<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serial Pendidikan Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/serial-pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/serial-pendidikan/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Feb 2022 01:02:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Serial Pendidikan Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/serial-pendidikan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>5 Kebiasaan Buruk yang Tidak Boleh Dilakukan Guru</title>
		<link>https://unjkita.com/5-kebiasaan-buruk-yang-tidak-boleh-dilakukan-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 May 2018 08:08:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan Ibu Guru Gia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=21027</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hi, teman-teman pendidik! Kali ini saya akan berbagi tentang lima kebiasaan buruk yang tidak boleh dilakukan guru. Apakah teman-teman pendidik pernah melakukannya di kelas-kelas Anda?...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/5-kebiasaan-buruk-yang-tidak-boleh-dilakukan-guru/">5 Kebiasaan Buruk yang Tidak Boleh Dilakukan Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hi, teman-teman pendidik!</p>
<p>Kali ini saya akan berbagi tentang lima kebiasaan buruk yang tidak boleh dilakukan guru.</p>
<p><em><strong>Apakah teman-teman pendidik pernah melakukannya di kelas-kelas Anda?</strong></em> Semoga saja tidak.</p>
<p>Yuk, disimak! Semoga bermanfaat <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<h5><strong>1. Tidak Menghafal Nama-nama Siswa</strong></h5>
<p>Waduh, fatal banget nih kalau guru tidak menghafal nama-nama siswanya. Guru punya waktu maksimal 2-3 pekan untuk bisa menghafal seluruh nama siswanya. Ini penting banget lho! Siswa suka sekali jika gurunya hafal nama dia. Apalagi tahu nama panggilan akrabnya. Dengan begitu, siswa akan merasakan adanya kedekatan dengan gurunya tersebut.</p>
<p><strong>2. Telat Masuk ke Kelas</strong></p>
<p>Ini juga kebiasaan buruk yang cukup fatal. Cobalah tanamkan <em>midset</em>, <em>&#8220;Jika saya telat masuk kelas, maka saya sudah membuang menit menit hak siswa. Nanti, akan Allah tagih di akhirat kelak.&#8221;</em> Maka, guru harus tepat waktu datang ke kelas, bukanlah lagi sekadar peraturan saja.</p>
<p>Nah, seandainya ada alasan syar&#8217;i yang menyebabkan guru telat datang ke kelas, biasakan ucapkan kata maaf dan beritahu alasannya ke siswa. Itu penting lho sebagai bentuk penyesalan kita.</p>
<p><strong>3. Membalas C<em>hat</em> Ataupun Membuka Notif di HP Ketika Mengajar</strong></p>
<p>Saya pribadi, kalau di kelas masih sering buka HP. Pertama, untuk melihat jam, dan kedua, untuk pakai kamera. Saya suka sekali merekam aktivitas para siswa. Soalnya <em>ngegemesin</em> banget sih. Bahkan, ada lho guru yang sampai bawa kamera SLR dan tripod-nya. Point pentingnya, harus tetap fokus melaksanakan amanah menjadi fasilitator siswa ya.</p>
<p>Nah menurut saya, kebiasaan buruk yang berhubungan dengan <em>gadget</em> guru adalah membuka ataupun membalas <em>chat</em>. Kalau pun ada hal <em>urgent</em>, sebaiknya keluar kelas dulu.</p>
<p><strong>4. Menyuruh Siswa Mengisi Tinta Spidol</strong></p>
<p>Spidol adalah salah satu alat tempur seorang guru. Guru yang mempersiapkan dengan baik peralatan tempurnya, maka tinta spidol harusnya sudah terisi sebelum masuk kelas. Itu merupakan bagian dari amanah seorang guru. Salah satu tanda guru benar-benar siap untuk mengajar adalah tinta spidolnya sudah terisi lho ya.</p>
<p><strong>5. Tidak Memperhatikan Siswa Ketika Sedang Latihan Soal</strong></p>
<p>Jangan sampai guru sibuk sendiri di mejanya ketika siswa sedang latihan soal. Sebaiknya, keliling kelas datangi siswa yang merasakan kesulitan menjawab soal-soal. Dekati satu persatu, sekaligus amati kemampuannya secara personal. Jangan sampai Anda pasif tanpa mendampingi siswa mengerjakan latihan soal ya.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <em><strong><a href="http://unjkita.com/5-kebiasaan-baik-yang-harus-dilakukan-guru/">5 Kebiasaan Baik yang Harus Dilakukan Guru</a></strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/5-kebiasaan-buruk-yang-tidak-boleh-dilakukan-guru/">5 Kebiasaan Buruk yang Tidak Boleh Dilakukan Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Kebiasaan Baik yang Harus Dilakukan Guru</title>
		<link>https://unjkita.com/5-kebiasaan-baik-yang-harus-dilakukan-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 May 2018 07:54:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan Ibu Guru Gia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=21024</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hi, teman-teman pendidik! Kali ini saya akan berbagi tentang lima kebiasaan baik yang harus dilakukan guru. Apakah teman-teman pendidik sudah membiasakannya di kelas-kelas Anda? Yuk,...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/5-kebiasaan-baik-yang-harus-dilakukan-guru/">5 Kebiasaan Baik yang Harus Dilakukan Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hi, teman-teman pendidik!</p>
<p>Kali ini saya akan berbagi tentang lima kebiasaan baik yang harus dilakukan <a href="https://id.jooble.org/lowongan-kerja-guru">guru</a>.</p>
<p><em><strong>Apakah teman-teman pendidik sudah membiasakannya di kelas-kelas Anda?</strong></em></p>
<p>Yuk, disimak! Semoga bermanfaat ya <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<h5><strong>1. Membuat Siswa Bahagia Sebelum Memulai Belajar</strong></h5>
<blockquote><p><strong>&#8220;Menit-menit pertama dalam proses belajar adalah waktu yang terpenting untuk satu jam pembelajaran selanjutnya.&#8221; </strong></p>
<p><strong>-Munif Chatib-</strong></p></blockquote>
<p>Penting banget nih bagi guru untuk membiasakan dirinya membuat sesuatu sehingga siswa bahagia sebelum memulai belajar di kelas. Kalau Anda berhasil, siswa akan selalu penasaran dengan momen proses belajar selanjutnya lho!</p>
<p>Proses membuat siswa bahagia sebelum belajar dimulai, namanya Apersepsi. Apersepsi ada beberapa macam, mulai dari<em> ice breaking</em>, <em>games</em>, <em>fun story</em>, dan sebagainya. Kalau saya kehabisan ide, tak jarang saya memberikan video-video bermanfaat hasil mengunduh dari youtube sebelum masuk ke kelas.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <em><strong><a href="http://unjkita.com/apersepsi-kunci-agar-kelas-semakin-diminati-part/">Apersepsi: Kunci Agar Kelas Diminati</a></strong></em></p>
<p><strong>2. Guru Harus Jago Akting</strong></p>
<p>Yuk, buang jauh jauh dari ketergantungan mood! Guru jugalah manusia biasa, yang punya masalah tentu bisa sedih ataupun kesal. Guru jugalah manusia biasa, yang bisa saja tersinggung hanya karena hal sepele. Dan, guru jugalah manusia biasa, yang dipuji atau digombali sedikit, bisa langsung bahagia alias berbunga-bunga.</p>
<p>Namun, ketika guru sudah menjalankan peran pentingnya di kelas, guru haruslah jago akting. Misal, kalau lagi sedih ataupun kesal karena ada masalah pribadi, janganlah siswa jadi kena getahnya. Sehingga, suasana belajar mengajar di kelas menjadi mencekam. Maka, penting banget nih membiasakan diri untuk mengolah emosi dengan baik.</p>
<p><strong>3. Memeriksa Buku Catatan Siswa</strong></p>
<p>Salah satu kebiasaan baik yang harus dilakukan oleh guru adalah memeriksa buku catatan siswa secara berkala. Tujuannya, agar siswa bisa mendapatkan apresiasi ataupun <em>feedback</em> di buku catatannya. Selain itu, kebiasaan baik ini, bisa bermanfaat agar guru memahami seberapa jauh ilmu-ilmu yang berhasil terekam oleh siswa di buku catatannya.</p>
<blockquote><p><strong>Periksa secara berkala buku catatan siswa agar guru memahami seberapa jauh ilmu-ilmu yang berhasil terekam oleh siswa.</strong></p></blockquote>
<h5><strong>4. Rajin Menulis Umpan Balik (<em>Feedback</em>)</strong></h5>
<p>Tak bisa dipungkiri, guru yang menulis <em>feedback</em> pada lembar hasil ujian atau LKS siswa bisa mendapatkan tempat khusus di hati siswanya. Dengan begitu, guru akan terus belajar untuk mampu memahami kemampuan dan karakter setiap siswanya. Hal tersebut bisa menunjang peforma guru ketika mengajar lho.</p>
<p><strong>5. <em>Up to date</em> Berita-berita</strong></p>
<p>Menurut saya, ini adalah salah satu cara untuk membuka ruang diskusi dengan siswa. Kebiasaan baik yang bisa guru lakukan ini, mampu membuat siswa untuk lebih aktif menyampaikan pendapatnya, lebih peka dengan permasalahan sekitar, dan yang paling penting bisa menambah wawasan. Hal tersebut juga mampu mendekatkan hubungan antara guru dan siswa.</p>
<p>Untuk kebiasaan baik <em>up to date</em> berita-berita (bukan berita gosip lho ya), gak harus dilakukan oleh guru-guru mapel tertentu saja. Guru mapel hitungan pun juga harus membiasakan diri <em>up to date</em> berita-berita. Misal, disela-sela belajar materi hitungan, guru bisa saja menyampaikan atau bertanya tentang berita-berita terkini kepada siswa.</p>
<p>Apakah harus berkaitan dengan materi ajar? Terserah. Kalau bisa berkaitan dengan materi ajar, wah itu bagus banget! Nama prosesnya, <em>scene setting</em>. Kalau gak berkaitan dengan materi ajar, ya gak masalah. Kan biar bisa membuka ruang diskusi disela-sela belajar. Tapi, jangan keasyikan diskusi juga ya, sehingga target materi pokok yang ingin disampaikan gak berhasil. Selamat mencoba!</p>
<div>&#8220;Kamu dapat mencari<a href="https://id.jooble.org/lowongan-kerja-guru"> <b>lowongan kerja guru</b> di Jooble</a>&#8220;</div>
<p><strong>Baca juga:</strong> <em><strong><a href="http://unjkita.com/5-kebiasaan-buruk-yang-tidak-boleh-dilakukan-guru/">5 Kebiasaan Buruk yang Tidak Boleh Dilakukan Guru</a></strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/5-kebiasaan-baik-yang-harus-dilakukan-guru/">5 Kebiasaan Baik yang Harus Dilakukan Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Buat Apa Menjadi Guru Kreatif?</title>
		<link>https://unjkita.com/buat-apa-menjadi-guru-kreatif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2018 05:58:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan Ibu Guru Gia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20003</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jangan Mau Menjadi Guru yang Biasa-biasa Saja Masuk kelas – Mengajar – Keluar Kelas. Dan begitu terus aktivitasnya. Yah, itu sih biasa saja! Maksudnya, memang...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/buat-apa-menjadi-guru-kreatif/">Buat Apa Menjadi Guru Kreatif?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Jangan Mau Menjadi Guru yang Biasa-biasa Saja</strong></h4>
<p>Masuk kelas – Mengajar – Keluar Kelas. Dan begitu terus aktivitasnya. Yah, itu sih biasa saja! Maksudnya, memang sudah seperti itu kewajiban seorang guru.</p>
<p>Yakin, cuma ingin yang biasa-biasa saja? Nanti rugi lho!</p>
<p>Karena menjadi biasa akan membuat kita sebagai guru kesulitan untuk mengembangkan kualitas diri.</p>
<p>Hanya sekadar menggugurkan jam mengajar setiap harinya, sesungguhnya itu pelan-pelan menutup kemampuan kreativitas bagi seorang guru lho! Dampaknya nanti bisa dirasakan langsung oleh siswa. Siswa akan cepat sekali merasa bosan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Jangankan siswa, diri kita sebagai guru juga sebenarnya merasakan kekhawatiran hal tersebut, seperti merasa bosan mengajar, lelah karena rutinitasnya itu-itu saja, dan bahkan sampai gak bergairah masuk ke kelas.</p>
<p>Maka, jangan mau menjadi guru yang biasa-biasa saja. Karena menjadi guru bukanlah pekerjaan yang main-main! Menjadi guru merupakan profesi yang mulia karena seorang guru membutuhkan kesungguhan, keseriusan, dan ketulusan ketika mengajar siswa-siswanya. Amanahnya tuh berat lho, yaitu menjaga atau memelihara kecerdasan dan akhlak manusia.</p>
<h4><strong>Milikilah Target Komitmen Sebagai Guru</strong></h4>
<p>Untuk menjadi seorang guru yang tidak biasa dengan kemampuan di atas rata-rata guru lainnya, maka mengembangkan diri adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh guru. Hal paling utama untuk mengembangkan diri adalah membuat target komitmen sebagai guru. Pastikanlah, target komitmen yang dibuat dapat terus menantang dan memicu diri untuk melakukan lebih.</p>
<p>“Gimana guru mau melakukan lebih, kalau hampir ¾ waktu kerja hanya disibukkan dengan membuat RPP dan administrasi lainnya?”</p>
<p>“Gimana guru mau melakukan lebih, kalau fasilitas saja kurang memadai di kelas/ sekolah?” Dst.</p>
<p>Tenang, pertanyaan itu bisa terjawab, jika mindset tujuan kita sebagai guru sudah tepat.</p>
<p>Jawaban yang paling memungkinkan adalah jadilah guru kreatif. Guru yang benar-benar memperhatikan aspek-aspek lain dalam menunjang kualitas kegiatan pembelajaran di kelas.</p>
<p>Seperti pendapat (Soekartini, 1995) dari bukunya yang berjudul Meningkatkan Efektivitas Mengajar bahwa mengajar itu adalah seni (<em>art</em>), karena mengajar itu membutuhkan inspirasi, intuisi, dan kreativitas.</p>
<h4><strong>Tak Ada Lagi Alasan untuk Tidak Mengeksplorasi Semua Potensi dan Kemampuan Diri</strong></h4>
<p>Kreatif adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang (atau kelompok orang) yang memungkinkan mereka menemukan terobosan baru dalam menghadapi situasi atau masalah tertentu yang biasanya tercermin dalam pemecahan masalah dengan cara yang baru atau unik, berbeda, dan lebih baik dari sebelumnya (Agus S. Madjadikara, 2005).</p>
<p>Maka, guru yang kreatif adalah guru yang mampu mengaktualisasikan dan mengekspresikan secara optimal segala kemampuan yang ia miliki dalam rangka membina dan mendidik siswa dengan baik. Karena guru yang cerdas dan kreatif akan melahirkan output siswa yang cerdas dan kreatif juga.</p>
<p><strong><em>Namun, Buat Apa Menjadi Guru Kreatif?</em></strong></p>
<p>Kalau tak ada lagi alasan selain untuk mengekplorasi semua potensi dan kemampuan diri yang guru miliki. Karena kreativitas adalah salah satu modal terpenting yang harus dimiliki guru untuk memberikan warna-warna di dalam kelas-kelasnya.</p>
<p>Guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Yang harus terus berupaya up to date mengikuti perkembangan zaman, sehingga cakrawala berpikirnya akan terbuka dan mendapatkan banyak informasi dan inspirasi untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang kreatif.</p>
<p>Maka, tak ada lagi alasan untuk berhenti karena lelah mengeksplorasi diri.</p>
<p>Lalu, apa saja ciri-ciri guru kreatif?</p>
<h4><strong>8 Ciri Guru Kreatif</strong></h4>
<h5><strong>1. Berpikir Inovatif dan Out of The Box</strong></h5>
<p>Jiwa yang kreatif terlahir dari sebuah pemikiran guru yang selalu ingin berinovasi, sehingga selalu berusaha untuk memberikan variasi metode pembelajaran di kelas.</p>
<h5><strong>2. Percaya Diri dan Selalu Ingin Berkembang</strong></h5>
<p>Sangat diperlukan sikap pantang menyerah untuk selalu memberikan yang terbaik kepada siswa. Oleh karena itu, apapun yang dibuat guru untuk siswanya, rasa percaya diri dan selalu ingin berkembang harus tertanaman dalam jiwa guru.</p>
<h5><strong>3. Tidak Gaptek dan Terus Belajar</strong></h5>
<p>Guru kreatif harus peka terhadap perkembangan zaman. Maka, tak boleh ada jeda sedikitpun untuk berhenti belajar demi mengembangkan diri dan siswanya.</p>
<h5><strong>4. Selalu Mencoba Hal Baru dan Tidak Gengsi</strong></h5>
<p>Guru kreatif harus selalu mencoba berbagai cara agar anak didiknya mudah memahami materi pembelajaran dan jatuh cinta terhadap ilmu yang guru ajarkan. Dan, jangan gengsi untuk belajar dari orang lain.</p>
<h5><strong>5. Peka Menemukan Talenta Siswanya</strong></h5>
<p>Karena tingkat kepekaan kepada siswanya tinggi, maka seorang guru kreatif biasanya mengenal kemampuan setiap siswanya.</p>
<h5><strong>6. Pandai Memanfaatkan &#8220;Apa yang Ada&#8221;</strong></h5>
<p>Guru kratif tahu bahaimana cara memanfaatkan sesuatu yang “kurang bermanfaat” menjadi sarana belajar yang menarik.</p>
<h5><strong>7. Mengajar dengan Cara Menyenangkan</strong></h5>
<p>Kaya ide pada diri seorang guru kreatif mampu membuat siswanya tidak merasa bosan dan tertekan pada saat guru memberikan materi pelajaran. Bahkan ia bisa menjadi inspirasi untuk guru lain berpikir kreatif juga.</p>
<h5><strong>8. Tidak Berorientasi pada Uang Semata</strong></h5>
<p>Uang bukanlah tujuan utama. Justru guru akan selalu bersyukur dengan banyaknya ilmu dan pengalamannya.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/buat-apa-menjadi-guru-kreatif/">Buat Apa Menjadi Guru Kreatif?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gurunya Para Guru</title>
		<link>https://unjkita.com/gurunya-para-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2017 08:15:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=17924</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selamat Hari Guru Nasional, 25 Desember lalu! Saya adalah seorang guru yang masih harus banyak belajar mendidik. Dua tahun belajar menjadi guru, perlahan saya mulai...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/gurunya-para-guru/">Gurunya Para Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Selamat Hari Guru Nasional, 25 Desember lalu!</strong></p>
<p><em>Saya adalah seorang guru yang masih harus banyak belajar mendidik. </em></p>
<p>Dua tahun belajar menjadi guru, perlahan saya mulai memahami tentang sesuatu hal dalam atmosfer pendidikan.</p>
<p>Bahwa guru memiliki peran penting sebagai fasilitator teman belajar siswa. Dan saya semakin paham bahwa sejatinya para gurulah yang juga sedang bersekolah bersama teman belajarnya, yaitu para siswanya sendiri. Sumber inspirasi terbesar dan ruang kebahagiaan seorang guru berasal dari para siswanya. Merekalah sesungguhnya gurunya para guru.</p>
<p>Guru yang belajar dari para siswanya akan memahami bahwa siswa hadir di ruang belajar untuk mengendalikan dirinya sendiri dalam proses belajar. Siswa banyak terlibat menentukan tujuan sampai mengekspresikan cara yang dipilihnya. Nah, peran awal sebagai guru yang belajar dari siswanya, seharusnya mampu belajar mengenal karakteristik para siswanya, lalu menyesuaikan dengan kesiapan siswanya.</p>
<blockquote><p><strong>Siswa adalah sekutu utama guru dalam proses belajar-mengajar. Semakin cepat guru mengenal dan memberdayakannya, semakin mudah pencapaian kita bersama. (Najelaa Shihab)</strong></p></blockquote>
<p>Saya pribadi merasakan betul setelah mengubah paradigma saya bahwa guru tak hanya dapat belajar pada pembicara tamu, tokoh masyarakat, ahli pendidikan, ataupun sesama rekan guru saja, tapi guru justru dapat banyak belajar dari para siswanya juga. Banyak sekali hikmah-hikmah kehidupan yang justru bersumber dari para siswa.</p>
<p>Guru yang banyak belajar dari siswanya, membuat siswa mendapat teladan cara terbaik untuk juga belajar dari gurunya. Sehingga, hubungan guru dengan siswa menjadi hubungan yang saling menguatkan. Hubungan yang memiliki prinsip untuk belajar bersama, belajar dari kesalahan secara bersama maupun belajar demi mencapai tujuan bersama.</p>
<p>Cobalah, para guru untuk tidak merasa paling banyak memiliki ilmu ketika mengajar di kelas. Guru tak perlu takut jika ada sesuatu yang tidak diketahui. Guru harus cukup percaya diri untuk tidak takut pada siswa yang mengetahui lebih banyak daripada gurunya. Sebagai guru, sudah seharusnya kita membiarkan siswa melangkah lebih jauh dalam pembelajaran mereka, dan kita tidak berhak untuk menahan mereka kembali.</p>
<p>Berterima kasihlah kepada para siswa Anda. Karena merekalah sesungguhnya gurunya para guru.</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Jika Anda mendapat siswa yang nakal di kelas. Janganlan mengeluh! Justru siswa nakal tersebut adalah anugrah untuk Anda. Banyaklah belajar dari siswa nakal tersebut. Maka, Anda akan juga terus belajar menjadi guru yang lebih baik lagi.&#8221; (Bambang Widjayanto)</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/gurunya-para-guru/">Gurunya Para Guru</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hati-hati dengan Penyakit Disteachia</title>
		<link>https://unjkita.com/hati-hati-dengan-penyakit-disteachia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Nov 2017 04:47:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=17897</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ternyata ada penyakit ganas yang khusus menyerang para guru. Para guru bisa saja terjangkit sebuah penyakit yang diberi nama Disteachia.  Ayo berefleksi! Thomas Armstrong, Ph.d.,...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hati-hati-dengan-penyakit-disteachia/">Hati-hati dengan Penyakit Disteachia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h6><strong>Ternyata ada penyakit ganas yang khusus menyerang para guru. Para guru bisa saja terjangkit sebuah penyakit yang diberi nama Disteachia. </strong></h6>
<p>Ayo berefleksi!</p>
<p>Thomas Armstrong, Ph.d., seorang yang ahli dalam mengaplikasikan strategi <em>Multiple Intelligences</em> di dalam kelas. Ia telah menerima puluhan siswa unik dengan berbagai lebel kelemahan yang ditransfer dari sekolah-sekolah normal.</p>
<p>Selanjutnya, Thomas Armstrong memutuskan untuk melakukan penelitian ke beberapa &#8220;Sekolah Normal&#8221;, sekolah-sekolah untuk anak normal. Setelah diteliti, ternyata bukan anak-anaknya yang bermasalah, melainkan guru-guru di sekolah tersebut yang sedang terjangkit penyakit Disteachia ini, yaitu penyakit salah mengajar. Penyakit ini mengandung tiga virus yang cukup membahayakan para guru.</p>
<blockquote><p><strong>setiap anak  dilahirkan disertai dengan  kecerdasan, sejatinya tidak ada anak yang tidak cerdas jika mendapatkan penanganan yang tepaT (Munif Chatib)</strong></p></blockquote>
<p>Wahai para guru, hati-hati dengan penyakit Disteachia!</p>
<h5><strong>Virus Pertama, Teacher Talking Time</strong></h5>
<p><em>Pernahkah kamu mendengar guru ngomong terus ketika sedang mengajar di kelas? </em></p>
<p>Nah, kalau pernah, itu berarti gurumu sedang terjangkit Disteachia. Mereka biasanya 80% waktunya selalu digunakan untuk bercerita, ceramah, dan menganggap ia didengarkan oleh siswa. Bagi para guru yang terjangkit virus ini, yang terpenting mereka telah memenuhi kewajiban mengajar. Padahal, banyak ruh siswanya tidak bersama guru tersebut di kelas. Karena ketika guru mengajar, belum tentu siswa juga sedang belajar. Bisa saja hanya mendengarkan, tapi pikiran berimajinasi ke hal-hal yang lain.</p>
<p>Virus ini semakin diperparah apabila para guru tak peduli dengan tindakan siswanya di kelas, seperti tertidur di pojokan kelas, diam-diam bermain HP, mengobrol bersama temannya. Guru biasanya tidak menegur/ tidak peduli karena terlalu fokus dengan ceramahnya di kelas. Wajar, jika para siswa menjadi bosan/ suntuk.</p>
<p>Sebaiknya, para guru gunakanlah metode mengajar yang bervariasi. Kurangilah penggunaan metode ceramah saja ketika mengajar di kelas. Dan yang terpenting, berusahalah melibatkan siswa untuk belajar.</p>
<h5><strong>Virus Kedua, Task Analysis</strong></h5>
<p><em>Kamu tahu gak sih, apa manfaat belajar Hukum Newton, Gerak Melingkar, Logaritma, Trigonometri, dan sebagainya? </em></p>
<p>Kalau kamu tidak tahu apa manfaatnya mempelajari materi pelajaran, itu berarti gurumu juga sedang terjangkit disteachia. Ada guru yang belum terbiasa menjelaskan kegunaan materi untuk aplikasi dalam kegiatan sehari-hari, padahal hal tersebut sangatlah penting.</p>
<p>Sebaiknya guru mampu untuk memberikan <em>global analysis </em>pada mata pelajaran yang diampunya<em>. </em>Para guru harus mampu memberikan gambaran secara utuh dari sebuah materi, sehingga siswa paham isi materi serta manfaat dan inspirasi yang bisa didapat dari belajar materi tersebut.</p>
<h5><strong>Virus Ketiga, Tracking</strong></h5>
<p><em>Tracking</em> adalah pengelompokan siswa ke dalam beberapa kelas berdasarkan kemapuan kognitifnya. <em>Output tracking</em> adalah pembagian kelas menjadi kelas untuk anak pintar dan kelas untuk anak bodoh. Virus ini hampir menjangkiti semua sekolah, terutama sekolah favorit.</p>
<p>Thomas Amstrong dalam bukunya &#8220;Awakening Genius in the Classroom&#8221; telah melakukan penelitian tentang kelas khusus. Ternyata, perkembangan psikologi dan kompetensi seorang siswa pandai yang masuk dalam kelas khusus anak pandai atau kelas akselerasi mempunyai resiko kemunduran tingkat kecerdasan. Kompetisi kognitif yang terjadi setiap saat pada kelas ini menimbulkan ketegangan dan memenjarakan siswa dalam dikotomi kalah dan menang.</p>
<p>Jujur, sewaktu SD, penulis pernah mengalami guru yang terjangkit penyakit ini, terutama virus <em>tracking</em> (hanya pada kelasnya saja). Saya ingat betul, kami dibagi per baris duduk di dalam kelas. Baris pertama, siswa yang boleh duduk hanya rangking 1-10, baris kedua 11-20, baris selanjutnya diduduki ranking seterusnya. Ternyata hal tersebut kuranglah tepat. Guru tak boleh mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan kognitifnya, terlebih melebeli siswa kumpulan anak pintar dan kumpulan anak bodoh. Pantas saja, saya merasakan betapa tidak sehatnya atmosfer kompetisi belajar saat itu.</p>
<p><em>Sumber: Chatib, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia. Kaifa: Bandung </em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/hati-hati-dengan-penyakit-disteachia/">Hati-hati dengan Penyakit Disteachia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Resensi Film Pendidikan &#8220;The Ron Clark Story&#8221;</title>
		<link>https://unjkita.com/resensi-film-pendidikan-ron-clark-story/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Mar 2017 07:02:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sinopsis Film]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=6663</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hi teman-teman pendidik unjkita.com! Tulisan serial pendidikan kali ini, penulis akan berbagi resensi tentang sebuah film bertemakan pendidikan. Tulisan ini berdasarkan kegaitan penulis bersama guru-guru...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/resensi-film-pendidikan-ron-clark-story/">Resensi Film Pendidikan &#8220;The Ron Clark Story&#8221;</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Hi teman-teman pendidik unjkita.com! Tulisan serial pendidikan kali ini, penulis akan berbagi resensi tentang sebuah film bertemakan pendidikan. Tulisan ini berdasarkan kegaitan penulis bersama guru-guru lainnya dalam rangka membedah film pendidikan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Film yang rilis pada tanggal 13 Januari 2006 ini bercerita tentang pengalaman nyata seorang guru dengan metode mengajar yang berbeda untuk peserta didik “pilihan” di sebuah sekolah dasar, New York. Tokoh utama dalam film ini adalah Ron Clark yang diperankan oleh Matthew Perry, seorang guru yang sangat inovatif, kreatif, cerdas, pantang menyerah, penyayang, dan bersemangat.</span></p>
<h4><span style="color: #000000;"><strong>Sinopsis</strong></span></h4>
<p><span style="color: #000000;">Ron Clark adalah seorang guru yang sangat menginspirasi peserta didiknya. Ron Clark atau Mr. Clark semula menjadi guru selama empat tahun di Snowden Elementary school di Aurora, North California pada tahun 1994. Ia membuat sekolah dasar tersebut menjadi sekolah yang mendapatkan nilai kelulusan memuaskan. Singkat cerita, akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke New York.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sesampainya Mr. Clark di New York, ia segera mencari sekolah SD untuk dapat mengajar di sana. Dalam usahanya menjadi guru SD di New York, ia sempat ditolak, namun akhirnya dia menemukan sekolah, yaitu “Inner Harlem Elementary School”. Ia diterima di sekolah Harlem tepat ketika ada seorang guru yang keluar dari sekolah tersebut. Guru yang keluar dari SD Harlem tidak mampu mengatasi peserta didik di sekolah tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setelah resmi diterima di SD Harlem, Mr. Clark diajak Mr. Turner, kepala sekolah SD Harleem, untuk berkeliling sekolah dan ditunjukkan kelas yang akan Mr. Clark ajar. Sebelum ia mengajar kelasnya, terlebih dahulu dia mengunjungi rumah dan orang tua masing-masing peserta didikya. Saat mengunjungi mereka satu persatu, Mr. Clark menemukan berbagai kondisi dan latar belakang yang sangat berbeda.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-6666 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Family.jpg" alt="" width="650" height="363" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Family.jpg 650w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Family-150x84.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Family-640x357.jpg 640w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" /></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketika Mr. Clark masuk ke kelas untuk pertama kalinya, dia melihat kondisi peserta didiknya yang begitu heterogen. Mereka begitu acuh dan sama sekali tidak menghargai keberadaan guru di dalam kelas. Mr. Clark mencoba untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta didiknya. Selanjutnya, Mr. Clark menerapkan beberapa aturan dalam kelasnya dan peraturan yang pertama kali harus diterapkan adalah “menjadikan kelas tersebut sebagai keluarga”. Mr. Clark sangat menekankan keberadaan mereka sebagai sebuah keluarga yang harus saling membantu, menghargai dan menyayangi satu dengan lainnya. Tentu peraturan tersebut tidak mudah untuk dijalankan. Namun, Mr. Clark tidak pernah bosan untuk berusaha dan menerapkan peraturan istimewa tersebut.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Banyak sekali kebiasaan peserta didik yang sangat tidak baik, mulai dari kebiasaan mereka yang tidak menghargai kawan maupun gurunya, berkelahi, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Suatu ketika, Mr. Clark terpancing emosinya di depan kelas karena ulah salah satu peserta didiknya. Ia membalikkan meja kelas milik Shemika, dan semenjak itu ia merasa sangat menyesal dan putus asa. Karena banyak sekali tekanan, pergolakkan emosi, dan sulitnya menghadapi kondisi peserta didik, Mr. Clark merasa putus asa dan berniat untuk berhenti mengajar di SD Harleem.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><img decoding="async" class="size-full wp-image-6667 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Suasana-di-dalam-kelas.png" alt="" width="640" height="360" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Suasana-di-dalam-kelas.png 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Suasana-di-dalam-kelas-150x84.png 150w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maurice, seorang wanita yang dikaguminya, memberinya semangat agar tetap berjuang dan membuktikan bahwa dirinya mampu menaklukkan kondisi para peserta didiknya yang begitu “berbeda”. Berkat dorongannya itu, akhirnya Mr. Clark mengurungkan niatnya untuk menyerah dan kembali mengajar di kelas keesokan harinya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Selain itu, Mr. Turner, kepala sekolah SD Harleem merasa kurang menyukai dengan gaya pembelajaran yang dilakukan oleh Mr. Clark, bahkan Mr. Turner sempat menekan kepadanya dengan mengatakan “My school, my rule, my way!”. Mr. Turner menuntut agar seluruh peserta didiknya bisa lulus ujian akhir, ia tidak mementingkan metode-metode pengajaran yang dilakukan Mr. Clark di kelas.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Mr. Clark selalu menggunakan metode-metode pengajaran yang lain daripada yang lain. Dia menggunakan metode yang disukai dan dapat membuat peserta didiknya merasa nyaman dan senang selama proses pembelajaran berlangsung. Seperti berjalan-jalan, menggunakan radio tape, bergaya kocak, bahkan ia tak sungkan untuk duduk di atas meja dimana biasanya hal itu adalah hal yang tidak sopan, apalagi jika dilakukan oleh seorang guru. Mr. Clark mencoba mendalami satu persatu para peserta didiknya yang memiliki masalah, kemudian dia berusaha menanganinya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Mr. Clark ternyata mampu melihat potensi-potensi kecerdasan dan bakat yang dimiliki oleh para peserta didiknya. Bahkan suatu ketika, ia sudah mulai mampu membuat pesera didiknya mulai untuk mencintainya. Dia meluangkan banyak waktunya untuk memberikan pelajaran tambahan bagi para peserta didiknya secara privat. Bahkan sampai-sampai dia tidak menghiraukan kondisi kesehatannya. Ketika beberapa minggu menjelang Ujian nasional dilakukan, berbagai macam usaha dan kerja keras telah dilakukan Mr. Clark, pikirannya semakin mendapatkan tekanan hebat dan tenaganya terforsir, hingga membuat badannya dalam kondisi yang tidak baik. Ketika ia harusnya dirawat di rumah sakit, dia masih saja nekat mengajar. Hingga akhirnya, ia jatuh pingsan ketika mengajar di depan kelas.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Walaupun dalam kondisi sakit dan terbaring lemah di Rumah Sakit, Mr. Clark tetap mengajar dengan menggunakan rekaman video. Ia tetap amanah untuk menjalankan kewajiban mengajarnya. Rekaman video yang dibuatnya, dinyalakan di kelas, sehingga peserta didiknya masih bisa untuk belajar di kelas. Seminggu sebelum Ujian Nasional, Mr. Clark sudah kembali pulih dan masuk kembali ke kelasnya. Dia hanya sekadar mengulang dan memberikan penguatan-penguatan pada peserta didiknya. Kelas Mr. Clark kini menjadi sebuah kelas yang sangat berbeda dengan kondisi awal, rasa kekeluargaan yang terbangun kini menjadi semakin sangat erat.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Mr. Clark merasa cemas dan tegang memikirkan peserta didiknya yang sedang melaksanakan Ujian Nasional. Namun, ketika ujian telah berakhir, nampak ekspresi lega dari raut wajahnya. Selanjutnya, Mr. Clark mengajak seluruh peserta didiknya ke DE PHANTOM of de Opera, sebagai hadiah dan sekaligus penyegaran setelah mengerjakan Ujian Nasional. Saat para peserta didik mendapatkan tiketnya, terlihat mereka begitu senang dan sangat bersemangat.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketika hasil telah diperoleh, pada hari itu Mr. Clark mengundang orang tua peserta didik untuk menyaksikan pengumuman nilai dari putra-putrinya. Di tengah-tengah acara itu, Mr. Turner tiba-tiba masuk dan memberikan surat pengumuman. Isi dari surat tersebut adalah memberitahukan bahwa niai dari salah satu peserta didiknya merupakan nilai tertingggi dalam Ujian nasional, bahkan nilai rata-rata kelas itu yang terbaik dan mengalahkan nilai rata-rata kelas unggulan. Kelas pun sontak menjadi riuh dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Atas semua hal yang telah didapatkan oleh para peserta didik, mereka memberikan penghargaan kepada Mr. Clark sebagai guru terbaik.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam kesempatan tersebut, Shemica sebagai perwakilan dari teman-temannya mengatakan, “Mr. Clark, terimakasih untuk selalu berada disisi kamu, bahkan ketika kami tidak sedang menginginkannya, kau tiada henti untuk memberikan kami inspirasi.”</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ialah sosok guru yang tidak pernah berhenti untuk memberikan berbagai hal-hal terbaik bagi peserta didiknya. Ia menjadikan profesi guru bukan hanya sekadar profesi, tapi sebagai sebuah panggilan hati.</span></p>
<h4><span style="color: #000000;"><strong>Analisis</strong></span></h4>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Saat Mr. Clark mengajar di SD Harleem, New York, ia mendapatkan beberapa kendala dalam pendekatan pembelajaran, yaitu:</strong></span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">Peserta didik yang nakal dan sulit diatur. Hal ini terlihat saat pertama kali mengajar, ia tidak dihargai sama sekali dengan disoraki oleh para peserta didik, tidak mau belajar, dan tidak mau mengikuti peraturan yang dibuat Mr. Clark.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Keadaan lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Lingkungan yang keras dapat mempengaruhi sifat seseorang seperti perjudian, pencurian, dan kekerasan yang dapat mengurangi kepedulian terhadap pendidikan.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya. Orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri sehingga anak disibukkan dengan membantu pekerjaan rumah dan kurangnya waktu anak untuk belajar.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Peserta didik tidak nyaman untuk belajar di ruang kelas. Hal ini terlihat pada beberapa guru sebelum Mr. Clark yang mengajar mereka tidak sanggup karena kenakalan dan kericuhan yang mereka buat agar tidak ada yang mau mengajar mereka.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Kepala sekolah yang tidak mempedulikan metode mengajar Mr. Clark. Ia hanya menuntut hasil kelulusan yang harus diperoleh para peserta didik di SD Harleem.</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Teknik Pembelajaran yang digunakan oleh Mr. Clark di kelas, yaitu:</strong></span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">Adanya rules saat awal pembelajaran yang harus disepakati antara guru dengan peserta didik.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Pendekatan individual kepada setiap peserta didik.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Menggabungkan materi pelajaran dengan musik, permainan kartu, audio visual, dan sebagainya.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Mengajak peserta didik untuk aktif berperan.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Terus memberi motivasi pada peserta didik.</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;">Dari beberapa teknik yang digunakan Mr. Clark yang terpenting adalah membuat seorang peserta didik merasa nyaman, asyik, dan tidak menjenuhkan dalam belajar.</span></p>
<div id="attachment_6671" style="width: 736px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-6671" class="wp-image-6671 size-full" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ron-Clark-Academy.jpg" alt="" width="726" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ron-Clark-Academy.jpg 726w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ron-Clark-Academy-150x99.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ron-Clark-Academy-800x529.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ron-Clark-Academy-635x420.jpg 635w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ron-Clark-Academy-640x423.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ron-Clark-Academy-681x450.jpg 681w" sizes="(max-width: 726px) 100vw, 726px" /><p id="caption-attachment-6671" class="wp-caption-text">Ron Clark (center) gets emotional as he holds students during the Ron Clark Academy&#8217;s first graduation ceremony at Ferst Center for the Arts at Georgia Tech.</p></div>
<h4><span style="color: #000000;"><strong>Hikmah</strong></span></h4>
<p><span style="color: #000000;"><strong>Hikmah yang bisa diambil untuk seorang guru dari film ini, yaitu:</strong></span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;">Guru harus mengenal dan memahami karakteristik serta kebutuhan setiap peserta didiknya.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru harus bisa memotivasi peserta didiknya untuk selalu haus belajar.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Jadilah Guru yang menyukai tantangan dalam mengajar jangan mudah menyerah dan putus asa. Beranilah untuk keluar dari zona nyaman.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru harus bisa melakukan pendekatan secara individual dengan peserta didik. Guru mampu mengambil hati peserta didik agar mereka bisa nyaman belajar dengan gurunya.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru harus bisa bekerja sama dengan kepala sekolah dan orangtua dalam merancang suatu program pembelajaran bagi peserta didiknya.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru harus bisa memanfaatkan setiap kondisi sebagai media belajar bagi peserta didik, sehingga dimana saja peserta didik bisa belajar dengan nyaman dan maksimal</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru harus kreatif, solutif, dan inovatif. Dan yang paling terpenting guru harus mau untuk selalu meningkatkan kualitas diri.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru harus mau membiasakan diri untuk mengungkapkan kepada peserta didik bahwa inspirasi bisa datang dari siapa saja, termasuk dari peserta didik juga.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan harus selalu menghargai kemampuan sekecil apapun yang dimiliki peserta didiknya.</span></li>
<li><span style="color: #000000;">Guru ikhlas mengorbankan banyak tenaga, pikiran, dan waktunya untuk membuat peserta didik memiliki keinginan belajar serta mau untuk terus menjadi lebih baik. Karena proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #000000;">Itulah resensi dari film pendidikan &#8220;The Ron Clark Story&#8221;. Semoga teman-teman pendidik bisa terinspirasi dari sosok guru Ron Clark yang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya. Salam menginspirasi!</span></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/resensi-film-pendidikan-ron-clark-story/">Resensi Film Pendidikan &#8220;The Ron Clark Story&#8221;</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Agar Guru Bisa Lebih Produktif</title>
		<link>https://unjkita.com/cara-agar-guru-bisa-lebih-produktif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Mar 2017 01:48:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Produktif]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=6596</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menjadi produktif adalah sebuah keniscayaan untuk memberikan manfaat pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Dan, beruntunglah menjadi seorang guru. Karena profesi guru adalah salah...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/cara-agar-guru-bisa-lebih-produktif/">Cara Agar Guru Bisa Lebih Produktif</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi produktif adalah sebuah keniscayaan untuk memberikan manfaat pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar.</p>
<p>Dan, beruntunglah menjadi seorang guru. Karena profesi guru adalah salah satu profesi yang memiliki waktu yang cukup luang. Kegiatan utama seorang guru adalah mengajar dan mendidik peserta didik di sekolah pada pagi sampai siang/ sore hari. Guru diwajibkan berada di sekolah selama 8 jam saja.</p>
<p>Sebenarnya ada tiga kewajiban bagi seorang guru, diantaranya kewajiban membuat perencanaan (menyusun <em>lesson plan</em>), kewajiban mengajar di kelas, dan kewajiban melakukan evaluasi hasil belajar peserta didik. Dari ketiga kewajiban itu, guru masih bisa loh untuk lebih produktif, asalkan ketiga kewajiban itu sudah dilaksanakan ya!</p>
<p><em>Lalu, apa saja yang bisa dilakukan oleh guru di waktu yang lain selain mengajar di sekolah?</em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Baca juga: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/7-kesalahan-guru-ketika-mengajar-dan-solusinya/">7 Kesalahan Guru Ketika Mengajar dan Solusinya</a></span></strong></p>
<p>Berikut ini beberapa kegiatan pilihan yang dapat dilakukan oleh seorang guru agar lebih produktif selain profesi utamanya (mengajar di sekolah), diantaranya:</p>
<h4><strong>1. Membaca Buku dan Menulis</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-5972 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2.jpg" alt="" width="639" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2.jpg 639w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-150x113.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-800x600.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-559x420.jpg 559w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-80x60.jpg 80w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-100x75.jpg 100w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-180x135.jpg 180w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-238x178.jpg 238w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-640x481.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-681x511.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 639px) 100vw, 639px" /></p>
<p>Sebenarnya semua orang dengan jenis pekerjaan apapun bisa melakukan dua kegiatan tersebut, yaitu membaca buku dan menulis. Namun, ada keistimewaan bagi seorang guru. Ia memiliki waktu yang cukup banyak untuk membaca buku dan juga menulis. Karena sejatinya, seorang guru haruslah mau untuk meng-upgrade diri dan menambah wawasannya agar ia tak ketinggalan ilmu-ilmu bermanfaat yang bisa dibagikan untuk peserta didik di kelas. Untuk masalah waktu yang tersedia, jadikan dua kegiatan tersebut sebagai suatu kewajiban bagi seorang guru, jika ia memahami arti dari meningkatkan kualitas diri.</p>
<blockquote><p><strong>Karena sejatinya, seorang guru haruslah mau untuk meng-upgrade diri dan menambah wawasannya agar ia tak ketinggalan ilmu-ilmu bermanfaat yang bisa dibagikan untuk peserta didik di kelas.</strong></p></blockquote>
<p>Untuk kegiatan menulis, memang nyatanya tidak semua orang mudah melakukan hal tersebut. Namun, guru seharusnya pun bisa asal mempunyai niat yang kuat dan mau untuk berkarya. Karya seorang guru melalui kegiatan menulis ada berbagai macam, misalnya menulis blog pribadi dan buku tentang kependidikan, menulis serial pendidikan di website unjkita.com, ataupun menulis penelitian tindakan kelas untuk dijadikan sebuah jurnal kependidikan, lalu nantinya bisa diseminarkan. Ayo teman-teman pendidik, membaca buku dan menulislah untuk meningkatkan kualitas diri kita!</p>
<h4><strong>2. Memberikan Les Bimbel Maupun Les Privat</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6598 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Mengajar.jpg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Mengajar.jpg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Mengajar-150x100.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Mengajar-800x533.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Mengajar-630x420.jpg 630w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Mengajar-640x427.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Mengajar-681x454.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p>Les privat adalah salah satu kegiatan yang sudah lazim dilakukan oleh teman-teman pendidik usai mengajar di sekolah. Cukup banyak guru yang memilih untuk tidak langsung pulang ke rumah, tetapi pergi ke tempat bimbel (bimbingan belajar), rumah murid, atau tempat-tempat seperti café. Hal tersebut merupakan salah satu kegaitan produktif yang bisa dilakukan oleh guru tentunya. Selain bisa menambah penghasilan, kegiatan tersebut juga bisa mengisi waktu kekosongan guru pada sore ataupun malam hari. Sehingga, guru tidak hanya mengajar di pagi hari saat di sekolah saja, tapi sore dan malam hari pun juga bisa mengajar peserta didik di tempat-tempat lainnya.</p>
<h4><strong>3. Melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-5974 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik.jpeg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik.jpeg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-150x100.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-800x533.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-630x420.jpeg 630w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-640x427.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-681x454.jpeg 681w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p>Sayang sekali rasanya jika kemampuan guru dalam mengajar di kelas tidak didokumentasikan dalam bentuk jurnal ataupun <em>proceeding</em> PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Bukalah ruang inspirasi teman-teman pendidik, untuk mau melakukan PTK. Setelah itu, teman-teman pendidik bisa membuat rancangan penelitian metode belajar yang seperti apa untuk diterapkan di kelas. Hasil dari PTK, bisa dituliskan dalam bentuk jurnal maupun<em> proceeding</em> yang nantinya bisa dipresentasikan dalam seminar maupun konferensi pendidikan. Melakukan PTK bisa membuat teman-teman untuk lebih produktif lagi sekaligus bisa menghasilkan karya dari seorang guru.</p>
<h4><strong>4. Rajin Mengikuti Pelatihan maupun Seminar Kependidikan</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6152 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Ruang-Kelas-FMIPA-UNJ.jpg" alt="" width="600" height="400" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Ruang-Kelas-FMIPA-UNJ.jpg 600w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Ruang-Kelas-FMIPA-UNJ-150x100.jpg 150w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></p>
<p>Tak bisa kita pungkiri kalau seorang guru sangat membutuhkan ruang inspirasi untuk meningkatkan kualitas diri. Salah satunya dengan rajin mengikuti pelatihan maupun seminar kependidikan. Akan ada banyak sekali narasumber ataupun <em>trainer </em>berkualitas yang siap melatih guru agar bertambah kualitas diri kita. Misalnya, pelatihan metode mengajar yang sangat efektif. Selain ilmunya sangat bermanfaat, tentu kegiatan-kegiatan pelatihan ataupun seminar bisa mengisi waktu luang seorang guru. Ayo, teman-teman pendidik jangan meluangkan waktu tapi menyediakan waktu untuk kegiatan-kegiatan produktif nan bermanfaat seperti ini!</p>
<blockquote><p><strong>Ayo, teman-teman pendidik jangan meluangkan waktu tapi menyediakan waktu untuk kegiatan-kegiatan produktif nan bermanfaat seperti ini!</strong></p></blockquote>
<h4><strong>5. Bisnis atau Jualan Kecil-kecilan</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-3278 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/06/Koin-Recehan.jpg" alt="" width="640" height="426" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/06/Koin-Recehan.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/06/Koin-Recehan-150x100.jpg 150w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Untuk guru yang mempunyai <em>passion</em> selain di dunia kependidikan, tentu bisa melakukan kegiatan ini, yaitu bisnis atau jualan kecil-kecilan. Modal berbisnis ataupun berjualan bisa berasal dari gaji guru tiap bulannya. Teman-teman pendidik, bisa memikirkan bisnis atau jualan apa yang cocok untuk seorang guru, misalnya membuka warung sembako, jualan pulsa di kalangan guru-guru, dan lain-lain. Selain cocok, juga perlu dipikirkan jenis bisnis atau jualan yang bisa memutarkan modal. Semoga kegiatan produktif ini, selain bisa memenuhi waktu luang seorang guru, tentu bisa menambah penghasilan dari gaji seorang guru ya! <em>Aamiin….</em></p>
<h4><strong>6. Berkebun Hidroponik</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6600 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Berkebun.jpeg" alt="" width="725" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Berkebun.jpeg 725w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Berkebun-150x99.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Berkebun-800x529.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Berkebun-635x420.jpeg 635w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Berkebun-640x424.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Berkebun-681x451.jpeg 681w" sizes="auto, (max-width: 725px) 100vw, 725px" /></p>
<p>Ternyata tidak sedikit, guru yang memilih untuk berkebun hidroponik di rumah. Ini merupakan salah satu kegaitan produktif dan sangat mengasyikkan bagi guru yang memiliki hobi berkebun. Tentu ada keasyikkan tersendiri ketika kita sangat hobi melakukan kegiatan tersebut, seperti berkebun hidroponik. Terlebih, kita bisa menikmati hasil dari kegiatan produktif tersebut.</p>
<h4><strong>7. Membuat Karya dari Barang Tak Terpakai</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6601 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Membuat-Karya.jpg" alt="" width="729" height="410" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Membuat-Karya.jpg 729w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Membuat-Karya-150x84.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Membuat-Karya-800x450.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Membuat-Karya-747x420.jpg 747w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Membuat-Karya-640x360.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Membuat-Karya-681x383.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 729px) 100vw, 729px" /></p>
<p><em>Passion</em> lainnya, yang bisa dilakukan guru adalah membuat karya dari barang yang tak terpakai. Mungkin kegiatan ini memang memakan waktu yang cukup lama, sehingga bisa dikerjakan dikala hari libur, seperti hari sabtu dan minggu. Bagi guru yang memiliki sisi kreativitas yang cukup tinggi, tentu kegiatan ini bisa menjadi pelipur lara saat kejenuhan datang melanda. Hasilnya tentu bisa dinikmati sendiri. Karya-karya dari barang tak terpakai, misalnya membuat selimut dari kain-kain perca, membuat keset, membuat hiasan untuk pot tanaman, dan sebagainya.</p>
<h4><strong>8. Aktif Melakukan <em>Social Project</em></strong></h4>
<div id="attachment_3719" style="width: 739px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3719" class="size-full wp-image-3719" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/08/Start-up-business.jpg" alt="" width="729" height="365" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/08/Start-up-business.jpg 729w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/08/Start-up-business-150x75.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/08/Start-up-business-800x400.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/08/Start-up-business-568x284.jpg 568w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2016/08/Start-up-business-990x495.jpg 990w" sizes="auto, (max-width: 729px) 100vw, 729px" /><p id="caption-attachment-3719" class="wp-caption-text">Start-up Business Team Working in Office</p></div>
<p>Guru yang mempunyai <em>passion</em> di bidang keorganisasian, bisa menjadi Pembina OSIS. Dengan menjadi Pembina OSIS, guru bisa membina dan membantu siswa-siswa OSIS untuk banyak melakukan social project, seperti penggalangan dana korban bencana, mengajar di desa tertinggal, memberi makan fakir miskin, membagi-bagikan sembako, dan lain sebagainya. Atau, jika guru tidak memiliki kesempatan untuk menjadi Pembina OSIS, teman-teman pendidik bisa bergabung dengan komunitas sosial dan mengikuti kegiatan-kegiatan dari komunitas tersebut. Cukup banyak kegiatan-kegiatan produktif dari wadah komunitas sosial yang diikuti.</p>
<h4><strong>9. Menjadi Ketua ataupun Pengurus RT</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-6602" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Pemimpin.jpg" alt="" width="719" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Pemimpin.jpg 719w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Pemimpin-150x100.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Pemimpin-800x534.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Pemimpin-630x420.jpg 630w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Pemimpin-640x427.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Pemimpin-681x454.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 719px) 100vw, 719px" /></p>
<p>Tidak usah jauh-jauh, salah satu kegiatan produktif yang bisa dilakukan guru adalah mengabdi untuk masyarakat sekitar dengan menjadi ketua RT atau pengurus RT. Biasanya para tetangga mempercayakan pengurus RT kepada orang yang berwawasan luas, memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi, jujur, serta cukup memiliki waktu luang di rumah. Salah satu profesi yang tepat adalah seorang guru. Ayo teman-teman pendidik, kegiatan produktif ini meruapakan kesempatan bagi Anda untuk mengabdi pada masyarakat sekitar!</p>
<p>Itulah beberapa contoh kegiatan produktif yang bisa dilakukan guru selain mengajar di sekolah. Tentu masih banyak lagi kegiatan-kegiatan produktif yang bisa dilakukan. Manfaatkanlah waktu teman-teman pendidik dengan sangat baik, jangan sampai memiliki banyak waktu luang menyebabkan ketidakproduktifan diri sendiri. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi! <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/cara-agar-guru-bisa-lebih-produktif/">Cara Agar Guru Bisa Lebih Produktif</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>7 Kesalahan Guru Ketika Mengajar dan Solusinya</title>
		<link>https://unjkita.com/7-kesalahan-guru-ketika-mengajar-dan-solusinya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2017 09:00:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Peserta Didik]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=5964</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pernahkah teman-teman pendidik merasa melakukan kesalahan dalam menunaikan tugas dan fungsi sebagai guru? Sejatinya, kegagalan teman-teman pendidik dalam mengajar di kelas disebabkan karena kesalahan mendasar...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/7-kesalahan-guru-ketika-mengajar-dan-solusinya/">7 Kesalahan Guru Ketika Mengajar dan Solusinya</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pernahkah teman-teman pendidik merasa melakukan kesalahan dalam menunaikan tugas dan fungsi sebagai guru? </em></p>
<p>Sejatinya, kegagalan teman-teman pendidik dalam mengajar di kelas disebabkan karena kesalahan mendasar yang tidak disadari, bahkan masih banyak diantara kita yang menganggap hal yang telah dilakukan merupakan sesuatu yang biasa. Padahal sekecil apapun kesalahan yang dilakukan oleh <strong><a href="https://unjkita.com/5-kebiasaan-baik-yang-harus-dilakukan-guru/">teman-teman pendidik</a></strong>, khususnya dalam pembelajaran, akan berdampak negatif terhadap perkembangan peserta didik. Setuju?</p>
<p>Teman-teman pendidik harus mampu mengendalikan diri dan memahami kondisi agar terhindar dari kesalahan-kesalahan ketika mengajar di kelas. Kita hanyalah manusia biasa, yang tidak luput dari kelemahan dan kesalahan ketika berada di depan peserta didik. Namun, bukan berarti kesalahan teman-teman pendidik harus dibiarkan dan tidak ada jalan keluarnya.</p>
<blockquote><p><strong><em>Setiap guru tentu memiliki potensi untuk berhasil menjalankan tugasnya sebagai agen pembelajaran yang handal. Keberhasilan guru ini secara nyata dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik ketika mengikuti proses dan mencapai tujuan pembelajaran.</em></strong></p></blockquote>
<p>Berikut ini adalah tujuh kesalahan <a href="https://unjkita.com/guru-pahlawan-penuh-tanda-jasa/">guru</a> ketika mengajar yang mengakibatkan kegagalan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Kesalahan-kesalahan tersebut diantaranya:</p>
<h4><strong>1. Tidak Ada Persiapan Ketika Mengajar</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5968" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/RPP.jpeg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/RPP.jpeg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/RPP-150x100.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/RPP-800x533.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/RPP-630x420.jpeg 630w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/RPP-640x427.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/RPP-681x454.jpeg 681w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p><em>Adakah diantara teman-teman pendidik yang merasa mengajar dengan baik di kelas walaupun tanpa persiapan sama sekali?</em> Tentu tidak. Seharusnya, teman-teman pendidik selalu mempersiapkan segala hal sebelum mengajar, mulai dari RPP (Rencana Persiapan Pengajaran), perangkat atau media pembelajaran., sampai bahan-bahan evaluasi materi. Teman-teman pendidik harus selalu ingat bahwa mengajar tampa persiapan merupakan tindakan yang dapat merugikan perkembangan siswa.</p>
<p>Tentu solusinya adalah buatlah persiapan yang matang sebelum teman-teman pendidik mengajar di kelas. Seorang guru dalam merancang pembelajaran juga harus semakin terampil dalam mengelola kelas sesuai dengan karakteristik peserta didik untuk mencapai akhir dari tujuan materi yang diajarkan. Ingatlah bahwa dalam proses pembelajaran, tidak ada pembelajaran yang berhasil tanpa persiapan yang benar.</p>
<p>Tipsnya, teman-teman pendidik dapat merancang kegiatan pembelajaran keseluruhan secara <em>weekly</em> ketika teman-teman sedang tidak mengajar (hari minggu). Semoga tidak merepotkan ya! Nah, caranya adalah membuat perancangan yang sangat mudah, yaitu membuat RPP hanya satu halaman saja. RPP satu halaman saja semacam RPP untuk diri kita sendiri yang terdiri dari tujuan pembelajaran, apersepsi, rancangan evaluasi, media yang digunakan, alur pembelajaran, dan inspirasi yang dibagikan. RPP satu halaman sangatlah <em>simple</em> dan semoga saja sangat membantu teman-teman pendidik mempersiapkan diri sebelum mengajar di kelas.</p>
<p>Yuk, jadikan kegiatan perancangan secara <em>weekly </em>sebagai suatu sistem yang jika tidak dikerjakan akan sangat mengganggu komponen lainnya dari keseluruhan sistem pembelajaran. Penulis sudah mencobanya, dan perancangan pembelajaran secara <em>weekly</em> sangat membantu sekali lho. Semoga teman-teman pendidik selalu <em>istiqomah</em> ya!</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Baca juga: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/10-prinsip-dasar-mengajar/">10 Prinsip Dasar Mengajar</a></span></strong></p>
<h4><strong>2. Mamaksa Peserta Didik Harus Bisa Memahami Materi yang Kita Ajarkan</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5970" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku.jpg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku.jpg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-150x100.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-800x533.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-630x420.jpg 630w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-640x427.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-681x454.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p><em>“Saya sudah bersungguh-sungguh mengajari siswa itu, tapi ketika ulangan sudah dibagikan hasilnya sangat mengecewakan!”</em></p>
<p><em>“Siswa ini sudah dijelaskan berkali-kali tapi tetap saja tidak mengerti!”</em></p>
<p><em>Pernahkah teman-teman pendidik mengeluhkan seperti itu?</em></p>
<p>Sejujurnya, penulis pernah mengeluh seperti itu. Penulis pernah berpikir egosentris terhadap peserta didik yang tidak paham materi yang diajarkan. Dan saat itu, rasanya jengkel sekali. Rasa kejengkelan itu dapat berimbas kepada peserta didik lainnya lho. Target materi menjadi tidak tercapai karena keegoisan guru untuk membuat satu atau dua peserta didik tersebut harus paham materi yang diajarkan. Tentu ini kesalahan paling mendasar tetapi kurang disadari oleh kita. <em>Adakah diantara teman-teman pendidik mengalami hal yang sama dengan penulis?</em></p>
<p>Diantara teman-teman pendidik mungkin pernah memaksa peserta didik untuk benar-benar paham dengan materi yang kita ajarkan, padahal memori peserta didik tidak terlalu besar untuk menampung semua materi pelajaran. Dan sejujurnya, kita pun memiliki keterbatasan dalam menguasai pelajaran yang kita ajarkan. Nah, bagaimana mungkin kita memaksa peserta didik untuk menguasai setiap mata pelajaran? Perlu teman-teman pendidik ketahui, tentu setiap peserta didik memiliki perbedaan karakteristik tentang gaya belajarnya. Nah, kita tidak bisa memaksa gaya mengajar guru harus <em>acceptable</em> bagi peserta didik.</p>
<p>Ingatlah bahwa setiap <a href="https://unjkita.com/cara-cara-guru-mendengar-suara-siswa/">peserta didik memiliki keahlian yang berbeda-beda</a> dalam menguasai pelajaran. Untuk itu, teman-teman pendidik sangat perlu memberikan motivasi dan inspirasi kepada para peserta didik untuk memperdalam pelajaran yang dikuasai dan disukai. Jika kita memaksa, kemungkinan besar kemampuan peserta didik hanya berada di tengah-tengah tanpa keahlian pasti. Amanah kita sebagai pendidik adalah mendidik mereka untuk menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa dan negara.</p>
<h4><strong>3. Merasa Diri Paling Pandai Saat di Kelas</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5972" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2.jpg" alt="" width="639" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2.jpg 639w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-150x113.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-800x600.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-559x420.jpg 559w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-80x60.jpg 80w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-100x75.jpg 100w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-180x135.jpg 180w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-238x178.jpg 238w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-640x481.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Buku-2-681x511.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 639px) 100vw, 639px" /></p>
<p><em>Kalau boleh jujur, adakah diantara teman-teman pendidik yang pernah merasa paling pandai ketika mengajar di kelas? Atau, adakah diantara teman-teman pendidik yang menganggap peserta didik adalah sebuah &#8220;tong kosong&#8221; yang harus diisi dengan sesuatu yang sangat penting?</em></p>
<p>Terutama peserta didik di kota-kota besar, tentu mereka dengan sangat mudah menikmati internet dan berlangganan koran atau majalah. Tak dapat dipungkiri media pembelajaran saat ini sangatlah luas dan <em>up to date</em>. Jika teman-teman pendidik tidak meng-<em>upgrade</em> diri terus menerus, bukan tidak mungkin jika peserta didik kita lebih pandai daripada gurunya. Dan bahkan kita bisa belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan.</p>
<p>Namun apa yang terjadi jika peserta didik bertanya tentang sesuatu hal yang belum kita ketahui? Maka akui sajalah bahwa kita belum mengetahui jawaban yang ditanyakan. Tapi teman-teman pendidik harus berjanji untuk mencari tahunya, dan menjelaskan kembali di pertemuan selanjutnya. Kuncinya adalah seorang guru pun harus selalu belajar karena kita yang diamanahkan untuk membantu peserta didik membuka gerbang inspirasinya.</p>
<p>Nah, untuk mengatasi hal ini, teman-teman pendidik harus menjadi pembelajar yang terus menyesuaikan ilmu pengetahuan dimiliki dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, bahwa guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tipsnya adalah kita bisa menyusun jadwal rutin berapa buku yang harus dibaca dalam satu hari atau satu minggu untuk menambah wawasan kita. Selain itu, kita juga harus sering melakukan penelitian atau menulis sebuah artikel agar kita bisa lebih banyak mengamati dan menganalisa kejadian-kejadian di sekitar, serta rajin mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Yuk, jadi pendidik hebat!</p>
<p><strong>Baca Juga: <a href="https://unjkita.com/5-kebiasaan-buruk-yang-tidak-boleh-dilakukan-guru/">5 Kebiasan buruk  yang tidak boleh dilakukan guru</a></strong></p>
<h4><strong>4. Tidak Peka dengan Perilaku Peserta Didik yang Membanggakan Ketika Sedang Belajar</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5974" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik.jpeg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik.jpeg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-150x100.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-800x533.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-630x420.jpeg 630w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-640x427.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Peserta-didik-681x454.jpeg 681w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p>Dalam pembelajaran di kelas, teman-teman pendidik berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Mereka senang jika mendapat pujian dari guru dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan. Betul? Namun, sayangnya kebanyakan diantara kita sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik dan tidak membuat masalah ketika sedang belajar di kelas.</p>
<p>Biasanya guru lebih sering memberikan perhatian kepada peserta didik ketika ribut, tidur di kelas, ataupun tidak memperhatikan pelajaran. Kondisi tersebut sering kali mendapatkan tanggapan yang salah dari peserta didik. Mereka beranggapan bahwa untuk mendapatkan perhatian dari guru, maka peserta didik harus berbuat salah, burbuat gaduh, menganggu atau melakukan tindakan tidak disiplin lainnya.</p>
<p>Kita perlu sekali belajar untuk menangkap perilaku positif yang ditunjukan oleh para peserta didik, lalu segera memberi hadiah atas perilaku tersebut dengan pujian dan perhatian. Kedengarannya hal ini sederhana. tetapi memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan memberi hadiah atas perilaku-perilaku positif peserta didik, baik secara kelompok maupun individual.</p>
<p>Disisi lain, teman-teman pendidik juga harus memperhatikan perilaku-perilaku peserta didik yang negatif dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut agar tidak terulang kembali. Teman-teman pendidik bisa mencontohkan berbagai perilaku peserta negatif, misalnya melalui ceritera dan ilustrasi, serta memberikan pujian kepada mereka karena tidak melakukan perilaku negatif tersebut. Kita juga sebaiknya menetapkan <em>rules</em> yang jelas dalam proses pembelajaran. Agar suasana kelas menjadi kondusif dan peserta didik ikut belajar untuk disiplin, komitmen, dan bertanggung jawab terhadap proses pembejaran di kelas.</p>
<h4><strong> 5. </strong><strong>Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5976" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa.jpeg" alt="" width="729" height="409" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa.jpeg 729w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-150x84.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-800x449.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-748x420.jpeg 748w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-640x360.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-681x383.jpeg 681w" sizes="auto, (max-width: 729px) 100vw, 729px" /></p>
<p>Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang sosial ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda dalam aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya. Dalam hal ini, teman-teman pendidik juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali.</p>
<p>Dalam proses pembelajaran, mungkin teman-teman pendidik pernah mengabaikan perbedaan peserta didiknya di kelas. Hal ini dapat diterlihat dari penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. Anak didik yang kita hadapi, masing-masing memiliki tingkat kemampuan dan kompetensi yang berbeda dalam menyerap pelajaran. Oleh sebab itu, penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi sangatlah dianjurkan.</p>
<p>Aspek-aspek peserta didik yang peru dipahami teman-teman pendidik antara lain, kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, catatan kesehatan, latar belakang sekolah dan kegiatannya disekolah. Informasi tersebut dapat dieroleh dan dipelajari dari laporan atau catatan sekolah, informasi dari peserta didik lain (teman dekat), observasi langsung dalam situasi kelas, dan dalam berbagai kegiatan lain di luar kelas, serta informasi dari peserta didik itu sendiri melalui wawancara, percakapan, dan autobiografi.</p>
<p>Selain itu, teman-teman pendidik dapat berkunjung ke rumah peserta didik yang sedang membutuhkan perhatian terutama kepada peserta didik yang bermasalah di sekolah, barangkali perlu diterapkan sehingga terjalin komunikasi terbuka, dan kita bisa memahami karakteristik peserta didik tersebut. Penulis pernah melakukan beberapa kunjungan ke rumah peserta didik, dan hasilnya adalah sangat mengubah persepsi yang selama ini belum terpecahkan, selain itu inspirasi sangat terbuka luas untuk mengatasi berbagai problem kependidikan di sekolah.</p>
<h4><strong> 6. </strong><strong>Memperlakukan Peserta Didik Secara Tidak Adil </strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5978" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-2.jpeg" alt="" width="729" height="410" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-2.jpeg 729w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-2-150x84.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-2-800x450.jpeg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-2-747x420.jpeg 747w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-2-640x360.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/Siswa-2-681x383.jpeg 681w" sizes="auto, (max-width: 729px) 100vw, 729px" /></p>
<p>Pembelajaran yang baik dan efektif adalah yang mampu memberi kemudahan belajar secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran merupakan kewajiban guru dan hak peserta didik untuk memperolehnya.</p>
<p>Dalam praktiknya, mungkin banyak diantara teman-teman pendidik yang tidak adil, sehingga merugikan perkembangan peserta didik, dan ini merupakan kesalahan yang sering kita lakukan, terutama dalam penilaian peserta didik selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam memberikan penilaian harus dilakukan secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari perilaku peserta didik.</p>
<p>Ketidakadilan dalam proses pembelajaran akan memunculkan persaingan yang tidak sehat pada peserta didik. Disisi lain, sebagian peserta didik mungkin bersemangat dalam belajarnya, tetapi disisi lain pula ada peserta didik yang merasa tersisihkan. Perhatian meyeluruh dan penuh rasa cinta pada setiap peserta didik harus selalu ditumbuhkembangkan pada diri seorang guru untuk mengatasi ketidakadilan tersebut.</p>
<h4><strong>7. Tidak Sadar Memberikan Contoh Tindakan Kurang Tepat Pada Peserta Didik</strong></h4>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-5980" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/komunikasi.jpg" alt="" width="720" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/komunikasi.jpg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/komunikasi-150x100.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/komunikasi-800x533.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/komunikasi-630x420.jpg 630w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/komunikasi-640x427.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/01/komunikasi-681x454.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p>Teman-teman pendidik merupakan contoh dan panutan bagi peserta didik. Tanpa disadari, tindakan guru adalah doktrin yang melekat pada peserta didik. Perlu teman-teman pendidik ketahui, peserta didik adalah penyontoh paling andal. Mereka mampu menyontoh gaya guru menyampaikan materi dan bagaimana alur pikir guru dalam memahami materi.</p>
<p>Untuk itu, jangan pernah melakukan tindakan yang kurang tepat pada peserta didik, seperti mengeluarkan kata keras dan kotor, menghina peserta didik di depan kelas, memerintah pada sesuatu yang tidak dilakukan oleh kita sendiri, sering terlambat masuk ke kelas, merokok, dan lain-lainnya. Wibawa kita sebagai seorang guru akan hilang dimata peserta didik. Dan hal tersebut cukup menyulitkan kita ketika mengajar di dalam kelas.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Baca juga: <span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/6-kunci-meningkatkan-kecerdasan-emosional-bagi-guru-pemula/">6 Kunci Meningkatkan Kecerdasan Emosional Bagi Guru Pemula</a></span></strong></p>
<blockquote><p><strong><em>“Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”. –KH. Maimun Zubair</em></strong></p></blockquote>
<p>Ingatlah bahwa kita sebagai guru akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di dunia gaji memang tidak seberapa, jangan kotori keuntungan akhirat dengan menodai profesi mulia ini. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru sebagai ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak di akhirat. Selamat berjuang wahai para pahlawan ilmu! Semoga dari tanganmu akan lahir generasi tangguh, berilmu, dan berakhlak yang mampu memimpin bangsa dan negara ini.</p>
<p>Baca artikel <strong>serial pendidikan ibu guru Gia lainya <a href="https://unjkita.com/tag/serial-pendidikan/">disini</a></strong></p>
<p><strong>Referensi: </strong></p>
<p>Mulyasa, E. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/7-kesalahan-guru-ketika-mengajar-dan-solusinya/">7 Kesalahan Guru Ketika Mengajar dan Solusinya</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>6 Kunci Meningkatkan Kecerdasan Emosional Bagi Guru Pemula</title>
		<link>https://unjkita.com/6-kunci-meningkatkan-kecerdasan-emosional-bagi-guru-pemula/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2016 03:41:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Karir]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=5079</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada kenyataannya tidak semua orang yang berintelegensi tinggi memperoleh prestasi seperti apa yang diinginkan. Kecerdasan emosi pun menjadi faktor penentu prestasi seseorang. Daniel Goleman mengatakan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/6-kunci-meningkatkan-kecerdasan-emosional-bagi-guru-pemula/">6 Kunci Meningkatkan Kecerdasan Emosional Bagi Guru Pemula</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>Pada kenyataannya tidak semua orang yang berintelegensi tinggi memperoleh prestasi seperti apa yang diinginkan. Kecerdasan emosi pun menjadi faktor penentu prestasi seseorang. </em></strong></p></blockquote>
<p>Daniel Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosi bukan berarti memberikan kebebasan kepada perasaan untuk berkuasa, melainkan mengelola perasaan sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif.</p>
<p>Pernahkah teman-teman pendidik meluapkan emosi kemarahan dengan alasan yang tidak jelas di dalam kelas? Atau bahkan pernah menangis karena ulah siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dengan berbagai sebab? Pernah merasa tidak dianggap ketika mengajar? Kesel? Stres?</p>
<p>Sepengalaman saya ketika tahun pertama menjadi seorang guru, saya cukup sulit mengendalikan emosi saya sendiri. Ternyata yang namanya “sabar” itu tidak gampang. Ternyata menahan emosi negatif juga tidak gampang. Untuk itulah, sebagai seorang guru kita sangat perlu mengelola emosi diri kita sendiri, terutama bagi guru pemula yang masih mempunyai jam terbang mengajar sedikit.</p>
<p>Pengelolaan emosi sangat penting kita lakukan dalam menghadapi suatu masalah karena dalam memecahkan suatu masalah harus disertai dengan emosi yang benar-benar terkontrol. Banyak orang yang kurang bisa mengontrol emosi pada saat menyelesaikan masalah dan ujung-ujungnya masalah yang seharusnya ia selesaikan malah menjadi tambah rumit dan sulit untuk diselesaikan.</p>
<p>Agar pembelajaran berlangsung optimal dan menghasilkan hasil belajar yang maksimal ada beberapa cara yang dilakukan oleh teman-teman pendidik untuk meningkatkan kecerdasan emosional dalam proses pembelajaran di kelas. Kita diharapkan mampu mengembangkan kecerdasan emosi dalam pembelajaran sebagai salah satu pengamalan dari etika kerja profesi sebagai pendidik.</p>
<h4><strong>1. Kendalikan dan Kurangi emosi negatif</strong></h4>
<p>Jika teman-teman pendidik pernah merasakan perilaku siswa yang negatif, hindari memberikan penilaian langsung terhadap perilaku siswa tersebut. Kita harus berpikir dengan berbagai cara pandang ketika dihadapi situasi seperti itu. Misalnya, bisa saja siswa tersebut tidak memperhatikan penjelasan guru ketika proses pembelajaran atau siswa tersebut sibuk dengan dirinya sendiri, karena guru kurang menarik dalam pembelajaran atau kurang bisa mengelola kelas. Sebaiknya, teman-teman pendidik menghindari personalisasi negatif kepada siswa dengan tiba-tiba. Perluaslah perspektif untuk mengurangi persepsi negatif pada siswa.</p>
<p>Selain itu, pernahkah diantara teman-teman pendidik merasa sulit diterima oleh siswa ketika proses pembelajaran berlangsung? Diterima yang dimaksud, bukan karena sulitnya pelajaran yang diajarkan, tapi sikap penerimaan siswa terhadap guru. Jika sedang terjadi penolakan oleh siswa, apa yang teman-teman pendidik lakukan? Tetap memaksa? Marah-marah di kelas? Sebenarnya kita telah terserang ketakutan. Takut jika siswa tidak menerima kita ketika proses pembelajaran berlangsung di kelas.</p>
<p>Penyebab ketakutan tidak diterimanya seorang guru oleh siswanya karena ketidakyakinan akan kemampuan melaksanakan pembelajaran. Jangan sampai hal tersebut terjadi pada teman-teman pendidik. Kita harus memberikan berbagai pilihan strategi pada diri kita sendiri, sehingga apapun yang terjadi di dalam kelas, kita tetap mempunyai alternatif yang kuat untuk mengatasi situasi, tidak selalu marah-marah apabila terjadi penolakan dari siswa. Pandailah mengendalikan emosi negatif yang mungkin saja ada dalam diri kita.</p>
<p>Selain itu, agar siswa dapat menerima guru, maka guru harus selalu berusaha meningkatkan kualitas diri dan jangan malas untuk meng-upgrade informasi dan pengetahuan baru.</p>
<h4><strong>2. Tetap Tenang dan Kelola Stres dengan Baik</strong></h4>
<p>Apakah teman-teman pendidik pernah mengalami stres? Stres karena urusan administrasi guru, seperti RPP, UKG, dan lain-lain. Belum lagi kalau dihadapkan dengan sikap siswa di dalam kelas. Tentu, jika permasalahan tersebut tidak dapat dikelola dengan baik akan sangat berpengaruh pada performa guru di kelas.</p>
<p>Untuk mengatasi situasi yang membuat stres, hal yang paling penting dilakukan adalah tetap berpikir masuk akal dan tenang. Ambil udara segar dan minum air putih. Hindari kafein karena akan meningkatkan kecemasan. Dan sangat perlu, olahraga ringan di pagi hari. Apabila vitalitas tubuh terjaga baik, maka kepercayaan diri akan tumbuh.</p>
<p>Selain itu, teman-teman pendidik juga harus berada di lingkungan yang kondusif, sunyi, dan asri, seperti taman, pantai, kebun, ruang santai, dan lain sebagainya. Jika stress sudah memuncak, sebaiknya teman-teman pendidik bisa berekreasi dengan keluarga untuk penyegaran diri. Setelah sudah merasa tenang, silakan mengajar dan ciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.</p>
<h4><strong>3. Proaktif atauTidak Reaktif</strong></h4>
<p>Guru terkadang menghadapi siswa-siswa yang “istimewa” sehingga pengelolaan kelas tidak mudah. Hal ini seharusnya dihadapi sebagai tantangan, bukanlah penghalang. Guru semestinya bisa bertindak proaktif, misalnya dengan melakukan hal sebagai berikut:</p>
<p>a. Ketika merasa marah dan kecewa terhadap siswa, sebelum mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuat menyesal di kemudian hari, bernafaslah dalam-dalam selama kurang lebih sepuluh menit. Begitu selesai bernafas diharapkan kita bisa mendapatkan cara yang lebih baik dalam berkomunikasi sehingga terhindar dari kalimat yang tidak baik.</p>
<p>Atau ada cara lain, yaitu dengan mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang dirasakan oleh peserta didik ketika dimarahi oleh guru. Kalau kemarahan sifatnya mendidik dan membangun siswa, mungkin ada manfaatnya. Namun, jika marah dengan kata-kata kasar, tentu akan sangat tidak baik terhadap dampak psikologis siswa.</p>
<p>b. Untuk mengurangi sikap reaktif, cobalah bersikap lebih obyektif, sehingga mendapatkan solusi yang lebih baik. Hindari memberikan <em>negative judgment</em> terhadap siswa. Berusahalah untuk selalu merespon setiap prilaku peserta didik secara positif, dan menghindari respon negatif.</p>
<p>c. Lakukan komunikasi yang efektif dengan siswa. Salam, senyum, dan sapa, barangkali adalah salah satu bentuk komunikasi yang sangat sederhana, tetapi kalau kita lakukan dengan ketulusan hati akan dapat menjadikan sarana komunikasi yang efektif antara guru dangan siswa.</p>
<h4><strong> 4. </strong><strong>Bersikap Tegas</strong></h4>
<p>Ada saatnya teman-teman pendidik harus bersikap tegas. Seperti contoh di dalam kelas, siswa harus tahu, <strong>“Who is The Boss?”</strong>. Hal ini berhubungan juga dengan pengelolaan kelas. Jika kita dihadapkan dengan suasana kelas yang cukup sulit diatur, siswa yang selalu mengobrol, dan tidak mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, maka sikap ketegasan kita sangat perlu diterapkan.</p>
<p>Sebagai guru, kita harus paham mana hal-hal yang dapat diterima dan ditolerir dalam pengelolaan kelas. Ketegasan dan kejelasan posisi guru pada situasi tertentu harus dapat ditunjukkan. Namun dalam hal kemampuan guru untuk bersikap tegas tetap harus bersifat humanis dan tidak kaku, agar siswa pun tidak merasakan ketegangan saat proses pembelajaran di dalam kelas. Teman-teman pendidik harus selalu berusaha untuk menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran.</p>
<h4><strong>5. Optimis dan Pantang Menyerah Menghadapi Tantangan</strong></h4>
<p>Menjadi seoang guru, berarti secara tidak langsung, kita dituntut untuk menjadi manusia yang hampir sempurna. Sempurna yang dimaksud adalah tidak mengenal kata menyerah ketika dihadapi sebuah tantangan. Kita seharusnya bisa membedakan harapan dengan keputusasaan, optimis dengan frustrasi, kemenangan dengan kekalahan.</p>
<p>Guru harus selalu optimis, penuh harapan, serta senatiasa belajar dan mencoba setiap saat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Ketika guru merasakan kegagalan, maka guru harus tetap bersemangat dan berpikir positif. Ingatlah selalu, kitalah garda terdepan peradaban sebuah bangsa dan ditangan kitalah calon-calon pemimpin sedang dipersiapkan. Maka, tidak ada kata menyerah bagi kita yang sedang berjuang mendidik calon pemimpin masa depan.</p>
<h4><strong>6. Ekspresikan Emosi Kedekatan dengan Siswa</strong></h4>
<p>Ketegasan seorang guru memang sangat diperlukan, namun mendidik siswa pun harus penuh nuansa cinta dan kepedulian. Cinta dan kepedulian pada siswa perlu diekspresikan agar suasana pembelajaran menjadi hangat. Suasana kehangatan seperti di dalam keluarga harus dapat diciptakan oleh guru di dalam kelas.</p>
<p>Bahasa tubuh seperti <em>eye contact</em> (kontak mata), senyum, dan gerak tubuh, ekspresi wajah menunjukkan sikap persahabatan. Selain itu intonasi suara, volume suara, dan humor juga sangat penting untuk menunjukkan cinta dan perhatian dari guru kepada siswa. Apabila tidak ada cinta dan kasih sayang, maka kekuatan intelektual dan fisik dalam diri siswa tidak akan berkembang dengan alami.</p>
<p><strong><em>Referensi:</em></strong></p>
<p>Goleman, Danier. (2000). Working with Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/6-kunci-meningkatkan-kecerdasan-emosional-bagi-guru-pemula/">6 Kunci Meningkatkan Kecerdasan Emosional Bagi Guru Pemula</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
