<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Literasi Archives - UNJKita.com</title>
	<atom:link href="https://unjkita.com/tag/literasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://unjkita.com/tag/literasi/</link>
	<description>Saling Menginspirasi untuk Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jul 2018 06:30:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/08/cropped-unjkita-32x32.png</url>
	<title>Literasi Archives - UNJKita.com</title>
	<link>https://unjkita.com/tag/literasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</title>
		<link>https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Asrul Pauzi Hasibuan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 01:19:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20504</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” Imam Al-Ghazali. Ungkapan pada kalimat tersebut bermakna cukup dalam. Dimana ketika...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/">&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar</em><em>,</em> maka <em>jadilah penulis.</em>” Imam Al-Ghazali.</strong></p></blockquote>
<p>Ungkapan pada kalimat tersebut bermakna cukup dalam. Dimana ketika kita menjadi penulis, maka kita bisa setara atau bahkan melampaui predikat anak raja yang –hanya- dilihat karena tahta ayahnya, begitu pun yang kedua, ketika anak ulama besar ini hanya ‘menggunakan’ kebesaran ayahnya –tidak karena ke keilmuannya sendiri.</p>
<p>Demikianlah, menjadi seorang penulis cukup ‘menjanjikan’, hingga pencapain tebaik bagi seorang penulis ialah abadi dari waktu ke waktu. Tulis Pramoedya Ananta Toer suatu waktu, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.</p>
<p>Kemudian menjadi sesuatu yang menarik ketika seseorang yang berpredikat sebagai mahasiswa pasca reformasi yang dituntut sesegera mungkin merampungkan studinya dengan waktu yang cukup terbatas, mampu menuliskan suatu buku di sela-sela kesibukan akademiknya –bahkan juga kesibukan lainnya seperti organisasi.</p>
<p>Melihat sesuatu yang cukup jarang dijumpai itu, tim UNJKita mengadakan RUBRIK (Ruang Terbuka UNJKita) via <em>Whatsapp </em><em>dengan tema “Ketika Mahasiswa Menjadi Penulis Buku”.</em></p>
<p>Narasumber termin pertama untuk diskusi online “Ketika Mahasiswa Menjadi Penulis Buku” pada Jum’at malam (17/3/18) yaitu, Tyo Prakoso, seorang alumni Pendidikan Sejarah FIS UNJ 2012 dengan bukunya “Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra” (2016).</p>
<p><em><strong>Baca juga:<a href="http://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/"> Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a></strong></em></p>
<p>Sobat <a href="http://UNJKita.com">UNJKita.com</a>, yuk simak QnA bersama Tyo Prakoso!</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong><em>“Bagaimana sih kak cara bagi-bagi waktu buat produktif menulis, karena selain akademik ada juga organisasi dan teman-teman lain yang suka minta waktu kita?”</em></strong></h4>
<p><em>“Waduh, berat ini. </em><em>Sejujurnya, saya amatlah orang yang tidak sistematis dalam urusan membagi-bagi waktu. Saya kerap kali terlampau asik dg apa yang saya senang lakukan. Sehingga urusan dan kewajiban saya agak kedodoran. Itulah kenapa, mungkin, studi saya telat. </em></p>
<p><em>Jadi jawaban atas pertanyaan ini: perbanyak waktu terjaga di malam hari. Untuk baca dan hal-hal lainnya. Risikonya, kita tergabung ke Tareqat Al-Insomniyyaah.”</em></p>
<h4><strong><em>“Sejak kapan Kak Tyo mulai menulis intens? Bagaimana dengan kegiatan membaca buku, apa harus saat malam hari atau seinginnya kita aja?”</em></strong></h4>
<p><em>“Saya malah menulis intens semasa kuliah. Silakan berkunjung ke laman gerakanaksara.blogspot.com laman yang saya kelola bareng teman-teman yang lain. Kebetulan saya lebih senang menulis sastra, ketimbang sejarah. Saya merasa menulis sastra seperti berada di rest area dalam perjalanan jauh (yakni belajar sejarah). Dan tanpa saya sadari, koleksi buku saya, 70% buku sastra ketimbang sejarah. Ini tragedi sih. Hehehe. </em></p>
<p><em>Untuk membaca, sampai sekarang saya memaksa diri untuk membaca minimal 2 jam dalam satu momen (artinya tidak diselingi kegiatan apapun). Waktunya bisa kapan saja. Biasanya saya larut malam. Menjelang tidur.&#8221;</em></p>
<h4><strong><em>&#8220;Apakah Kak Tyo membaca satu buku dulu baru bisa menulis? Apa sesuai halaman yang kakak baca dihari itu?&#8221;</em></strong></h4>
<p><em>“Kalau saya sih fleksibel saja. Malah terlampau sering saya membaca tidak meniatkan untuk menulis sesuatu. Baca ya baca saja. Tidak berharap nanti bakal nulis hasil dari baca buku tersebut.</em></p>
<p><em>Malah lebih sering ketika dihadapkan pada satu momen, dan saya teringat dengan sebuah buku, maka saya buka ulang buku tersebut. Itu kenapa saya senang mencoret-coret buku, baik dengan stabilo, pensil, atau post it, agar mudah ketika membaca ulang. </em></p>
<p><em>Dan saya senang membaca berulang-ulang sebuah buku. Bukan apa-apa, karena saya merasa membaca (ulang) buku itu seperti seorang flaneur, pejalan kaki, yang keluyuran ke satu tempat yang (sama), dan menemukan hal yang tak terduga. Begitu dah. </em></p>
<p><em>Jadi, saran saya, ketika usai membaca sebuah buku, bikinlah review atau resume atau ringkasan atau sekalian dicoret-coret bukunya, untuk mengingat dan memudahkan ketika membaca ulang dan menulis.”</em></p>
<h4><strong><em>“Pernah gak sih Kak Tyo mengalami rasa malas atau mengantuk ketika sedang menulis? Nah, kalo pernah, kasih tau dong kak tips-tips menghadapi rasa malas atau cepat mengantuk saat sedang nulis?&#8221;</em></strong></h4>
<p><em>“Kalau saya pribadi punya prinsip (ngawur), &#8220;Malas adalah hak,&#8221;. Meski hak itu diperoleh setelah menuntaskan kewajiban kan. Dan membaca adalah kewajiban, bagi saya sih. Meski hobi saya tetap, tidur siang. </em></p>
<p><em>Itu untuk membaca. Karena bagi saya, prinsipnya menulis adalah efek samping (giat) membaca.</em></p>
<blockquote><p><strong><em>Menulis adalah efek samping (giat) membaca.</em></strong></p></blockquote>
<p><em>Nah, kalo sedang nulis lalu rasa malas datang, maka biasanya saya tinggal tulisan. Dan memilih ngelakuin hal-hal lain. Baca atau main PES atau pacaran. Pokoknya yang bisa bikin mood kembali. </em></p>
<p><em>Jangan membayangkan proses menulis itu sekali jadi. Menulis itu jalan yang panjang.”</em></p>
<h4><em><strong>&#8220;Kiat-kiat apa yang harus dilakukan oleh penulis pemula ketika rasa cemas dan keputusa-asaan datang menghampiri?&#8221; </strong></em></h4>
<p><em>&#8220;</em><em>Tentu kita tahu kan penulis Indonesia paling moncer belakangan ini, yang karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 20an bahasa di dunia, yap betul; Eka Kurniawan.</em></p>
<p><em>Novel pertamanya itu Cantik Itu Luka. Pertama kali novel itu enggak ada yang mau nerbitin. Akhirnya diterbitin secara mandiri. Lalu, ada penerbit mayor mau menerbitkan ulang. Dan saat itu novelnya dicaci-maki karena dianggap buruk oleh seorang Kritikus Sastra Ternama.</em></p>
<p><em>Apa yang kita bisa ambil dari cerita di atas? Saya pikir dua hal, yaitu, pertama, saya rasa semua penulis pasti mengalami titik cemas dan putus asa terhadap karyanya dan bahkan kritik. Jadi jangan terlampau khawatir dan cemas. Jadikan itu proses belajar. Lalu, kedua, bila ada kritik, ya terima saja. Karena kritik itu adalah proses bergeraknya sesuatu. Tanpa kritik sesuatu statis. Saya pikir demikian lah dg menulis.&#8221;</em></p>
<h4><em><strong>“Selain malas, apa kendala lain yang Kak Tyo temui di dunia tulis menulis, khususnya kendala untuk menerbitkan/ membukukan tulisan tersebut? Bagaimana cara kakak mengatasinya? Satu lagi, apa salah satu tulisan kakak yang tidak berkaitan dengan sejarah?</strong></em></h4>
<p><em>“Tampaknya saya harus mengklirkan dulu perihal &#8216;sejarah&#8217; yang saya maksud deh. Bagi saya, ada dua sejarah. Yakni Sejarah (dengan S besar) dan sejarah (dengan s kecil). Bedanya, Sejarah adalah yang tertulis dan dipelajari di sekolah atau kampus atau buku. Sedangkan, sejarah adalah apapun di masa silam yang pernah kita lalui. Semua orang mempunyai sejarah (baca: masa lalu), dan belum tentu semua memiliki Sejarah. Karena Sejarah kerap ditulis oleh pemenang untuk kekuasaan.</em></p>
<p><em>Lalu, apa hubungannya sejarah dan Sejarah? </em></p>
<blockquote><p><strong><em>Saya percaya, kita hidup karena kita memiliki sejarah. Dan hidup yang baik adalah perjuangan dari sejarah menjadi Sejarah.</em></strong></p></blockquote>
<p><em>Nah, yang saya tulis adalah sejarah. Dalam artian, kisah-kisah masa lalu tiap-tiap tokoh yang saya buat di tiap cerita saya. Tokoh-tokoh itu, tanpa disadari, mereka sedang berjuang dari sejarah menjadi Sejarah.</em></p>
<p><em>Kendala, adalah kesabaran. Sebagai penulis ijig-ijig, saya tidak cukup sabar untuk mematangkan ide-ide tulisan saya. Jadi, ketika sudah beredar di pembaca, masih juga banyak perkara yang belum selesai. Saya pikir ini masalah akut yang bisa diselesaikan dengan proses belajar terus menerus.</em></p>
<p><em>Selain menulis cerpen, saya juga menulis esai. Kebanyakan malah saya enggak menulis Sejarah. Meulis sehari-hari yang paling saya suka adalah cerpen Goen dan Pram dan Esai Montase Sepakbola.”</em></p>
<p><em><strong>Baca juga: <a href="http://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/">Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</a></strong></em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/malas-adalah-hak-qna-bersama-tyo-prakoso/">&#8220;Malas Adalah Hak&#8221; QnA Bersama Tyo Prakoso</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</title>
		<link>https://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2018 00:35:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Penulis UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20465</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Saya punya anggapan keren bahwa Self-publishing jalan tepat untuk buku pertama setiap penulis. Buku berikutnya terserah,&#8221; ungkap Tyo saat Rubrik (Ruang Terbuka UNJKita) Edisi Mahasiswa Penulis Buku...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/">Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Saya punya anggapan keren bahwa Self-publishing jalan tepat untuk buku pertama setiap penulis. Buku berikutnya terserah,&#8221; ungkap Tyo saat Rubrik (Ruang Terbuka UNJKita) Edisi Mahasiswa Penulis Buku pada tanggal 17 Maret 2018 lalu.</em></p>
<p>Ialah Tyo Prakoso alumni Jurusan Pendidikan Sejarah FIS UNJ Angkatan 2012 yang telah menulis buku kumpulan 21 cerita pendek berjudul, &#8220;Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra” pada tahun 2016.</p>
<p>Tyo, begitu panggilan akrabnya, tidak pernah meniatkan jika ia harus menulis suatu buku seperti judul di atas. Namun, Tyo memang gandrung menulis dengan beragam jenis tulisan, termasuk cerita pendek (cerpen).</p>
<p><em><strong>Baca juga: <a href="http://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/">Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a></strong></em></p>
<p>Kegelisahan dan membaca ialah sebab Tyo menulis, hingga akhirnya tulisan (cerpen) Tyo ada tempat di satu dan tempat lainnya, tanpa terkodifikasi dengan baik. Kemudian dari sana, dalam keadaan sedang mengerjakan skripsi, maka terpikirkan cerpen-cerpen yang tidak terkodifikasi itu untuk dikumpulkan dan disulap menjadi sebuah buku narasi-narasi sejarah yang dirajut menggunakan sastra.</p>
<p>&#8220;Saya percaya, kita hidup karena kita memiliki sejarah. Dan hidup yang baik adalah perjuangan dari sejarah menjadi Sejarah. Nah, yang saya tulis adalah sejarah. Dalam artian, kisah-kisah masa lalu tiap-tiap tokoh yang saya buat di tiap cerita saya. Tokoh-tokoh itu, tanpa disadari, mereka sedang berjuang dari sejarah menjadi Sejarah,&#8221; jelas Tyo.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-20468" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso.jpg" alt="" width="720" height="960" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso.jpg 720w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-113x150.jpg 113w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-450x600.jpg 450w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-315x420.jpg 315w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-640x853.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2018/03/Buku-Tyo-Prakoso-681x908.jpg 681w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p>Menurut Tyo, menerbitkan secara <em>indie</em> pada buku pertama, itu berarti penulis tidak batasi oleh hal-hal yang acapkali menjadi pertimbangan penerbit. Penerbit <em>indie</em> memungkinkan hal itu. Dan buku pertama haruslah demikian. Setidaknya itu akan menggambarkan bagaimana perjalanan seorang penulis selanjutnya.</p>
<p>&#8220;Menulis itu luka, kata Eka Kurniawan,&#8221; ungkap Tyo.</p>
<p>Soal kendala menerbitkan buku sendiri, tentu banyak. Menurutnya, yang paling rumit adalah marketing dan pemasaran buku. Untungnya, saat itu Tyo bersama teman-teman yang baik dan selalu memberi dukungan padanya<i>.</i> Mereka semualah yang menemaninya menyusun, berdiskusi, memilih sampul, sampai acara meluncurkan buku.</p>
<p>Untuk bagaimana merajut antara fiksi dan fakta, Tyo sudah menuliskannya dalam esai &#8220;Sosiologi (dan) Sastra: Sebuah Telaah Kemanasukaan Atas Realitas dan &#8216;Realitas&#8221; [<a href="http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/04/sosiologi-dan-sastra-sebuah-telaah.html">http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/04/sosiologi-dan-sastra-sebuah-telaah.html</a>]. Dia tidak terlalu membuat garis tegas antara yang-fiksi dan yang-fakta atau sastra dan sejarah. Karena keberadaan imajinasilah yang mempertemukan keduanya.</p>
<p>&#8220;Kalau saya mau nulis cerpen yang menggunakan cerita Sejarah, maka saya riset dulu sih. Cari bahan-bahannya,&#8221; kata Tyo.</p>
<p>Salah satu contonya bagaimana ia merajut antara fiksi dan fakta; sastra dan sejarah, ialah cerpen &#8220;Gempa Waktu dan Kisah Tokoh Kita Pada Sebuah Simposium&#8221; [<a href="http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/05/gempa-waktu-dan-kisah-tokoh-kita-pada.html">http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2017/05/gempa-waktu-dan-kisah-tokoh-kita-pada.html</a>]. Cerpen tersebut berkisah tentang sosok bocah lelaki yang berada di kemelut peristiwa 1965. Dia menggunakan kisah keluarga DN Aidit sebagai bahan utama cerita. Tokoh utamanya adalah anaknya DN Aidit, Ilham Aidit.</p>
<blockquote><p><strong><em>“Jangan bermimpi jadi penulis hebat, berupayalah jadi pembaca tekun.” Zen Res.</em></strong></p></blockquote>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/sulap-tyo-prakoso-menulis-sejarah-menjadi-buku-fiksi/">Sulap Tyo Prakoso Menulis Sejarah Menjadi Buku Fiksi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</title>
		<link>https://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2018 23:45:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=20459</guid>

					<description><![CDATA[<p>PADA MUSIM SEMI yang hujan tahun 1957, Penulis Kolombia itu sedang berjalan di Boulevard St. Michel di Paris. Ia melihat Sang Maestro sedang berjalan bersama...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/">Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PADA MUSIM SEMI yang hujan tahun 1957, Penulis Kolombia itu sedang berjalan di Boulevard St. Michel di Paris. Ia melihat Sang Maestro sedang berjalan bersama istrinya di sisi seberang menuju Taman Luxemberg. Sang Maestro mengenakan celana koboy yang tampak kuat, kemeja wol, dan topi pemain bola. Juga kacamata berbingkai logam yang menyentel di hidungnya. Kacamata itu berukuran amat kecil sehingga membuat muka Sang Maestro seperti seorang yang belum waktunya menjadi kakek.</p>
<p>Sang Maestro adalah penulis idola Penulis Kolombia. Itu kali pertama Penulis Kolombia melihat Sang Maestro yang saat itu berusia 57 tahun. Sang Maestro tampak sehat dan bugar. Ia terlihat kerasan tinggal di kota itu dengan anak-anak muda yang terus mengalir ke kafe-kafe di Sorbonne.</p>
<p>&#8220;Maestroooo!&#8221; tanpa Penulis Kolombia itu sadari ia berteriak ke arah Sang Maestro dengan mencungkupkan kedua tangan di dekat mulut, seperti Tarzan.</p>
<p>Penulis Kolombia itu tidak menyangka apa yang baru saja dilakukannya. Ia memang berada dalam situasi yang sulit. Maksudnya ia tidak mengerti apa yang sedang dialami oleh tubuhnya ketika dihadapkan oleh sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Ia tidak menyangka akan bertemu Sang Maestro, idolanya, pada situasi demikian. Penulis Kolombia masih terhitung muda. Ia berumur 28 tahun.</p>
<p>&#8220;Adioooss, amigo!&#8221; sahut Sang Maestro dengan bahasa Castilia. Sepertinya ia tahu hanya ada satu maestro saat itu.</p>
<p>Sang Maestro adalah Ernest Hemingway, penulis asal Amerika Serikat. Penulis Kolombia itu ialah Gabriel Garcias Marquez. Dua begawan sastra dunia yang namanya acap diperbingcangkan.</p>
<p>Bagi saya, momen pertama Gabo (panggilan akrab Gabriel Garcias Marques) dengan Hemingway di atas amat dikenangnya dan menjadikan salah satu palagan sejarah kepenulisannya. Bahwa kerja keras untuk terus mencoba dan menulis adalah satu hal yang musti dilakukan oleh seorang penulis. Perjalanan kisah sebagai manusia an sich yang dilingkupi konteksnya juga turut mempengaruhi proses perjalanan literer tersebut. Sebab keberhasilan seorang penulis, hemat saya, adalah kesuksesan mempertaut pengalaman subyek dengan subyek-subyek lainnya.</p>
<blockquote><p><strong>Menulis merupakan suara pribadi (penulis) yang bertaut dan kadang berbenturan dengan suara di luar dirinya.</strong></p></blockquote>
<p>Di titik inilah, kegiatan menulis bergerak dari ruang privat ke ruang publik. Menulis merupakan suara pribadi (penulis) yang bertaut dan kadang berbenturan dengan suara di luar dirinya. Menulis akan selalu berada di tegangan antara kedua ruang tersebut dalam proses literer.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>URAIAN di atas akan mengantar kita pada persoalan, misalnya, mengapa judul tulisan ini demikian. Mungkin judul tulisan ini segera mengusik common sense pembaca alih-alih tidak mengacuhkannya.</p>
<p>Artinya saya berhasil. Sebab judul itu dipertujukan kepada kita yang mengemban tanda sebagai mahasiswa. Dan konon, selain Agen Perubahan, tanda mahasiswa identik dengan kegiatan literasi, membaca dan menulis. Dari sanalah, saya rasa, pemahaman Civitas Akademika berangkat.</p>
<p>Saya tidak ingin menggarami air laut, untuk terus memproduksi mitos bahwa minat baca anak muda (bukan hanya mahasiswa) negeri ini jebluk. Saya ingin kita mempersoalkan fungsi dan peran universitas (sebagai tempat dimana tanda mahasiswa itu berada, kan) terhadap kenyataan bahwa ada mahasiswa yang menulis dan tidak.</p>
<p>Jika bukan karena universitas, misalnya, mengapa mahasiswa menulis? Alih-alih menulis dan demonstrasi, mengapa mahasiswa tidak melakukan hal faedah lainnya, misal, memancing di tengah danau?</p>
<p>Karena saya tidak ingin jawabannya adalah persoalan diri, atau bahkan, persoalan mengubah sesuatu hal, maka saya rasa kita harus bertanya mengapa universitas gagal menjalankan fungsi dan perannya? Sebab jika ruang dimana kegiatan literasi menjadi satu hal yang mafhum masih menjadi kendala, maka itu sebuah petaka.</p>
<p>Saya rasa, pertanyaan mengapa mahasiswa menulis menjadi menemukan relevansinya. Di titik ini kisah Gabo dan Hemingway di atas menjadi ilustrasi yang mengasikkan. Bahwa pertemuan itu terjadi di jalan adalah satu momen semiotik, dan sialnya arbitre. Maksudnya, kegiatan literasi berada dalam ruang yang goyah; antara alasan kenapa melakukannya dengan sebab tidak melakukannya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>MARI kita tinggalkan persoalan kenapa mahasiswa menulis atau tidak. Bila pertanyaan mengapa saya tidak menulis, maka jawabannya, biasanya, karena saya sedang membaca. Dan membaca, adalah proses saya untuk menangkap hal-hal yang kiranya menjadi pertanyaan-pertanyaan. Juga membaca adalah kiat paling ampuh untuk memahami sesuatu yang menjadi keresahan.</p>
<blockquote><p><strong>Membaca adalah proses saya untuk menangkap hal-hal yang kiranya menjadi pertanyaan-pertanyaan. Juga membaca adalah kiat paling ampuh untuk memahami sesuatu yang menjadi keresahan.</strong></p></blockquote>
<p>Jika kita sepakat, bahwa membaca bukanlah tindakan heroik (apalagi bagi mahasiswa), maka membaca haruslah dipahami bukan sekedar berhadapan dengan sebongkah benda bernama buku. Karena kata literasi, sebuah kegiatan yang sepadan dengan pemahaman kita tentang membaca dan menulis, dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Inggris, literacy, yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin, literatus, yang berarti orang yang belajar. Dalam bahasa Latin juga terdapat istilah littera (huruf) yaitu sistem tulisan dengan konvensi yang menyertainya.</p>
<p>Karena unsur utama dari kata literasi adalah belajar, atau lebih tepatnya orang yang belajar, maka mengamati seorang petani di sawah dan memahami proses kerja tani dari persoalan menyiapkan tanah, menebar bibir hingga panen, dus persoalan sosial-ekonomi yang melingkupinya, dapatlah kita sebut sebagai membaca. Di titik inilah, bagi saya membaca bukanlah persoalan remeh. Membaca adalah kegiatan tak-berkesudaran antara kondisi sadar akan situasi ketidaktahuan. Singkatnya membaca adalah proses untuk tetap gelisah, karena pertanyaan-pertanyaan yang mengiung di kepala.</p>
<p>Lalu mengapa kemudian saya menulis? Jawabannya adalah untuk tetap berada dalam tegangan kegelisahan tersebut. Artinya menulis adalah respon per se terhadap proses membaca yang saya lakukan. Di titik ini saya harus katakan bahwa, bagi saya menulis adalah anasir-lain dari membaca. Saya tidak akan mungkin menulis bila tidak membaca.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Bila penjelasan di atas dirasa rumit, maka baiklah saya memang harus menceritakan bagaimana akhirnya saya membaca dan kemudian menulis.</p>
<p>Jika kau percaya kepada ingatan saya, maka pertama kali saya membaca adalah dongeng sebelum tidur yang dikisahkan oleh nenek saya. Juga gunjingan sanak-keluarga saya tentang asal-usul keluarga yang, beberapa, beririsan dengan cerita sejarah. Setidaknya kemudian yang saya ketahui.</p>
<p>Karena bermula dari cerita-cerita yang dituturkan dan saling beririsan dan kadang bertabrakkan perihal kebenarannya itu, saya mulai menemukan buku sebagai sebuah cerita-lain, yang mulanya tidak berkaitan dengan kisah-kisah yang dituturkan tersebut. Di titik inilah perjalanan literer saya bermula. Hingga kemudian membawa saya studi sejarah di Rawamangun.</p>
<p>Buku pertama yang saya baca dengan serius adalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer. Sebuah memoar miris tentang perjalanannya sebagai manusia buangan di bawah Rezim Orde Baru. Bukan sebuah kebetulan bila hal tersebut beririsan dengan kisah keluarga saya. Di titik ini kau tahu yang saya maksud bertautan.</p>
<p>Melalui Pram saya mengetahui kisah sejarah yang tidak dikisahkan oleh buku-buku pelajaran di sekolah. Namun, dalam derajat tertentu, saling mendukung kisah-kisah yang dituturkan sanak-keluarga. Bagaimana kisah sejarah yang dituturkan Pram beririsan dengan kisah keluarga, biarlah nanti saya tulia di kesempatan lainnya. Di sini hanya perlu disebutkan bahwa sastra sangat mungkin digunakan untuk menceritakan masa lalu.</p>
<p>Dengan pemikiran demikianlah saya kemudian menulis cerita-cerita pendek yang saya bangun pondasinya dari puing-puing sejarah. Tentu sejarah yang acapkali diartikan sejarah (bukan dengan S besar)-yang acap menjadi satu narasi oleh kekuasaan. Melainkan kisah individu-individu yang saya narasikan dalam karya sastra. Seringkali kisah individu-individu tersebut bertabrakan dengan kisah Sejarah kekuasaan.</p>
<p>Harus saya katakan bahwa sastra, bagi saya, adalah area istirahat dalam perjalanan saya studi sejarah. Dan olehnya saya merasa yakin bahwa sastra, pada esensinya, adalah membebaskan. Sastra hanyalah satu kemungkinan dari sekian kemungkinan yang terjadi saat itu.</p>
<p>Meski saya tahu benar bahwa tidak ada karya sastra yang dapat mengubah dunia. Melainkan seseorang yang membaca karya sastra yang mengubah dunia. Namun itu bukanlah garis yang linier. Dua orang membaca satu karya sastra selalu menghasilkan reaksi yang berbeda.</p>
<p>Kondisi demikianlah yang saya idap ketika menulis sejumlah cerita pendek yang kemudian dibukukan pada tahun 2016 berjudul Bussum dan Cerita-cerita yang Mencandra. Akhirnya, mengapa saya menulis (sastra) adalah satu kemungkinan yang bisa saya lakukan untuk terus berada di tegangan kegelisahan atas perjalanan literer yang sudah dan akan saya lalui.</p>
<blockquote><p><strong>Berliterasi adalah sikap wajar yang dijalankan oleh manusia.</strong></p></blockquote>
<p>Berliterasi adalah sikap wajar yang dijalankan oleh manusia. Bagi saya, mengendarai motor dalam arena tong setan tidaklah lebih buruk ketimbang menulis. Atau bahkan merancap seekor kuda sekalipun. Begitu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><em>Sebuah catatan pengantar diskusi Rubrik (Ruang Terbuka UNJKita) edisi Mahasiswa UNJ Penulis Buku pada tanggal 17 Maret 2018 yang dibuat oleh narasumber Tyo Prakoso (Alumni Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNJ Angkatan 2012).</em></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/mengapa-mahasiswa-tidak-menulis/">Mengapa Mahasiswa (Tidak) Menulis?</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Literasi Panjat Diri</title>
		<link>https://unjkita.com/literasi-panjat-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2017 00:40:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Karya Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=18659</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sungguh, Tak pernah aku membenci malam nan gulita. Walau selalu malam yang membunuh senja. Walau selalu malam yang membutakan rasa. Romansa diciptakan senja. Semakin menjadi...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/literasi-panjat-diri/">Literasi Panjat Diri</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh,<br />
Tak pernah aku membenci malam nan gulita.<br />
Walau selalu malam yang membunuh senja.<br />
Walau selalu malam yang membutakan rasa.</p>
<p>Romansa diciptakan senja.<br />
Semakin menjadi saat malam tiba.<br />
Bersimpuh lalu berdo&#8217;a.<br />
Mengingat dari datang fajar sampai senja.<br />
Detik-detik penggores dosa.</p>
<p>Kemunafikan diri sebagai duri.<br />
Mengucap pembelaan, hanya janji.<br />
Padahal mereka, tapi telah ku ucap kami.<br />
Bahasa membunuh nurani.<br />
Literasi hanya media panjat diri.<br />
Agar dilabeli peduli.<br />
Padahal sabodo teuing yang di bui.</p>
<p>HAHA<br />
Tertawa terbahak,<br />
Lalu mati tersedak.<br />
Lupa, menulis adalah kejujuran.<br />
Dengan mudah aku mengumbar kemunafikan.<br />
Orang percaya? Tentu, karna aku terpercaya.<br />
Tulis, tulis, tulis dan enyahlah data.</p>
<p>HAHA<br />
Sumpah! Bukan aku yang tertawa.<br />
Oh, Tuhan tertawa disinggahsananya.<br />
Betapa goyah hambanya,<br />
Hanya karna harta atau bahkan sekedar nama.<br />
Lupa orientasi hidup bukan manusia.</p>
<p>Terbisik,<br />
Berubah walau tertatih.<br />
Jujur walau pedih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Oleh : Silviana Eka Dewi Hapsari</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/literasi-panjat-diri/">Literasi Panjat Diri</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Betawi Smart Book (BESTBOOK), Buku Cerita Bersuara dengan Rumah Kebaya untuk Meningkatkan Minat Baca Sekaligus Memperkenalkan Budaya Betawi</title>
		<link>https://unjkita.com/betawi-smart-book-bestbook-buku-cerita-bersuara-dengan-rumah-kebaya-untuk-meningkatkan-minat-baca-sekaligus-memperkenalkan-budaya-betawi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 May 2017 11:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Berprestasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Berprestasi UNJ]]></category>
		<category><![CDATA[Prestasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=9035</guid>

					<description><![CDATA[<p>UNJKita.com (13/5/2017) &#8211; Mahasiswa UNJ dan Indonesia baru saja menorekan prestasi kembali dalam ajang 28th International Wolrd Young Inventors and Exhibition yang diadakan di Kuala...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/betawi-smart-book-bestbook-buku-cerita-bersuara-dengan-rumah-kebaya-untuk-meningkatkan-minat-baca-sekaligus-memperkenalkan-budaya-betawi/">Betawi Smart Book (BESTBOOK), Buku Cerita Bersuara dengan Rumah Kebaya untuk Meningkatkan Minat Baca Sekaligus Memperkenalkan Budaya Betawi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>UNJKita.com (13/5/2017) &#8211; Mahasiswa UNJ dan Indonesia baru saja menorekan prestasi kembali dalam ajang 28th International Wolrd Young Inventors and Exhibition yang diadakan di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia dari tanggal 11-13 Mei 2017.</p>
<p>Palupi Muatiasih (FIP) dan tim, yang terdiri dari Dina Chaerani (FBS), Siti Aisyah (FIP), Dian Kusuma Ningsih (FIP), dan Briyan Priyo (FT), membuat sebuah media pembelajaran inovatif yang mereka namai Betawi Smart Book (BESTBOOK). Produk inovatif katagori pendidikan ini berhasil mengantarkan Palupi dan tim mendapatkan Silver Medal dan Special Award Best Invention Education’s Product dari negara Arab Saudi dalam ajang kompetisi para peneliti muda yang diselenggarakan oleh Malaysian Invention and Design Society (MINDS).</p>
<p><strong>Baca juga:<span style="color: #800000;"><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/palupi-mutiasih-dan-tim-berhasil-meraih-silver-medal-dan-special-award-best-invention-educations-product/"> Palupi Mutiasih dan Tim Berhasil Meraih Silver Medal dan Special Award Best Invention Education’s Product</a></span></strong></p>
<p>“Ada dua juri datang ke booth kami, juri pertama berasal dari Korea dan juri satu lagi dari Malaysia. Kami presentasi produk kami selama lima menit, lalu dilanjutkan tanya jawab,” jelas Palupi, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ, yang menjadi ketua dari Tim BESTBOOK.</p>
<p>Betawi Smart Book (BESTBOOK) merupakan sebuah buku cerita bergambar dan bersuara dengan sistem sensor yang dikemas dengan suasana budaya Betawi. Buku ini dapat bersuara juga karena bisa diperuntukkan untuk siswa disabilitas.</p>
<p>“BESTBOOK ini dikemas holistik dengan misi budaya. Dikemas dalam rumah kebaya dan juga ada boneka ondel-ondel yang bisa mengeluarkan suara instrumen lagu Ondel-ondel. Jadi, buku in tidak hanya untuk peningkatan minat baca, tapi juga untuk memperkenalkan budaya Betawi,” jelas Palupi.</p>
<div id="attachment_9050" style="width: 675px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-9050" class="wp-image-9050 size-full" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-1.jpg" alt="" width="665" height="1040" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-1.jpg 665w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-1-96x150.jpg 96w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-1-384x600.jpg 384w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-1-269x420.jpg 269w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-1-640x1001.jpg 640w" sizes="(max-width: 665px) 100vw, 665px" /><p id="caption-attachment-9050" class="wp-caption-text">Palupi Mutiasih, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ (13/05/2017)</p></div>
<p>Palupi dan tim telah memperkenalkan budaya Jakarta dalam ajang kompetisi tersebut. Mereka ingin mengubah pandangan kepada anak-anak bahwa Ondel-ondel bukan hanya sekadar media untuk mengamen, tapi ondel-ondel adalah kebudayaan tradisional dari Betawi.</p>
<p>“Kami berharap semoga akan lebih banyak Inovasi yang lahir di ibu pertiwi yang bisa membanggakan dan membawa kebaikan bagi negeri. Semoga banyak <em>support,</em> baik dari pemerintah, kampus, ataupun pihak swasta, karena inovasi adalah kunci sebuah negara untuk menjadi lebih baik,” harap Palupi.</p>
<p>Palupi dan tim menuturkan bahwa banyak sekali negara yang tertarik pada produk inovatif kami. Ada tiga negara yang ingin membeli produk kami, yaitu Malaysia, India, dan China. Namun, mereka tidak ingin menjualnya.</p>
<p>“Iya, kami tidak ingin menjualnya kepada negara-negara lain. Kami ingin mengimplementasikan produk ini ke banyak sekolah di Jakarta,” pungkas Palupi.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/betawi-smart-book-bestbook-buku-cerita-bersuara-dengan-rumah-kebaya-untuk-meningkatkan-minat-baca-sekaligus-memperkenalkan-budaya-betawi/">Betawi Smart Book (BESTBOOK), Buku Cerita Bersuara dengan Rumah Kebaya untuk Meningkatkan Minat Baca Sekaligus Memperkenalkan Budaya Betawi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Palupi Mutiasih dan Tim Berhasil Meraih Silver Medal dan Special Award Best Invention Education’s Product</title>
		<link>https://unjkita.com/palupi-mutiasih-dan-tim-berhasil-meraih-silver-medal-dan-special-award-best-invention-educations-product/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 May 2017 10:58:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Berprestasi UNJ]]></category>
		<category><![CDATA[Prestasi UNJ]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=9023</guid>

					<description><![CDATA[<p>UNJKita.com, (13/05/2017) – Menjelang Dies Natalis Universitas Negeri Jakarta ke-53, UNJ dan Indonesia kembali menorehkan prestasi tingkat International dalam bidang Pendidikan. Lima mahasiswa terbaik UNJ...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/palupi-mutiasih-dan-tim-berhasil-meraih-silver-medal-dan-special-award-best-invention-educations-product/">Palupi Mutiasih dan Tim Berhasil Meraih Silver Medal dan Special Award Best Invention Education’s Product</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>UNJKita.com, (13/05/2017) – Menjelang Dies Natalis Universitas Negeri Jakarta ke-53, UNJ dan Indonesia kembali menorehkan prestasi tingkat International dalam bidang Pendidikan. Lima mahasiswa terbaik UNJ dari Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Bahasa dan Seni, dan juga Fakultas Teknik membuat sebuah media pembelajaran inovatif, Betawi Smart Book (BESTBOOK).</p>
<p>Palupi Mutiasih (FIP), Dina Chaerani (FBS), Siti Aisyah (FIP), Dian Kusuma Ningsih (FIP), dan Briyan Priyo (FT) berhasil mendapatkan silver medal dalam ajang 28th International Wolrd Young Inventors and Exhibition yang diadakan di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia dari tanggal 11-13 Mei 2017.</p>
<p><img decoding="async" class="size-full wp-image-9047 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2.jpg" alt="" width="1040" height="780" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2.jpg 1040w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-150x113.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-800x600.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-560x420.jpg 560w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-80x60.jpg 80w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-100x75.jpg 100w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-180x135.jpg 180w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-238x178.jpg 238w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-640x480.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/05/Palupi-2-681x511.jpg 681w" sizes="(max-width: 1040px) 100vw, 1040px" /></p>
<p>“Kami mengikuti 28th International Wolrd Young Inventors and Exhibition, yaitu ajang kompetisi produk inovasi dari berbagai negara. Kurang lebih ada 300 kompetitior dari berbagai negara, seperti Korea, China, Saudi Arabia, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Srilangka, dan sebagainya,” ungkap Palupi Mutiasih, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ, yang berhasil dihubungi oleh tim redaksi UNJKita.</p>
<p>Palupi dan tim mempresentasikan penelitian mereka yang berjudul “Betawi Smart Book (BEST BOOK) As an Innovative Media Learning to Improve Literacy Culture Since Primary Shool”. Betawi Smart Book (BESTBOOK) merupakan buku cerita bergambar dan bersuara dengan sistem sensor yang dikemas dengan suasana budaya Betawi.</p>
<p><strong>Baca juga: </strong><span style="color: #800000;"><strong><a style="color: #800000;" href="http://unjkita.com/betawi-smart-book-bestbook-buku-cerita-bersuara-dengan-rumah-kebaya-untuk-meningkatkan-minat-baca-sekaligus-memperkenalkan-budaya-betawi/"><strong>Beta</strong>wi Smart Book (BESTBOOK), Buku Cerita Bersuara dengan Rumah Kebaya untuk Meningkatkan Minat Baca Sekaligus Memperkenalkan Budaya Betawi</a></strong></span></p>
<p>“Kami peduli terhadap peningkatan minat baca di Indonesia dan kami juga peduli dengan budaya Indonesia, maka kami mengemas buku suara ini dengan Rumah Adat Betawi,” ungkap Palupi.</p>
<p>Tak hanya silver medal, Palupi dan tim juga berhasil mendapatkan Special Award Best Invention Education’s Product dari negara Arab Saudi.</p>
<p>“Alhamdulillah selain mendapatkan urutan ke-4 katagori pendidikan. Kita juga mendapatkan Special Award sebagai Best Invention juga. Dari 24 grup kontingen Indonesia, 6 mendapatkan medali emas, 13 mendapatkan medali perak, dan ada 5 grup yang belum kesempatan mendapatkan medali,” ungkap Palupi.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/palupi-mutiasih-dan-tim-berhasil-meraih-silver-medal-dan-special-award-best-invention-educations-product/">Palupi Mutiasih dan Tim Berhasil Meraih Silver Medal dan Special Award Best Invention Education’s Product</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ikhtiar UNJKita Demi Pendidikan Indonesia</title>
		<link>https://unjkita.com/ikhtiar-unjkita-demi-pendidikan-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Gia Ghaliyah]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 May 2017 13:01:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Konten Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Hardiknas]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=8160</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Sungguh merugi jika sadar ada sesuatu yang salah, namun diam seribu kata hanya sebagai penonton yang asyik duduk di sofa empuk tanpa pergerakan apapun.” Betapa...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ikhtiar-unjkita-demi-pendidikan-indonesia/">Ikhtiar UNJKita Demi Pendidikan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong><em>“Sungguh merugi jika sadar ada sesuatu yang salah, namun diam seribu kata hanya sebagai penonton yang asyik duduk di sofa empuk tanpa pergerakan apapun.”</em></strong></p></blockquote>
<p><em>Betapa beruntungnya saya bisa bergerak bersama Tim UNJKita. Adanya tulisan ini, sebagai wujud rasa syukur saya atas sebuah nikmat kesempatan untuk menjadi bagian dari misi mulia demi memajukan pendidikan bangsa.</em></p>
<p>Ialah UNJKita.com, salah satu media <em>citizen journalism campus</em> yang dimiliki oleh Indonesia. Ia bergerak mengikuti zaman, mengikuti selera penikmat, dan tentu selalu mengikuti untuk mengawal isu-isu yang sedang berkembang. Gerakannya tidak pernah basi. Gerakannya akan selalu ternikmati dan terkenang untuk masa-masa ke depan sebagai sebuah karya yang abadi. Itulah gerakan literasi masa kini.</p>
<p>Tentu ada banyak sekali gerakan yang pemuda pemudi Indonesia lakukan. Gerakan yang memiliki visi dan misi tersendiri. Siapapun tentu bisa bergerak dengan misi-misi mulianya. Sungguh beruntung jika kita sadar ada sesuatu yang salah, lalu kita menyadarinya. Sadar untuk mau bergerak bersama dan tentunya berkolaborasi dengan kualitas diri yang dimiliki. Serta mau sama-sama maju untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik.</p>
<h5><strong>Fakta Minat Literasi Masyarakat Indonesia</strong></h5>
<p>Di hari pendidikan ini, perlu saya ingatkan kembali tentang sesuatu yang kurang baik. Sebuah kenyataan yang cukup prihatin tentang minat membaca masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei UNESCO pada tahun 2012 menyebutkan bahwa dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang membaca serius. Survei terbaru yakni, berdasarkan Central Connecticut State University, Amerika Serikat pada Maret 2016, dengan tajuk Most Literate Nations in the World, tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia berada di urutan ke-60 dan 61 negara yang disurvei (jpnn.com, 13 April 2016).</p>
<p>Menurut Asosiasi Penerbit Internasional (International Publishers Association), sehat tidaknya industri penerbitan di suatu negara dapat dilihat dengan membandingkan jumlah buku rata-rata terbit per sejuta penduduk di negara itu. Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sekitar 255.461.700 jiwa. Maka, judul buku baru yang terbit di Indonesia per tahun adalah 8 buku per sejuta penduduk. Angka ini kalah jauh dibandingkan dengan Thailand (168), Filipina (93), bahkan Kenya (11).</p>
<p>Berdasarkan survei tersebut, menyatakan bahwa minat membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangatlah minim. Tentu banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat literasi, salah satunya adalah faktor geografis dengan ketimpangan jumlah buku yang beredar di masyarakat, rendahnya minat membangun opini masyarakat, serta minimnya wadah untuk menulis dan berkarya.</p>
<p>Untuk faktor ketimpangan jumlah buku yang beredar di masyarakat karena letak geografis yang sulit dijangkau, pemerintah dan masyarakat sudah mulai sadar untuk bahu-membahu memenuhinya. Karena mendapatkan buku yang bagus dan berkualitas adalah hak setiap warga negara. Buku merupakan sarana vital bagi terwujudnya peradaban, maka distribusinya pun harus dilakukan dalam sebuah gerakan bersama yang melibatkan banyak kalangan. Seperti adanya obral buku-buku berkualitas di ibu kota dengan harga yang sangat miring, tentu kita sebagai pemuda tidak akan tinggal diam mendapatkan kesempatan tersebut. Kita bisa mendistribusikannya ke daerah-daerah pelosok secara berkala dengan berbagai cara.</p>
<h5><strong>UNJ dan UNJKita</strong></h5>
<p>Masih ada beberapa faktor lainnya yang menyebaban rendahnya minat literasi masyarakat Indonesia, yaitu rendahnya minat membangun opini masyarakat dan minimnya wadah untuk menulis dan berkarya. UNJ merupakan salah satu kampus pendidikan terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Tentu akan banyak sekali para pendidik bangsa yang akan terlahir dari sana. Maka suatu kerhormatan bagi UNJ yang seharusnya bisa menjadi motor pergerakkan literasi bagi masyarakat demi memajukan pendidikan Indonesia.</p>
<blockquote><p><strong>Maka suatu kerhormatan bagi UNJ yang seharusnya bisa menjadi motor pergerakkan literasi bagi masyarakat demi memajukan pendidikan Indonesia.</strong></p></blockquote>
<p>Itulah yang sedang dilakukan oleh UNJKita. Dengan visi saling menginspirasi untuk Indonesia bersama mahasiswa dan alumni UNJ, kami berikhtiar untuk bergerak meningkatan minat literasi masyarakat. UNJKita mengusung konsep sebagai media <em>citizen journalism</em>, tulisan dari masyarakat untuk dibaca oleh masyarakat. Siapapun bisa menulis, lalu mengirimkan hasil karya tulisannya, dan disebarkan untuk dibaca agar manfaatnya dapat berdampak ke semua orang dengan jangkauan seluas-luasnya.</p>
<p>Dimulai dengan adanya ikhtiar kami untuk membangun opini mahasiswa UNJ sejak tahun 2015. Tentu tidaklah mudah untuk mengajak mahasiswa membangun opininya lalu menghasilkan sebuah karya secara berkala. Namun, Tim UNJKita tentu tidak kehabisan akal. Berbagai cara akan kami usahakan untuk menumbuhkan minat menulis mahasiswa melalui berbagai program literasi. Secara perlahan, kami akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk meracuni para mahasiswa agar terus menulis, menghasilkan karya, dan menginspirasi banyak orang. Dampaknya bisa sekaligus, minat menulis menjadi meningkat dan minat membaca karena banyaknya tulisan viral nan bermanfaat juga meningkat.</p>
<blockquote><p><strong>Secara perlahan, kami akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk meracuni para mahasiswa UNJ agar terus menulis, menghasilkan karya, dan menginspirasi banyak orang. </strong></p></blockquote>
<h5><strong>Program-program Literasi UNJKita</strong></h5>
<p>Tim UNJKita telah menjalankan beberapa program literasi demi memajukan pendidikan bangsa, diantaranya Menginspirasi dengan Tulisan Project, Pesta Literasi UNJKita, RUBRIK (Ruang Terbuka UNJKita), UNJ Lebih Baik Project, Sayembara Solusi, sampai Support PKM dan PMW Project. Betapa bersyukurnya kami, sejak November 2015 sampai detik ini, pertumbuhan minat literasi kontributor dan pembaca setia UNJKita yang selalu kami pantau semakin berbuah manis.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6452 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Kaos-UNJKita.jpg" alt="" width="480" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Kaos-UNJKita.jpg 480w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Kaos-UNJKita-150x150.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Kaos-UNJKita-600x600.jpg 600w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Kaos-UNJKita-420x420.jpg 420w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Kaos-UNJKita-640x640.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Kaos-UNJKita-681x681.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 480px) 100vw, 480px" /></p>
<p>Dimulai dari program literasi Menginspirasi dengan Tulisan Project. Adanya program ini kami berikhtiar untuk memicu semangat literasi civitas akademika UNJ dan alumninya. Sistemnya mengirim tulisan sebanyak lima kali dalam jangka waktu dua bulan (Maret-April 2017). Bagi kontributor yang berhasil menunaikan lima tulisannya, maka akan mendapatkan hadiah berupa kaos atau tote bag dari UNJKita.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7643 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/04/Pesta-Literasi-unj-kita-2017.jpeg" alt="" width="886" height="886" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/04/Pesta-Literasi-unj-kita-2017.jpeg 886w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/04/Pesta-Literasi-unj-kita-2017-150x150.jpeg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/04/Pesta-Literasi-unj-kita-2017-600x600.jpeg 600w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/04/Pesta-Literasi-unj-kita-2017-420x420.jpeg 420w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/04/Pesta-Literasi-unj-kita-2017-640x640.jpeg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/04/Pesta-Literasi-unj-kita-2017-681x681.jpeg 681w" sizes="auto, (max-width: 886px) 100vw, 886px" /></p>
<p>Ikhtiar kami lainnya adalah Pesta Literasi UNJKita. Tujuan program ini juga tidak jauh berbeda dari program yang pertama, yaitu untuk mengompetisikan tulisan-tulisan terbaik dari kontributor. Adanya momen Dies Natalis UNJ, maka kami membuat kompetisi menulis dengan berbagai hadiah-hadiah menarik lainnya. Dua program tersebut adalah salah satu ikhtiar kami dengan mengiming-imingkan hadiah dari hasil tulisan yang telah dibuat. Tidak hanya viral dengan dampak manfaatnya, tidak hanya mampu menginspirasi pembaca, tapi hadiah yang kami berikan merupakan bonus sebagai salah satu pemicu untuk meningkatkan minat menulis kontributor.</p>
<blockquote><p><strong>hadiah yang kami berikan merupakan bonus sebagai salah satu pemicu untuk meningkatkan minat menulis kontributor.</strong></p></blockquote>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6343 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Sayembara-Banjir-UNJ.jpg" alt="" width="679" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Sayembara-Banjir-UNJ.jpg 679w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Sayembara-Banjir-UNJ-150x106.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Sayembara-Banjir-UNJ-800x565.jpg 800w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Sayembara-Banjir-UNJ-594x420.jpg 594w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Sayembara-Banjir-UNJ-640x452.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/02/Sayembara-Banjir-UNJ-681x481.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 679px) 100vw, 679px" /></p>
<p>Ada beberapa program lainnya, seperti UNJ Lebih Baik Project dan Sayembara Solusi. Dua program ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu membangun opini civitas akademika UNJ. UNJ Lebih Baik Project mengacu pada hasil survei yang dilakukan, lalu mempresentasikannya dalam bentuk tulisan dengan data-data hasil survei civitas akademika. Tulisan tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi dan refleksi pihak UNJ untuk menjadi lebih baik lagi. Sedangkan Sayembara Solusi mengajak civitas akademika UNJ untuk berpikir mencari solusi terbaik dari permasalahan yang terjadi di UNJ.</p>
<p>Selain program-program tersebut, masih ada program literasi lainnya demi mendukung gerakan kreativitas dari mahasiswa UNJ, yaitu Support PKM dan PMW Project. Mahasiswa UNJ yang mengikuti PKM dan PMW dapat mempublikasikan program kreativitasnya dalam bentuk tulisan, lalu UNJKita akan membantu memviralkannya. Tak terbayang betapa ganasnya penularan virus kreatif kepada para pembaca UNJKita melalui program ini.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6539 aligncenter" src="http://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ruang-Terbuka-UNJ-Kita-Spesial-Fresh-Graduate.jpg" alt="" width="594" height="480" srcset="https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ruang-Terbuka-UNJ-Kita-Spesial-Fresh-Graduate.jpg 594w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ruang-Terbuka-UNJ-Kita-Spesial-Fresh-Graduate-150x121.jpg 150w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ruang-Terbuka-UNJ-Kita-Spesial-Fresh-Graduate-742x600.jpg 742w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ruang-Terbuka-UNJ-Kita-Spesial-Fresh-Graduate-520x420.jpg 520w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ruang-Terbuka-UNJ-Kita-Spesial-Fresh-Graduate-640x517.jpg 640w, https://unjkita.com/wp-content/uploads/2017/03/Ruang-Terbuka-UNJ-Kita-Spesial-Fresh-Graduate-681x550.jpg 681w" sizes="auto, (max-width: 594px) 100vw, 594px" /></p>
<p>Tak hanya program literasi dalam meningkatkan minat menulis dan membaca, ikhtiar UNJKita juga merambah untuk meningkatkan minat diskusi masyarakat. Masih sejalan dengan visi UNJKita, yaitu menginspirasi Indonesia bersama mahasiswa dan alumni UNJ, hadirnya program RUBRIK (Ruang Terbuka UNJKita) sebagai ruang inspirasi via WhatsApp untuk berdiskusi dua arah antara narsumber inspiratif dan peserta RUBRIK. Adanya program ini mampu membuktikan bahwa ruang inspirasi dapat diciptakan tanpa menghiraukan terbatasnya kehadiran peserta RUBRIK secara langsung.</p>
<p>Gerakan literasi ini tentu tak terlepas dari tujuan pendidikan Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai pemuda Indonesia yang sadar betapa pentingnya pendidikan, seharusnya sudah berpikir, sudah bergerak, dan sudah berkolaborasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan pendidikan Indonesia, salah satunya menciptakan gerakan literasi kekinian.</p>
<blockquote><p><strong>UNJKita salah satu kendaraan yang ditunggangi kumpulan pemuda-pemudi Indonesia untuk bergerak meningkatkan minat literasi bangsa.</strong></p></blockquote>
<p>UNJKita salah satu kendaraan yang ditunggangi kumpulan pemuda-pemudi Indonesia untuk bergerak meningkatkan minat literasi bangsa. Kami yakin setiap orang memiliki kemampuan untuk menginspirasi dengan mengambil peran dalam penyebaran informasi &amp; ilmu pengetahuan melalui karya. Ayo menulis! Ayo berkarya! Ciptakan atmosfer literasi dimulai dari orang-orang sekitarmu. Bantu viralkan tulisan-tulisan para kontributor yang berniat tulus untuk menjadikan gerakan literasi ini menjadi jauh lebih baik. Ayo menginspirasi!</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/ikhtiar-unjkita-demi-pendidikan-indonesia/">Ikhtiar UNJKita Demi Pendidikan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Menangkal Hoax Ala Facebook</title>
		<link>https://unjkita.com/tips-menangkal-hoax-ala-facebook/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Muhammad Ihsan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Apr 2017 03:03:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[berita palsu]]></category>
		<category><![CDATA[hoax]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[media literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=7503</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa tahun terakhir berita palsu atau yang sering kita sebut hoax adalah industri yang cukup besar di dunia digital. Tidak sedikit orang yang menghalalkan dan...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/tips-menangkal-hoax-ala-facebook/">Tips Menangkal Hoax Ala Facebook</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun terakhir berita palsu atau yang sering kita sebut hoax adalah industri yang cukup besar di dunia digital. Tidak sedikit orang yang menghalalkan dan nyaman jadi juru masak berita palsu.</p>
<p>Tempat paling banyak tersebarnya berita palsu adalah di media sosial, salah satunya adalah facebook. Melalui help centernya facebook menerbitkan artikel tips menangkal hoax untuk para penggunanya. Berikut artikel selengkapnya:</p>
<h2>Tips untuk Menghentikan Hoax</h2>
<p>Kami ingin menghentikan penyebaran berita palsu di Facebook. Pelajari lebih lanjut tentang apa yang<a href="https://newsroom.fb.com/news/2017/04/working-to-stop-misinformation-and-false-news/" target="_blank"> telah kita lakukan</a>. Karena kami bekerja untuk membatasi penyebaran hoax, berikut adalah beberapa tips tentang apa yang harus kita lakukan:</p>
<p><strong>Kritislah terhadap suatu judul berita.</strong> berita palsu sering memiliki headline catchy dengan tanda seru. Jika judul terdengar sulit dipercaya, berita tersebut mungkin hoax.</p>
<p><strong>Melihat URL lebih dekat.</strong> Sebuah URL palsu atau mirip mungkin menjadi tanda peringatan berita palsu. Banyak situs hoax meniru sumber berita otentik dengan membuat perubahan kecil ke URL. Anda dapat pergi ke situs untuk membandingkan URL untuk sumber ditetapkan.</p>
<p><em>*contoh: unjkita.com <strong>(benar)</strong> unjkita.net (palsu). cara ini mulai digunakan di indonesia. penulis pernah melihat beberapa url palsu yang mirip dengan domain cnnindonesia &amp; kompas. Jadi telitilah.</em></p>
<p><strong>Selidiki Sumber</strong>. Pastikan cerita ini ditulis oleh seorang sumber yang Anda percaya dengan reputasi yang baik Jika cerita berasal dari sebuah organisasi asing, periksa profil tentang mereka untuk mempelajari lebih lanjut.</p>
<p><strong>Perhatikan format yang tidak biasa</strong>. Banyak situs hoax memiliki ejaan yang salah atau layout canggung. Bacalah dengan hati-hati jika Anda melihat tanda-tanda ini.</p>
<p><em>*salah satunya indikasinya adalah iklan yang dimana-mana. Salah satu ciri produsen hoax adalah mereka yang tergila-gila dengan trafik untuk diuangkan.</em></p>
<p><strong>Pertimbangkan foto.</strong> hoax sering mengandung gambar atau video dimanipulasi. Kadang-kadang foto mungkin otentik, tetapi diambil di luar konteks. Anda dapat mencari foto atau gambar untuk memverifikasi mana asalnya.</p>
<p><em>*Cek caption foto, sumber foto, dan perhatikan adakah editan didalam foto.</em></p>
<p><strong>Periksa tanggal</strong>. hoax mungkin berupa peristiwa yang telah diubah tanggal kejadiannya.</p>
<p><strong>Periksa bukti.</strong> Periksa sumber penulis untuk mengkonfirmasi bahwa mereka akurat. Kurangnya bukti atau kepercayaan pada para ahli yang tidak disebutkan namanya mungkin menunjukkan hoax.</p>
<p><strong>Lihatlah laporan lainnya.</strong> Jika tidak ada sumber berita lain dari website lain yang terpercaya , hal itu mungkin menunjukkan bahwa cerita ini adalah palsu. Jika cerita ini dilaporkan oleh beberapa sumber yang Anda percaya, itu lebih mungkin untuk menjadi kenyataan.</p>
<p><strong>Apakah cerita lelucon?</strong> Kadang-kadang kita sulit untuk membedakan humor atau sindiran. Periksa apakah sumber bacaan kita dikenal parodi, dan apakah rincian cerita dan nada menyarankan itu mungkin hanya untuk bersenang-senang.</p>
<p><em>*Ada beberapa web yang memproduksi berita/cerita palsu memang untuk konsumsi humor dan sindiran saja. jadi tidak perlu dianggap terlalu serius</em></p>
<p><strong>Beberapa cerita yang sengaja palsu.</strong> Berpikir kritis tentang cerita yang Anda baca, dan hanya berbagi berita yang Anda tahu telah terbutki kebenarnya.</p>
<p>Tulisan ini adalah hasil kerja sama dengan <strong>ICTWatch.id &amp; Dewan Pers. </strong>Semoga tips dari facebook ini bermanfaat. Cegah berita palsu dengan berpikir kritis.</p>
<p>sumber: facebook.com<br />
*tambahan dari penulis.</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/tips-menangkal-hoax-ala-facebook/">Tips Menangkal Hoax Ala Facebook</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peran Kampus Membangun Literasi</title>
		<link>https://unjkita.com/peran-kampus-membangun-literasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[UNJKita.com &#124; @pemburukampus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2016 06:41:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://unjkita.com/?p=3769</guid>

					<description><![CDATA[<p>Coba bayangkan ada suatu aquarium yang di dalamnya ada banyak sekali ikan-ikan, dihiasi berbagai macam tumbuhan dan karang. Terlihat indah dan sangat menarik dengan berbagai...</p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/peran-kampus-membangun-literasi/">Peran Kampus Membangun Literasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Coba bayangkan ada suatu aquarium yang di dalamnya ada banyak sekali ikan-ikan, dihiasi berbagai macam tumbuhan dan karang. Terlihat indah dan sangat menarik dengan berbagai macam ikan di dalamnya, namun ada yang terlewat di dalam aquarium itu, ternyata tidak ada air. Bagaimana bisa hidup berbagai makhluk hidup di dalam sana yang notabene sangat membutuhkan air untuk hidup? Ya itu lah sedikit analogi atau gambaran tentang pergerakan mahasiswa tanpa sebuah literasi, ya gerakan tak akan hilang tanpa literasi, tapi ruh-ruh intelektual itu akan runtuh di waktu itu juga ketika literasi tak dibawa pada medan pengabdian. Tujuan-tujuan mulia akan tersisih dengan reaksi-reaksi spontan yang kadang jauh dari solusi.</p>
<p>Kembali pada tema, kampus sangat bertanggungjawab atas apa yang terjadi di dunia literasi kampus, karena kampus bertugas menjadikan mahasiswanya menjadi manusia yang progresif, efektif, kreatif dan menyikapi/mencari solusi pada masalah di dunia khususnya akademik. Namun, sekarang ini kata literasi mungkin asing di kuping para mahasiswa, yang paham dan tahu hanya mahasiswa-mahasiswa yang jurusannya bergulat dalam dunia baca dan tulis. Hal ini adalah bentuk kegagalan kampus meimplikasikan visi dan misinya. Syahdan ini yang terjadi malah keadaan terbalik, yaitu nirliterasi, kondisi dimana budaya di suatu tempat jauh dari kegiatan baca tulis dan meningkatkan suatu pengetahuan, akibatnya yang seharusnya kampus tempat mencari <em>“Agen Of Change&#8221;</em> atau pun <em>“Iron Stock”</em> namun berubah tak ada lagi yang bisa diharapkan. Golongan nirliterasi ini pada umumnya itu tidak akan mampu mengambil sebuah keputusan politis apalagi tindakan.</p>
<p>Ada satu syair yang patut direnungi “apa yang mau ditulis kalau tak membaca? Batas-batas tulisan kita adalah apa-apa yang kita baca”. Ya semua tulisan dan apa yang kita bicarakan adalah pengetahuan-pengetahuan yang kita dapat dari membaca, dengan membaca kita dapat membuka segudang cakrawala dan mampu memahami dengan kritis, jika tak membaca maka anda tidak akan kemana-mana. Namun membaca seperti apa yang berkaitan dengan dunia mahasiswa/ kampus yaitu membaca yang tak hanya mencari makna pada kalimat-kalimat pada buku, namun bisa mengaitkan makna itu dengan kondisi sosial di lingkungan lalu mendapatkan solusinya. <em>Go reading.</em></p>
<p>Menulis adalah kegiatan yang berkaitan erat dengan membaca, karena menulis adalah memproduksi kata-kata dan pengetahuan yang didapat pada saat membaca. Dengan menulis Anda akan menemukan kebebasan kongnif dalam merekayasa apa yang kita rasakan dengan bebas tanpa paksaan dari siapapun, dalam dunia kampus yaitu mengembangkan suatu tulisan ilmiah yang bermanfaat untuk orang banyak. Dengan mengembangkan dunia literasi Perguruan Tinggi tak perlu susah-susah mencari dana atau menekan agar kampusnya berada dalam peringkat atas kampus unggulan, hanya dengan literasi semua itu akan otomatis bergerak, karena itulah kisi-kisi kampus berstandar dunia.</p>
<p>Di setiap sudutnya berisi lingkaran-lingkaran diskusi, di bawah pohon ringdangnya ada yang membedah buku dan di setiap lorong-lorong gedung jiwa-jiwa intelektual tercium. Jadi, <em>pertama</em>, bangun fasilitas terbaik untuk membaca, yaitu ruang perpustakaan agar ruang-ruang mencari informasi dan ilmu pengetahuan berjalan dengan baik karena itulah para pelaku literasi berkumpul, jangan bangun gedung mulu ya, lalu membangun suatu demokrasi kebebasan dalam akademik seluas-luasnya tanpa ada tekanan nanti pada apa yang akan ditulis, ruang-ruang itu harus dijaga jauh dari ruang pasar bebas/industri (uang) dan juga terapkan kebijakan-kebijakan yang mendukung kelancaran membangun budaya-budaya literasi.</p>
<p>Sudah saatnya kampus menjadi suara-suara harapan yang siap dicanangkan dengan nyata. Mari bangun kembali budaya ini dengan efektif karena tak ada bangsa maju tanpa tingginya minat anak bangsa terhadap literasi. Semua bisa memulai dari hal terkecil dengan membaca hal-hal yang baik dan berkualitas. Karena bangsa ini pun pernah punya catatan literasi yang mengguncang dunia bahkan bangsa ini merdeka lewat suara-suara dan tulisan-tulisan.</p>
<p><strong>Oleh: Danu Rizky Fadilla (FT UNJ)</strong></p>
<p>The post <a href="https://unjkita.com/peran-kampus-membangun-literasi/">Peran Kampus Membangun Literasi</a> appeared first on <a href="https://unjkita.com">UNJKita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
