanas, bukan karna cuaca terik yang biasa menyiram aktivitas manusia didalamnya- namun kehebohan untuk berganti kepemimpinan. telah tiba massa...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/fast-sosok-yang-di-nanti-seorang-pemimpin/">FAST- Sosok Yang di Nanti Seorang Pemimpin</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suasana Ibu kota dari Indonesia mulai memanas, bukan karna cuaca terik yang biasa menyiram aktivitas manusia didalamnya- namun kehebohan untuk berganti kepemimpinan. telah tiba massa Bapak Basuki Tjahaja Purnama untuk mengestafetkan kepemimpinan yang diemban selama 5 tahun dengan kisah kepemimpinan yang mengusung Jakarta Baru. Kini warga Jakarta siap untuk meneliti dan memilih, sosok yang mampu membawa kesejahteraan warganya, Rasa cemas menjama barisan intelektual para pejuang universitas, inilah waktu yang tepat untuk memilih dan menyuarakan sosok pemimpin idaman untuk menjabat selama 5 tahun kelak untuk Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Memilih seorang pemimpin bukan perkara suka atau tidak, atau sesimpel memilih baju yang akan dipakai untuk acara tertentu. Namun, lebih dari itu, memilih pemimpin dalam kehidupan jangka panjang perlu pertimbangan yang sangat matang, sebab dalam waktu yang panjang masyarakat harus menerima dan taat kepada pemimpin. Untuk itulah diperlukan motede pemilihan pemimpin yang bukan hanya dilihat dari kemasan visi misi namun dari sifat karakter pemimpin ideal.</p>
<p style="text-align: justify;">Membuat pencitraan dan sifat yang baik memang sulit bagi segelintir manusia, namun tak gentar jika formulasi <em><strong>FAST</strong></em> ada dalam sosok pemimpin sejati umat muslim seperti yang dicontohkan oleh rasul akhir zaman Muhammad SAW. Kata itu menginspirasi saya untuk menyuarakan sosok pemimpin Jakarta nantinya, <em><strong>FAST</strong></em> yang berarti cepat dalam bahasa Indonesia, namun ini merupakan kunci formulasi pemimpin sejati. sebutlah “F” berarti <em>Fathanah</em> dengan kecerdasan intelektual dan spiritual nantinya sosok pemimpin cerdas dapat mengabungkan teori dengan kondisi lapangan di DKI Jakarta, karena pemimpin cerdas manjadi barometer kualitas masyarakat atas wilayah pimpinannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecerdasan dapat melawan kepintaran sekelompok orang yang ingin memojokan kota pusat pemerintahan RI, sebab pemimpin cerdas dapat memecahkan masalah yang terhampar di wilayah yang menjadi tempat bergantung kuantitas kehidupan banyak orang. Sebut saja kemacetan yang menanti untuk dilancarkan, ruang hijau yang menunggu untuk tidak ada kedok pembangunan pusat perbelanjaan berkepentingan, Pembangunan gedung mewah pencakar langit yang berdiri kokoh ditengah perumahan kumuh, serta sungai yang beralih fungsi menjadi bak sampah. Ini masalah pelik yang siap menerpa pemimpin, namun kecerdasan dapat menjadi pencerah untuk mengurai permasalahan menjadi prestasi membanggakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berangkat dari kecerdasan sebagai bekal pertama sang pemimpin, selanjutnya huruf &#8221;A&#8221; yang mewakili<em> Amanah</em>, benar- pemimpin bijak adalah pemimpin yang dapat dipercaya oleh kalangan yang dahulu mendukungnya maupun yang enggan mendukungnya alias barisan kontra. Poin ini SSG (susah susah gampang) karena kondisi yang keras serta tekanan dalam menyelesaikan problematik kota yang memiliki <em>landmark</em> monumen nasional. Tak sedikit pemimpin yang menjadi wakil rakyat terjebak dalam godaan untuk ‘mensuburkan perut’ hingga menggulingkan kepentingan umum dan menjuarakan kepentingan pribadi. Sungguh arti mosi dapat dipercaya mudah di peroleh jika pemimpin berprestasi, namun akan menjadi bumerang tidak percaya saat pemimpin menoreh catatan kelalaian atas tanggung jawab.</p>
<p style="text-align: justify;">Kombinasi formula menjadi manis jika ada “S” didalam diri pemimpin, yaitu <em>Sidiq</em> ini bukan nama manusia, namun gelar bagi manusia yang benar dalam penyampaian, benar dalam tindakan yang dahulu pernah ‘diobral’ saat masa kampanye. Benar, ini waktu yang tepat untuk mewujudkan kebenaran visi dan misi hingga berbuah hasil konkret, Jakarta membuat massa untuk meyakinkan bahwa bukan hanya kata kosong namun hasil nyata tanda telah merealisasikan impian dahulu menjadi kenyataan, hingga sang pemimpin siap menepis perkataan yang pernah meragukan eksistensi kinerja. Serta membalikan masalah menjadi peluang indah dengan cara yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lengkap rasanya jika formulasi kepemimpinan ini belum ada kata &#8221;T&#8221; dengan ciri <em>Tabliq, </em>dikemas dengan arti menyampaikan segala bentuk tindakan yang telah dilakukan selama dan setelah masa kepemimpinan berlangsung. Menyampaikan dengan maksud agar kepemimpinan terbuka, ada transparansi dari beragam pihak dan aspek pemimpin, sehingga masyarakat umumnya dapat memantau sepak terjang yang dijalankan sang pemimpin, hingga jika tiba saatnya terjadi penyelewengan pemimpin dapat sewaktu-waktu ditangkap oleh pelaksana hukum, sikap ini menjadi dasar bahwa pemimpin juga wajib menyiapkan telinga tambahan untuk evaluasi dirinya dan kepemimpinanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh untainya kalimat untuk mendobrak trobosan Jakarta lebih baik lagi. <em>&#8221;Seorang pemimpin harus berintegritas, mampu membawa perubahan Jakarta sebagai Ibu kota yang menjadi idaman warganya sendiri dan dunia kelak, merestorasi tata kelola kota yang sudah amburadul, mampu menggemukkan dompet, mencerdaskan otak, menyehatkan seluruh masyarakat Jakarta, totalitas dalam bekerja dan luruskan niat karena Allah”</em>. Itulah asa dari Muhammad Syarifudin, ketua HMJ ekonomi dan Administrasi Universitas Negeri Jakarta tahun 2012 untuk pemimpin DKI Jakarta, ini salah satu asprasi dari berjuta penduduk yang menitipkan kualitas hidup di kota kejam bagi yang tak punya pengalaman dan ijazah sebagai patokan untuk memasuki gerbang dunia kerja, kaum urban dan beragam polemic yang mendampingi kota pusat perekonomian Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Barisan pelopor masyarakat, yaitu mahasiswa telah menggantungkan asa yang berlimpah untuk impian membangun Jakarta dengan sosok <em>FAST</em> tentunya, selain itu jika boleh di utarakan asas yang di usung saat pemilu setidaknya mulai bersemi moto dalam diri pemimpin yaitu <em>LUBERJURDIL</em> yang memiliki kepanjangan- langsung bertindak, bersih dari segala praktik uang, rahasiakan aib kota dari pihak luar Indonesia, jujur saat mengucapkan perkataan dan kebijakan yang tak dicampur adukan dengan bahan spekulasi belaka, dan adil kepada masyarakat baik dalam golongan apapun, warna kulit yang berupa, serta budaya yang beragam, asalkan tetap sesuai norma ketimuran. Jika hal tersebut telah dipupuk hingga berbuah manis nantinya beliau dapat di cap sebagai pemimpin nyata yang benar, dan layaklah ia menjadi gubernur DKI Jakarta, dengan mata yang siap memperhatikan dan melihat hasil nyata sang pemimpin yang terlahir dari pilihan masyarakat Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Peranan mahasiswa disini sebagai mata pemantau sang gubernur untuk tetap pada jalur yang sesuai dengan ketetapan yang telah diatur, peran ini belum tentu dimiliki oleh kalangan masyarakat lainnya, karena status motor penggerak perubahan yang di semat oleh para mahasiswa yang mencap hatinya untuk berkontribusi dan peduli kepada fenomena yang memiris hati saat memandang Jakarta yang elok dan tak lupa bingkai pelengkap dengan masalah yang terurai seperti dimuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah tentu saat mahasiswa khususnya dan masyarakat secara umum berharap akan sosok gubernur nantinya, maka hal yang pasti adalah jika sudah palu resmi sudah berketuk untuk men-sah-kan pasangan yang memimpin Jakarta maka, hal yang sudah semestinya adalah mendukung setiap kebijakan terbaik yang dicanagkan serta meng-kawal kinerja. Untuk itu saya selaku penduduk DKI berharap gubernur DKI tahun 2017-2021 adalah gubernur dengan predikat <em>FAST</em> dan dapat menjadi teladan baik untuk masyarakat yang dipimpinnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh : Mulyanti Andhani, S.Pd</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/fast-sosok-yang-di-nanti-seorang-pemimpin/">FAST- Sosok Yang di Nanti Seorang Pemimpin</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menatap Masa Depan Kampus Guru</title>
		<link>https://unjkita.com/menatap-masa-depan-kampus-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 May 2016 10:19:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=3013</guid>

					<description><![CDATA[<p>Membayangkan Universitas Negeri Jakarta adalah membayangkan pendidikan khususnya kampus penghasil para guru. Itulah bayangan yang melekat pada pikiran sebagian masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/menatap-masa-depan-kampus-guru/">Menatap Masa Depan Kampus Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Membayangkan Universitas Negeri Jakarta adalah membayangkan pendidikan khususnya kampus penghasil para guru. Itulah bayangan yang melekat pada pikiran sebagian masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di Jakarta. Sebuah bayangan yang tak salah mengingat kampus yang sebelumnya bernama IKIP Jakarta ini memang membrandingkan diri sebagai kampus murah, merakyat dan produsen guru. Tak salah pula ketika saya seringkali ditanya setelah lulus pasti bekerja sebagai guru.</p>
<p style="text-align: justify;">Citra sebagai kampus penghasil guru itu sebenarnya menjadi sebuah penilaian yang baik kepada kampus ini. Pasalnya guru sebagai tenaga pengajar di institusi pendidikan berperan penting sebagai sosok yang membentuk sumber daya manusia berkualitas. Kehadiran guru memberikan inspirasi manusia untuk menuju perubahan yang lebih baik dan mencapai kehidupan penuh keadilan dan kesejahteraan. Guru menjadi salah satu pemain penting dalam memajukan masa depan pendidikan anak bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebutan kampus guru terasa semakin kencang jika melihat banyak sisi internal dan eksternal Universitas Negeri Jakarta. Sisi internal dapat dibaca dari mayoritas mahasiswa kampus yang berpusat di Rawamangun menekuni dunia keguruan dan bergelar Sarjana Pendidikan. Hampir seluruh mahasiswa UNJ kecuali yang menekuni ilmu murni pasti mendapatkan materi mengenai dasar-dasar menjadi guru. Ini penting sebagai bekal mereka menjalani kehidupan sebagai pendidik anak Indonesia pasca menyelesaikan studinya kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Warna lain yang cukup mencolok, diskusi dan wacana pendidikan dari para pakar pendidikan banyak bermunculan dari kampus UNJ. Siapapun pasti mengenal tokoh seperti HAR Tilaar, Soedijarto dan guru besar UNJ lainnya yang cukup aktif dan kritis memberikan sumbangsih pemikiran untuk dunia pendidikan di Indonesia. Mereka adalah motor penggerak dalam membenahi kualitas dunia pendidikan yang amburadul akibat sistem birokrasi dan pelaksananya yang merepotkan. Dengan kompetensi keilmuannya, sumbangan para pemikir pendidikan ini tentu sulit dinafikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara sisi eksternal, kita mudah sekali menjumpai alumni UNJ yang bergelut dalam dunia pendidikan baik sebagai guru, pengawas sekolah, kepala sekolah dan penggerak sektor pendidikan lainnya. Ini membuktikan bagaimana mereka berusaha menerapkan dan mendorong perbaikan dalam pendidikan nasional. Dengan semangat dan spirit menyebarkan pengetahuan, para alumnus UNJ menyebar dalam berbagai instansi pendidikan demi menuju pendidikan yang sesuai dengan cita-cita konstitusi kenegaraan Indonesia.</p>
<h6 style="text-align: justify;"><strong>Wajah Baru UNJ</strong></h6>
<p style="text-align: justify;">Tapi belakangan ada yang cukup menggelisahkan dalam melihat kondisi UNJ sebagai kampus para guru. Adanya globalisasi dan persaingan pasar bebas mendorong kampus ini berkembang mengikuti selera pasar. Mulai dibuka berbagai jurusan baru yang tidak berkaitan langsung dengan kepentingan dunia pendidikan. Alih-alih menopang pendapatan kampus, justru nuansa komersialisasi pendidikan semakin terasa dengan semakin maraknya jurusan ilmu murni dan ladang kampus dijadikan ajang kegiatan komersial.</p>
<p style="text-align: justify;">Kampus UNJ tak lagi sibuk mengurus persoalan keguruan dan pendidikan yang menjadi ciri khasnya selama ini. Semakin ketatnya persaingan dunia pendidikan mendorong UNJ sibuk menjalin kelas kerjasama dengan perusahaan swasta maupun pemerintah. Berbagai jurusan baru dibuka untuk melayani kepentingan pemodal, bukan kepentingan masyarakat luas. Jadilah kampus yang berpusat di ibukota ini kehilangan ruh pendidikan dikalahkan kepentingan politik dan uang belaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kualitas guru Indonesia dipertanyakan, UNJ tak juga sibuk memperbaiki dan berbenah diri dalam memikirkan kualitas guru yang dinilai semakin merosot. Justru kampus ini sibuk mempercantik diri dengan membangun gedung mewah yang digunakan untuk kepentingan meningkatkan pendapatan kampus. Wajah baru UNJ sekarang lebih menggambarkan perbaikan fisik gedung dibandingkan menganalisis apakah ada kesalahan dalam kurikulum pendidikan di kampus ini sehingga guru tak lagi menjadi sosok teladan bagi muridnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak kalah memprihatinkan UNJ sepi sekali bicara gagasan atau pembaharuan pendidikan. Justru peristiwa politik dan dunia hiburan yang tersaji di telinga masyarakat menyusul drop outnya ketua Badan Eksekuktif Mahasiswa UNJ oleh rektor beberapa waktu lalu karena dianggap menyebarkan pemberitaan negative terhadap pimpinan kampus. Menyusul kemudian, kita mendengar pemakaian fasilitas kampus secara sembarangan untuk keperluan syuting. Ketika protes bermunculan pihak kampus dengan mudahnya mengangkat tangan dan beralasan tidak tahu.</p>
<h6 style="text-align: justify;"><strong>Mengembalikan Status Kampus Guru</strong></h6>
<p style="text-align: justify;">Tulisan pendek ini tak bermaksud menilai negatif kampus UNJ, melainkan sebagai kritikan semata atas apa yang belakangan terjadi di kampus ini. Sebagai anak bangsa dan pernah mengenyam bangku pendidikan di kampus UNJ, saya tentu berharap kampus pendidikan ini benar-benar berwajah pendidikan kembali. Jangan sampai masyarakat kehilangan respeknya terhadap citra pabrik atau produsen guru yang selama ini terlanjur melekat di kampus UNJ. Bagaimanapun julukan kampus guru harus tetap dipertahankan dengan membuktikan kinerja kampus ini secara nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Alangkah indah jika kita mendengar kisah sukses guru yang pernah dilahirkan dan dibesarkan dalam kampus UNJ (kampus guru) . Tak kalah mengasyikan masyarakat dipertontonkan penolakan UNJ atas berbagai penyimpangan masalah pendidikan. Sungguh suara kritis dan solutif dinantikan masyarakat luas, misalnya bagaimana sikap tegas para akademisi UNJ terhadap kasus pelanggaran HAM pendidikan yang menimpa Yuyun atau bagaimana pendidikan kebangsaan dirasakan semakin merosot yang ditandai munculnya gerakan neo-PKI. Dalam berbagai peristiwa yang bersinggungan dengan pendidikan sebagai warna fundamental itu, seharusnya akademisi UNJ mampu menampilkan sikap dan pendiriannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita juga menantikan bagaimana UNJ mampu menyikapi kehadiran MEA secara positif dalam mendukung misi TriDharma Perguruan Tinggi. Janganlah UNJ sampai ketinggalan dengan kampus lainnya yang terus melaju dengan semboyan Universitas Riset dan <em>World Class University. </em>Sekarang bagaimana mau jadi kampus riset, jika kampus UNJ lemah sekali dalam menampilkan keunggulan riset pendidikannya dibandingkan kampus lainnya. Berhentilah berpolitik praktis (peristiwa DO ketua BEM UNJ) dan kembangkan kampus UNJ dengan misi pendidikan terbaik kepada mahasiswanya, pengabdian terbaik dengan mencetak guru berkualitas untuk meningkatkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan terus dikembangkannya riset unggulan berdaya saing tinggi di kalangan mahasiswa maupun dosen UNJ.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya selamat merayakan ulang tahun buat kampus UNJ tercinta. Tak ada kado terindah dalam menyambut bertambahnya umur, selain makin dewasa, bijaksana dan matang dalam menjalani setiap tahapan pergantian umur. Semoga UNJ semakin serius menjalankan misi mencerdaskan anak bangsa sebagaimana diajarkan konstitusi yang digagas para pendiri bangsa. Jangan pernah malu dan lelah menerima kritik konstruktif agar kampus UNJ semakin maju, dibanggakan masyarakat dan dicintai para alumninya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Inggar Saputra, S.Pd, M.Si</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Alumnus Pendidikan Luar Sekolah UNJ 2006</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/menatap-masa-depan-kampus-guru/">Menatap Masa Depan Kampus Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
